
Alrega berdiri setelah sekian lama berlutut memeluk istrinya. Sella juga berdiri setelahnya dan menatap Flinna yang masih diam mematung. Zania dan Rehandy menghampiri mereka dan mengajak semua yang ada di sana kembali ke dalam.
Beberapa orang mengikuti Rehandy dan Zania, tapi tidak dengan Flinna, Sella dan Alrega., Tubuh mereka hampir tak bergerak.
"Ibu ... kumohon, maafkan aku." Sella kembali memeluk Flinna, mengharapkan ibunya baik-baik saja. Ia khawatir Flinna akan kembali depresi seperti beberapa tahun yang lalu.
Flinna menatap wajah Sella tak berkedip. Lalu tangganya yang semula hanya terkepal, bergerak dengan cepat menampar Sella, dengan kuat. Seketika rasa panas dan nyeri tersebar di pipinya, tapi ia rela merasakan sakit seperti ini asalkan ibunya tidak membencinya.
"Ibu ...." Gumam Sella lirih.
Ia tidak tahu pasti apa yang di rasakan ibunya, tapi setidaknya ibunya kini bereaksi dan itu hal yang bagus. Tidak masalah ia ditampar, karena ia memang salah, bersekongkol untuk menipu semua orang hampir tiga tahun yang lalu dan tidak memakai hati nurani bahwa banyak orang yang dipermalukan.
"Apa yang Ibu lakukan?" Tanya Alrega sambil meraih tangan Flinna, namun wanita itu seolah tidak melihat menantunya. Tatapan matanya hanya tertuju pada Sella saja.
"Sella sudah melakukannya karena terpaksa, demi ibu. Kalian tidak punya biaya waktu itu, dia tidak salah, Bu!" Alrega kembali bicara dengan tegas. Seandainya waktu bisa berputar, mungkin ia tidak akan pernah mengizinkan Sella mendukung rencana kotor Delisa.
Flinna menepis tangan Alrega tanpa bicara, bibirnya bergetar menahan tangisan yang sepertinya siap tumpah.
Benar saja, tanpa diduga, Flinna meraih bahu Sella dan memeluknya erat, sambil menangis keras. Cukup lama dia begitu, menangis seperti balita yang ditinggal ibunya.
"Maafkan Ibu, Nak ...." kata Flinna. Akhirnya ia bersuara, tapi masih terus menangis.
Sementara Alrega hanya melihat pemandangan mengharukan antara ibu dan anak itu sambil mengusap wajahnya. Ia lega karena akhirnya, Flina bersikap positif juga.
Sella membalas pelukan ibunya semakin erat, terharu dengan ibunya yang justru merasa bersalah pada Sella, karena dirinyalah gadis itu mendapat banyak masalah, membuat mereka sekarang terjebak seperti ini.
"Kau tidak bersalah, Se ... aku yang salah, aku selalu merepotkanmu, sayang." Flinna berkata sambil melepaskan pelukannya, ia menatap Sella sambil menyelipkan anak rambutnya yang berantakan ke belakang telinga.
"Tidak, Ibu juga tidak salah," jawab Sella.
Akhirnya, Sella dengan terpaksa menceritakan pada ibunya tentang bagaimana ia dulu berusaha mendapatkan uang untuk biaya rumah sakitnya, ia bekerja lembur bahkan meminjam dari ayahnya tapi ia tidak mendapatkan uang yang cukup, hingga ia melakukan penipuan itu.
Semua yang Sella ceritakan memang benar, hanya saja ia melewati cerita bagaimana ia bisa menikah dengan Alrega.
"Jadi siapa yang bersalah, kalau bukan kalian berdua?" Tanya Alrega, tanpa di duga laki-laki itu menyela percakapan kedua wanita yang baru saja berhenti menangis.
__ADS_1
Sella dan Flinna menoleh secara bersamaan dan menjawab, "Laki-laki itu!" secara bersamaan pula.
'Kalian Ibu dan anak yang kompak, Daebak!'
Alrega menyeringai mendengar jawaban itu, ternyata pikiran mereka sama. Bahwa orang yang paling bertanggung jawab dalam kehidupan dan akibat dari semua yang sudah Sella lakukan selama ini adalah ayahnya. Laki-laki itu sudah menelantarkan keluarganya.
Banyak sekali kejadian seperti ini, di mana laki-laki yang harus bertanggung jawab justru tidak bertanggung jawab. Kebanyakan para korban hanya pasrah dan diam sedangkan hanya sedikit yang bisa membalaskan dendam.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Alrega lagi.
Saat kejadian di mana Johan meninggalkan Flinna, wanita itu tidak mampu melawan karena ia adalah wanita yang sopan dan pemalu, ia tak kuasa untuk marah atau melawan suaminya karena malu. Johan pergi dengan membawa semua pakaian miliknya, melemparkan semua koper di luar rumah, hingga menimbulkan perhatian warga dan semua tetangga melihat kehebohan yang terjadi di rumah mereka.
"Kau tahu di mana dia?" Tanya Flina.
Alrega tersenyum lembut pada ibu mertuanya itu dan berkata, sambil mengangguk.
"Ya, aku tahu. Tapi dia tidak tinggal di Jinshe."
"Di mana?"
Alrega mengusir laki-laki itu ketika terjadi masalah antara Sella dan Johan yang menginginkan rumah mereka di jual dan ia menganggap memiliki rumah itu, lalu membagi hasilnya menjadi dua, padahal ia tidak mengurus anak-anaknya. Mungkin Alrega tidak akan bertindak sejauh itu bila Johan tidak berbuat kekerasan pada Sella.
"Sekarang."
"Ibu, apa maksud ibu, sekarang?" Sella menyela ucapan ibunya karena ia merasa tidak percaya bila Flina punya keberanian semacam itu. Akan tetapi keberanian wanita itu muncul setelah ia yakin, bahwa walaupun ia membalas perbuatan mantan suaminya, semua tetap akan baik-baik saja.
"Apa salahnya, bukankah aku seharusnya membalas ayahmu, sejak sepuluh tahun yang lalu?" Flinna menoleh pada Sella.
Anak gadisnya itu sudah bekerja sangat keras dan berusaha mati-matian untuk membuatnya tetap hidup, saat dia kritis di rumah sakit. Sella sudah mencoba meminjam uang dari ayahnya, ya, meminjam, bukan meminta, tapi laki-laki itu tidak memberinya dengan alasan bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan Flinna. Laki-laki itu tidak berfikir bahwa ia masih memiliki hubungan dengan Sella, darah dagingnya.
"Iya, itu terserah Ibu, tapi ...."
"Nak, Rega ...." Flina menyela kalimat Sella dan mendekati Alrega. "Apa tidak masalah kau menikah dengan Sella? Dia pernah berbuat buruk seperti itu."
"Tidak masalah. Ibu tenang saja, aku mencintainya." Alrega berkata tanpa melihat bagaimana raut wajah Sella. Ia tercengang mendengar ucapan Alrega, yang mengatakan cinta, ini sudah kali kedua ia mengatakannya di hadapan Flinna.
__ADS_1
'Ha ... iya, harus tampak saling mencintai di depan ibu, ya? Aku hampir saja lupa dan mengharapkan dia sungguh-sungguh mencintaiku'
Flinna meraih tangan Sella dan menyatukaannya dengan tangan Alrega, sambil berkata, "aku berharap pernikahan kalian bahagia, utuh selama-lamanya."
Kedua pasangan itu hanya saling melempar senyum dan pandangannya.
Alrega melirik Zen yang masih setia berdiri di belakangnya, ia seperti patung yang menjadi saksi bisu sebuah kejadian yang mengharukan, antara ibu dan anak di saat semua hal yang mereka sembunyikan mulai terbongkar. Laki-laki itu berharap, bahwa niat awal Alrega menikahi Sella, tidak akan diketahui oleh Flinna selama-lamanya, bahkan mungkin sampai akhir dunia.
Tidak ada yang perlu tahu, tentang hal ini karena sekarang antara Sella dan Alrega sudah saling mencintai. Zen hanya perlu memastikan rencana Alrega untuk membuat Sella bahagia, menjadi sempurna. Ia harus mengurus Zola dan Delisa, juga mengatur pertemuan antara Flinna dan mantan suaminya.
Zen mengerti, ia menundukkan kepalanya sebelum pergi. Sementara keluarga Sella kembali ke rumah mereka setelah berpamitan dengan Zania dan Rehandy.
***
Alrega dan Sella duduk berhadapan dengan Zania dan Rehandy, di sofa ruang kerja, hanya mereka berempat saja yang ada di sana.
"Ibumu ingin mendengar semuanya dari kalian sendiri. Aku hanya mengatakan yang aku tahu." Rehandy berkata sambil menggenggam tangan istrinya.
"Apa yang ingin ibu dengar?"
"Semuanya ..." Zania bicara sambil mengerjabkan matanya. Menahan air yang menggenang di sana agar tidak tumpah.
Begitu banyak kesedihan kemarin dan hari ini, namun kenyataan yang ia dengar terakhirlah yang paling menyedihkan. Yaitu tentang kebenaran pernikahan anaknya sendiri.
Bagaimana mungkin sebuah hubungan suci dalam kehidupan manusia, dilakukan atas dasar balas dendam? Keinginan yang buruk akan bertemu dalam sebuah wadah yang suci, rasanya tidak mungkin, kecuali bila ditebus dengan ujian yang membersihkannya.
Sebenarnya, saat ini Alrega dan Sella tengah mengalami proses itu, di mana keburukan dari awal pernikahan tengah disucikan dengan ujian yang datang secara bertubi-tubi.
Kelak di kemudian hari akan terlihat kesucian itu bersinar bagai mentari di pagi hari, entah kapan?
"Soal apa, Bu?"
"Pernikahanmu, Rega ...."
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana?"
__ADS_1
Bersambung l