
Sella mengerti, maksud Alrega adalah minta air minum, karena ia kehausan atau semacamnya. Ia pun segera turun dan mengambil segelas air dari dapur. Pak Sim melihatnya dan menanyakan padanya air itu untuk siapa, Sella mengatakan bahwa air itu untuk Alrega, karena saat ia bangun tidur, langsung meminta air minum padanya.
Pak Sim terlihat panik, lalu ia memberikan beberapa instruksi kepada pelayan yang ada di sekitarnya. Sella mendengar bahwa Pak sim memerintahkan untuk membuatkan bubur dengan rempah khusus dan minuman ginseng.
'Memangnya apa yang terjadi, dia baik-baik saja kan?'
Sella kembali ke kamar, dan ia melihat Alrega sudah duduk di kepala ranjang dengan memanjangkan kakinya.
Sella memberikan segelas air minum yang ia bawa sambil berkata, "Kau baik-baik saja, kan?"
Alrega menghabiskan air di gelasnya, mendongak pada Sella sambil menyimpn gelas di meja kecil, dan ia berkata,
"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?" Alrega mengulurkan sebelah tangannya untuk merengkuh pinggang Sella hingga ia duduk di atas pangkuannya, dan gadis itu mebiarkannya, karena Alrega sudah sering melakukannya.
Sella berkata sambil tertawa, "Ah iya ya. Mana ada yang bisa terjadi padamu."
" Tetaplah disini, maka aku akan baik-baik saja," kata Alrega, lalu mencium bibir Sella sekilas. Sella merasa bibirnya benar-benar panas.
'Memangnya kau kenapa? Mulutmu panas'
"Apa tidak ke kantor, sayang? Apa aku harus menemanimu sepanjang hari di sini?" tanya Sella sambil menatap Alrega.
Saat Sella bicara, Alrega terus menatapnya dari dekat, hingga nafasnya berhembus lembut di wajahnya.
"Kenapa tidak?" jawab Alrega sambil mengendikkan bahu.
Sella merasa geli, seolah-olah Alrega benar-benar mencintai dan menginginkan dirinya, tapi sekali lagi Sella berusaha menepis pikirannya.
Tanpa ditanya, Sella berujar,
"Kau tahu, sebuah hubungan itu tidak terjalin begitu saja? Biasanya dimulai dari saling mengenal, berteman, kemudian timbul rasa suka, lalu mereka berkencan dan akhirnya menikah, tapi apa yang terjadi padaku? Aku tidak mengenalmu, tiba-tiba sudah terjebak menjalani pernikahan bersamamu?"
Sella tidak tahu bila ucapannya sudah membuat hati Alrega sakit. Wajah Alrega menjadi suram menatap Sella dengan tatapan dingin.
"Lalu, apa kau menyesalinya?" anya Alrega sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tida, tidak, aku memang harus ada disini karena ibu. Aku pikir ibu sangat membutuhkanku." Sella Berkata sambil melihat tangan Alrega yang terkepal, hingga ia merasa takut.
Dan ia kembali berkata,
"Maafkan Aku aku sudah berjanji akan menjalani hukuman ini dengan menjadi istri yang baik." Sella berkata sambil menggenggam tangan Alrega erat.
'Bisakah kau tidak lagi mengatakan tentang hukuman bodoh itu?' Alrega.
"Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu?" Alrega tampak cemburu pada semua orang, pada kakek dan sekarang pada ibunya, karena menganggap Sella lebih memikirkan mereka.
Sella yang belum pengalaman dalam menjalin hubungan, tidak begitu mengerti bahwa Alrega cemburu pada semua orang yang menyayangi Sella.. Dulu, ia pernah mempunyai seorang pacar, dia laki-laki yang baik yang juga Sella sukai. Ketika laki-laki itu tahu bahwa ayahnya pergi dan ia harus hidup dengan bekerja keras, laki-laki yang ia sukai itu menjauhinya, dan pergi, hingga sekarang Sella tidak tahu, di mana teman sekolahnya itu berada. Sejak saat itu Sella tidak pernah mempunyai hubungan apa-apa lagi, dengan laki-laki manapun.
'Membutuhkan seperti apa maksudmu?'
"Oh iya, kita saling membutuhkan, bukan?" kata Sella.
"Hmm.."
"Kalau begitu... Ayo, kita mulai hubungan dari awal, bagaimana kalau kita berkencan?" Tanya Sella berinisiatif sekaligus mengalihkan perhatian.
Ia berpikir kalau Alrega akan menolaknya, dan apabila itu terjadi maka ia akan menentangnya dan menuntut berpisah darinya.
"Baiklah kita mulai dari awal dan kau akan menjadi pacarku," kata Alrega.
'Siaal..! Dia mau? ahk... Menolak juga tidak mungkin karena kenyataannya aku sudah menikah dengannya'
"Ah iya Baiklah. Jadi sekarang Aku adalah kencanmu." Sella tertawa kecil.
Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk seseorang dari luar, dan Sella membukanya, ia melihat Pak Sim dan seorang pelayan lainnya membawa beberapa makanan dan sebuah peralatan.
Pak Sim menyimpan makanan diatas meja kecil. Kemudian menyerahkan sebuah wadah berisi air hangat, dan sebuah handuk kecil kepada Sella. Ia mengatakan beberapa hal yang harus Sella lakukan untuk membersihkan tubuh Alrega, memberinya ramuan obat dari ginseng, dan memberinya bubur rempah, yang dibuatkan untuknya.
"Nona ini adalah kebiasaan yang dilakukan, kalau tuan sedang sakit. Anda harus merawat tuan dengan baik, saya menyerahkan perawatan Tuan kali ini kepada Anda. Saya permisi." Pak Sim sebelum pergi.
'Hei, dia sakit apa? dari mana mereka tahu kalau dia sakit?'
"Apa benar tuan, sakit?"
__ADS_1
"Nona, kalau Tuan menginginkan air minum di pagi hari, berarti ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya." jawab Pak Sim tenang, sambil menutup pintu kembali.
" Oh. Kalian ini pengertian sekali." Sella menanggapi hubungan yang terjadi antara tuan dan pelayannya.
Kemudian Sella mendekat dan berkata, "kau benar-benar sakit? Apa kau membutuhkan seorang dokter, untuk memeriksa keadaanmu?"
Alrega tersenyum kemudian ia menjawab,
"Tidak perlu, kau yang akan menjadi dokter pribadiku."
"Sayang, kau butuh dokter asli, bukan aku."
"Kenapa?"
'Biar aku bebas darimu!'
"Kau harus cepat sembuh agar kita bisa berkencan."
"Hmm..."
Sela melakukan semua yang di katakan oleh Pak Sim ia memulainya dari memberikannya ramuan obat. Alrega menolak karena pahit, Sellapun mencicipinya, hingga ia tahu bahwa rasa ramuan itu tidak terlalu buruk, barulah Alrega mau meminumnya.
Saat Sella menyuapinya bubur, ada makanan yang mengenai bagian luar bibirnya, dan Sella membersihkannya dengan tangan, baru setelah itu Sella membersihkan tangannya sendiri dengan tisu.
Melihat hal ini Alrega tersenyum licik. Ia berulang kali membuat makanannya nya menempel di pipi dan di luar bibirnya.
Akhirnya ia berkata, "kau harus membersihkannya dengan mulutmu sehingga kau juga makan bubur bersamaku."
'Ihh itukan jorok'
"Seperti ini?" kata Sella, sambil menjilat makanan yang ada di bibir Alrega, dengan lidahnya membuat Alrega tertawa.
Sungguh Sella menjadi takjub melihat Alrega tertawa dengan posisi sedekat ini, ia merasa bahwa Alrega sangat manis.
"Iya, seperti itu ayo lakukan lagi," kata Alrega.
"Ck! lakukan kepalamu. Sial.. aku sudah dikerjainnya lagi'
Setelah selesai makan, kini Sella hendak membersihkan tubuh Alrega, dengan menggunakan handuk basah. Kini mereka berdua berdiri saling berhadapan. Sella membuka piyama Alrega, helai demi helai dan saat melakukannya, ia sesekali menatap wajah Alrega, hingga tersisa celana pendeknya saja.
Ia mengusap pipi Sella sambil berkata, "apa kau sudah terbiasa denganku. Atau kau masih takut padaku?"
Sheila mendongak menatap Alrega, seolah-olah mencari sesuatu pada mata hitam legam miliknya, untuk mencari sebuah kebenaran tentang cinta, yang mungkin ada untuk dirinya. Padahal sudah jelas Alrega menatap dengan penuh minat padanya, hanya saja Sella tidak memahaminya, walau ia mulai bisa menguasai rasa takutnya.
"Bagaimana kalau aku masih takut padamu?" Sella bertanya.
Alrega mengeratkan pelukannya, sambil berkata, "bukankah kita sudah berkencan. Apa bisa kita pacaran tapi kau takut pada pacarmu? Aku tidak akan berbuat seperti ayahmu. Apa kau masih tidak percaya padaku?"
"Baiklah, aku percaya, dan aku juga tidak akan meninggalkanmu."
Mereka adalah dua manusia yang saling melengkapi. Hanya saja, setiap kali Sella menatap mata tajam itu, maka ia diliputi rasa bersalah, karena dirinya lah Alrega ditinggal pergi oleh istri yang dicintainya dan ibunya menjadi gila.
Hati Sella berdebar, saat ia membersihkan tubuh Alrega, dengan handuk basah yang ada ditangannya ia memulai dari menyeka bagian dada, tapi kemudian, tangan Alrega berada diatas tangannya lalu ia yang mengerakkan tangan Sella ketubuhmya.
"Biar aku saja," kata Sella tapi Alrega mempertahankan pegangan tangannya seolah ia tidak ingin jauh dari istrinya.
***
Sella pergi keluar kamar untuk menemui Zania. Ia sudah menyelesaikan tugasnya mengurus Alrega. Dan sekarang laki-laki itu sedang tidur di kamarnya.
Baru saja seorang dokter keluarga datang memeriksanya, dan mengatakan bahwa, Alrega baik-baik saja setelah ia cukup istirahat, dan minum vitaminnya. Saat itu Sella hanya bisa bersyukur tidak ada yang terjadi dengan Alregaz dan laki-laki itu bukan hendak mengerjainya saja.
Begitu Sella sampai di pintu kamar Zania, ternyata nenek juga baru keluar dari lift untuk menemuinya. Nenek mendekatinya sambil berkata,
"Apa kau sudah merasa menang sekarang. Karena kau sudah berhasil menyembuhkan Zania?"
Mendengar perkataan nenek, Sella mengerutkan alis, dan tersenyum lebar kepada wanita yang sepertinya tidak senang, dengan keberadaannya, juga Zania. Kemungkinannya adalah Zania dahulu tidak disukai oleh Marla. Ya, mungkin nenek memang tidak menyukai menantunya itu.
Sella berkata, "nenek, aku tidak sedang lomba lari. Jadi tidak ada yang perlu senang karena sebuah kemenangan. Ayolah nek, bernyanyi bersama kami."
"Jangan bermimpi. Aku hanya ingin tahu apa kau berani mengatakan pada Zania sekarang, kalau kau adalah menantunya? Kalau kau berhasil dan Zania baik-baik saja, maka aku akan memberikan kalung berlian ini kepadamu sebagai hadiah." kata Marla.
Nenek menunjukkan sebuah kotak kecil dengan kalung berlian di dalamnya. Itu bukan kalung berlian biasa, kalung berlian rancangan desainer yang diberi nama "biru cahaya" yang hanya dipahat beberapa saja di dunia, dan tidak sembarang orang bisa memilikinya. Hanya orang seperti nenek yang menjadi istri dari Nigiro Leosan yang mampu membelinya.
__ADS_1
Marla wanita yang Ikut andil cukup besar dalam membesarkan perusahaan, dan nama Nigiro Leosan hingga kekayaan dan propertinya tersebar di seluruh negara. Ia juga membagi kekayaan peninggalan suaminya dengan adil kepada semua anak-anaknya termasuk Rehandy sebagai anak bungsunya. Hanya art design group saja yang dirintis sendiri oleh Rehandy hingga menjadi perusahaan sukses yang cukup disegani, perusahaan ini, tidak terikat dengan perusahaan lainnya di bawah perusahaan keluarga Nogiro group.
"Nenek... aku akan mengatakannya, aku yakin ibu akan baik-baik saja, aku melakukannya bukan karena hadiah dari nenek, tapi aku melakukannya, karena Aku memang menantunya..."
Nenek tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan Sella kemudian ia mendengus dan berkata, "Ck! Apa kau yakin benar-benar akan dianggap sebagai menantu, yang bisa melahirkan keturunan keluarga Leosann? Kau berkhayal terlalu tinggi."
Sella tidak menanggapi ucapan nenek Ia hanya membungkuk sedikit, dan masuk ke kamar Zania. Ia menghampirinya dan memeluknya setelah itu ia memegang kedua pipi Zania dengan telapak tangannya dan menciumnya dengan lembut.
"Ibu, sehat?" tanya Sella.
Zania tidak merespon.
"Ibu, anakmu sedang sakit. Maaf, aku tidak bisa menjengukmu, karena sejak pagi aku mengurusnya."
Zania tidak merespon.
Sella mengatakan kalimat ini beberapa kali secara berulang-ulang hingga Zania kemudian merespon.
"sakit."
Setelah Zania merespon, itu artinya Zania sudah mengerti, dan Sella memulai topik yang lain.
"Iya. Ibu ingat anak Ibu? Ibu harus melihatnya," kata Sella dengan lembut, begitulah teknik bicara dengan jelas dan tegas, secara berulang-ulang. Hingga Zania kembali merespon.
"Iya."
"Ibu, ada anak lain yang merindukanmu. Dan aku adalah menantumu." terus berulang-ulang hingga Zania merespon.
"Rindu?" kata Zania.
"Iya. Dan Sese adalah menantumu." Sella kembali mengatakan hal ini berulang-ulang sambil menunjuk dirinya, hingga akhirnya Zania pun merespon.
"Kau menantuku." kata-kata Zania membuktikan bahwa ia menerima Sella dengan baik.
"Iya. Ibu ingat nama anak ibu adalah?" tanya Sella hati-hati, terus berulang-ulang, semua yang bertugas hari itu berdiri dan menatap Sella dengan tegang.
Zania kali ini merespon hanya dengan diam, dan menatap Sella dengan tatapan mata penuh pertanyaan lalu bergumam, "Hmmm..." seperti berpikir.
Sella membisikkan sebuah nama di telinga Zania, hingga kemudian Zania membuka mulutnya dan menutup dysngan kedua telapak tangannya. Setelah itu bibirnya terlihat bergetar dan membisikkan sebuah nama. Sella mendekatkan telinga di bibirnya, ia mendengar Zania menyebut sebuah nama. Walaupun samar tetapi Sella bisa mendengarnya, dengan jelas Zania menyebutkan nama Alrega.
Kemudian Sella tersenyum, sambil memeluk Zania dengan erat dan menciumnya penuh kasih sayang. Seolah-olah Zania adalah anak kecil yang berhasil mengerjakan soal matematika di kelasnya, yang diberi hadiah pelukan dan ciuman oleh ibunya.
Tanpa terasa waktu sudah lebih dari dua jam hanya untuk mengingatkan Zania akan nama Alrega. Dan Zania kini menjadikan nama itu sebagai gumaman di bibirnya yang ia ucapkan terus-menerus di sela-sela senandungnya.
Setelah Zania tertidur, Sella bergegas kembali ke kamarnya dengan langkah terburu-buru. iya khawatir kalau Alrega sudah terbangun dan mendapati dirinya tidak ada di sampingnya, ia akan marah dan kecewa padanya, karena ia sudah berpesan agar Sella tidak meninggalkannya.
Benar saja ketika Sella ke kamarnya, Alrega sudah tidak ada. Ia pun mencarinya ke lantai dasar dan ia mendapati Alrega duduk di sofa dengan memakai mantelnya dan ia sedang bersama Yorin yang duduk di hadapannya.
'Tumben anak ini sendirian ssja, di mana nenek? Bukankah dia ingin melihatku berhasil atau tidak mengakui diriku sebagai menantu? nenek, aku berhasil!'
"Dari mana saja kau?" tanya Alrega ketika Sella sudah berada di sisinya, duduk sambil memeluk lengan Alrega.
"Maaf, aku baru dari kamar ibu." jawab Sella.
"Kakak jangan alihkan perhatianmu. Pokoknya aku ingin pesta ulang tahunku diadakan di sini, tidak ada alasan lagi." kata Yorin.
Alrega menoleh pada Yorin, lalu ia berkata,
"Apa kau bodoh atau kau memang tidak memiliki otak? aku harus menyimpan Ibu di mana kalau kau mengadakan pesta di sini?"
Sella tercekat sejenak, Ia tahu bahwa anak manja ini tidak bisa mengatakan tidak untuk keinginannya akhirnya ia bertanya pada Alrega,
"Apakah kau khawatir pada ibu?" mendengar pertanyaan Sella, Alrega memiringkan kepalanya untuk menatapnya.
Sorot matanya seolah-olah berkata, "kalian berdua emang sama-sama bodoh. Kenapa harus bertanya hal seperti itu? Tentu saja aku mengkhawatirkannya! Bodoh!"
"Jangan khawatir soal itu, aku bisa menjamin kalau ibu akan baik-baik saja,:selama ibu tetap bersamaku." kata Sella.
Yorin tersenyum miring, mendengarnya, sebenarnya ia sudah tahu posisi Sella dimata Alrega menjadi istimewa. Liki-laki itu tidak bisa mencintai dan melihat wanita lain, bila sudah ada satu wanita di sisinya. Sekarang ia tidak bisa mengabaikan Sella, ia harus menghargainya.
Sebenarnya ada maksud lain untuk mengadakan pesta di rumah itu. Yorin punya keinginan yaitu untuk sedikit mengganggu ketenangan Sella, walaupun resikonya adalah kemarahan Alrega.
"Kapan kau akan mengadakan pesta, RinRin?" tanya Sella.
__ADS_1
Bersambung