
Sella menoleh pada orang yang menepuk bahunya. Seketika ia merasa takjub, bertemu dengan orang yang bisa memastikan sesuatu tentang Delisa, dialah si perencana penipuan itu dua tahun yang lalu.
Di tengah keramaian yang tercipta, seolah Sella sendirian, hatinya merasa sepi untuk sesaat, mengingat dialah yang memaksanya untuk membuat kekacauan. Dulu memang ia melakukannya karena terpaksa, ia membutuhkan uang, tapi hingga kini ia tidak pernah berhenti menyesal. Entah apakah ia harus gembira atau bersedih melihat gadis berambut pendek dan berkacamata tebal itu ada di hadapannya sekarang.
"Ya, aku Sella, kita pernah bertemu, sayangnya aku tidak tahu siapa namamu."
"Hmm ... Aku Zola." Gadis itu berkata sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Jadi, kita bebas berkenalan sekarang? Tapi kamu sudah tahu namaku, kan?" tanya Sella menyambut uluran tangan Zola.
"Ah iya, kebetulan kita bertemu, aku inginminta maaf ...."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf dulu aku sudah memaksamu."
"Aah, tidak ada gunanya minta maaf sekarang..." Sella berkata sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum miring. Maaf adalah kata yang tidak dibutuhkannya saat ini.
"Memang, semua sudah terlambat, tapi aku merasa harus meminta maaf padamu."
"Haha. Benar, semua sudah terlambat, kalau bukan karena kalian aku tidak akan mengalami nasib seperti ini."
Mendengar perkataan Sella, Zola mengerutkan alisnya, ia merasa bersalah atas perbuatannya pada Sella.
"Aku tahu kehidupanmu sekarang pasti tidak mudah, untuk itulah aku perlu meminta maaf ... Aku merasa bersalah padamu."
"Baiklah, lagipula memaafkaan itu gratis. Oh, ya bagaimana kabar Delisa, apa kalian masih berteman?"
Zola diam sejenak tampak berpikir, mencoba menebak kemana arah pembicaraan Sella, yang menanyakan persahabatannya dengan Delisa, lalu mengangguk.
"Kamu pasti tahu dimana rumahnya, kan? Berikan padaku alamatnya," Sella berkata sambil menepuk bahu Zola, lalu kembali berkata, "aku tau, dia orang yang sudah membayarku, untuk berakting dan menipu."
Zola dan Sella bertatap mata sejenak dengan emosi yang berbeda.
'Apa tuan Rega sudah mengatakan yang sebenarnya atau dia tahu dengan sendirinya?'
"Baiklah, tunggu sebentar." Zola mengambil sebuah catatan kecil dari dalam tasnya dan menuliskan sebuah alamat, lalu memberikan secarik kertas itu pada Sella.
Ia berkata, "ada perlu apa kamu ke rumahnya?"
"Kamu pasti ingat, aku menganggap uang yang dia berikan dulu, hanya sebagai hutang? Aku akan membayarnya."
"Haha. Uang itu memang untuk semua yang bekerja pada Delisa, jadi kamu tidak perlu merasa berhutang padanya, eemm ... Apa kamu mendapatkan uang dari tuan Rega, untuk membayarnya." Zola tertawa keras.
"Apa salahnya, aku istrinya, kan?" Sella berkata penuh percaya diri.
Zola melihat penampilan Sella dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang terlihat berkelas.
Zola berfikir, seandainya Sella disiksa dalam kehidupannya sehari-hari, Alrega tetap tidak akan membiarkan harga dirinya ternoda dengan membiarkan istrinya berpenampilan buruk di hadapan orang lain.
Saat itu, rambut keriting panjang Sella, diikat rapi dengan sebuah syal warna pastel dibelakang lehernya, senada dengan tas, sepatu dan dress yang dipakainya. Riasan tipis diwajahnya, membuat Sella justru terlihat lebih manis. Tatapan Zola berhenti pada leher putihnya, yang terdapat beberapa bercak tanda di sana.
'Jangan-jangan mereka sudah ... Aahk, Deli pasti syok kalau melihatnya, dan sepertinya dia baik-baik saja, tidak seperti yang aku kira!'
"Apa kamu tahu untuk apa tuan Rega menikah denganmu?" tanya Zola penuh selidik, ingin memuaskan rasa penasarannya.
"Ya, aku tahu."
Setiap orang memiliki beberapa alasan dalam setiap keputusan dan perbuatannya, termasuk dalam menjalin sebuah hubungan, seperti pernikahan. Wajar kan, bila Alrega juga memiliki alasan dalam menjalin hubungan pernikahan dengan Sella. Lalu apa salahnya semua alasan itu kalau pada akhirnya mereka saling mencintai dan bahagia?
'Tuan Al, bolehkah aku sekarang jatuh cinta padamu?'
Sella pun membayangkan Alrega yang tiba-tiba memenuhi otak di kepalanya, Alrega memiliki postur tubuh yang sempurna, dan bokong yang seksi. Wajahnya tampan dan seksligus cantik, karena bulu matanya yang lentik. Kulitnya putih dan rambutnya selalu rapi. Jari-jari tangannya yang panjang dan ramping itu sering sekali mencengkram dagunya lalu mencium bibirnya.
Tiba-tiba Sella merindukannya!
Tidak mudah memang melepaskan diri dari jerat pesona laki-laki seperti ini. Wanta manapun tidak akan rela untuk putus. Apalagi setelah merasakan kasih sayangnya, pelukannya yang hangat dan nyaman dalam dada bidangnya. Ciumanya yang selalu menuntut, atau erangan rendah dari tenggorokannya saat mereka sama-sama terbang ke nirwana, itulah dunia dan seisinya, surga yang bisa dilihat saat ini juga. Siapa yang mau membaginya? Tidak ada ...
"Kamu tahu alasannya, tapi tetap bertahan selama ini, apa kamu mencintainya?" Tanya Zola setelah beberapa saat diam.
"Aku istrinya, tentu aku mencintainya, dan aku tidak akan pernah meninggalkan Alrega seperti yang Delisa lakukan padanya."
__ADS_1
"Haha. Sepertinya kamu terlalu menghibur diri." Zola menampakkan rasa tidak percaya, dan melanjutkan ucapannya. "Kamu tidak akan bicara seperti ini kalau kamu tahu sejak awal, untuk apa kamu dinikahi."
"Kita tidak pernah tahu masa depan yang kita hadapi akan seperti apa, kalau kita tidak mengambil sebuah keputusan ... Aku tidak akan menyesali keputusanku kali ini."
"Dengar, aku tahu tuan Rega itu orang seperti apa, Dia tidak akan semudah itu memalingkan perasaannya dari orang yang dicintainya." Zola berkata sambil menyunggingkan senyum miring di ujung bibirnya.
Orang yang dicintainya adalah Delisa, tapi Delisa salah, ia meninggalkannya dan sekarang dia menyesal, apalagi setelah tahu bahwa kakek Mett bahkan mewariskan seluruh kekayaannya pada Alrega.
"Ya, kamu benar, dan sekarang perasaannya sudah berpaling padaku, jadi dia tidak akan pernah bisa berpaling lagi pada perempuan lain."
Zola diam, lidahnya kelu demi mendengar ucapan itu, dalam hati ia membenarkannya. Kemudian Sella melanjutkan kembali argumennya.
"Aku tidak perduli dengan alasan Alrega, tapi yang jelas aku istrinya, aku akan tetap berada di sisinya walau apa pun yang terjadi. Dia mencintaiku seperti aku mencintainya, aku yakin suamiku tidak akan memikirkan wanita, selain istrinya."
Sella merasa yakin, setelah apa yang ia alami semalam, saat pria itu menguasai tubuhnya, ia menyebutkan namanya dan bukan nama perempuan lain. Alrega tidak akan bersikap seperti itu hanya karena merasa bersalah sudah menghilangkan kesucian seorang wanita.
Ia laki-laki yang menghargai wanitanya. Bukan laki-laki yang tidak merasa bersalah setelah menikmati keindahan tubuh seorang wanita, dan mengambil keperawanannya, lalu pergi begitu saja.
Selama Sella berbicara dengan Zola, Leana mengawasi dengan berdiri tak jauh dari Sella. Ada juga beberapa pengawal, mereka bersikap seperti orang yang sedang berbelanja.
Sementara pengawal yang lain, mengawasi tiga wanita yang tengah berbelanja, memuaskan keinginan dan menikmati kesukaannya.
Sella hendak melangkah pergi, ketika tangannya di pegang oleh Zola.
"Tunggu." katanya.
Disaat yang bersamaan tangan Zola yang ada di pergelangan tangan Sella, ditepis kasar oleh Leana. Bukan hanya Leana, dua orang pengawal yang sejak tadi seperti pengunjung biasa pun mendekat.
Melihat hal ini, Sella memberi isyarat kepada Leana dan yang lainnya, agar tidak berbuat sesuatu pada Zola.
'Ah, jadi orang-orang ini adalah pengwalnya, Ck! Aku sudah salah menilainya'
"Apa lagi?" tanya Sella ketus.
"Aku pikir tuan Rega masih mencintai Delisa. Bagaimana menurutmu?" Zola bertanya sekedar untuk meyakinkan dirinya.
Seharusnya Zola tidak perlu mempertanyakan nya, sudah jelas bahwa Alrega mengabaikan Delisa, dan tetap mempertahankan Sella hingga hari ini.
"Aku tidak yakin." Sella berkata sambil mengepalkan tangan yang ada di samping badannya.
Alrega bukan orang sembarangan, ia tidak akan berbuat sesuatu yang bisa merusak harga dirinya. Ia pria berkedudukan tinggi, yang tidak akan melakukan perbuatan rendah dan berpotensi menghancurkan reputasi.
Ada diantara orang-orang berkedudukan tinggi itu, yang ingin menyalurkan has*sarat atau lib*bido dengan wanita yang bukan pasangannya, tanpa merusak reputasi mereka. Maka mereka lebih rela menyewa wanita bayaran, yang bisa melayani secara diam-diam, walau mereka harus membayar dengan bayaran yang fantastis.
Sella pergi menemui kakek Mett di sebuah kedai, laki-laki tua itu mengernyit heran karena melihat Sella yang tidak membawa apa-apa di tangannya.
"Apa kau tidak berbelanja?" tanya pria tua itu lembut.
'Akh, mana sempat'
"Tidak, kakek. Baju di lemariku sudah penuh, Al selalu membelikanku baju baru. Jadi buat apa beli lagi."
"Apa kau tidak ingin barang yang lainnya?"
'Memangnya untuk apa?'
"Tidak, aku sudah pernah bilang, kalau aku memiliki seluruh dunia karena Alrega."
Mett Haquel tertawa keras, lalu berkata,
"kalau begitu temani aku minum teh." Ia menuangkan poci teh yang sangat bagus, ke dalam sebuah cangkir kecil yang ada di hadapannya. Lalu memberikannya pada Sella.
"Terimakasih, kakek. Aku merasa sangat tersanjung."
"Kau memang harus disanjung."
"Hehe. Seandainya ada papan catur di sini, aku akan mempersembahkan kekalahanku untuk kakek."
"Iya, sayangnya tidak ada. Aku senang kalau aku bisa mengalahkan orang."
"Aku tidak heran."
__ADS_1
Mett kembali tertawa dengan candaan Sella, tapi itu benar, dia memang senang mengalahkan orang dalam bisnis atau dalam negosiasi. Itu adalah keahliannya. Entahlah, kalau Sella yang mengucapkannya, terasa bukan sindiran tapi terdengar lucu di telinganya.
Setelah itu mereka bercakap-cakap tentang teh, obat herbal dan juga tentang gula batu, hingga Sella mulai tahu kalau pabrik gula yang melegenda itu adalah milik keluarga Haquel.
Tentu Sella tercengang, tapi tidak lagi merasa heran.
'Ah, apalagi yang dimiliki mereka. Siapa yang berani berbuat macam-macam dengan keluarga ini dan aku sudah terjebak bersama mereka di sini'
Sella baru menghabiskan tehnya ketika Yorin datang. Ia memberinya dua buah tas sambil tersenyum.
"Ini untukmu kak," kata Yorin. "Aku lihat kak Sese tidak membeli apa-apa."
Sella menerimanya sambil berkata, "terimakasih, aku sudah cukup senang melihat ibu baik-baik saja."
"Kak, yang satu lagi berikan untuk Rejan." Yorin berbisik pelan.
Sella mengerutkan kening, ketika mendengar bisikan Yorin di telinganya.
"Baiklah, dia pasti senang mendapatkan hadiah darimu."
"Berikan Nomor ponselnya, aku akan mengatakan kalau aku memberinya hadiah."
'Apa dia menyukai adikku?'
Sella memberikan apa yang Yorin minta, sehingga gadis itu tersenyum dengan lebar, dan mata yang bersinar, seperti baru saja mendapatkan lottre.
Kini mereka berkumpul di kedai teh yang sepi, sejak tadi hanya ada kakek Mett menikmati tehnya seorang diri. Tempat itu sengaja disterilkan dari pengunjung biasa demi kenyamanan keluarga mereka.
Mereka menikmati teh dan beberapa jenis makanan yang dipesan sesuai selera mereka. Banyak sekali hidangan di sana. Sella menikmati semua hidangan istimewa itu dengan lahap.
"Apa kau hamil?" tiba-tiba Marla bertanya pada Sella. Semua mata ikut menatapnya.
Hal ini wajar ia tanyakan, ia berfikir seperti itu karena melihat cara makan Sella.
Sella menggeleng, ia memang tidak hamil, hanya saja makanan ini terlalu sayang untuk di lewatkan. Mereka tidak akan menghabiskan makanan sebanyak itu, atau membawanya pulang, mereka akan meninggalkan begitu saja sisa makanan di meja setelah dibayar.
"Bukankah kalian sudah lama menikah, apa kau belum mau memberiku seorang cucu?" tanya nenek lagi.
Marla mendengus, dan memalingkan pandangan, ketika Sella tidak juga menjawab pertanyaannya.
Selama ini Sella mengkonsumsi sejenis kapsul dari bahan herbal yang dipercaya secara alami bisa menunda kehamilan. Tanaman herbal yang dikonsumsi oleh Sella itu, memiliki kahasiat membuat sel telur pada wanita tidak bisa matang hingga tidak bisa dibuahi.
Sella sudah tidak lagi mengkonsumsinya, setelah Marla memberikan kalung berlian 'biru cahaya' padanya. Namun sampai sekarang, ia belum juga mendapatkan tanda-tanda kehamilan.
Hei, mereka belum selama itu dalam melakukan hubungan intim sebagai suami istri. Tidak selama pernikahan mereka.
Sella tidak mungkin mengatakan kebenarannya pada Marla. Setiap orang selalu punya alasan untuk melakukan kebohongan, kan?
"Entahlah, nek. Aku belum hamil. Do'akan saja aku, nek."
"Caramu makan seperti orang yang tidak pernah diberi makan," kata Marla sambil menyudahi acara makan siangnya.
Yorin dan kakek juga sudah selesai, mereka membersihkan mulut dengan tissu. Sedang kan Zania masih makan dengan perlahan.
'Nah, kan, kalian sudah selesai, dan makanan ini masih banyak, kalian selalu saja membuang-buang makanan, bagaimana aku bisa tahan!'
"Habiskan makananmu," kata Zania sambil tersenyum. Ia sepertinya mengerti, Sella masih belum puas menikmati makanannya.
***
Sesampainya di Kaki Langit, Sella memutuskan untuk belajar menyetir dengan Leana. Di sepanjang jalan dari gerbang utama sampai halaman rumah, sudah cukup menjadi ajang track untuk melemaskan tangan agar terbiasa mengendalikan stir mobil.
Leana menuruti keinginan Sella dengan sabar. Ia menjelaskan apa saja yang harus Sella lakukan sebagai pemula untuk mengendarai mobilnya.
"Nona, Anda tidak harus memegang stir itu terlalu keras," kata Leana.
"Aaah ... aku tidak bisa kalau tidak kuat," sahut Sella dengan wajah tegang. Ia tidak sengaja mencengkram kuat kemudi karena melampiaskan rasa gugupnya.
"Nona ... Rem!" kata Leana, ketika Sella hampir saja menabrak kolam air mancur, yang berada di tengah-tengah taman.
Sella secara reflek menginjak rem mobil dengan kuat, dan saat itu juga mobil berhenti mendadak. Ia melihat di area parkir dimana mobil Alrega yang biasa digunakan untuk bekerja, sudah terparkir dengan manis.
__ADS_1
'Apa, apa dia sudah pulang?'
Bersambung