
Obrolan itu berakhir begitu saja, Alrega tidak berminat melanjutkannya karena ia langsung beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Pria itu tidak ingin Sella ikut campur dalam urusan ibu dan ayahnya lagi.
Sementara Alrega di kamar mandi, ponsel Sella terus berdering, tapi setelah ia melihat layar ponselnya, ia sama sekali tidak berminat menerimanya. Ia memilih menyiapkan pakaian suaminya dan menunggunya sambil menonton televisi.
'Hais, kau kira aku tidak bisa pergi sendiri kalau kau tidak mengizinkan aku pergi. Kau pikir kau bisa melarangku pergi dengan ibuku? Tidak ...'
Sella masih tertawa kecil saat Alrega keluar dari kamar mandi dan menatapnya penuh arti. Sella membalas tatapan matanya seolah ia mengatakan sesuatu lewat sorot mata itu.
'Apa itu penting? Tentu saja, penting tahu! Aku tidak akan membiarkan ibuku pergi menemui laki-laki itu sendiri'
Alrega pun memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Sella dan wanita itu membentuknya. Setelah itu mereka sarapan bersama dan melepas kepergian Alrega ke kantor seperti biasanya.
Sella mengabaikan panggilan teleponnya yang berdering pagi itu karena saat ia lihat nomor tidak dikenal yang kembali menghubunginya. Ia enggan mendapatkan masalah dengan Alrega hingga ia tidak meladeninya.
Ia memilih untuk mengisi hari ini dengan kegiatan memindahkan Zania kembali ke kamar lamanya, tempat yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat berdua dengan suaminya, Rehandy.
Hari ini suasana sudah berjalan normal seperti biasa, semua saudara yang menginap sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Alrega sudah kembali ke kantor dan bekerja, melakukan kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan yang dipercaya ayahnya sendiri.
Sementara Sella masih sibuk menghias kamar yang sesuai dengan keinginan Zania. Disela-sela kesibukannya, Sella mendekati perawat yang setia mendampingi Zania, walaupun keadaan Zania sudah membaik. Hal ini ia lakukan untuk menanyakan hal yang masih tabu baginya.
Keberadaan perawat senior itu masih dibutuhkan karena pihak keluarga Haquel, belum sepenuhnya tenang dan yakin untuk menyatakan kesehatan Zania.
Saat itu Sella duduk berhadapan dengan Susuter wanita yang masih memberskan beberapa alat dan perlengkapan untuk perawatan tubuh Zania.
"Sus, apa ada cara lain untuk tahu kalau kita hamil atau tidak?" Tanya Sella sambil merangkai bunga.
.
"Apa Nona, hamil?" Suara perawat itu cukup keras.
Sella menutup mulut perawat itu dengan jari telunjuknya, membuat perempuan bertubuh gemuk itu tersenyum lebar.
"Nona, kenapa harus malu? Bukankah kehamilan Nona sudah ditunggu oleh keluarga Nona?"
Kehadiran seorang bayi, sudah sangat dinanti oleh pihak keluarga begitu Sella masuk sebagai menantu di Kaki Langit.
'Kamu gak tahu ya. kalau sampai aku hamil, mungkin aku tidak bisa kemana-mana lagi dan aku pasti dilarang melakukan banyak hal'
__ADS_1
"Aku hanya belum yakin dan aku tidak akan membuat orang salah faham."
"Apa Nona tidak haid lagi. bulan ini?"
"Iya." Sella sudah merasa khawatir sejak beberapa hari yang lalu. Hanya saja ia menyimpan kecurigaan bahwa ia hamil, seorang diri.
"Satu-satunya cara yang paling mudah adalah memakai alat tes kehamilan, Nona."
"Hmm...."
"Kalau tidak memakai alat tes kehamilan, maka anda bisa menunggu bulan berikutnya.
Perempuan itu geli sendiri membayangkan bila Alrega memiliki banyak anak, akan seperti apa nantinya, akh ... sepertinya akan sangat manis, melihat seorang pria tampan dengan stelan jas rapi yang selalu dikenakannya saat bekerja, tiba-tiba menggendong seorang bayi di tangannya.
Mungkin jari-jari tangan Alrega yang panjang dan ramping itu akan menjadi lukisan yang paling indah, saat tengah memangku anakku.
Setelah semua urusan kamar selesai. mereka menghampiri Zania yang masih asyik menatap keluar jendela balkon. Zania tersenyum girang untuk mendapatkan kejutannya. Kamar lamanya.
Zania menaiki lift dengan membuat kesenagan yang berarti setelah beberapa tahun. Beberapa orang mengucapkan kegembiraannya atas kedatangan dan kembalinya nyonya besar di kamar pribadinya.
Tiba-tiba perawat yang tadi bicara dengan dirinya menghampiri dan mengulurkan sesuatu padanya.
"Nona, ini untuk Nona," kata perawat itu sambil berbisik. Sebenarnya wanita itu heran, mengapa Nona mudanya tidak berkata jujur tentang keterlambatan datang bulannya dan meminta para pelayan membeli alat tes kehamilan, atau membelinya sendiri saat keluar rumah.
"Apa ini milikmu? Berapa aku harus membayarnya?"
"Tidak perlu, Nona. Anda sudah baik pada kami selama ini dan sangat membantu tudmgas kami."
"Hei, itu bukan apa-apa."
"Tidak, Nona. Saya sengaja membelinya untuk Nona."
'Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan Nona'
"Baiklah, aku berterima kasih padamu dan jangan katakan pada siapapun."
Perawat itu mengangguk, dan pergi setelah berpamitan. Ia sengaja membelinya tadi saat ada kesempatan untuk keluar rumah. Ia berharap bahwa Sella hamil.
__ADS_1
Sementara Alrega yang ada di kantor tetap melakukan aktifitas seperti biasanya, termasuk beberapa informasi yang ia terima tentang semua hal, yang terjadi di rumah keluarga Leosan.
Sella pergi ke kamarnya dengan segera dan ia melakukan tes pada dirinya sendiri, ia tidak percaya setelah beberapa saat kemudian ia mendapatkan alat tes kehamilan itu menunjukkan dua garis biru.
'Ya Tuhan ... haruskah aku berterus terang kepada Alrega sekarang juga?'
Wanita itu menyimpan alat tes ke dalam tasnya dan duduk di sofa besar, yang ada di kamar sambil menonton televisi dan membalas beberapa chat di ponselnya.
Pada saat itu ia mendapat beberapa pesan aneh dari nomor ponsel yang tadi menghubunginya. Pesan itu ia balas satu-persatu karena itu hanya pesan dan tidak membahayakan. Kata Sella dalam hatinya.
Nomor asing. "Halo, aku ingin meminta maaf atas kesalahanku padamu."
Sella. "Halo, siapa ini?"
Beberapa lama kemudian.
Nomor asing. "Aku temannya Delisa, wanita yang jadi kekasih Tuan Rega."
'Hei. dia itu suamiku dan dia tidak punya kekasih! Apa dia perempuan berkacamata itu?
Sella. "Kenapa harus bertemu, katakan maafmu di sini saja, lewat telepon, itu akan lebih mudah."
Nomor asing. "Tidak bisa ... saya harus memberikan hadiah pada Alrega."
Sella. "Kalau begitu, datanglah ke rumah. Berikan langsung padanya."
Nomor asing. "Saya tidak bisa, karena saya tidak akan diizinkan mendatangi rumah itu, apalagi hadiah ini akan sangat berharga bagi Tuan Rega. Sebaiknya anda sendiri yang memberikan padanya."
Sella. "Kenapa tidak sekalian saja. kenapa tidak kau berikan langsung pada Rega?"
Nomor asing. "Saya bukan orang yang suka melakukan semua dengan ceroboh. Nona."
Pesan itu mengatakan beberapa hal bahwa ia akan menunggu kehadiran Sella pada sebuah cafe yang indah dan nyaman. Orang itu akan menunggu Sella kapanpun ia ingin datang, maka ia bisa langsung menghubunginya.
Orang itu akan datang kapan saja sesuai keinginan Sella. Orang itu terus memuji-muji Alrega, disela-sela kesibukannya mengatakan perjanjian untuk bertemu dengan Sella. Ya, semua mengakui itu, kan? Bahwa suaminya baik dan tampan.
bersambung
__ADS_1