Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 74. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Walau ia geram, saat mendengar gumaman Sella, Alrega menarik sudut bibirnya ke atas.


Pria itu tidak meminta apapun darinya, ia hanya ingin Sella mencintainya. Ia menduga gadis itu belum memiliki perasaan yang sama dengannya. Buktinya, ia memberinya nama yang aneh, nama yang digumamkan Sella adalah namanya dalam telepon genggamnya.


Alrega merasa, gadis itu mempermainkan dirinya dengan cara yang berbeda. Ya, hanya karena ID ponsel, sudah membuatnya tersinggung. Tapi wanita yang tidur di tempat tidurnya itu, tidak sadar kalau ia sudah menyinggungnya.


'Awas kau nanti, akan kubuat kau mengakui perasaanmu padaku'


Mungkin hanya Sella yang berani menyinggungnya, tapi tidak mendapatkan balasan apa pun darinya. Tidak ada yang berani menyinggung perasaan pewaris tiga grup ini, kalau tidak ingin dihancurkan hingga berkeping-keping.


Di hadapan Sella, Alrega menjadi orang yang rapuh, dan mudah hancur hanya dengan mere*mas tangan saja. Hanya saja Sella tidak mengetahuinya, kalau ia bisa meminta apapun darinya, bahkan bila Sella memintanya untuk berlutut di kakinya mungkin Alrega akan melakukannya.


Namun yang terjadi hari ini adalah, gadis itu sudah pergi tanpa sepengetahuannya, padahal ia masih ada di rumah. Ia benar-benar merasa di abaikan.


Saat itu, Alrega memutuskan untuk bekerja di rumah karena perasaan bahagia melihat ibunya normal, pulih seperti sedia kala dan memeluknya. Tapi hanya dalam waktu beberapa jam saja, orang yang sudah membuatnya bahagia itu, menghempaskan perasaannya, hanya karena kedatangan ayahnya.


Alrega yang sedang sibuk diruang kerjanya waktu itu tidak menganggap penting pesan yang dikirim oleh Yorin. Pak Sim juga tidak berani mengganggu karena ia berpesan untuk tidak mengganggunya.


"Maaf, Tuan nona pergi ke rumah orangtuanya."


Itulah yang dikatakan Pak Sim, saat Alrega sudah selesai dan keluar dari ruangannya. Alrega mengerutkan alisnya.


"Jadi, nona tidak ada?"


Pak Sim mengangguk.


"Ada apa dia pergi ke sana, sebentar lagi waktunya makan siang." Ia berkata sambil mengepalkan tangan merasa diabaikan.


"Tadi adik nona ke sini dan mengabarkan kalau ayah nona muda datang, Tuan."


"Apa?"


Tanpa pikir panjang Alrega segera mengganti pakaiannya dengan pakaian terbaik yang dimiliki untuk tampil sempurna di depan ayah mertua. Menunjukkan status dan kekuasaannya.


Secepat kilat Zen mengurus dan melakukan semua yang seharusnya, Menghubungi seseorang, melakukan beberapa instruksi sambil mengemudi mobilnya. Hingga ia bisa datang tepat waktu.


Saat yang membuatnya sedih, adalah saat ia melihat laki-laki yang disebut sebagai ayah itu tengah menekan bahu Sella ke dinding, dengan wajah yang lebam karena bekas tamparan. Perasaannya sakit, melihat gadis yang dicintainya terluka.


Hingga kekuatan besar muncul, yang membuatnya mampu melepaskan tubuh pria tambun itu hanya dengan menariknya begitu saja. Ia bisa melenyapkan Johan saat itu juga tanpa harus mengotori tangannya, tapi ia tidak mungkin melakukannya di depan istri dan anak-anaknya.


"Kau sudah bangun?" Alrega bertanya ketika melihat Sella membuka mata secara perlahan dan mulai menggeliatkan tubuhnya.


"Euh, aku dimana?" Sella bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar.


'Apa dia dari tadi sudah duduk di sini dan hanya melihatku tidur. Tapi aku mimpi aneh memanggil Tuan Al Red Devil, aah ... Untung saja aku sudah mengganti namanya'


"Di rumahku. Ayo, pakai bajumu." Alrega berkata sambil berdiri dan mengambil beberapa baju yang ia beli khusus untuk Sella.


Sella melihat keadaan dirinya yang dibungkus selimut. Lalu sadar dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya, hingga ia merasa malu. Apa yang sudah ia lakukan tadi, sampai ia tidak sadar mendesah berulang-ulang dan terlihat begitu menikmati permainan, memperlihatkan minat yang kuat, ahh ... Itu memalukan.


Sella mengambil beberapa helai pakaian yang cocok dan membawanya ke kamar mandi, ia akan mengganti pakaiannya di sana sambil menggulung tubuhnya dengan selimut. Melihat tingkah Sella, Alrega menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Alrega sudah mulai menikmati makanan yang ada di meja, ketika Sella selesai. Zen duduk tenang tidak jauh dari mereka berdua dengan menikmati makanan yang sama.


"Apa kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanya Sella sambil mengambil beberapa makanan ke dalam piringnya.


"Hmm ... "


"Sayang, kau beli di mana makanan ini enak sekali," kata Sella setelah mulai melahap makanannya.


"Diam, habiskan makananmu!"

__ADS_1


'Apa dia marah, tapi kenapa?'


Beberapa saat kemudian, Alrega selesai makan. Ia menyimpan sendoknya dengan cara yang manis dan rapi. Seolah ia seorang aktor profesional yang sedang melakukan syuting sebuah film dan ia memerankan adegan di meja makan yang elegan. Ia menatap Sella yang duduk di hadapannya sambil mengusap bibirnya dengan tissu. Lalu mengucapkan kata.


"Siapa itu Red Devil, apa dia pacarmu?"


'Itu kamu, tau?'


"Bukan. Pacarku kan kamu, Sayang."


"Kau coba berbohong lagi?" Alrega mencondongkan badannya ke depan, agar lebih dekat dengan Sella, yang masih mengunyah makanannya.


Sella menggeleng dengan yakin. Ia tidak mau dikerjai lagi seperti tadi.


"Tapi kau memimpikannya bukan?"


'Aah ... Tidak, dari mana dia tahu, apa aku mengigau tadi?'


"Dia aktor yang tampan, walau dia tokoh jahat, tapi dia keren dan manis menurutku."


'Apa, dia bilang aktor itu tampan?'


"Jadi karena itu kau memimpikannya?"


"Apa tidak boleh aku mimpi aktor tampan seperti dia?"


Alrega menegakkan kembali tubuhnya dan memalingkan pandangan sambil tersenyum miring. Ia kesal sekali!


"Jadi karena itu, kau menandaiku dengan namanya?"


'Eh, dari mana dia tau, uh uh, tuan Al, kau memang genius'


Sella menelan makanannya dengan susah payah. Lalu berjalan mendekati Alrega dan menggamit dan mencium punggung tangannya.


"Ck! Berapa kali kau selalu berbuat kesalahan?" Alrega berkata sambil melepaskan tangan dari genggam Sella.


"Banyak ... banyak sekali, maaf" Sella mengatubkan kedua telapak tangannya.


"Apa kau kira cukup hanya dengan maaf?"


"Apa kau mau melakukannya lagi?"


Mendengar pertanyaan itu, Alrega mengerutkan keningnya dan menatap Sella tidak percaya, sepertinya Sella mulai mengambil kesimpulan sendiri. Ia tidak punya apa-apa untuk menebus kesalahannya, maka ia harus menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang ada di depannya, untuk dijadikan pemuas seleranya.


'Dasar bodoh, betapa tidak tahu malunya dia'


Sedetik kemudian Alrega tertawa sambil menunjuk menunjuk kening Sella dengan keras.


"Apa hanya itu yang ada dalam otakmu, ha?"


'Apa aku salah lagi, biasanya kau juga begitu kan, kau hanya menggunakan kesalahanku untuk melampiaskan seleramu itu, dasar!'


"Sayang ... Percayalah." Sella berkata sambil membungkuk, melingkarkan tangannya di leher Alrega dan mencium bibirnya sekilas.


"Aku tidak membuat nama itu di ponselku. Aku tidak menyukai aktor itu, aku hanya menyukaimu."


'Ups. Aku keceplosan'


"Ulangi kata-katamu dan aku akan membuktikan kalau ucapanmu benar soal nama di ponsel itu.


"Baiklah. Aku memang tidak menyukai aktor itu, karena aku menyukaimu."

__ADS_1


'Menyukai saja sudah cukup, kan'


Alrega meraih pinggang Sella dan mendudukkannya diatas pahanya. Lalu menyapu seluruh wajah dengan tatapan lembut, dan berakhir di bibirnya.


"Tapi aku mendengar kau mengatakan hal lain di mimpimu."


'Hei, memangnya aku mengatakan apa si, ya Tuhan tolong beritahu aku'


"Aku tidak bilang apa-apa."


"Kau bohong, kan?"


"Tidak, aku tidak ingat, Sayang."


"Zen, apa kau merekamnya. Aku membutuhkan buktinya sekarang." Tiba-tiba Alrega bertanya pada Zen yang masih asyik menikmati makanannya, ia belum juga selesai.


'Bukti apa lagi sekarang. Kalian ini menggangguku saja. Kau akan terjebak Nona. Menyerah sajalah padanya'


"Baik, Tuan. Akan saya siapkan sekarang. Apa perlu menyambungkannya di layar televisi?" Zen berkata sambil melangkah ke arah dua pasangan itu, dan membuka layar ponselnya, ia terlihat sangat mendramatisir keadaan.


"Hmm..." Alrega mengangguk dan Sella terlihat bingung.


'Apa, apa dia merrkamku mengigau dan aku tadi tidak memakai baju, huh, memalukan'


"Aku mencintaimu!" Sella berkata dengan terburu-buru. Lalu. Cup, cup, cup. Tiga kecupan mendarat di pipi dan bibir Alrega, membuat laki-laki itu tersenyum puas.


"Ya, itu yang kudengar. Coba katakan lagi."


'Katakan lagi apa?'


"Sayang, aku tidak menyimpan namamu dengan nama aktor, karena.aku menyukaimu, aku mencintaimu."


'Puas, puas sekarang?'


Mendengar, ucapan Sella, Alrega tersenyum lebar.


***


Sella sampai di rumah, ketika sudah mulai gelap, ia langsung menemui Zania karena khawatir dengan perkembangannya. Ia baru terlihat mulai pulih sejak beberapa hari terakhir tapi ia sudah ditinggalkan seharian ini.


Zania tampak duduk tenang di depan jendela balkon, ia tersenyum ketika Sella mendekati dan memeluknya sebentar, lalu mereka mulai berbincang.


"Maaf, meninggalkanmu, apa ibu sudah makan?"


Zania mengangguk.


"Aku ingin membuka pintu balkon ini segera dan ibu bisa melihat keluar dengan nyaman."


"Tidak usah, aku tidak ingin melihat dunia luar, aku tidak ingin apa pun, asal kau tidak pergi."


"Kenapa?"


"Dunia luar itu jahat, aku tidak akan kembali ke dunia itu lagi."


'Apa ini, kenapa ibu seperti ini, seperti orang yang sadar dan sengaja membuat dirinya tanpak gila selama ini. Hanya karena ia takut dunia luar. Bagaimana kalau ayah yang bicara dengannya?'


"Ibu, tidak usah khawatir, aku akan tetap bersamamu, besok kita jalan -jalan ke mall yang baru di buka dengan Yorin dan nenek juga. Kalau perlu kakek juga akan ikut."


Zania menatap Sella lebih dekat dan ia menajamkan pandangannya. Ini adalah pertama kalinya Sella melihat Zania berekspresi seperti itu.


"Baiklah."

__ADS_1


Sebuah reaksi yang tidak terduga, bahkan Sella sedikit ragu akan keberhasilannya kali ini dalam menyadarkan Zania. Tapi ya sudahlah, ia tetap akan membawanya keluar rumah karena ia sudah berjanji pada Yorin, untuk membawa Zania bersama mereka, apa pun resikonya.


Bersambung


__ADS_2