Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 95. Jangan Menyentuhnya


__ADS_3

Henry meringis seketika, wajahnya mengerut, pangkal lengannya seolah panas terbakar dan perih menjadi satu. Alrega mencengkramnya dengan sangat keras. Ia mundur beberapa langkah, sambil berusaha melepaskan tangannya, tapi Alrega tidak juga melepaskannya. Hal itu menyebabkan sebelah tangannya seolah terangkat lebih tinggi.


Perawat perempuan itu bersiap hendak memisahkan mereka berdua, tapi tangannya segera ditepis oleh Alrega.


Zen sudah muncul di sana sambil menggelengkan kepalanya, melihat kedua orang di sana.


Alrega bisa menghadapi rentenir, algojo atau apapun yang lain dengan tenang, tapi ia begitu beringasnya menghadapi Henry. Sebenarnya dokter itu tidak mengancam sama sekali. Ia bersikap seperti ini hanya karena Sella.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Suara Alrega rendah penuh tekanan, berkata sambil mendekatkan wajah, menatap Henry dengan tatapan nyalang.


"Memangnya kau pikir apa?" Hendri menyahut sambil melirik Zen, memohon perlindungan, tapi laki-laki yang dilirik hanya mengedikkan bahu.


"Aku cuma mau ambil gunting, baju istrimu itu harus digunting saja biar mudah menggantinya." Henry berkata dengan terbata-bata.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!" Alrega berkata sambil mendorong Henry ke dinding.


"Siapa bilang aku mau menyentuh istrimu?"


Alrega melepaskan Henry setelah dokter separuh abad itu berhenti bicara.


"Asistenku yang akan mengganti bajunya, bukan aku." kata Henry sambil mengusap-usap pangkal lengannya, ribuan jarum seolah tertancap di sana.


Setelah Alrega menyingkir dari tubuhnya, Hendri mengambil sebuah gunting dari dalam tas peralatannya lalu menyerahkannya pada Alrega.


"Apa, untuk apa gunting ini?" Tanyanya dengan alis yang bertaut dan wajah yang aku, seakan-akan puluhan tanda tanya beterbangan di atas kepalanya.


Henry menjelaskan maksudnya, bahwa ia berniat untuk menggunting pakaian Sella untuk menggantinya. Itu adalah cara paling mudah yang biasa dilakukan di rumah sakit, atau yang biasa dilakukan oleh para dokter, apabila menangani pasien yang dalam keadaan pingsan atau tidak sadarkan diri.


Apabila pakaian para pasien itu sudah rusak, koyak ataupun kotor, maka pihak medis akan melakukan tindakan dengan menggunting pakaiannya, membuangnya dan menggantinya dengan pakaian rumah sakit.


Terlebih lagi, bila mendapati pasien kecelakaan, yang bagian tubuhnya terluka parah atau patah. Mereka akan melakukan tindakan seperti itu, menggunting pakaian yang dikenakan oleh pasien, sebagai awal dari tindakan agar memudahkan menanganinya.


Setelah selesai menjelaskan pada Alrega, Henry pun keluar disusul dengan Zen. Laki-laki itu tersenyum miring pada Henry yang cemberut, sambil menutup pintu kamar.


Alrega bekerjasama dengan perawat untuk mengganti pakaian Sella, dengan pakaian yang ada ada di lemari hotelnya. Dalam lemari itu ada beberapa pakaian, yang sengaja disiapkan sejak beberapa bulan yang lalu, untuk Alrega juga Sella. Akan sangat berguna untuk keperluan mendesak seperti saat ini.

__ADS_1


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Alrega ketika mereka sudah selesai menggantikan pakaian Sella.


"Nona, baik-baik saja sekarang, obat sedang bekerja memulihkan kondisinya. Kami memberikan obat penenang dengan dosis rendah, mungkin Nona akan tidur agak lama." Perawat berkata sambil members kan semua peralatan dokter Henry dan membuang pakaian Sella yang kotor ke tempat sampah


"Hmm."


"Saya permisi Tuan," kata asisten itu sambil melangkah keluar kamar dan menutup pintunya.


****


Matahari mulai meninggi, cahayanya masuk menyentuh setiap celah, walau lubang kecil sekalipun tidak dilewatinya begitu saja.


Alrega membiarkan tirai jendela tetap tertutup agar cahayanya tidak mengenai wajah Istinya yang mungkin bisa membuatnya terbangun.


Ia hanya duduk di sofa besar, dekat tempat tidur, sambil menikmati secangkir kopi. Zen duduk menemani, sambil memeriksa beberapa email di laptopnya. Hampir semalaman dua pria itu tidak tidur, karena khawatir terjadi sesuatu pada Sella.


Alrega gelisah memikirkan Sella, sebentar-sebentar ia menengok ke tempat tidur mengusap kepala sela dan menciumnya. Ia hanya tidur sekitar satu atau dua jam saja, ketika Zen memperingatkannya, bahwa Sella akan tidur cukup lama, hingga ia tidak perlu khawatir.


Namun Alrega justru mengharapkan Sela cepat terbangun, ia ingin memastikan kalau wanita itu baik-baik saja. Ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Zane, untuk tidak mengganggunya.


Perasaannya masih sama seperti semalam, ia ingin memeluk dan menciumnya atau melakukan hal lain yang lebih hangat. Ia sangat merindukannya, rasa ingin yang begitu kuat, sehingga ia tidak peduli, bila Sella akan terbangun dengan keadaan marah atau ia berubah menjadi badai dan tsunami sekalipun.


"Nanti. Aku makan kalau Sese mau makan."


"Kalau Tuan tidak mau makan, sebaiknya mandi dan ganti baju, Tuan. Nanti kalau Nona bangu, Anda sudah bersih dan wangi." Zen berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari menatap layar laptop, sehingga ia tidak tahu kalau Alrega mencibirnya.


Meskipun demikian, laki-laki itu tetap melakukan apa yang diminta oleh Zen. Ia pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Zen tersenyum melihat kepergian olahraga sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah beberapa waktu, Alrega kembali duduk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia sudah berpakaian rapi.


"Sekarang bagaimana dengan Delisa, Tuan. Kakek Mett menahannya di rumahnya." Zen berkata dengan suara sedikit ditekan, sambil melirik ke arah tempat tidur. Ia memastikan Sella masih terlelap, hingga tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Kakek belum menghukumnya?" Alrega berkata sambil melemparkan handuk basah ke sofa di sampingnya.


"Belum, kakek menunggu keputusan Anda."

__ADS_1


"Biarkan saja, yang penting dia tidak mati kakek memberinya makan kan


"Kalau Tuan meminta saya membunuhnya, akan saya lakukan sekarang juga, dengan tangan saya sendiri."


"Aku tanya dulu, istriku memaafkannya atau tidak, kalau dia tidak memaafkannya, baru kau boleh membunuhnya."


Saat itu di tempat tidur, Sella membuka matanya perlahan-lahan dan menghela nafas dalam. Ia rasakan seluruh badannya seperti diikat oleh ribuan benang tajam, ngilu di seluruh persendian.


Ia mendongak menggerakkan kepalanya perlahan melihat selang infus tergantung di atas ranjang. Disaat itu pula ia merasakan sakit seperti ditusuk ratusan jarum di kulit kepala dan tangannya.


Sella tidak membuat gerakan yang tiba-tiba sambil menyimak pembicaraan dua laki-laki yang duduk tak jauh dari tempat tidurnya. Pandangannya berkeliling melihat sekitar sambil menghela napas dalam. Ini tempat yang sama, saat ia menghabiskan malam sendirian di malam pernikahan. Ini tempat yang sama saat dia diajak untuk pergi meninggalkan rumah, bersama Alrega untuk menghindari kunjungan Delisa ke rumahnya!


Rangkaian kejadian kemarin dan semalam, kembali berputar seperti sebuah slide film di otaknya. Kesadaran penuh kini ia dapatkan setelah sekian jam tertidur. Ia tidak ttahu apa yang ia alami setelah pingsan dalam pelukan Alrega.


'Ya Tuhan, memalukan sekali aku mengakui semuanya! Ya, semuanya. Ahk, bagaimana aku harus menghadapinya sekarang'


Dua orang yang ada di sofa, tidak melihatnya terbangun, padahal saat ini Sella sedang menatap jendela, dengan tatapan menerawang.


Ia membayangkan betapa segarnya berada di luar sana, ikut beraktivitas dengan orang-orang lainnya. Sedangkan dirinya sekarang, terkurung di kamar dan mendengarkan hal-hal yang sangat mengerikan.


Air matanya mengalir, mengenang bagaimana ia mengalami ejekan, hinaan, hingga ia disiram makanan dan mendapatkan tamparan dari nenek juga Yorin. Tidak ada yang menolongnya saat Delisa mengatakan hal yang menyakitkan bagi semua orang. Tidak ada yang membelanya disana kecuali Pak Sim yang berusaha menahan Delisa, tetapi orang tua itu juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Marla, mendukung dan mempercayai Delisa.


Alrega, orang yang ia percayai bisa menjaga rahasianya, justru tidak ada di sana. Namun saat ini, ia mendengar bahwa laki-laki itu akan membunuh Delisa, itu hal yang sia-sia saja. Walaupun mereka berhasil membunuh Delisa, tidak akan bisa merubah apa yang sudah dialaminya.


Ia tidak mungkin kembali lagi ke rumah itu, apalagi tetap menjadi istri Alrega. Tidak! Ini akan sangat memalukan. Ia tidak mau menambah beban hidup lagi, setelah ia menjalani kehidupan yang penuh dengan kesulitan.


Ia berharap bisa mengalami kehidupan normal seperti orang lainnya, ketika ia menjadi istri Allrega. Ia berharap cukup ayahnya saja yang melakukan hal menyakitkan padanya dan ibunya. Namun kenyataannya, semua harapan itu sia-sia.


Saat itu Sella mendengar percakapan Alrega dan Zen, membuatnya benar-benar tidak ingin kembali padanya. Apalagi dirinya yang harus memutuskan antara membiarkan Delisa hidup atau membunuhnya. Sungguh tidak pernah terpikir dalam benaknya.


Sebagian orang yang memiliki kekuasaan, kekayaan dan jabatan, memang bisa membuat dunia bekerja menuruti kemauannya. Beberapa orang akan mampu bertindak sangat kejam pada orang lainnya, hanya untuk melindungi komunitas dan kesenangannya dan membela dunianya.


Mereka tidak ingin orang lain merusak dunia, merusak keinginan dan ketenangan mereka, sehingga mereka berbuat menggunakan segala cara dan membuat orang yang lemah untuk mendukung kesuksesan dan ambisi mereka.


Bahkan ada sebagian orang di dunia ini yang menganggap ada sesuatu yang lebih penting dari sebuah perdamaian.

__ADS_1


'Ahk, aku lapar ... haruskah aku mengganggu mereka? Kenapa mereka tidak pergi saja, aku ingin kabur lewat jendela. Sial ... aku lupa kamar ini paling tinggi!"


bersambung


__ADS_2