Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 23. Cium Aku!


__ADS_3

"Kenapa tadi, tidak kau pakai perhiasan dariku?" tanya Alrega setelah Sella duduk di samping nya, Ia menatap wajah Sella intens. Sedang yang ditatap melihat hal yang lain.


'Aku harus jawab apa biar dia senang? Hei, Zen! kau tidak perlu menutup pintunya!'


"Maaf, saya lupa. Apalagi saya merasa tidak cukup pantas memakainya. Bagi saya perhiasan itu terlalu mewah."


'Apa aku tidak salah dengarkan? Terlalu mewah katanya.' Alrega


Alrega meraih tangan Sella yang tersemat cincin ditangannya. Lalu mengusap tangan itu lembut.


"Cincin ini sudah berada ditangan yang tepat." jari Sella memang terlihat lebih bersinar.


Tapi Sella berusaha menarik tangannya, Alrega menggenggam tangan Sella lebih kuat. Hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa pada tangannya.


Alrega kesal sekaligus merasa seperti kesemutan, hatinya digelitik geli, dia harus bagaimana sekarang, haruskah ia tertawa atau memukulnya?


'Menyebalkan!'


Sella juga melihat kearah jarinya yang kini berhias cincin berlian putih. Sejak tadi ia tak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu. Apalagi saat tiba-tiba Alrega kembali mengecup jari tangannya.


Mata mereka berpandangan saling mengunci. Suasana seperti itu tidak pernah disangkanya. Alrega sengaja membuat Sella ketakutan karena ia tahu bila Sella adalah wanita yang membenci laki-laki.


"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Alrega.


'Apa yang ingin aku katakan? Aku ingin mengatakan, apa maksudnya jangan lepaskan sampai kapanpun? Hei, hubungan kita hanya sampai hukumanku berakhir. Siapa yang mau menghabiskan seluruh sisa hidup bersama orang sepertimu?'


"Baiklah. Terimakasih atas semua yang sudah anda berikan untuk kami. Sungguh itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kami." kata Sella pada akhirnya, ia menybunyikan kegugupannya. Dan melepaskan tangannya dari pria berpenampilan milyaran di sampingnya.


Alrega menggeser duduknya begitu dekat dengan Sella. Dan ia mencubit kecil dagu Sella membuat badannya menjadi kaku. Mata mereka bersitatap dengan mengalirkan perasaan masing-masing yang berbeda. Sepertinya jendela hati dalam pupil itu terbuka.


"Apa kau senang?" tanya Alrega tepat diwajah Sella, hembusan nafasnya terasa hangat dikulitnya. Tapi ambiens yang ada di sana membekukan seolah berada dalam lemari es. Sella tetap diam, ia membeku.


'Senang apanya yang membuatku senang? Senang kepalamu!'


"Aku sudah memenuhi permintaanmu, bukan?" tanya Alrega lagi. Sella tidak bisa berkata-kata karena begitu gugupnya. 


"Aku sudah menunjukkan pada ibumu kalau aku menyukaimu."


'Oh, itu... Lalu?'


"Jadi, apa hadiah untukku?" Alrega kembali bertanya.


"Maaf. Saya tidak punya apapun yang pantas saya berikan pada tuan."


"Benarkah?" tanya Alrega dan Sella menangguk, dagunya masih dalam cengkraman tangan Alrega.


"Kalau begitu. Cium aku" kata Alrega dengan menyeringai.


Sella melepaskan dagunya dari cengkraman Alrega dengan menggelengkan kepalanya hingga kepalanya hampir terantuk jendela.


"Kalau kau memang tidak memiliki apa-apa, kau bisa menciumku, kan?" kata Alrega, tapi Sella tetap diam.


Memangnya apa yang bisa diberikan oleh seorang wanita, yang tidak memiliki ap-apa, untuk diberikan pada seorang lelaki selain tubuhnya?


"Atau aku yang akan menciummu?" tanya Alrega semakin mendesakkan tubuhnya pada Sella.


'Apa? Sialan. Siapa yang mau mencium laki-laki sepertimu!'


Karena tidak ada respon dari Sella, maka Alrega menarik pinggang Sella dengan tangan kanan dan menahan tengkuk belakang Sella dengan tangan kiri lalu menempelkan bibirnya pada bibir Sella. Menciumnya dengan paksa. Sella menutup akses pada mulutnya. Tapi setidaknya Alrega mendapatkan ciuman yang ia ingin kan.


Dengan sekuat tenaga Sella mendorong Alrega dengan kedua tangannya, ia berhasil membebaskan dirinya walau nafasnya tersengal-sengal.

__ADS_1


"Kau...?" kata Sella dengan penuh amarah.


"Beraninya, menciumku. Apa hakmu?"


'Itu ciuman pertamaku. Kenapa harus menciumku, si.'


"Kau calon istriku."


'Aku meminta imbalan yang pantas atas kebaikanku. Padahal kau adalah tahananku.' sorot matanya seolah mengatakan, ini belum seberapa...


'Ah, iya. Aku istri tahanan baginya. Mungkin siksaan yang lain akan lebih berat lagi. Nasib macam apa ini?'


"Keluarlah." kata Alrega masih dengan senyum smirknya. Ia sepertinya senang dengan menganggu gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Sella membuka pintu mobil dengan kesal, rona merah amarah diwajahnya tidak bisa ia sembunyikan. Zen menutup pintu kembali dan melajukan mobil setelah menunduk pada Sella dengan senyum tipis.


Sella menatap kepergian mobil itu dengan perasaan campur aduk.


Zen mulai mengemudi, ia melirik pada spion depan dan melihat Alrega yang duduk di kursi belakang. Raut wajahnya tampak tenang tapi ada sesungging senyum dibibirnya.


"Tuan. Nona tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun sebelumnya." katanya sambil terus mengemudi.


"Lalu?"


"Pelan-pelan saja tuan jangan terlalu terburu-buru. Atau nona akan membenci anda."


"Hmm..." gumam Alrega dengan tetap melihat keluar jendela.


"Aku yang membuat ciuman pertamanya." kata Alrega sambil merebahkan kepalanya dan tertawa kecil.


"Iya, tuan. Harus anda. Orang lain tentu tidak boleh."


"Jangan sampai ada orang lain yang mendekati istriku. Kau harus menjaganya dengan baik."


"Hmm."


Sebentar lagi ia akan kembali memiliki seorang istri yang akan menjadi ibu bagi penerus keturunan Nigiro. Tapi masih ada sedikit keraguan dalam hati Alrega, akankah ia akan memiliki anak dari wanita yang tidak tahu bagaimana cara berciuman?


Apalagi semua ini karena berhubungan dengan masa lalu mereka. Alrega juga tahu apa yang membuat Sella bersikap seperti itu. Tidak lain karena ayahnya yang menjadi trauma bagi masa remajanya.


Masa lalu tidak pernah hilang, ia ada tapi tersesat jalan, hingga kadang masa lalu menitipkan sesuatu dalam sebuah pesan yang tidak pernah kita duga dan biasanya berupa kebetulan, lalu kita menyebutnya kenangan.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan dan memecah malam menuju peraduan dimana semua kelelahan disimpan dengan nyaman.


***


Beberapa hari berlalu.


Sella tampak sibuk di tokonya dengan Rika yang melakukan tugasnya dengan baik. Waktu berlalu seperti berlari tanpa pernah mau menunggu manusia yang tidak bisa mengimbangi lajunya. Setiap detik itu berharga walau hanya dihabiskan untuk menyenangkan orang lain, tapi pada intinya setiap waktu itu untuk diri sendiri juga.


"Sese, apa belum ada kabar apapun dari calon suamimu?" tanya Flinna yang tiba-tiba masuk kedalam toko dengan membawa dua cangkir teh.


"Ibu, tidak perlu repot seperti ini, tapi terimakasih." kata Rika menyambut teh yang ada ditangan Flinna. Gadis manis berkulit gelap itu tersenyum.


"Kabar apa, bu? Abaikan saja. Anggap saja aku tidak akan menikah." jawab Sella tanpa melihat ibunya, ia sibuk menyusun beberapa barang. Keringat membanjiri tubuhnya.


"Apa maksudmu? Semua tetangga kita sudah tahu kalau kamu sudah dilamar seorang laki-laki malam itu."


"Benarkah? Kuharap mereka lupa."


"Sese, mana bisa seperti ini. Telepon lah dia. Tanyakan padanya tentang hari pernikahan kalian."

__ADS_1


"Ibu... Aku bukan wanita yang haus akan cinta laki-laki dan mengemis minta dinikahi. Aku tidak butuh mereka, bu."


"Ck. Sayang sekali kalau batal, padahal aku sudah membanggakan menantuku itu dihadapan mereka."


'Ibu, laki-laki itu hanya manusia biasa. Ia hanya orang yang kaya karena keturunan, bukan orang yang mendapatkan kekayaan karena kerja keras. Dia itu seorang yang hanya tinggal menikmati kekayaan dari orang tuanya. Dan kalau ibu tahu alasannya menikahi aku, maka mungkin ibu tak akan menerima penghinaan ini. Orang lain akan menikah karena cinta dan kebahagiaan, tapi aku karena hukuman. Mana ada acara sakral. Yang ada hanyalah acara kematian. Jadi untuk apa mengharapkannya? Tiba-tiba aku merasa seperti wanita dalam kisah sedih yang pernah kubaca.'


Sejak ibunya kembali ke dapur, Sella duduk dikursi kayu tempat yang biasa ia pakai untuk beristirahat sambil menikmati tehnya. Pandangan matanya kearah luar dimana beberapa orang berjalan lalu lalang di totoar, disekitar tokonya.


Sella mengalihkan atensinya pada ponsel yang menyala, ia segera menggeser layar ponsel dan menerima panggilan yang ternyata dari sekertaris Zen.


'Sekertaris Jen. Ada apa?'


Sella menamai nomor Zen dengan sebutan, sekertaris Jen. Karena Zen yang sudah mengenal kan dirinya dengan nama itu pada Sella.


"Halo sekertaris, Jen. Ada apa menelponku?"


"Maaf, nona. Ini sudah lama aku tidak mengabarimu." kata suara Zen dari balik telepon.


"Tidak masalah. Berarti semua baik-baik saja. Bahkan kamu menggangguku sekarang? Cepat lah bicara!" kata Sella dengan tenang.


"Nona, saya hanya akan mengatakan kalau anda harus bersiap dua hari lagi." kata suara itu lagi.


"Apa yang harus aku lakukan? Bahkan kupikir tuan Rega tidak serius. Haha. Kurasa aku bukan wanita yang sesuai dengan seleranya."


"Memang anda bukan wanita yang sesuai. Tapi anda harus ingat sebagai apa tuan menikahi nona. Dan tuan serius dengan keinginannya. Beliau tidak pernah bercanda dengan keputusannya."


"Ah, iya. Kamu tidak perlu mengingatkan. Baiklah. Aku akan pergi dua hari lagi." kata Sella datar. Tak ada ekspresi berarti di wajahnya.


Setelah itu ponsel ditutup. Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya.


Dengan langkah gontai, Sella pergi mencari ibunya, memasukkan telepon genggamnya kesaku celananya. Ia kemudian duduk di sofa sambil menyandarkan tubuh di sandaran sofa.


Ia sudah berpikir kalau hal ini harus ia terima, walau seberapa keras ia berusaha menolak kenyataan. Ia tetap beharap kalau saat ini ia sedang bermimpi, dan ketika terbangun, pernikahan dirinya tidak pernah terjadi.


Kegelisahan menyeruak dari dalam sikapnya, siapa yang bisa menutupi kalau rasa gelisah itu begitu kuat terpancar lewat tatapan sendunya.


Sehari setelah lamaran Alrega ia terima, Sella mulai belajar beberapa hal dari sang ibu. Ia mulai mendengar kisah-kisah wanita yang luar biasa dan menyayangi keluarga. Ia senang mendengar dari ibunya, bagaimana proses seorang wanita akan menjalani kehidupannya setelah ia menikah dengan laki-laki pilihannya. Tapi Alrega bukanlah laki-laki pilihannya. Apakah akan sama?


Sella belajar mengolah berbagai masakan, belajar bagaimana melayani suami dengan baik dan mempelajari berbagai hal lain dari internet. Sebenarnya ia tampak bersungguh-sungguh agar kelak tidak akan mengecewakan ibunya. Ya, ia melakukan semua itu bukan karena Alrega, melainkan karena ibunya, ia mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Apa salahnya?


"Apalagi yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Flinna tiba-tiba sudah duduk di dekat Sella. Wanita itu membelai kepala anaknya lembut.


"Ibu, apakah ibu tidak apa - apa kalau nanti aku harus pergi meninggalkan ibu?" tanya Sella seraya merebahkan kepala di pundak ibunya.


"Apa maksudmu, mau pergi kemana kamu?"


"Kalau aku harus tinggal bersama suamiku, bu?"


"Tentu saja tidak masalah. Untuk apa ibu sedih sementara kamu bahagia bersama suamimu?"


'Ah, kenapa seorang istri harus tinggal bersama suaminya. Apakah tidak bisa mereka tinggal di rumah yang berbeda? Sebenarnya peraturan seperti ini datang dari mana? Membuat para istri yang tidak bahagia dengan suaminya seperti hidup dalam penjara. Hei, itu aku kan?'


"Berjanjilah, bu. Ibu tidak akan sakit lagi. Tidak akan sedih dan menangis lagi mulai saat ini."


"Kenapa bicaramu aneh? Apakah calon suamimu sudah menelpon?"


"Iya, bu. Aku harus bersiap dua hari lagi."


"Syukurlah. Akhirnya anakku menikah juga. Sese, ibu sangat bahagia."


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2