Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 62. Mobil Baru


__ADS_3

* Tolong tinggalkan jejak, terimakasih atas dukungannya *


Sella menghentikan langkahnya, dan menatap mobil sport satu pintu yang ada di depannya, dengan tatapan tak percaya. Memalingkan muka, menyembunyikan tawa. Mungkin kah, ia sedang dicintai dengan cara menyakitkan seperti ini. Alrega memberikan yang tidak ia inginkan. Tapi yang diberikan padanya adalah sesuatu yang indah dan cantik seperti ini.


'Untukku?'


Penampakan mobil berwarna putih itu benar-benar cantik. Sella berkhayal seandainya ia membawa Flinna keliling Jinse dengan mobil ini dan membelikan ibunya semua yang diinginkannya.


(Bayangin Bugatti Veyron warna putih yang memang sengaja di desain nyaman untuk cewek, spionnya aja unik banget. Berkhayal dikit. Haha)


"Untuk apa aku punya mobil seperti itu?" Berkata sambil menyibakkan rambut.


"Apa kau tidak senang?" Pertanyaan Alrega mengandung peringatan tanda bahaya yang tidak di sadari oleh Sella. Ia menatap tajam Sella.


'Tidak. Aku lebih suka motormu! Mobil bodohmu itu percuma!'


"Sudah saya bilang, tuan Al. Saya tidak bisa menyetir," kata Sella dengan membalas tatapan Alrega. Laki-laki itu tahu kalau Sella sedang kesal karena ia memakai bahasa formal.


"Aku sudah menyiapkan sopir pribadi untukmu."


'Dia akan jadi mata-matamu nanti, aah, aku tidak mau!'


"Tidak perlu repot-repot tuan Al. Mobil ini terlalu mewah untukku."


'Sungguh, aku tidak pantas menerima semua ini. Mana ada seorang tawanan yang mendapat hadiah. Atau dunia sudah terbalik ditanganmu? Haha'


Alrega juga terlihat kesal, ia berjalan mendahului Sella dan mendekati Zen yang sudah berdiri di dekat mobil yang biasa mereka pakai untuk pergi ke kantor.


"Zen, hancurkan mobil ini!" Alrega berkata sambil menunjuk mobil sport yang baru saja ia hadiahkan pada Sella pagi itu.


Mendengar perintah Alrega, Zen mengernyit tapi ia tahu yang harus ia lakukan. Laki-laki itu berjalan sambil menelpon.


'Apa maksud orang ini, hancurkan? Apa, mobil ini akan dia hancurkan?'


Tak lama, beberapa pengawal datang dengan membawa beberapa alat yang bisa digunakan untuk menghancurkan, ada yang membawa linggis, besi panjang, kayu besar bahkan senjata tajam.


'Ya Tuhan ... Ini, yang benar saja!!'


"Tunggu!!" pekik Sella sambil melangkah dengan cepat kearah mobil dan merentangkan tangannya di depan mobil.


Ia semula berpikir bahwa Alrega tidak akan sungguh-sungguh melakukannya, hanya menggertak!


Ternyata tidak.


Ck!


Semua orang yang sudah bersiap menghancurkan itu berhenti seketika dan menoleh pada Zen, menunggu perintah selanjutnya. Sementara Alrega berjalan ke hadapan Sella dengan langkah tenang seolah tahu bahwa hal itu akan terjadi.


"Minggir!!" kata Alrega sambil berkacak pinggang. Tapi ia menyunggingkan senyum tipis diujung bibirnya.


Sella berbalik dan memeluk mobil itu dengan menempelkan seluruh tubuhnya pada body mobil dan tetap merentangkan kedua tangannya di sana.


"Kemari kau!" kata Alrega sambil menarik tubuh Sella ke dalam pelukannya dan ia memegang dagunya. Menghunjamkan tatapan setajam scapel pada mata bulan sabit Sella.


Gestur Sella saat merentangkan tangannya tadi tampak menarik bagi Alrega, tiba-tiba ia tidak ingin orang lain melihat Sella dalam keadaan seperti itu, ia sangat manis.


"Apa ... ? Tolong jangan hancurkan mobil ini." Berkata sambil mengerjabkan mata berulang kali tanda menahan sesuatu yang hampir tumpah dari dalamnya.


'Harganya pasti mahal sekali, kan?'

__ADS_1


"Apa kau sudah lupa dengan janjimu sendiri?"


'Aah, aku lupa. Tidak akan menolakmu. Tapi tidak harus menghancurkan mobil juga, kan?'


"Maaf ... " Sella mengatubkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau harus selalu dipaksa, ya?" Alrega melepaskan tangannya dari dagu Sella dan membasahi bibirnya.


Melihat Sella seperti itu ia selalu saja menjadi tertarik, ia adalah wanita yang mampu membuat Alrega bersemangat, ada keinginan yang kembali menyeruak dari dalam dirinya. Ia menginginkan gadis itu saat itu juga!


"Baiklah, aku tunggu sopir wanita itu."


"Tunggu saja di rumah." Alrega berkata sambil berusaha menguasai dirinya kembali. Gadis itu hampir saja meruntuhkan pertahanan dirinya.


Penampilan Sella memang biasa saja, terlihat keras kepala, bahkan seolah berani menentang Alrega, tapi saat ia terlihat lemah di hadapan Alrega, dan pasrah dengan cirikhasnya, memohon dengan senyum malu-malu seperti itu, begitu menggemaskan dimata Alrega. Benar, Sella adalah wanita yang akan ia jaga selamanya, hanya untuk dirinya sendiri.


'Aku bisa pergi kemana pun, kan?'


"Baik." Sella mengangguk, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Alrega.


Sella ingin mendorong Alrega dengan menempatkan tangannya di dada Alrega, tapi Alrega menahan tangan Sella, sehingga Sella merasakan debaran jantung Alrega di telapak tangannya. Sella tersipu menyadarinya.


'Kenapa dadamu berdebar, tuan Al? Apa itu karena aku? Tidak mungkin...'


"Pergilah bekerja. Kau akan terlambat nanti," kata Sella. Menepuk dada bidang itu dua kali.


Pelukan mereka terlepas dan Alrega pergi, masuk ke mobilnya sendiri, meninggalkan Sella yang melambai-lambaikan tangannya sambil berkata, "Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang."


Sella menunggu seseorang yang akan datang untuk menjadi sopir pribadinya sesuai janji Alrega tadi pagi. Ia menghabiskan waktu bersama Zania, menemaninya berbincang di depan jendela balkon yang tertutup, bernyanyi bersama, meskipun sebenarnya hanya Sella yang bernyanyi. Suaranya tidak semerdu suara biduan wanita terkenal di kota, tapi cukup indah untuk di dengar mereka yang ada di dalam kamar Zania.


"Ibu mau bertemu siapa hari ini, Alrega, suamiku?"


Sesaat ia merasa dunia sudah tidak adil pada wanita ini. Apa yang sudah ia lakukan dimasa lalu, akan membuat wanita secantik Zania harus merasakan depresi dalam waktu yang cukup lama.


"Ibu, pintu surga tidak akan pernah tertutup, walaupun seseorang tidak mendapatkan keadilan di dunia, ia akan tetap bisa memasukinya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bahwa kita harus tetap hidup dan jangan sengsarakan dirimu sendiri, hanya karena masa lalu. Maafkan aku." Sella memeluk Zania.


Sementara itu.


Nenek dan Yorin membicarakan apa yang mereka lihat, dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Alrega memperlakukan Sella, dengan sikap yang sangat mencolok. Mereka menyimpulkan bahwa memang Alrega akan jatuh cinta dengan wanita itu tidak lama lagi. Alrega sangat mendominasi. Bukan hanya dua wanita itu yang menilai demikian, Rehandy yang sedang duduk di balkon kamarnya pun melihat hal itu.


"Apa dia akan menguasai kakakku suatu saat nanti, nek?"


"Entah, aku rasa dia cukup tulus, dia sangat baik pada ibumu."


"Tapi, nek. Benarkah dia tidak punya maksud lain, bukankah keluarganya juga biasa saja. Aku tidak percaya kalau orang seperti dia tidak membutuhkan uang."


"Aku pikir juga begitu, tapi dia sudah menolak cek ayahmu."


Akhirnya kedua wanita itu hanya diam tenggelam dengan pikiran masing-masing. Yorin sudah tahu bagaimana ia harus bersikap pada Sella. Melihat bagaimana Alrega memperlakukan Sella dan hadiah yang diberikan padanya, menunjukkan wanita itu sudah dianggap penting oleh Alrega.


***


"Saya Leana," kata seorang wanita.


Leana berpenampilan mirip seorang pengawal yang ada di sekitar Kaki Langit. Wanita itu berdiri di hadapan Sella. Dialah wanita yang akan menjadi sopir pribadi Sella, yang dipilih oleh Alrega.


Wanita itu di dampingi Pak Sim yang juga berdiri dengan sopan di depan Sella. Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Leana bercerita sedikit tentang dirinya dan juga pengalamannya. Lalu ia mengatakan kalau ia siap bekerja saat itu juga. Sebelum mereka pergi, pak Sim mengingat kan Leana beberapa hal tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh.


"Kita mau kemana, nona?" tanya Leana.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mencoba mobil baruku." kata Sella, ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Leana menoleh sejenak pada nona mudanya, ia tersenyum, dan kembali fokus mengemudi. Ia sengaja membuka penutup mobilnya. Sehingga mereka seolah berada di alam terbuka. Sella sengaja membiarkan ngin membelai wajah serta rambutnya, dan membiarkan sinar matahari sore menghangatkan kulitnya.


Sampai disebuah tempat, yang menjadi pusat makanan di gelar, semacam pesta rakyat yang menawarkan berbagai hidangan khas beberapa daerah pinggiran kota Jinse, mereka berhenti dan ikut menikmati suasana dan keramaian yang ada.


Sella memilih tempat duduk di dekat taman kota yang terlihat jelas dari sana. Namun seketika itu juga ia melihat sesosok bayan


gan yang selalu mengundang kecurigaannya. Ia baru saja akan mendekati sosok wanita itu, tapi disaat yang bersamaan, Leana sudah kembali dari memesan dua porsi makanan yang Sella inginkan.


Mereka mulai bercakap-cakap.


"Dari mana kamu tahu tempat ini, Lea?" tanya Sella dengan tatapan mata yang tidak fokus pada makanan dan orang yang ia ajak bicara.


"Dari internet nona."


"Hmm," gumam Sella sambil menikmati makanannya.


Sementara itu seorang gadis berjalan dari arah foodcourt menuju meja tempat ia menyimpan makanan serta tasnya. Saat itulah ia melihat Sella yang sedang duduk bersama seseorang yang tidak dikenalnya.


Gadis itu berjalan dengan percaya diri, sambil mengibaskan rambut indahnya, yang seperti rambut seorang artis, dalam iklan shampo di televisi. Gadis itu selalu mengenakan kacamata hitam besarnya, yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Mungkin sudah kebiasaan saja, sehingga apabila ia tidak memakai kacamata itu, ia merasa kurang cantik. Padahal, wajahnya itu sudah sangat sempurna sebagai seorang wanita, bahkan bila Ia memakai pakaian kumuh pun, ia tetap akan tampak seperti seorang putri raja.


Gadis itu mendekati Sella yang membuat Shella tercengang karenanya. Ia tidak menyangka wanita yang ia kenali sebagai Delisa benar-benar ada di hadapannya, yang menunjukkan bahwa ia tidak salah lihat


"Hai Sella, apa kau masih mengingatku?" kata Delisa, dengan senyum manis di bibir merahnya, yang merekah.


'Ah, bagaimana mungkin aku bisa lupa'


"Hai juga nona Deli, tentu aku ingat. Apa kau ingin bergabung bersamaku? Silahkan!" kata Sella menunjukkan mejanya yang masih kosong.


"Apa aku tidak mengganggu kalian?" tanya Delisa.


"Tentu saja tidak," jawab Sella sambil tersenyum. "Kami hanya berdua, kenalkan dia adalah Leana." Kata Sella. Delisa dan Leanna bersalaman, Leana mengenalkan dirinya, sebagai sopir pribadi Sella.


'Oh jadi seperti itu, dia memberinya mobil dan juga seorang sopir pribadi, untuk gadis yang tidak tahu apa-apa ini? Wah, kau luar biasa'


"Apakah anda sendiri, nona Deli?" tanya Sella berusaha sopan. Padahal hatinya sangat geram.


"Hahaha iya aku sendiri," jawab Delisa, terlihat kaku. "Selamat atas mobil barumu,"


Mendengar peryanyaan dari Delisa ini, membuat Sella ingin memastikan beberapa hal, dengan memancingnya, menggunakan beberapa pertanyaan.


"Ahk, aku sebenarnya tidak menyangka, kalau Al, akan memberikan mobil seperti itu untukku. Padahal, aku tidak bisa mengendarainya."


Delisa tercekat sejenak mendengar ucapan Sella, hingga ia menoleh pada Leana.


Ia berkata, " bisakah kau meninggalkan kami sebentar?"


Sella dan Leanna saling berpandangan, tapi kemudian Sella menganggukkan kepala, dan mengisyaratkan pada Leanna untuk pergi meninggalkannya,


"Jangan kuatir, aku baik-baik saja. Kau bisa mengawasiku dari jauh kan?" Sella bicara sambil melambaikan tangannya.


Ia tahu bahwa bukan hanya Leona saja, yang mengawasinya saat ini.


Kemungkinan ada beberapa pengawal lain yang ikut bersama mereka tanpa ia sadari. Tetapi ia tidak ambil peduli, selama ia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya, tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai Alrega, maka semua akan baik-baik saja.


Di tempat lain.


Ada seseorang yang mengepalkan tangannya, dengan sangat keras. Menunjukkan kegeraman di hatinya melihat sebuah video yang ia terima. Video yang ia lihat itu, menunjukkan Sella sedang berbicara dengan seseorang di festival rakyat taman kota.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2