
'Apa. Apa yang seharusnya aku tau? Aku tidak tau! Terserah'
Sella melangkah ke kamar mandi dan menyalakan kran air hangat, mengisinya pada bathtube. Sementara menunggu ia akan menyiapkan pakaian tidur Alrega, sambil berpikir sejenak apa yang pantas dipakainya malam ini. Lalu ia memutuskan untuk menyiapkan piyama yang polos berwarna biru tua.
Ketika air dalam bak mandi tempat berendam sudah penuh, Sella memasukkan sabun ke dalamnya sampai berbusa. Setelah selesai, ia duduk di sofa sambil berkata pada Alrega yang juga duduk di sana.
"Silahkan, tuan. Airnya sudah siap."
Alrega berdiri lalu berkata, "Ikut aku, keramasi rambutku."
'Haha. Ibu benar, aku harus mengurus suamiku dengan baik'
"Baik."
Sella masuk kedalam, setelah Alrega merendam seluruh tubuh telanjangnya di dalam bak mandinya. Tadi, Sella mengumpat dalam hati berulang kali dan memalingkan pandangan, ketika pria itu membuka seluruh pakaiannya di sana tanpa malu-malu.
Sella membasahi dan memberi sampo pada rambut Alrega, memijit kepalanya dengan lembut selama beberapa saat, lalu mengeringkannya setelah dibilas sampai bersih.
Sella keluar dari kamar mandi setelah membungkus kepala Alrega dengan handuk kecil. Ia duduk di sofa menunggu pria itu selesai. Ia sudah biasa mengurus dirinya sendiri, tapi pada seorang pria, baru kali ini. Tentu saja gugup, malu dan salah tingkah, walau dia adalah suaminya.
Alrega sudah memakai jubah mandinya, ketika ia keluar. Ia menghampiri Sella sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya.
Sella menoleh dan melihat Alrega dengan takjub, ia terlihat begitu tampan.
'Kau hakim yang tampan, aku terdakwa yang rela dihukum apa saja, asal kau mencintaiku, ups. Hei, hati. Kenapa kamu seperti ini?'
Alrega melihat Sella yang ternganga melihat dirinya, hingga terbit senyuman miring di sudut bibirnya. Ia melemparkan handuk basah itu tepat diwajah Sella. Sambil berkata,
"Mana bajuku."
'Eh, bukannya sudah aku siapkan di ruang ganti? Apa aku harus memakaikannya juga? Dasar bayi'
Sella mengambil piyama wana biru tua dan membawanya kehadapana Alrega yang masih berdiri sambil berkacak pinggang di depan jendela.
Alrega memakai pakaiannya di tempat itu juga. Setelah selesai ia berbalik dan menatap Sella, yang masih berdiri sambil memejamkan mata. Ia mendekat dan mencolek hidungnya, sambil berkata.
"Apa kau tidak lapar, hmm?"
Sella membuka matanya dan hendak mengatakan sesuatu tapi terputus oleh Alrega yang kemudian berkata,
"Ayo, makan!"
'Bukannya kau bertanya? Aku tidak lapar'
Seharian beraktifitas, biasanya akan membuatnya lapar, tapi seharian dirumah ini justru membuatnya tidak ingin makan.
Sampai di meja makan, semua orang sudah hadir, termasuk Yorin. Gadis manja itu menginap di rumah itu entah untuk beberapa lama. Ayahnya sangat memanjakannya, hingga ia bebas melakukan apapun keinginannya. Keluarga Alrega tidak bisa melakukan apapun pada gadis yang sudah tidak punya ibu itu, selain memanjakannya juga. Bahkan mereka menganggap Yorin anak mereka juga.
Rehandi duduk di ujung meja, posisi utama yang menunjukkannya sebagai seorang kepala rumah tangga. Disebelah kiri ada Marla sang nenek dan Yorin. Di sisi sebelah kanan ada Alrega dan Sella.
'Kecuali ibu, mana wanita itu?'
Sella mengambilkan nasi dan beberapa makanan lain untuk Alrega. Bersikap sebagaimana layaknya istri yang baik dihadapan semua orang.
Mereka memulai makan dengan diam, hanya suara dentingan sendok yang terdengar pelan. Inilah kebiasaan mereka, tapi kebiasaan seperti ini tidak ada bagi Sella, dikeluarganya ia biasa berbincang saat makan, bahkan sering bercanda. Apa itu hanya kebiasaan masyrakat kalangan bawah saja? Raasanya tidak.
"Hmm, makanannya enak, siapa yang masak Pak Sim?" Tanya Sella ditengah-tengah keadaan mereka sedang menikmati makanan. Semua melotot melihat kelakuannya. Tapi Sella tak perduli, baginya ini bukan kesalahan. Apa tidak boleh sedikitpun bicara sambil menikmati makanan?
"Koki, Nona," Pak Sim menjawab dengan perasaan takut disalahkan. Namu bila ia tidak menjawab, nona mudanya akan lebih cerewet.
Tiba-tiba Yorin berdiri dan meninggalkan makanannya, lalu pergi begitu saja. Sejak Sella hadir di sana dengan Alrega, sudah membuatnya tidak berselera, dan sekarang perempuan itu berani bicara, membuatnya semakin kesal saja.
'Dia pikir, siapa dia di sini?' Yorin.
"Bicara saat makan. Tidak sopan!" tandas Nenek.
'Dimana letaknya tidak sopan itu, Nenek.. Aku memuji makanan kalian'
"Maaf." hianya itu yang bisa Sella katakan.
"Diam, dan habiskan makananmu," kata Alrega.
__ADS_1
Sella mengangguk dan segera menghabiskan makanannya. Lalu minum dan diam, menunggu sampai Alrega selesai makan. Ia kuatir kalau nanti ia salah, bila lebih dulu meninggalkannya.
'Ayah dan anak, nenek dan cucu, bagaimana mereka tidak saling bertegur sapa di meja makan? Keterlaluan'
Alrega pergi meninggalkan meja makan menuju ruang kerja menemui Zen yang sudah ada di sana. Begitu pula nenek pergi ke kamarnya.
Sella sudah hampir beranjak dari kursinya ketika Rehandi berdehem seolah-olah memberi isyarat agar Sella tetap di tempatnya.
"Tuan besar ...?" Tanya Sella sambil membungkukkan badannya. "Apa kabar anda hari ini?"
Sella anggap pertanyaan itu wajar karena ia, memang tidak bertemu dengan Rehandi sejak kemarin di pesta. Apalagi Rehandi mengingatkan Sella pada sosok ayahnya, hingga ia sedikit segan.
Ketika dulu ayahnya pergi, ia melihat ibunya menangis memegangi kaki ayahnya sambil memohon agar ayahnya tidak pergi, tapi laki-laki itu menendang tubuh ibunya hingga ibunya terhenyak ke lantai. Ia melihat sosok ayahnya bagai seekor srigala yang mengeluarkan gigi dan taring tajam saat berkata kasar, dengan sangat keras memekakkan telinga. Ucapan ayah saat itu sangat menyakitkan bahkan Sella merasa asing dengan sosok ayahnya hingga sekarang, perasaan asing, takut juga benci pada ayahnya masih kerap mengusiknya.
'Ah, rumah ini terlalu besar untuk ditinggali beberapa orang saja ya. Sampai-sampai bertemu seseorang harus menunggu malam tiba'
"Pamggil aku ayah," kata Rehandi.
"A, Ayah ...." Sella agak gugup. Sudah lama ia tidak mengucapkan kata-kata itu.
"Berjanjilah padaku," kata pria setengah baya itu tegas.
'Apa? Berjanji apalagi?'
Sella menelan ludahnya kasar.
"Tidak akan meninggalkan Rega dan menipunya untuk kedua kali." Rehandi berkata dengan suara penuh penekanan.
Sikap Rehandy, ibarat mengeksekusi binatang buruannya dengan telak, menggunakan kata-katanya sebagai senjata, singkat, padat dan jelas.
Deg. Jantung Sella berdegup lebih kuat. Tanpa sengaja ia membuka mulutnya, dan menutupnya kembali dengan kedua telapak tangan. Ketakutan dan kegundahan tidak bisa ia hindari, buku-buku jarinya gemetar, reaksi ini nyata bahkan airmata sudah siap meluncur dari kantungnya.
Rhandy dengan sangat jelas menunjukkan sikap memaksa, menuntut dan membuat lawan bicaranya hanya mampu berkata iya.
Sella mengangguk dengan cepat. Lalu kembali membungkuk pada Rehandy, ketika pria itu berdiri, ia berkata.
"Aku tidak tau apa yang membuat anakku bisa menikahimu. Tapi jangan kecewakan dia walau dia akan menyakitimu. Apa kau mengerti?"
'Kenapa kalian tidak membunuhku saja?'
Sella duduk di sofa, resah digauli pikirannya sendiri, membiarkan sepi mencumbui, hingga suara desahannya memenuhi ruang, yang hanya ada dirinya di tempat ini.
Ia sangat terkejut ketika sadar ternyata bukan hanya Alrega yang tahu perbuatannya, tapi ayah mertuanya juga. Siapa lagi orang yang tahu tentang penipuan yang dilakukannya,? Ia masih menduga-duga. Hanya Alrega yang bisa ia andalkan untuk mengetahuinya. Ia benar-benar tidak bisa berbuat semaunya karena hukuman baru saja akan dimulai.
Sella mencari selimut dilemari, untuk menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala. Seandainya ia bisa bersembunyi dari Alrega, di sana. Ia tak dapat membayangkan jika harus tidur dengan laki-laki itu dalam satu tempat yang sama.
Saat hampir tengah malam,? Alrega keluar dari ruang kerja dan Zen berjalan di belakangnya. Sementara semua anggota keluarga lain sudah tidur ditemani mimpinya.
"Kita sudah lama di dalam, tuan. Saya pikir Nona sudah tidur," kata Zen.
"Menurutmu begitu?" Alrega balik bertanya.
"Iya, Tuan."
"Pulang dan istirahat sana," kata Alrega ketika Zen akan mengantarkannya sampai di kamar.
"Baik, terimakasih. Selamat istirahat, Tuan"
"Hmm."
Zen menundukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan rumah besar itu menuju apartemnennya sendiri.
Alrega membuka pintu kamarnya secara perlahan, Pak Sim ada dibelakangnya, untuk mengantarkan tuan mudanya sampai di pintu lalu mengucapkan selamat malam.
Setelah ada di dalam, Alrega melihat sesuatu di sofa dan ia mendengar suara tangis yang sayup terdengar dari sana. Ia mengerutkan keningnya.
'Dia belum tidur dan menangis selarut ini'
Ceklek! Alrega sengaja menutup pintu dengan agak keras, agar Sella berhenti menangis, ia tahu bila Sella berani menangis karena merasa tidak ada orang lain. Benar saja, seketika suara tangisan Sella berhenti.
Alrega duduk di sisi tempat tidurnya dan mengambil satu bantal.
__ADS_1
"Tidurlah. Jangan berisik!" Alrega berkata sambil melempar bantal kearah Sella.
Sella hanya membuka sedikit selimut yang menutupi kepalanya, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil bantal yang ada di lantai dan memakainya.
"Selamat tidur, tuyan," kata Sella dari sofa, ia bersyukur Alrega tidak memaksa untuk tidur dengannya, ya setidaknya untuk malam ini.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Alrega.
"Selamat malam, dan selamat tidur, Tuan." Sella mengulangi ucapannya.
"Hmm. Matikan lampunya."
Sella beranjak mematikan lampu dan ia tidak melihat lagi kearah Alrega, yang sudah memejamkan mata sambil menyelimuti dirinya sendiri. Ia juga lelah.
Berbeda dengan Sella, gadis itu tidak bisa tidur. Satu hal yang biasa bagi kebanyakan orang jika berada di tempat asing, atau baru, selalu jadi susah tidur, karena adabtasi. Sebagai mana halnya Sella, sudah berapa jam ia hanya berguling kesana kemari. Sofa ini cukup besar dan nyaman, tapi tetap saja ia tidak bisa menikmati.
Ia dulu pernah berhayal mempunyai kamar sendiri karena sejak kecil ia selalu harus berbagi kamar dengan Runa, adiknya. Tidak cukup banyak kamar di rumah mereka, membuatnya harus mau berbagi satu kamar berdua. Ternyata sekarang pun sama, ia harus berbagi kamar dengan suaminya.
Sella terbangun, ia mendengar suara yang membuatnya merinding, suara itu seperti suara orang yang sedang menangis. Lamat-lamat tertangkap pendengarannya.
Ia membuka selimut, menendang hingga teronggok dilantai, lalu mendekati Alrega mengira laki-laki itu mengigau. Ia mengamati wajah tampannya, cukup lama.
Karena terpesona oleh ketampanan wajah Alrega, yang terlihat pasrah saat tertidur. Sejenak Sella melupakan tujuannya mencari sumber suara tangisan itu. Siapa yang menangis di malam selarut ini? Mungkin kah itu hantu?
'Aku tak percaya ada hantu dirumah sebagus ini'
Sella kembali sadar dan mencari sumber suara itu lagi. Ia melangkah keluar membuka dan menutup pintu dengan sangat perlahan agar Alrega tidak mendengar.
Kini suara itu semakin jelas dan itu berasal dari lantai tiga. Pak Sim tidak mengajaknya berkeliling sampai di sana. Saat itu pak Sim hanya menjelaskan kalau lantai tiga adalah tempat dimana kamar hadiah-hadiah berada.
Kamar itu seperti gudang, tempat untuk menyimpan hadiah-hadiah ulang tahun semua anggota keluarga, yang belum sempat dibuka.
Sella sempat penasaran, tapi kali ini ia bisa memuaskan rasa penasarannya, melihat hadiah seperti apa, yang hanya disimpan dan tidak digunakan oleh pemiliknya.
Suasana rumah sepi, sebagian lampunya sudah dimatikan. Sella berjalan berjingkat menaiki tangga, menuju kamar yang terbuka, di lantai tiga. Betapa terkejutnya ia melihat semua yang ada di dalamnya.
Dua orang wanita berpakaian perawat, sedang memegangi tangan seorang wanita, yang bertubuh kurus, berambut sebahu dengan wajah pucat dan sedang menangis.
Seorang pelayan yang lain, sedang melakukan sesuatu, membersihkan bagian dari tubuhnya. Ketiga orang itu tidak mengenal Sella.
Saat Sella dikenalkan oleh Pak Sim kepada semua asistant dan pengurus rumah, para pelayan dan perawat itu tidak ada.
"Apa yang kalian lakukan?" kata Sella, dengan raut wajah khawatir dan cemas.
Ia tak tega melihat pemandangan di depannya, karena ia merasa seperti melihat ibunya. Dulu, saat Flinna depresi berat, ia sering kali terlihat menangis dengan suara yang menyayat seperti ini.
Sella mendekati ketiga suster itu, ia melihat seorang pelayan berusaha menggantikan pakaiannya.
"Apa kau tidak menutup pintunya?" kata salah seorang suster.
"Oh iya, aku lupa," kata seorang pelayan itu dan ia terlihat terkejut melihat Sella.
"Nona muda. Kenapa, Nona bisa ada di sini? Saya bisa dipecat oleh Tuan Rega kalau tahu Anda ke sini?" tanya pelayan itu dengan ekspresi ketakutan.
"Aku mendengar suara tangisan," sahut Sella. Ia membelai kepala wanita itu sama seperti yang ia lakukan pada ibunya.
Suara tangisan semakin keras, mereka segera menutup pintunya. Ruangan itu kedap suara, pantas saja Sella tak bisa mendengar suara apapun dari sana sepnjang hari tadi.
"Celaka kita, semua kesalahanmu!" Kata perawat itu.
"Maafkan aku," kata pelayan itu.
"Tidak apa, salahkan saja aku. Bilang saja aku yang memaksa masuk," kata Sella menengahi mereka.
"Nyonya, tenanglah," kata seorang suster lain.
'Nyonya, mereka memanggil Nyonya? Apakah ini berarti dia adalah ...Ya Tuhan ...."
"Berikan suntikan sekali lagi," kata suster yang terlihat lebih senior.
Bersambung
__ADS_1