Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 92. Tempat Yang Paling Sedih


__ADS_3

Zen menyesalkan ucapan Rejan, yang berhasil membuat Alrega, semakin tidak sabar, sehingga laki-laki itu melangkah dengan cepat memasuki mobilnya.


"Zen, ayo!" Katanya.


Zen menyusul Alrega, setelah menepuk punggung Rejan dengan kuat, membuat anak remaja itu meringis.


Setelah duduk dan memakai sabuk pengamannya, Zen mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang cukup lengang, menuju pantai.


"Aku baru tahu, ada pantai di sekitar sini?" Tanya Alrega memulai obrolan. Tentu saja ia tidak tahu soal urusan pantai seperti itu.


"Ada, Tuan."


"Cepatlah, sekalian kita ukur seberapa cepat kemampuan mobil ini, dan seberapa bagusnya kemampuanmu, Zen."


"Kita harus berhati-hati Tuan, jangan sampai kita mengukur kecepatan mobil tapi akhirnya kita mati dan tidak berhasil membawanya Nona pulang kembali."


"Kenapa, kau takut? Sini, biar aku saja." Alrega berkata sambil menyenggol tangan Zen dengan sikunnya.


"Tidak perlu Tuan. Biar saya saja." Begitu selesai bicara, Zen lengsung menekan keras gas mobilnya lebih dalam.


Benar saja seperti yang Rejan katakan, mobil yang dimiliki oleh Alrega itu, bila dipacu dengan kecepatan tinggi, maka tidak akan sampai satu jam, mereka sudah mencapai kawasan pantai.


Apalagi suasana jalanan yang seperti mendukung keinginan mereka berdua, untuk lebih cepat sampai di lokasi.


Begitu mendekati area pantai, Alrega membuka jendela mobilnya. Zen memperlambat laju kendaraan roda empat itu, hingga mereka sampai di sebuah tempat yang terlihat agak ramai.


Saat mobil melintas dan melihat orang yang ada di dalamnya, tentu saja menarik perhatian beberapa orang yang duduk dan lalu-lalang disekitarnya.


Kawasan itu adalah taman kecil berlatar belakang pantai yang dibangun oleh pemerintah setempat. Tempat yang tidak telalu luas namun menarik, jika malam hari seperti sekarang ini, banyak lampu hias warna-warni menerangi kiri kanan jalan yang turut menerangi.


Saat itu sudah hampir tengah malam, hingga suasana tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa warung yang masih buka, menjual berbagai macam makanan serta minuman yang berjajar di sepanjang jalannya.


Di sana juga ada beberapa tempat duduk, bisa digunakan untuk bersantai oleh para pasangan muda-mudi yang terlihat sedang dimabuk cinta.


Zen masih melajukan kendaraannya dengan perlahan menyusuri jalan kawasan wisata, melewati sebuah hotel, ada juga penginapan kecil yang berdiri di panjang area pantai.


"Apa kau lihat ada istriku?" Alrega bertanya sambil membuka jendela lebih lebar, lalu menjulurkan kepalanya ke luar, menoleh ke sana ke mari, ia tidak bisa lagi menahaan diri.


"Tidak, Tuan."


Mereka terus menyusuri jalan itu semakin ke arah utara, namun suasana justru semakin sepi.


Seandainya Sella membawa ponselnya, ia akan lebih mudah dicari, karena sistem pelacakan sudah terpasang aktif.


"Zen, kita kembali, periksa hotel dan penginapan tadi," kata Alrega yang baru menyadari kebuntuan pikirannya sejak ia tahu Sella pergi. Sesak dadanya mengalami hal seperti ini untuk kedua kali, hingga kewarasan berpikirnya pun menjadi lemah.


Seharusnya sejak tadi ia periksa hotel dan penginapan yang mereka lewati.


Baik, Tuan."


Zen memutar kembali mobilnya, dan berhenti di depan penginapan. Ia masuk dan memeriksa daftar tamu dan tidak ada nama Sella disana.


Kemudian mereka mencari Sella di hotel, yang tidak begitu jauh dari penginapan yang semula ia datangi.


Di hotel itu, yang terdaftar sebagai tamu adalah nama Rejan. Tanpa banyak bicara, Alrega mendatangi kamar yang sesuai dengan nomornya, untuk memastikan keberadaan Sella di sana dan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.


Akan tetapi, berulang kali ia mengetuk pintu, tidak ada jawaban apapun di dalamnya. Zen berpikir, ada dua kemungkinan Sella tidur atau pergi keluar kamar.


Brak! Alrega mendobrak pintu kamar dan sukses menarik perhatian. Mendapati kamar itu tidak berpenghuni, Alrega melangkah meninggalkan kamar Sella. Sementara Zen menyelesaikan urusan ganti rugi hotel yang pintunya dirusaka oleh Alrega.


Alrega melangkah sendiri di halaman hotel, memutuskan untuk mencari Sella di sekitar pantai, dengan berjalan kaki.


Kawasan itu adalah tempat wisata yang biasa saja, jarang didatangi oleh orang-orang dari luar, apalagi orang yang berpenampilan seperti Zen dan Alrega. Dua orang itu datang ke pantai dengan menggunakan pakaian rapi, lengkap dengan setelan jas dan dasi. Tentu saja mereka menarik perhatian orang-orang yang dilewati mereka.


Alrega terus berjalan menyusuri pantai, Zen menyusulnya tak lama kemudian. Mereka berdua terus berjalan dengan langkah cepat, sambil berbincang.


"Sudah kau selesaikan semuanya?"


"Sudah, Tuan."


"Beri mereka keuntungan lebih. Harga sebuah pintu tidak seberapa."


"Tentu, sudah Tuan"

__ADS_1


"Kau lihat tadi ada bajunya di tempat sampah."


"Iya, Tuan. Berarti memang benar Nona ada di sekitar sini."


"Dia memang tidak pulang, kan?"


Zen mengangguk, lalu bertanya, "Tuan, apa tidak sebaiknya kita berpisah, Anda ke sana dan saya ke Utara?"


Alrega menggelang, ia baru saja hendak mengatakan, tidak perlu ... ketika ia melihat sesosok bayangan yang tengah berdiri di kejauhan.


Kawasan itu adalah tempat yang tidak terlalu besar, semakin kesana semakin tidak ada penerangan, sehingga tidak mungkin orang akan sampai melewati batas. Hanya ada beberapa lampu jalan, yang tidak sampai menerangi area pantai, di mana Zen dan Alrega berada saat ini.


Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya Alrega pun menemukan Sella.



Wanita itu terlihat menatap kosong ke arah pantai, bertelanjang kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memakai pakaian putih sampai menutupi seluruh betisnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, berkibar di sapu angin.


"Lihat, itu Zen. Apa itu bidadari?"


"Bukan, Tuan. Itu Nona."


"Ck! Kau ini."


Zen mengangkat kedua alisnya.


'Apa, memangnya? Silahkan sana kalau Anda mau menganggapnya bidadari'


"Zen, kalau dia bidadari atau malaikat, akan kupatahkan sayapnya!"


Zen hanya mengendikkan bahu.


'Terserah Anda, Tuan'


Alrega langsung melangkahkan kaki, untuk mendekatinya, tapi Zen menahan tangannya, sambil berkata.


"Jangan sekarang, Tuan, sepertinya Nona masih ingin sendiri. Beri Nona sedikit waktu. Kita lihat saja apa yangakan dilakukannya"


Sebenarnya Alrega sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia ingin sekali segera memeluk, membawa perempuan itu kedalam dekapannya, kemudian menciumnya, atau melakukan hal lain yang lebih dari itu, tapi pikirannya masih normal.


Ia membenarkan kata-kata yang diucapkan oleh Zen. Menyetujuinya bahwa memang Sella membutuhkan waktu untuk sendiri. Terbukti ia di sana sendirian, jauh dari keramaian dan hotel tempatnya menginap.


Ia begitu tenang seperti patung, seolah-olah apabila badai dan angin kencang datang, maka dia akan tetap bergeming.


"Apa yang sedang dia pikirkan sekarang?" Tanya Alrega.


"Mana saya tahu, saya tidak bisa melihat isi kepala Anda'


"Mungkin Nono sedang memikirkan anda Tuan, apakah Nona akan meneruskan pernikahannya dengan Anda, atau memutuskannya!"


"Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku sampai salah satu diantara kami mati."


Zen menarik nafas dalam mereka berdua duduk di dekat sebatang pohon, mengamati Sella dari sana.


Sella berulang kali menarik nafas dalam, air mata masih terus mengalir dan ia biarkan membasahi pipinya. Sesak dan kesal mendera, merasa dikhianati dirinya sendiri. Ia akhir-akhir ini begitu percaya pada Alrega yang menjamin bahwa semua akan baik-baik saja, semua rahasia dirinya ia simpan rapat-rapat. Namun apa yang ia alami sekarang, justru aibnya dibongkar di hadapan semua orang?


Sella membungkuk, mengambil beberapa batu pantai di bawah kakinya yang tanpa alas. Ia lemparkan batu-batu di tangannya ke laut, melakukannya lagi dan lagi.


"Bodoh, untuk apa melakukan itu?" gumam Alrega tapi Zen mendengar ucapan itu dengan jelas.


'Anda tidak mengerti, ya Tuan, orang galau pasti akan seperti itu, mencoba melemparkan batu seolah-olah melemparkan masalahnya kelautan, lalu menganggap masalah akan selesai bersamaan dengan batu yang tenggelam. Sebentar lagi pasti akan berteriak keras-keras, itu kebiasaan orang di laut, duduk merenung, melemparkan batu ke lautan dan kemudian berteriak'


Itulah sebabnya Rejan mengatakan bahwa pantai adalah tempat yang paling menyedihkan. Walaupun demikian, pantai disebut juga sebagai tempat rekreasi terbaik, untuk orang yang setiap hari selalu disibukkan oleh rutinitas, dari hal yang itu ke itu saja.


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Zen, saat itu juga Sella menyimpan kedua tangannya ke pipinya, seolah-olah tangannya itu adalah sebuah pengeras suara dan Gadis itu berteriak sekuat tenaga.


Setelah puas berteriak, Sella berjalan perlahan semakin menjauh.


'Apa dia tahu semuanya sejak awal, tahu kalau aku tidak bersalah, tahu Delisalah yang bersalah, menjebakku menikah dengannya, membuat seolah-olah aku yang salah dan bebas memperlakukan aku semaunya, mengatasnamakan hukuman karena aku yang salah?'


Sella kembali menangis.


'Lalu dia menggunakan aku untuk membalaskan dendam pada Delisa, agar perempuan itu merasakan sakit hati seperti yang dirasakannya? Hah, dia berjanji menyimpan rahasia selamanya tapi nyatanya? Aku bahkan diperlakukan seperti ini!'

__ADS_1


Sella berteriak lagi, setelah itu, Ia pun berjongkok dan menangis sekeras-kerasnya dengan menumpu wajahnya di atas lutut, menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.


Sella tidak menyadari kalau ada dua laki-laki yang sedang memperhatikan dan mengikutinya.


Ia merasa hanya sendiri tidak ada seorangpun di tempat ia berdiri karena tempat itu memang lebih sepi, bahkan terkesan gelap. Bila berada di posisinya sekarang, maka cahaya lampu jalan tidak akan sampai.


Sheila menangis memukul-mukul dadanya setelah itu diam beberapa saat, lalu berjalan lagi dengan perlahan, sambil memainkan pasir di kakinya. Ia tidak sadar sudah semakin menjauh saja.


Alrega mengikutinya dibelakang, ia semakin dekat. Namun Sella terus berjalan hingga sampai di tempat yang benar-benar gelap.


Saat itulah, Alrega menarik tangannya. Sella terperanjat dan menoleh. Ia tercengang begitu melihat siapa yang tengah memegangi tangannya.


Ia tidak menyangka Alrega ada di hadapannya. Sella dengan cepat menepiskan cekalan tangan Alrega.


"Kau? Untuk apa kemari?"


Alrega tidak menjawab pertanyaan Sella, ia justru berkata, "Jangan kesana, gelap ... kau tidak tahu apa yang ada di depanmu."


"Bukan urusanmu!"


"Itu, urusanku ...."


"Apa pedulimu? Tinggalkan aku sekarang!"


Sella berkata sambil mendorong dada Alrega, tapi dengan cepat Alrega memegang tangan Sella membuat telapak tangannya tertahan dan menempel di dada, hingga ia merasakan degup jantung suaminya.


"Aku peduli padamu karena itu, aku mencarimu."


"Cih, ku tidak butuh, pergi! Jangan dekati aku lagi!" Sella berkata sambil berusaha melepaskan tangan dari genggaman Alrega.


"Kenapa? kau kan sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku!"


"Hah! Kau pikir cuma aku mengingkari janji, karena aku meninggalkanmu?!"


"Iya," sahut Alrega cepat, masih mempertahankan tangan Sella.


"Lalu bagaimana dengan kau, ha? Kau juga berjanji menjaga rahasiaku, kau bilang semua yang aku lakukan tidak akan diketahui oleh siapa pun. Hah! Bodohnya aku."


"Lihat, sekarang lihat! Kau tidak bisa menjamin semuanya Delisa mengatakannya di depan semua orang ...!" Sella berkata dengan suara bergetar karena menangis.


"Dan dia bilang aku berselingkuh di depan adikku sendiri, bahkan adikmu ingin membunuhku?! Kau pembohong, Al. Pergi sana, pergi!" Sella menarik tangannya sekuat tenaga, hingga terlepas dan mencoba untuk berlari, namun belum juga satu langkah, Alrega menangkap dan merengkuh bahunya dalam pelukannya.


"Maafkan aku ... aku tidak ada saat kau butuhkan, tapi percayalah semua baik-baik saja."


"Apanya yang aik-baik saja menurutmu?" Sella meronta tapi Alrega lebih erat lagi memeluknya.


"Ibu menginginkan kau kembali." Alrega berkata dalam ceruk leher Sella. Menghisap dalam-dalam aroma sampo dari rambutnya.


"Aku?! Tidak, tidak mungkin, semua orang sudah tahu siapa aku sebenarnya, aku penipu, aku tidak pantas kembali pada ibu, aku akan menjadi aib keluarga, aku sudah menipu kalian semua!"


Alrega menegakkan tubuhnya, namun kepala masih menunduk ke wajah Sella dan kedua tangan masih merengkuh Sella erat.


"Bukan seperti itu, mereka sudah tahu kebenarannya sekarang, kau hanya terpaksa dan Delisalah penipu yang sebenarnya."


Mendengar ucapan Alrega, Sella mengerutkan keningnya, mendongak dan menatap Alrega, lalu berkata, ia mulai terlihat tenang.


"Apa kau juga tahu semuanya?"


Alrega mengangguk.


"Iya, aku memang tahu. Kau yang bilang sendiri waktu itu, kau terpaksa."


Sella kembali memberontak dan berkata,


"Jangan bohong! Kau bahkan tahu sejak awal kan? kau pembohong!"


Alrega diam, membuat Sella yakin kalau laki-laki di hadapannya ini, sebenarnya sudah mengetahui semuanya dari awal.


Sekuat tenaga, Sella memukul dada Alrega berulang-ulang kali, sambil terus menangis. Alrega tidak melawannya, ia membiarkan Sella melampiaskan kekesalannya, hingga akhirnya tubuhnya melorot ke bawah.


Ia berlutut, pakaiannya kotor oleh pasir pantai. Ia menangis sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri, berharap bisa membuyarkan gumpalan sesak di dadanya. Ia menyesal karena terlalu mempercayai laki-laki.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2