Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 64. Memanfaatkan Sebelum Berakhir


__ADS_3

"Aku mencari sesuatu yang Rega tidak bisa memberikannya padaku."


Ck!


"Apa itu?" Kata Sella.


"Kau tidak perlu tahu. Aku butuh inspirasi untuk butikku."


"Kau meninggalkannya untuk karirmu, padahal karirmu tetap saja membutuhkan dukungannya. Apa kau tidak sadar itu?"


'Kau tidak punya malu'


"Itu urusanku." Delisa berkata sambil memalingkan muka.


"Hmm ... Tapi baguslah, mungkin itu jalan dari Tuhan, agar Tuan Al, bisa jadi suamiku," kata Sella tersenyum penuh arti.


"Kau jangan bermimpi, untuk mendapatkan cintanya, karena itu tidak akan pernah terjadi. Kau boleh saja sekarang menjadi istrinya, tapi akulah orang yang dicintainya."


"Jadi menurutmu begitu? Baiklah, aku akan memanfaatkan semua yang bisa aku dapatkan darinya, sebelum semuanya berakhir. Kuharap kali ini kau tidak keberatan bukan?"


"Tidak. Lakukan saja," kata Delisa menahan geram di hatinya, kedua tangannya yang berada di samping badannya, mengepal.


"Haha. Delisa, kau ternyata luar biasa baik. Seharusnya kau tidak akan rela kalau orang yang kau cintai sangat royal dan dimanfaatkan oleh wanita lain, bahkan tidur bersamanya," kata Sella sambil menghabiskan minumannya.


Mendengar ucapan Sella, wanita itu semakin panas seolah serangan jantung mendatanginya. Kalau memang benar, Alrega sudah mau tidur dengan wanita kelas rendah seperti Sella, apalagi yang bisa ia harapkan selain kematiannya.


'Tunggu saja waktu yang tepat untuk hari dimana hidupmu harus berakhir di tanganku'


Sella melihat Delisa pergi meninggalkannya, ia kembali duduk dan menghabiskan makanannya. Tak lama Leona muncul, gadis itu duduk di hadapan Sella lalu, mengambil sesuatu yang ada di dekat kotak tissu. Sella mengerutkan alis melihat apa yang diambil oleh Leana.


'Kenapa aku tidak melihat sesuatu yang aneh di sana, tadi? Ahk, dia pasti melakukannya! Tenang, semua akan baik-baik saja. Memangnya apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Tidak ada gunanya takut'


Sella berusaha melenyapkan rasa takutnya. Kemunculan Delisa, semua pengakuan dan sikapnya, sudah menjadi hal yang membuatnya tercengang. Lalu sekarang seseorang sudah mengirimkan rekaman. Ia hanya perlu menghadapinya saja, kan? Memangnya apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang tawanan.


"Apa itu ponsel mu?" Sella bertanya seolah sudah menduga kebenarannya.


Sambil tersenyum, Leana pun mengangguk ia memeriksa layar ponselnya, menekannya beberapa kali, lalu menaruhnya kembali di atas meja


"Apa kau sengaja meninggalkannya di sini, menyalakan pemutar rekamannya, lalu mengirimkannya pada tuan Rega. Apa aku benar?"


"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja merekamnya," kata Leana tanpa melihat nona mudanya.


Sella tersenyum miring, ia sama sekali tidak terkejut dengan tindakan Leana. Walaupun jarang terjadi, tapi ia menyadari bahwa kelak ia akan terbiasa, mengingat kehidupan seperti apa yang dialaminya. Ia akan selalu mendapatkan kan sesuatu yang di luar dugaan, diluar kendali dan diluar keinginannya. Ia adalah tawanan, sudah pasti akan terus diawasi oleh orang seperti Leana ini.


"Tidak masalah, itu sudah tugasmu kan?"


Dan Mereka pun menyantap makanannya sampai habis.


Sementara di tempat lain.


Delisa mendekati seorang wanita paruh baya, yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ketika Delisa duduk dihadapannya, wanita itu mendongak menatapnya.


Wanita itu berkata, "dari mana saja kau lama sekali. Aku sudah lapar."


Delisa memberikan makanan yang ada di tangannya dan ia letakkan ke atas meja, wanita itu adalah ibunya. Dia sudah menerimanya kembali, setelah ia pergi sejak dua tahun yang lalu.


Ketika Delisa mendatangi wanita itu, saat kepulangannya, wanita itu tidak mau mengakuinya sebagai anaknya lagi. Bagaimana tidak, Delisa membuat malu yang luar biasa pada keluarga besarnya. Tapi Delisa cukup ulet dalam merayunya, dan bisa menaklukkan wanita itu kembali, hingga ia kini bisa pergi ke tempat seperti ini dengannya. Ibunya kembali menyayanginya.


Delisa anak semata wayangnya yang sudah pergi selama dua tahun dan kembali dengan membawa sebuah kesuksesan, bisa membuat butik kesayangan mereka kembali di buka dan mendapatkan keuntungan. Hal inilah yang membuat hati wanita itu luluh, ia sebagai seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya begitu saja.


Seorang anak, selamanya akan menjadi anak bagi ibunya. Walaupun begitu dalam rasa malu dan rasa sakit yang diakibatkan oleh anaknya, tapi karena kasih sayang yang tidak berbatas pada hati seorang ibu, akan mampu memaafkan sebesar apapun kesalahannya, dan tetap akan kembali menerimanya sebagai anaknya.


"Siapa yang kau temui, apakah itu pacarmu? Kenalkan pada ibu agar kau segera menikah, aku tidak tenang melihatmu seperti ini, jangan lakukan kesalahan lagi."

__ADS_1


"Aku bertemu seseorang. Ibu pasti kaget kalau tahu."


"Siapa?"


"Istrinya Rega, bu."


"Jangan bodoh, jangan berurusan lagi dengan keluarga Rega, aku sudah sangat bersyukur bahwa orang seperti Haquel, tidak membuat perhitungan dengan keluarga kita. Setidaknya mereka tidak menghancurkan bisnis peninggalan ayahmu. Semua orang tahu kau juga bersalah. Jadi sudah cukup kebodohanmu, dengan membuat Rega mau mendukung usahamu, dan mempromosikan butik mu waktu itu,"


"Tidak, bu. Aku tidak berbuat apa-apa. Aku baru menyadari kalau istri Rega adalah wanita yang sudah dihamilinya, dua tahun yang lalu."


"Apa. Apa Rega sebodoh itu?"


Saat pernikahan Alrega terjadi berita itu begitu menggemparkan, semua orang di Jinse tahu, tapi hanya orang penting saja, yang bisa datang ke tempat itu, ibu Delisa mengetahui kabar pernikahan itu, hanya saja ia tidak tahu siapa yang menjadi istri Alrega, menggantikan posisi anaknya.


'Dia tidak bodoh Bu. Dia sangat licik, hanya ingin membalas dendam padaku, menikahi orang yang sudah aku bayar untuk menipunya, seolah-olah wanita itu adalah senjata makan tuan bagiku. Dan dia berhasil, aku hampir mati tercekik saat aku tahu, siapa wanita yang sudah dinikahinya'


Delisa tersenyum kecut.


"Aku juga tidak percaya Bu, sebenarnya apa yang mereka lihat dari wanita itu, tidak pantas."


"Jangan berurusan lagi dengan Rega. Atau kau mungkin tidak akan selamat kali ini. Kau harus bersyukur dia membiarkanmu pergi, karena kau sudah dikhianati, aku juga kecewa. Aku tidak menyangka orang terhormat seperti Rega bisa menghamili wanita rendahan bahkan bukan dari kalangan kita."


"Ibu, benar. Wajar kan aku meninggalkannya."


Ibu Delisa mengangguk. Lalu ia berkata, "Sudah lah, itu masalalu."


Mungkin semua orang akan menilai bahwa wanita yang dinikahi Alrega kali ini benar-benar tidak pantas baginya.


Alrega waktu itu hanya berpikir, untuk membalas dendam pada Delisa, ketika ia mengetahui bahwa wanita itu sudah kembali. Secara kebetulan ia menemukan Sella, hingga Ia mempunyai sebuah rencana, bahkan ia tidak berniat untuk sungguh-sungguh menikahinya. Namun ketika ia bertemu gadis itu di atas atap gedung, melihat bagaimana tingkah dan sikapnya, ketika berhadapan dengan dirinya, jiwa kelelakiannya benar-benar tertantang untuk memiliki dan menaklukkannya.


Bagaimana bisa ada seorang wanita, yang tidak menginginkannya bahkan berani menertawakan? Sella waktu itu bersikap acuh, cuek dan juga berani mencebik padanya. Perasaan seperti ini, tidak akan dimengerti oleh orang yang hanya melihat Alrega dari luarnya saja. Padahal di dalam diri Arega, wanita itulah, yang bisa membangkitkan sesuatu dalam dirinya, yang sudah lama tertidur bahkan ia berusaha untuk memadamkan nya. Cinta dan ketertarikan pada lawan jenis!


***


Alrega memutar ulang isi rekaman di dalam ponselnya, ada beberapa kata yang membuatnya menarik sudut bibirnya, tapi ada juga beberapa bagian rekaman, yang membuatnya menahan geram dan mengeraskan rahangnya.


"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan pada Delisa, berhati-hatilah padanya, jangan sampai ia mendekati istriku lagi seperti hari ini," kata aylrega tanpa melihat pada Zen yang sedang menatap layar laptopnya di sofa.


"Baik, tuan." Zen menoleh pada Alrega dan menundukkan kepalanya. Pria itu tampak berpikir.


Ia sudah berbuat banyak untuk menahan Delisa, agar tidak bertemu dengan Sella. Siapa yang menyangka kalau kedua wanita itu justru bertemu di perayaan taman kota. Perayaan seperti itu identik dengan perayaan rakyat biasa. Ia juga heran bagaimana mungkin Delisa ada di sana. Zen tidak tahu kalau Delisa pergi berjalan-jalan di sana, karena tempat itulah yang diinginkan oleh ibunya.


Sejak kejadian dua tahun lalu, yang memalukan keluarganya. ibu Delisa tidak lagi bergabung dalam kelompok sosialita wanita seperti yang iya lakukan sebelumnya.


Zen turut mendengarkan rekaman itu dengan sabar dan kemudian ia menyimpulkan, bahwa nona mudanya adalah wanita yang kuat, tidak gampang terpengaruh, dan juga pandai dalam menilai keadaan hingga ia tahu bagaimana harus bertindak.


Zen tahu bahwa Alrega sebenarnya menyukai Sella apa adanya, hanya saja ia tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak di sukai Alrega, walaupun ia sangat ingin meminta agar Alrega mengatakan dengan jujur apa isi hatinya yang sesungguhnya pada Sella.


"Tuan, apa anda akan menghadiri rapat, atau mau langsung pulang menemui nona?" Kata Zen sambil membereskan laptopnya.


Mereka berdua adalah orang yang sangat sibuk. Bukan perkara mudah menjadi seorang pemimpin dan bertanggung jawab pada perusahaan yang ada dalam kekuasaannya. Biasanya para pimpinan ini akan membuat perhitungan secara cermat beberapa langkah kedepan, sebelum memulai satu langkah. Semua mereka kaji dan bahas, tentang keuntungan dan kerugiannya, resiko dan segala akibatnya baik dan buruknya. Semua harus mereka lihat dari segala penjuru. Bahkan untuk melenyapkan seekor semut pun akan mereka perhitungkan kalau itu menyangkut tanggungjawabnya. Mereka akan sangat teliti.


"Apa ayah akan hadir hari ini?" tanya Alrega sambil beranjak dan mengenakan jas yang ia letakkan di sandaran kursi, Zen membantunya.


"Tentu, ini adalah rapat dewan direksi atas usul tuan besar sendiri."


"Ck! Apa urusannya denganku?"


"Kita akan semakin banyak mempelajari karakter mereka, tuan."


"Baiklah, ayo." Mereka berdua pergi ke ruang rapat, setelah Alrega mendecih.


Warisan kakek Nigiro masih jadi wewenang Rehandy, Alrega hanya bertanggung jawab dengan Art Design Group. Kalau bukan karena permintaan Rehandy untuk datang, ingin rasanya ia pulang saat itu juga. Rehandy belum menyerahkan perusahaan warisan, dari Nigiro group pada Alrega, dikarenakan dirinya masih hidup. Sedangkan perjanjian keluarga Leosan mengatakan, warisan keluarga hanya boleh diberikan kepada keturunannya bila si pemilik warisan sudah tiada.

__ADS_1


Harta warisan dari Kakek Nigiro Leosan yang menjadi hak dan bagian Rehandy, memang belum diserahkan kepada Alrega, karena perjanjian keluarga yang harus mereka taati. Meskipun demikian, harta yang dimiliki Alrega, jauh melebihi kekayaan paman-paman dan semua sepupunya, karena apabila kelak warisan dari ayahnya, digabungkan dengan warisan yang ia miliki dari Haquel, maka harta kekayaan paman-pamannya tidaklah sebanding dengan apa yang dimilikinya.


Sampai di ruangan rapat di gedung Nigiro group Alrega melihat Semua paman-paman sepupu yang menjadi bagian dari dewan daerah direksi para pemilik saham terbesar perusahaan itu ada di sana Dan juga marla


'Nenek, ada urusan apa nenek di sini?'


Mereka, Zen Alrega, memandang kedua orang yang ada di ujung meja, tempat yang biasa dipakai sebagai pimpinan rapat, dengan mengernyit. Alrega duduk di tempat duduk yang sudah disediakan oleh sekretaris penyelenggara rapat. Zen duduk di tempat yang disediakan untuk para sekretaris dewan direksi.


Rapat dimulai seperti biasa, dengan


mempresentasikan keuntungan, dan pergerakan perusahaan, yang mereka pimpin masing-masing, hingga akhirnya pada sesi akhir acara, nenek mengatakan bahwa, ia akan memberikan lima persen dari kepemilikan sahamnya, dan akan diserahkan kepada cucu menentunya, Sella.


"Cukup, diam kalian semua!" kata nenek ketika terdengar suara riuh dan ribut di ruangan.


"Dengar, aku hanya memberi pengumuman saja, aku tidak meminta persetujuan dari kalian, karena yang akan aku berikan adalah bagian dari saham ku sendiri, aku tidak mengambil sedikitpun dari milik kalian, jadi ketika nanti aku mati, kepemilikan lima persen saham yang aku miliki sekarang tidak bisa kalian ganggu gugat. Hanya itu yang ingin aku sampaikan dari rapat ini."


Rehandy anak bungsu Marla, dan sudah menjadi keputusannya tinggal dan hidup bersama anak bungsunya itu.


"Apa ayah sudah tahu?" tanya Alrega. Dan Rehandy mengangguk.


Alrega menatap pada paman-pamannya, yang memandang mereka dengan tatapan tidak suka. Pengurangan saham walaupun hanya lima persen, sangat berarti bagi mereka, sebab kelak apabila Marla meninggal, mereka pun akan membagi kekayaannya, dengan bagian yang sama. Tentu saja apabila sekarang sudah berkurang lima persen, maka kekayaan yang mereka dapatkan, akan berkurang sebanyak itu juga.


Zen dan Alrega mengangguk, mereka sekarang mengerti, untuk hal ini rupanya mereka diundang rapat, begitu juga semua sepupunya, untuk membicarakan pembagian lima persen saja.


Ck!


"Apa bagusnya lima persen? Cih! Bahkan aku bisa memberikannya lebih banyak dari itu." kata Alrega setelah mereka berada di luar ruangan. Mereka berjalan kembali ke tempat parkir mobil.


Sementara beberapa paman dan sepupu masih ada yang membicarakan berita besar ini di ruang rapat. Menurut mereka, Rehandy mendapatkan bagian yang akan jauh lebih banyak, karena kelak rumah Kaki Langit yang ia tempati, otomatis akan menjadi miliknya, karena dialah yang tinggal bersama Marla.


"Tuan, ini pemberian nenek, walaupun menurut anda kecil, tapi nilai lima perseen dari kekayaan Nigiro, sangat berarti untuk nenek, dan Nona Sella. Tentu saja Anda bisa menambahkannya lebih banyak, seperti yang Anda inginkan."


"Hmm..."


"Tuan, Bukankah ini bagus untuk Nona muda? Hanya Nona yang mendapatkan hadiah seperti ini dari nenek, tetapi menantu cucunya yang lain, tidak."


"Hmm..."


"Tuan, ini artinya nona muda sudah menarik hati Nyonya Marla, tuan besar, bahkan kakek Haquel dan Hanza, bagaimana kalau lebih banyak orang yang tertarik dengan Nona? Saya tidak menyangka kalau anda, akan menikahi wanita yang begitu mudahnya disukai oleh banyak orang."


Mendengar ucapan Zen, Alrega menghentikan langkahnya dan ia menghadap Zen sambil mengusap pelipisnya.


Ia berkata, "apa yang kau katakan, coba ulangi lagi?"


'Memangnya apanya yang salah? Makanya, akui saja perasaan anda'


"Aku tidak akan membiarkan istriku disukai banyak orang," kata Alrega, menatap Zen dengan kesal.


'Oh jadi seperti itu, lalu semua pasti melibatkan aku, kan?'


"Ya, tentu saja Tuan."


"Hubungi dia, katakan aku akan pulang terlambat malam ini, biar dia tidak menungguku."


"Apa ini, orang lain memberinya hadiah, tuan bahkan mau pulang malam? Apa Tuan mau mengerjai Nona lagi? Ahh, yang benar saja Tuan'


Sementara itu di salah satu kamar.besar di Kaki Langit.


Sella sedang berselancar menjelajahi dunia di internet, ketika ia menerima sebuah pesan dari nomor ponsel milik Zen bahwa Alrega akan pulang terlambat hari ini karena masih ada urusan yang akan mereka lakukan


Setelah membaca pesan itu, Sella menyimpan ponselnya di sisinya. Dan ia beringsut memeluk guling yang ada di sampingnya, dengan wajah cemberut, merasa dandanannya sia-sia. Sella sudah merias diri cukup cantik, memakai gaun malam yang jarang ia kenakan, dari lemari pakaiannya, meskipun kesal, ia tidak bisa melakukan apa-apa ataupun sekedar protes pada Alrega.


Sella sengaja menunggunya sampai matanya terkantuk-kantuk, dan ia hampir saja tertidur. Bukan tanpa alasan ia menunggu Alrega. Ia hanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan laki-laki itu padanya, setelah tahu isi rekaman pembicaraan dirinya dengan Delisa.

__ADS_1


Ceklek! Suara hendel pintu dibuka.


bersambung


__ADS_2