Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 25. Seperti Klausa Kematian


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Sella duduk diteras rumahnya yang dihiasi banyak bunga yang dirawat dengan baik oleh Flinna. Ia menunggu Zen yang akan menjemputnya hari itu.


"Ibu, berdo'alah untukku!" seru Sella pada ibunya yang masih menyirami tanaman hias dengan penuh kelembutan.


"Jangan khawatir. Ibu selalu mendo'akanmu" sahut Flinna tanpa menoleh pada Sella.


"Apa ibu tidak khawatir berpisah denganku? Padahal aku menghkawatirkan ibu."


"Jangan khawatirkan ibu. Konsentrasilah mengurus suamimu."


"Haha. Ibu pikir suamiku seperti bayi yang harus aku mandikan setiap hari?" kata Sella tertawa renyah.


Ia berpikir mengurus suami tidak akan repot seperti mengurus bayi, sebab yang ia nikahi adalah pria dewasa yang tentu bisa mandi dan mengurus dirinya sendiri. Tapi sejenak ia ragu mengingat yang ia lihat pada interaksi antara Zen dan Alrega, sepertinya tuan muda itu sangat tergantung pada sekertarisnya.


'Apakah akan... mengurus tuan Rega seperti bayi? Ahk...!'


Sella menggelengkan kepala mengusir pikiran anehnya. Ia kembali berpikir positif bahwa ia akan baik-baik saja dalam menjalani hukumannya. Ia hanya melakukannya untuk kebahagiaan ibunya.


"Kau lihat hari ini adalah gantinya hari kemarin, kan?" kata Flinna, ia kini duduk di samping Sella sambil mengusap punggung anaknya.


"Selama gelap malam masih berlalu, maka tidak ada rasa sakit yang abadi. Dan kesusahan akan sirna. Cobaan hidup pasti hilang. Kita tidak akan selamanya sedih atau menderita."


"Ibu, tapi aku tidak biasa harus jauh darimu... aku pasti merindukan ibu." kata Sella manja pada ibunya.


Sekarang-sekaranglah waktunya ia akan bermanja-manja dengan Flinna, sebab bila ia sudah keluar dari rumahnya, maka ia akan sulit untuk pulang. Yang ia pikirkan bagaimana halnya hidup dalam sebuah penjara. Menikah dengan Alrega sama seperti menandatangani klausa kematiannya.


"Sese, kau anak yang baik, ibu yakin kau juga akan mendapatkan suami yang baik"


'Oh, aku hampir tertipu dengan kata-kata itu, aku harus waspada, bu. Baik dari mana? Dia pendendam!''


"Bukankah ibu juga baik, kenapa harus mendapatkan orang seperti suami ibu itu?"


"Semua orang mendapatkan ujian hidupnya masing-masing. Seharusnya setiap orang bisa keluar dari ujiannya itu sebagai pemenang. Tapi banyak juga orang yang kalah."


"Jadi maksud ibu kita ini orang yang menang sedangkan laki-laki itu orang yang kalah?"


"Mungkin. Kita sama-sama diuji kan?"


"Hmm...ibu benar."


"Apa kau sudah mandi? Berdandan sana. Agar terlihat lebih manis."


'Justru aku ingin terlihat jelek.'


"Baiklah, bu."


Beberapa jam berlalu hingga menjelang siang. Sella sudah lelah menunggu hingga ia hampir tertidur ketika suara mobil memasuki halaman rumahnya.


"Sese! Lihat orang yang kau tunggu sudah datang!" seru Flinna ketika melihat Zen turun dari mobil sambil merapikan jas hitamnya.


"Suruh dia pergi, bu. Bilang aku mau tidur!"


"Sese! Kalau adik-adikmu tidak sekolah hari ini maka kau akan mendapatkan buliyan mereka. Ayo bangunlah!"


Hari ini sampai hari pernikahan Sella digelar, ia menutup tokonya karena ia akan pergi dan ia tak ingin merepotkan Rika dan ibunya. Sedang kedua adiknya masih sekolah. Sella akan kembali membuka tokonya bila ia diizinkan untuk tetap bekerja.


Sella bangun sambil merapikan pakaiannya, ia memakai gaun setelan tunik warna peach dan celana panjang hitam diatas mata kaki. Rambutnya yang hitam panjang dan keriting rintik-rintik itu ia biarkan terurai. Ia malas melakukan apapun pada rambutnya.


Selama ini, Justru Flinna yang sering merawat rambut anaknya itu dengan minyak yang ia buat sendiri dari aneka macam bunga.

__ADS_1


Sella keluar tumah dengan raut wajah yang masih mengantuk. Riasan tipis yang sudah ia poleskan tadi sudah luntur.


"Nona muda, selamat siang" kata Zen sambil menurunkan beberapa barang. Ia membungkuk hormat pada Sella dan Sella membalasnya.


"Nona, kau tidak perlu melakukan itu bila sudah menjadi istrinya tuan Rega."


Sella tak menjawab, sebaliknya ia bertanya.


"Kenapa lama sekali. Aku pikir kau akan menjemputku tadi pagi." kata Sella malas.


"Maaf, nona. Saya harus melengkapi barang ini."


"Apa itu?"


Semua barang yang dibawa oleh Zen adalah pakaian yang harus dipakai oleh keluarga Sella dihari pernikahannya esok hari. Itu adalah pakaian pesta untuk ibu dan dua adiknya juga Rika, asisten Sella.


Flinna menerima dengan senang hati. Ternyata menantunya itu tidak mengingkari janjinya yang akan mengurus semua soal pernikahannya.


"Besok akan ada yang menjemput ibu juga. Jadi ibu tidak perlu khawatir." kata Zen.


Mereka berdua memasuki mobil setelah Zen selesai memasukkan semua barang kedalam rumah. Mobil itu berlari dengan kecepatan tinggi setelah Sella berpamitan pada ibunya. Ia tadi memluk Flinna seolah akaxn pergi selamanya.


Suasana di dalam mobil seperti kuburan, sepi. Hanya ada suara deru mesin mobil yang terdengar halus. Kedua orang itu hanya dipisahkan oleh kursi saja, depan dan belakang. Tapi seolah jarak yang tercipta sepuluh kilo meter jauhnya.


"Sekertaris Zen, boleh aku bertanya?" tanya Sella setelah sekian lamanya mereka hanya diam. Ia melihat ke luar jendela. pemandangan yang jarang ia lihat.


"Silahkan nona." sahut Zen sambil melirik Sella dari kaca spion depan mobilnya.


"Kemana kau akan membawaku? Di mana pesta digelar?" tanya Sella lagi.


"Nanti nona juga akan tahu." jawab Zen.


"Ck!" Sella mendecak keras. "Aku menyesal bertanya padamu." diam lagi.


"Apa kalian akan menguliti dengan perlahan sampai aku mati?" kata Sella menertawakan dirinya sendiri.


"Kami bukan penjahat, nona." sahut Zen tegas.


'Kau pikir aku percaya?'


"Ah, iya. Kau bilang kan. Kalian pebisnis? Bisnis macam apa yang kalian lakukan, menjual nyawa manusia?" kata Sella lagi kembali menertawakan dirinya sendiri.


"Itu terlalu kejam, nona." sahut Zen datar. Zen merasa aneh dengan Sella yang terlalu berani menurutnya, tapi karena mengingat latar belakang dan pengalaman Sella, wajar saja bila wanita itu bersikap begitu berani, padanya.


Duk!! Sella menendang kursi didepannya di mana Zen duduk sambil mengemudi.


'Lalu apa yang kalian lakukan ini menurutmu, bahkan ini terlalu kejam buatku!'


"Nona. Apa nona lapar?" tanya Zen ketika berhenti disebuah trafighligt. Ada sebuah restoran mewah di sana.


"Tidak. Apa kau lapar sekertaris Zen?" kata Sella balik bertanya.


"Tidak." jawab Zen singkat.


'Dasar sekertaris sialan!'


Dukk! Suara kursii ditendang dari belakang terdengar lagi.


"Tidak usah tanya kalau memang tidak lapar. Aku tidak akan makan berdua di restoran denganmu. Apa kau pikir tuan Rega tidak akan cemburu?"


"Tidak, nona.."

__ADS_1


"Ah, iya. Bodohnya aku. Memang siapa aku yang akan membuat suaminya cemburu? Tidak mungkin kan?" Sella kembali tertawa hambar.


"Maksud saya, kalau nona lapar, saya akan memesankan nona makan direstoran itu." kata Zen ketika melewati sebuah restoran yang cukup ramai karena ini sudah masuk jam makan siang.


'Tidak ada cinta antara kami bagaimana mungkin dia akan cemburu?'


"Ayo kita makan berdua sekertaris Zen. Kelihatannya sangat romantis."


"Jangan bercanda, nona. Anda calon istri tuan muda. Saya tidak akan melakukannya."


"Ah, sudah kuduga. Tapi kau cukup tampan untuk ukuran seorang pengawal. Aku yakin kau juga bukan pengecut."


'Anda cukup berani mengatakan itu pada saya, nona. Mungkin cuma anda yang bisa seberani ini dengan saya'


Perjalanan yang cukup jauh menurut Sella dan ia terlihat bosan. Hampir satu jam mobil itu berjalan membawa Sella dengan perasaan gelisahnya yang tiba-tiba muncul.


'Jalan ini, jalan yang sama dengan jalan hotel...itu?'


Belum selesai Sella bermonolog dalam hatinya, mobil itu sudah memasuki sebuah halaman parkir sebuah hotel mewah. Tulisan 'Baisyl Hotel' terpampang jelas dengan ukuran yang sangat besar menyapan di depannya.


"Nona kita sudah sampai." kata Zen dari balik kemudi. Ia menoleh ke belakang di mana Sella terdiam kaku.


Sella mengeja nama hotel itu dalam hatinya ia seperti kembali ke masalalu di mana ia melakukan kejahatan yang ia menjadi pelakunya. Ia tak bergerak sama sekali tapi ia mulai menangis. Tubuhnya tegang seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi melebihi putihnya kapas. Ia memukul kursi di depannya dengan tangannya sambil menangis. menempelkan kepala pada sandaran kursi di depannya.


"Kalian benar-benar akan menyiksaku? Kau tau sekertaris Zen? Ini adalah tempat yang ingin aku lupakan seumur hidupku dan kalian membawaku ketempat ini? Bunuh saja aku! Bunuh aku sekarang juga!" kata Sella berteriak di dalam mobil. Menangis keras.


"Nona..." kata Zen sambil membuka kan pintu mobil untuk Sella.


"Aku tidak mau keluar! Bawa aku pulang!" kata Sella masih menangis.


'Aku sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kakiku lagi ketempat ini, jalan-jalam menuju hotel inipun aku hindari. Bahkan karena itu aku pindah rumah, setelah kejadian yang sangat kusesali... Dan sekarang kalian membawaku kemari. Sungguh ini siksaan yang sempurna sekali. Ahk, kenapa aku tidak menduga kalau aku akan disiksa dengan cara seperti ini?'


"Maafkan saya, nona." Zen menguatkan diri untuk tidak terbawa emosi. Banyak orang yang mengenali siapa dirinya di tempat ini. Ia tak mungkin berbuat sesuatu yang diluar kewajaran. Kalau bisa, ingin rasanya ia menyeret wanita itu keluar saat itu juga.


"Ck! Ck! Ck! Kalian memang akan menyiksaku. Tempat ini adalah salah satu tempat yang paling kubenci!" kata Sella sambil menyeka airmata dipipinya kasar.


Gadis itu keluar dengan tubuh gemetar dan tungkai kaki yang terasa lemas.


"Bolehkah aku memegang tanganmu Sekertaris Zen?'' kata Sella memohon. Wajahnya basah dan sembab setelah beberapa saat yang lalu ia menangis.


" Silahkan, nona." kata Zen sedikit ragu. Ia terpaksa, karena melihat Sella yang memang tangannya, ia membutuhkan dukungan.


Sella mencengkram kuat pangkal lengan Zen yang ia pegang untuk memberinya kekuatan berjalan. Ia merapikan rambutnya dan mengusap wajahnya agar bersih dari sisa airmata. Lalu melangkah dengan perlahan sambil mengumpulkan kekuatan dikakinya.


'Ini baru permulaan. Kau harus kuat Sese. Ini baru permulaan.'


Sampai dilift, Sella menoleh kearah ballroom hotel yang sudah dihias dan ditata dengan sangat mewah bak istana raja-raja. Ia mendesah kesal, melihat semua persiapan semewah itu hanya untuk melakukan sebuah hukuman. Itu terlalu berlebihan.


"Sekertaris Zen, menurutku pesta semewah ini terlalu indah bila hanya ingin menghukumku, bukankah begitu?"


"Jangan berfikir terlalu naif, nona. Pesta ini bukan untuk anda."


'Sialan! Aku tahu. Mana mungkin orang seperti kalian ini bodoh membuat pesta untukku. Pasti ada maksud lain. Aku tahu!'


"Sekertaris Zen. Biasanya orang akan menghindari tempat dimana dulu ia pernah terluka. Tapi kenapa tuan Rega membuat pesta ditempat yang sama? Apakah menurutmu ini agak aneh?" tanya Sella. Tapi Zen tidak menjawab.


Alrega bersikap berbeda dari orang lain karena tempat yang dulu pernah membuat semua orang malu akan ia ganti dengan kenangan yang lainnya. Ia seperti akan menghilangkan mimpi buruk hotel milik keluarga itu dengan sesuatu yang luar biasa.


Sella dibawa masuk ke sebuah ruangan presidential swet room yang membuat Sella tercengang dengan apa yang dilihatnya kali ini.


'Ini penjara yang terlalu mewah, haha'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2