
Sella diam tidak menjawab, memiringkan mukanya yang berkerut, takut. Alrega memindahkan tangannya memegang dagu Sella. Jari tangannya yang panjang dan ramping itu mengusap-usapnya dengan lembut, agar wajah Sella tak berpaling darinya.
"Ya, seharusnya aku tidak hanya mengambil gambarmu. Seharusnya aku sudah memaksamu waktu itu sampai kau menangis." katanya sambil mengangguk-angguk. Diam sejenak lalu berkata lagi.
"Bagaimana kalau aku melakukannya lagi untuk membayar malam itu?"
'Dasar gila! Sial, seharusnya aku tidak mengingatkannya'
"Sayang." Akhirnya Sella bersuara, ia memegang tangan Alrega yang berada di dagunya sambil berkata, "Maaf. Aku tidak akan mengerjakan apa-apa lagi. Dan jangan lakukan itu sekarang ya?"
'Kau kan sudah minta maaf tadi waktu aku bilang sakit. Kenapa sekarang jadi begini, si?'
"Aku tidak perduli!" kata Alrega sambil menggendong Sella yang ia jatuhkan ke tempat tidur. Dan ia langsung mengungkung Sella yang berada di bawahnya. Sella berusaha menahan Alrega dengan meletakkan kedua tangannya di dadanya.
"Cium aku, sekarang!" kata Alrega.
'Aku tidak mau!' Sella.
Tahu-tahu bibir Alrega sudah mendarat di hidung, kening, pipi dan berakhir di bibir Sella sampai ia puas menjelajahi mulutnya. Ia melepaskan ciumannya setelah Sella benar-benar kehabisan nafas. Alrega bangkit dari posisinya, ia mengusap bibirnya sendiri dengan jari seolah mm engecap rasa manis, lalu meninggalkan Sella begitu saja untuk mengganti pakaiannya.
Sella bernafas lega begitu Alrega tidak memaksakan kehendaknya. Ia duduk di sisi tempat tidur dan menatap kartu debit yang sejak sebulan yang lalu ada di atas meja kecil di sampingnya. Alrega menyimpan kartu itu memang untuk Sella hanya saja wanita itu tidak pernah menyentuhnya.
Ia mengambil kartu itu dan mendekati Alrega yang masih mengancingkan kemejanya. Sella membantunya, sambil berkata,
"Kenapa tidak menyuruhku saja. Biasanya juga begitu. Kau selalu memintaku memakaikanmu ini dan itu."
'Kau seperti bayi besar yang manja'
Alrega membiarkan Sella mengerjakan yang biasa ia kerjakan, tatapannya tidak lepas dari wajah istrinya.
Sella kini memakaikannya dasi, sambil berkata, "Apa kartu yang ada di meja itu milikku?"
"Iya. Pakailah. Pin-nya tanggal lahirmu."
'Wah-wah, aku tidak menduga itu. Aku harus memanfaatkannya, kan?'
"Kalau begitu, izinkan aku pergi keluar hari ini."
"Kau mau kemana?"
'Menghabiskan isi kartumu lah. Kemana lagi memangnya?'
"Aku ingin mencari bunga kesukaan ibu. Aku ingin membelinya."
"Zen akan mengurusnya, untukmu." berkata sambil mengusap-usap pipi Sella.
'Lalu kapan aku punya kesempatan menggunakan kartunya!'
"Jangan mengandalkan Zen terus. Dia sudah sibuk membantumu."
"Kenapa kau perduli padanya?"
'Hais. Memangnya kenapa kalau aku perduli padanya?'
"Sayang, aku bisa sendiri, dan aku ingin jalan-jalan. Aku tidak lama, dan tidak akan jauh kok."
"Sebelum makan siang, kau harus kembali, oke?"
'Apa-apaan itu cuma setengah hari? Ahk, yang benar saja!'
"Baik."
Setelah sarapan dan mengantarkan Alrega pergi ke kantor, Sella menuju garasi tempat motor besar disimpan. Namun kali ini, ia tidak menemukan kunci yang biasa tergantung di sana. Sella segera menghampiri pak Sim dan menanyakan di mana kuncinya.
"Maaf, nona. Tuan muda melarang saya untuk memberikan kuncinya," Orang tua itu tetap pada pendirian tidak menyerahkan apa yang Sella inginkan. Mungkin ia harus bertaruh dengan nyawanya untuk menjaga kunci motor agar Sella tidak menggunakannya.
'Hei, aku sudah bekerja keras untuk bisa pergi hari ini tapi akhirnya begini'
Mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengumpat Alrega dalam hati, bahkan meninju udara seolah wajah laki-laki itu ada dihadapannya. Kesal. Ia merasa sia-sia sudah berpakaian nyentrik, ala-ala pengendara motor perempuan yang berkelas, lengkap dengan jaket kulit dan sepatu boot hitam berhak tinggi.
Tiba-tiba sebuah BMW hitam edisi terbaru melintas. Mobil itu baru datang kemarin sore untuk seseorang yang akan menggunakannya pagi ini.
Ketika mobil itu berhenti di depan Sella, kaca jendelanya turun secara perlahan. Sebuah berwajah manis yang berkacamata hitam, menyembul dari balik jendela yang terbuka.
Gadis itu berkata, "butuh tumpangan?"
'Aakh gadis manja ini. Tapi itu tidak sengaja kan? Ya, ini hanya kebetulan'
"Kau mau kemana?" tanya Sella.
__ADS_1
"Kakak mau pergi tidak?" Yorin balik bertanya.
'Oh oh oh, dia memanggilku kakak?'
"Eh. Iya, aku mau pergi. Apa aku tidak merepotkanmu kalau pergi denganku?"
"Ayo lah, kita tidak punya banyak waktu." kata Yorin sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
'Kita, apa maksudnya? Sial. Aku selalu mengandalkan orang lain di sini'
Sella masuk kedalam mobil setelah mengambil tasnya dari atas motor. Ia sangat rindu mengendarai kuda besi. Ia melirik pada Yorin yang mengemudikan mobilnya dengan tenang. Mereka keluar pintu gerbang diikuti beberapa mobil lain yang di belakang mereka. Itu kendaraan para pengawal. Bagi Yorin itu hal biasa tapi bagi Sella ini tidak maauk akal, pengawal sebanyak itu? Yang benar saja.
"Aku bisa mengalahkan satu orang diantara mereka hanya dengan tangan kosong. Pergi dengan pengawal sebanyak itu, seperti buronan yang kabur, lalu tertangkap, dan dibawa ke penjara." kata Sella bersungut-sungut.
Yorin tertawa, ia baru sadar kalau Sella ternyata pandai melucu. Ia melepaskan kaca mata hitamnya sambil berkata,
"Kakak, kenapa kau suka naik motor? Kak Rega mengkhawatirkanmu, tau?"
"Kenapa harus khawatir, aku sudah biasa kemanapun naik motor. Eh, kenapa kau memanggilku kakak?"
"Kau kakak iparku, kan? Sepertinya, Kak Rega mencintaimu, dia tidak ingin terjadi apapun padamu, aku tidak ingin mengambil resiko dibenci kak Rega karena aku tidak baik padamu"
'Cinta apanya? Kenapa sering mengerjaiku?'
Ck!
"Lihat tanda merah dilehermu, kak. Pasti itu tanda cinta kak Rega, kan? Pasti kalian juga sudah melakukan sesuatu semalam?" kata Yorin sambil tertawa geli.
'Hei, gadis ini fulgar sekali bicaranya. Apa dia tidak pernah bersekolah?'
"Kamu ini bicara apa, kita bicara hal lain, oke?" kata Sella sambil menutupi lehernya dengan rambutnya.
Yorin tidak mengindahkan ucapan Sella, ia terus bercerita tentang Alrega. Ia adalah kakak satu-satunya yang luar biasa, baik juga tampan. Ia tidak memiliki saudara sepupu lainnya kecuali Alrrega, jadi ia merasa bahwa kebahagiaan Alrega adalah kebahagiaannya juga.
Dulu ia memang menyukai Delisa karena Alrega juga mencintainya, tetapi sekarang ia melihat tanda-tanda cinta itu mulai muncul dari Alrrega untuk Sella.
Yorin mengatakan bahwa Alrega adalah sosok laki-laki yang sangat setia, dan menjaga diri dari tindakan buruk yang bisa merusak Citra dan nama baik keluarga serta perusahaannya. Sehingga ketika ada seorang wanita yang memfitnah Alrega di hari pernikahannya, dua tahun yang lalu, semua orang tidak mempercayainya.
Ketika mendengar hal ini, Sella seperti tercekik, karena ia ingat sumpah dari Yorin yang akan membunuh orang yang sudah melakukan fitnah itu pada kakaknya.
Yorin mengatakan bahwa ia tidak menyangka kalau Delisa yang sudah mendapatkan segalanya dari Alrega, justru tidak mempercayainya. Padahal selama mereka berkencan pun Alrega sangat menghormatinya, dan tidak melakukan perbuatan yang melewati batas, dan mereka hanya berkencan secera wajar seperti orang pada umumnya.
"Jadi, kak. selama mereka berkencan mereka tidak pernah melakukan hal lain selain berciuman," kata Yorin diakhir ceritanya, masih sambil mengemudi.
"Aku yakin kalau kak Rega juga akan melakukan hal yang sama pada kakak ipar."
"Panggil aku Sese saja, semua keluargaku memanggilku seperti itu"
"Kak Sese begitu?"
"Iya. Hei, kita mau kemana, aku akan kepusat tanaman hias." kata Sella begitu melihat mobil yang dikemudikan Yorin, justru memasuki area pusat kota dimana mal-mal besar berada.
Yorin menimpali dengan tertawa ringan dan berkata,
"Kita belanja dulu, bukankah kakak Ipar sudah memiliki kartu yang sama denganku? Ayo kita habiskan kartu itu berdua."
'aku tidak mau'
"jangan seperti itu, pengeluaran kita akan terlihat nanti, kalau kita boros menggunakannya, Al pasti akan marah padaku" kata Sella cemberut.
"Kakak Ipar Sese... jangan kuatir, walaupun kita membeli seluruh isi mall, kekayaan kak Rega tidak akan habis dan siapa yang kakak panggil Al, Al? Siapa Al?"
"Tuan Alrega." jawab Sella malas. Ia kelepasan bicara dan merasa bodoh. Zen sudah berpesan kepadanya untuk tidak mengucapkan nama Al begitu saja di depan orang lain, dan hanya boleh memanggil nama Al, di depan Alrega sendiri, ia tidak mengerti sebenarnya kenapa, tapi ia menyesal, karena khawatir akan terjadi masalah dan ia akan mendapatkan hukumannya lagi.
"Tidak, jangan dianggap serius kata-kataku tadi, anggap saja kau tidak mendengarnya. Oke?" kata Sella memohon.
"Bagaimana bisa, aku jelas sekali mendengar nya, kak Rega benar-benar mencintaimu, buktinya kakak diizinkan memanggil namanya dengan nama itu. Delisa saja, tidak pernah memanggilnya dengan sebutan seperti itu."
"Ada apa dengan nama itu?"
Yorin kembali bercerita bahwa ketika Alrega masih kecil dulu, ia pernah menolong seorang anak perempuan korban dari tabrak tabrak lari. Waktu itu Alrega bersama para pengawalnya, memanggilkan ambulans untuk gadis kecil itu, dan mengantarnya hingga ke rumah sakit, serta menanggung biayanya. Anak kecil itu pun bertanya siapa namanya, tapi ketika ia mengucapkan nama baru sampai kata-kata Al, anak itu sudah meninggal, hingga Alrega membenci orang lain memanggil dengan nama itu, karena ia merasa seolah-olah dipanggil oleh orang yang akan meninggal.
Mendengar cerita Yorin, Sheila tersenyum, bagaimana bisa menganggap sebuah nama disematkan, maka seperti dipanggil oleh orang yang sudah mati. Aneh.
Tapi dari cerita Yorin itu Sella tahu, Alrega adalah orang yang penyayang dan baik. Hanya saja ia sedikit heran kenapa pria itu masih saja senang mengerjainya.
Mereka pun tiba sampai di sebuah mal yang cukup besar. Yorin membeli beberapa perlengkapan dan peralatan serta pakaian yang ingin ia gunakan di hari ulang tahunnya nanti. Padahal hari ulang tahunnya itu masih beberapa pekan lagi, tapi ia sudah berbelanja sebanyak ini bahkan mungkin akan berbelanja lagi untuk dirinya sendiri.
Sela hanya membeli sedikit keperluannya itu pun hanya keperluan yang penting, karena ia merasa semua kebutuhannya sudah tersedia di rumah, dan ia pun tidak perlu memberikan hadiah untuk Yorin, gadis itu sudah memiliki segalanya. Sella hanya mengikuti gadis itu mondar-mandir kesana kesini membeli semua hal yang ia inginkan sampai ia puas.
__ADS_1
Setelah selesai, Yorin heran dengan apa yang ada di tangan Sella, hasil dari belanjanya hari ini, ia mempertanyakannya, padahal Alrega memberi sebuah kartu yang jauh lebih baik dari kartu miliknya. Tapi Sella tidak menanggapinya, karena ia merasa tidak perlu menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak ia butuhkan.
Akhirnya merekapun pergi ke tempat yang Sella inginkan. Ini sudah lewat waktunya makan siang. Tapi Sella merasa tidak berdaya karena untuk pulang sendiri tidak mungkin, apalagi Yorin melarangnya. Sebenarnya pak Sim menawarkan mobil keluarga Leosan, tapi Sella menolaknya, karena ia berpikir itu berlebihan. Ia melirik ke beberapa pengawal yang ternyata tidak terlihat mencolok karena mereka memakai pakaian layaknya orang biasa yang seolah-olah ikut berbelanja bersama.
Sella menunjukkan sebuah tempat pusat budidaya tanaman hias dan holtikultura, yang ia lihat di internet. Setelah sampai di sana, mereka berdua sempat terpisah, untuk melihat tempat yang berbeda. Tempat itu sangat luas, berbagai macam tanaman hias ada di sana.
"Hai Davi!" kata sebuah suara yang mengagetkan Sella, karena mendengar nama itu di telinganya.
Sella menoleh ke sumber suara dan ia melihat Hanza yang tersenyum padanya sambil berjalan mendekatinya. Laki-laki itu memakai pakaian santai yang rapi dan sebuah topi hitam bertengger di atas kepalanya. Hanza terlihat sangat tampan dan menarik. Senyum khas lucu dan ramah itu menghiasi bibirnya.
"Hei, bagaimana kau ada disini?" kata Sella.
"Davi... ini kebetulan sekali, tempat ini milikku. Kau bisa belajar tentang semua tanaman di sini, ada sekolahnya khusus tentang tanaman. Semua tanaman seluruh dunia ada disini. Jadi, apa yang kau butuhkan?" Kata Hanza mempromosikan tempat miliknya yang membuat Sella terkesima.
"Wah, kau luar biasa. Aku mencari anggrek hitam."
"Oh itu anggrek yang langka dari Asia tenggara ayo ikut aku."
Sella dan Hanza menuju tempat khusus dimana tanaman anggrek dari berbagai belahan dunia, berbagai jenis, serta warnanya, ada di sana. Hanza memberikan sebuah pot berisi anggrek hitam kepada Sella, bahkan anggrek itu sudah hampir berbunga.
"Ini, untukmu." kata Hanza sambil mengasongkan pot bunga pada Sella.
"Baiklah," kata Sella menerima bunga itu dari tangan Hanza. "Dimana aku bisa membayarnya?" tanyanya kemudian.
"Untukmu, gratis, anggap saja hadiah dariku." kata Hanza sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Hanza, Sella tertawa kecil, "Mana bisa begitu, kau tidak perlu memberikan hadiah semahal ini padaku."
"Kenapa tidak? Anggrek yang spesial untuk orang yang spesial bukan?" kata Hanza membuat Sella tertegun. Tapi kemudian tertawa lagi.
"Jangan bercanda, tuan Han. Kau tahu kan aku tidak akan bisa menerima."
"Kenapa, apa karena Rega?" mendengar kata-kata Hanza, Sella tersenyum sambil menggeleng.
"Davi, kau tahu Davila akan diberikan untuk siapa?" tanya Hanza sambil menatap Sella lekat-lekat.
"Haha, tentu saja untuk orang yang istimewa bagi tuan Rega."
"Apa kau tidak sadar kalau Daville akan diberikan padamu?" Hanza tidak percaya kalau gadis dihadapannya ini tidak mengetahuinya.
Sella kembali menggeleng, sambil menatap anggrek ditangannya.
"Hmm, aku tidak berpikir seperti itu. Delisa sudah kembali. Oh ya, apa kalian sudah menyelesaikan transaksinya?"
"Belum, satu surat yang sangat penting hilang, aku pikir tidak masalah, karena gedung itu akan menjadi milikku selamanya, aku tidak tahu bagaimana Rega akan mengurusnya."
"Hmm. Jadi seperti itu.Tuan Han, aku tidak berharap banyak tentang gedung itu, karena aku tidak ingin kecewa, kau tahu kan bagaimana rasanya dikecewakan?"
"Davi _ _ " kata-kata Hanza terputus, karena ada suara keras menghentikan ucapannya.
"Kau!" itu suara Alrega!
'Kenapa dia bisa ada di sini, hah Aku lupa, salah satu diantara pengawal itu pasti mata-matanya'
Sella dan Hanza menoleh seketika. Pria yang mengenakan setelan jas rapi warna gelap di ikuti beberapa pengawal itu tersenyum miring. Ia mendekat, dan merengkuh bahu Sella dengan lembut, menundukkan kepalanya hingga menempel di telinga Sella sambil berbisik.
"Hmm... jadi kau keluar untuk bertemu dengannya ...?" Sella merinding dibuatnya.
Melihat apa yang ada di hadapannya, Hanza tersenyum sambil memalingkan mukanya, ia merasa Alrega terlalu berlebihan, menunjukkan cemburunya, dengan sangat terus terang.
Zen berdiri di hadapan Hamza dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi seperti biasanya.
"Apa yang sudah kalian lakukan di sini?" tanya Alrega.
"Tidak ada. Aku sudah mendapatkan bunganya, ayo pulang." jawab Sella.
Ia ingin segera pergi dari sana agar tidak terjadi apa-apa antara Alrega dan Hanza. Ia berusaha melepaskan tangan Alrega dari bahunya, tapi sepertinya tangan itu sangat lengket.
Alrega mengusap-usap bahu Sella sambil berkata, "apa kau lelah sudah berjalan-jalan, apa aku perlu menggendongmu pulang?"
Sella tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alrega, hingga ia buru-buru menggelengkan kepala, dan berkata,
"Ah, tidak. Aku tidak lelah, kau tidak perlu menggendongku!"
'Ck! itu memalukan tahu, digendong di depan semua orang, kau pikir aku anak kecil?'
Sementara Hanza menggelengkan kepala melihat kepergian dua pasangan itu. Alrega menunjukkan sikap yang posesif.
"Zen, dimana Yorin, anak itu perlu diberi pelajaran. Apa dia tidak tahu tempat ini milik Hanza?" kata Alrega.
__ADS_1
'Apa. Memangnya apa yang akan kau lakukan pada Yorin? Heh dia tidak bersalah!'
Bersambung