
Bagaimanapun, semua seperti tidak terkendali, baik hati Lonisa dan juga keadaan yang tengah berlangsung. Ia di antar ke rumah malam itu oleh Zen,tanpa bisa menolak. Akibat Meskipun, selama di perjalanan pulang mereka hanya diam, tapi Zen selalu melihat Lonisa dari sudut matanya.
Ketika sampai di depan pintu, Lonisa berbalik ke arah Zen yang masih mengikuti di belakangnya.
“Zen, terima kasih sudah mengantarku pulang.”
“Tidak perlu berterima kasih, aku senang melakukannya.” Zen diam sebentar lalu kembali bicara, “apa kau tidak mempersilahkan aku masuk?”
Lonisa tahu, pada dasarnya rumah itu milik Zen juga, laki-laki itu yang sudah menebusnya, sehingga Lonisa sekarang bisa bebas menempatinya. Ia merasa tidak boleh egois, tidak ada salahnya membiarkannya masuk.
“Aku tidak punya apa-apa yang bisa aku suguhkan untukmu di sini,” Sungguh ucapan Lonisa terdengar ambigu.
“Oh, ya? Tidak masalah, mungkin kau membutuhkan sesuatu nanti. Aku akan dengan senang hati membantumu.”
‘Bantuan seperti apa maksudnya?’
Saat itu Lonisa merasa takdir sedang mempermainkannya, seberapa keras ia menolak, tapi tangan takdir meraihnya, ia seperti di bawa berputar-putar hingga tidak bisa menebak jalan ceritanya, namun kemudian kembali pada titik semula.
Ia berusaha mengabaikan perasaannya, juga pria yang kini berdiri di sampingnya, dengan tatapan lembut di matanya. Tatapan yang menariknya untuk jatuh cinta lagi dan lagi. Awalnya memang sering Zen melihat dirinya seperti orang yang tidak penting, hingga ia mengira tatapan gelap dari mata lancip yang indah itu tidak akan berubah padanya.
“Baiklah, ayo masuk.”
Setelah berada di dalam, Zen duduk di salah satu kursi di tengah rumah yang menghadap langsung ke kamar Lonisa. Ia tersenyum sendiri saat menyadari fotonya yang sengaja ia pasang di antara foto keluarga Lonisa, tidak ada.
‘’Kemana, foto itu?”
Lonisa mengerutkan dahinya, ia mengambil segelas air untuk dihidangkan pada Zen, tamu pertamanya. Ia yang memindahkan foto itu ke kamarnya sendiri.
Saat pertama memasuki rumah peninggalan orang tuanya itu, Lonisa melihat foto Zen tergantung diantara foto-foto anggota keluarga. Ia merasa bahwa benda itu tidak cocok berada di sana, melainkan di kamar pribadinya. Entah apa maksud dari Zen menyimpan foto dirinya, walaupun sebenarnya tidak jadi masalah.
“Foto apa? Fotomu?”
“Iya. Aku sengaja memasangnya di sana, karena aku berharap akan menjadi salah satu dari keluargamu.” Zen berkata seperti mengingatkan, bahwa Lonisa tidak mempunyai siapa pun kecuali dirinya yang bisa di anggap sebagai keluarga. Setidaknya itu saja cukup kalau dia tidak ingin menjadi Zen sebagai pacarnya.
Saat ia pertama kali mendapat kunci rumah Lonisa dari rentenir yang mengambilnya secara paksa, ia menyimpan Foto terbaiknya agar Lonisa selalu melihat.
Zen mengusahakan rumah Lonisa dengan mudah, mengingat kemampuan negosiasinya. Lalu hanya dalam waktu kurang dari sepekan, rumah beserta surat-suratnya sudah ia terima dan ia merubah nama kepemilikan atas nama Lonisa. Rumah itu seharusnya tidak termasuk aset, yang berhak untuk diambil rentenir sebagai kompensasi utang orang tuanya karena aset lainnya yang diambil, sudah cukup untuk melunasinya.
Lonisa malu mengatakannya, ingin sekali dia mengeluhkan semua yang terjadi saat ini, semua diluar kendalinya. Namun ia sadar, buat apa mengeluh saat semua keluhan tidak akan bisa merubah keadaan, bahkan justru menambah beban pikiran?
“Ada, di kamarku,” dengan berat hati akhirnya Lonisa menjawab meskipun wajahnya tampak bersemu merah menahan rasa malu. Seandainya ada lubang semut, pasti ia ingin memasukinya. Sementara Zen tersenyum lebar.
‘’Sudah kuduga,” jawab Zen. “Apa kau tidak ingin membuka kadomu?”
Lonisa yang sedari tadi hanya diam duduk di hadapan Zen, seperti tersentak oleh sesuatu. Ia baru sadar bila memiliki sebuah hadiah. Ia segera mengambil tas dan mengeluarkan kotak itu, ia pikir itu mungkin makanan atau coklat yang bisa di makan oleh mereka.
Di rumah itu benar-benar tidak ada apa pun yang bisa di makan, kecuali air mineral. Sejak tinggal di sana, Lonisa memulai usahanya dengan menjual aneka barang secara online.
__ADS_1
Ia mendaftar menjadi anggota salah satu brand MLM yang paling besar di kota. Ia banyak keluar rumah dengan membawa beberapa contoh barang yang di jualnya, lalu bisa memesan melalui ponselnya bila menginginkannya Ia sibuk memulai bisnis hingga tidak memikirkan dirinya sendiri dan hanya makan di luar setiap hari.
Lonisa terbelalak begitu melihat isinya bukanlah makanan seperti perkiraannya. Ia melihat ada kotak kecil lagi di dalamnya dan itu adalah sebuah cincin berlian.
Sambil memegang kotak kecil itu, Lonisa menoleh pada Zen, ia duduk di hadapannya, ditatapnya lekat-lekat wajah lelaki yang hampir membuatnya menolak dan ingin secara bersamaan.
“Apa kau memberikannya pada semua karyawan di kedaimu?”
“Kalau yang kau maksudmu kotak hadiah yang sama, maka jawabannya adalah, iya.”
“Lalu isinya, apa seperti ini juga?” Mendengar pertanyaan Lonisa, Zen menertawakan dirinya sendiri, berpikir naif pertanyaannya.
“Kalau maksudmu aku memberikan hadiah yang sama seperti itu, tentu ... tidak. Itu hanya untukmu. Apa kau membutuhkan bantuanku untuk memakainya?”
Lonisa tertegun menatap lembut kearah berlian yang bersinar seperti mengajaknya untuk menjelajahi dunia nirwana di mana ada sejuta keindahan menantinya. Lonisa mengangguk, lalu menyerahkan cincin berlian itu pada Zen lalu mengulurkan tangan kirinya.
“Apa kau melamarku?”
“Iya.”
“Kenapa kau tidak mengatakan apapun, tadi.”
“Apa yang ingin kau dengar? Aku akan mengatakannya sekarang.”
‘Ya, ucapan seperti, aku mencintaimu’
Ahk, cantik sekali cincin itu di tangannya, cahayanya semakin terang saja. Inilah keindahan yang tidak bisa ditolak oleh seluruh kaum wanita di dunia. Berlebihan, bila ada wanita yang tidak menyukai berlian, salah satu batu terindah ciptaan Tuhan, Dia sengaja menciptakannya untuk mereka. Berlian seperti simbol yang membuat wanita begitu mulia bila memilikinya.
“Lonisa, aku mencintaimu.” Kata ini begitu ringan meluncur dari mulut Zen. Membuat Lonisa mendesah pelan, apa cinta semudah itu bagimu? Batinnya. Ia ingin sekali lagi meyakinkan perasaannya karena mereka baru tinggal bersama beberapa bulan terakhir saja.
Terkadang, kadar lama tidaknya sebuah hubungan tergantung bagaimana mudah tidaknya caranya mendapatkan. Lebih sulit sesuatu kau dapatkan, akan lebih tinggi pula kau akan menghargainya.
Zen mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Lonisa sekilas. Lalu ia berkata, “istirahatlah, kau harus bekerja?”
“iya.” Lonisa menjawb gugup, ia tidak ingin Zen mengetahui dimana ia bekerja. Amat memalukan sekali mengskui di hadapan Zen apa yang sedang diusahakannya.
“Kau bisa bekerja di kantorku kalau kau mau.”
‘’Benarkah aku bisa. Apa mungkin di usiaku sekarang ini pantas disebut pegawai baru?”
Tentu saja tidak ada yang berani mengatakan hal seperti itu bila mereka tahu pegawai baru di perusahaan mereka adalah kekasih sekertaris pribadi sang bos. Tidak ada.
“Aku akan mengumumkan kau sebagai kekasihku. Maka tidak ada yang bisa berkomentar seperti itu.”
‘Apakah itu mungkin, yang berarti ia akan sama membuatku selalu berada di sisinya dan sama saja aku tidak bisa bebas darinya.
Pembicaraan pun berakhir dengan kepergian Zen dari rumah Lonisa, sedang gadis itu berada di dalam kamar sambil mengusap gambar Zen yang menempel di dinding kamarnya. Pada akhirnya ia tidak bisa lepas darinya dan mungkin dia akan selalu mengandalkannya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu juga.” Gadis itu bergumam lalu mengecup foto itu lembut.
***
Di dalam kamar, Sella menahan dada Alrega yang hendak mencumbuinya lebih dalam lagi, ia sudah melayani ciuman dan ia rasa cukup. Namun sepertinya Alrega hendak kembali menekannya. Walau, banyak kehangatan dan keinginan terlahir untuk segera disalurkan, tapi Sella terlihat enggan.
Ia sudah mengatakan di telepon kalau ia tidak ingin diganggunya malam ini. Namun, sekarang justru pria itu hendak menunjukkan superiornya dan meyakinkan kalau janinnya akan baik-baik saja.
“Kenapa? Apa kau menolakku.” Alrega berkata sambil mendekati leher Sella dengan bibirnya.
“Bukan aku, tapi calon anak kita,” kata Sella masih menyimpan kedua tangannya di dada Alrega.
“Ck! Mana ada dia bilang seperti itu.”
“Aku tidak bohong!” Baru saja selesai Sella berkata, ia segera menutup mulutnya dan rasanya ia ingin ... muntah!
Semua kekuatan ia gunakan untuk mendorong Alrega, lalu berlari ke kamar mandi.
“Hei! Jangan berlari, bodoh!” Alrega berjalan cepat menyusul Sella sambil menyambar kimononya. Ia khawatir Sella terjatuh atau sakit.
Ia berdiri di depan pintu saat Sella keluar sambil mengusap mulut dengan punggung tangannya.
“Kau baik-baik saja? Jangan berlari seperti tadi, bagaimana kalau kau jatuh nanti. Ayo! Ke dokter sekarang!” Berkata sambil memangku Sella, tiba-tiba menjadi sangat cerewet.
“Turunkan aku! Aku baik-baik saja!”
Alrega mengabaikan permintaannya, menidurkannya secara hati-hati di pembaringan. Kembali mengungkung.
“Kau pura-pura ya, biar aku tidak menyentuhmu?”
Sella menggeleng, ia selama ini baik-baik saja, tidak pernah mengalami mual dan muntah seperti ini sebelumnya. Sekarang entah karena apa ia menjadi sangat muak melihat Alrega.
“Itu bukan aku, itu calon bayi kita.”
Alrega akan melakukan aksinya lagi, ketika Sella kembali menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi, lalu mengeluarkan semua isi perutnya. Lama Alrega menungggu sampai Sella selasai dan ia memijat tengkuknya secara perlahan, mencoba meringankan penderitaan yang dirasakan Sella.
“Kau baik-baik saja?”
Sella mengangguk sambil menegakkan badan, satelah mencuci mulutnya di wastafel. Tiba-tiba ia merasa lemas seperti tak bertenaga dan tubuhnya luruh dalam pangkuan Alrega dan pria itu kembali membopongnya.
“Sekali lagi kau menolakku, maka aku tidak akan perduli walau kau muntah.”
Saat itu Sella tidak tahu, apakah ia harus menangis atau tertawa, sebab ia merasa tidak mungkin orang masih berselera melakukannya, padahal penuh caiaran yang keluar dari lambung ada di tempat tidur.
‘Hais, dia pasti akan jijik’
Bersambung
__ADS_1