
Alrega membuka sedikit pintu kamarnya dan menoleh pada pak Sim yang berada di belakangnya, kepala pelayan itu membawa air buah dalam botol anggur yang dipesan Alrega sebelum pulang.
Ia meminta pria paruh baya itu untuk pergi, tidak perlu mengantarkannya sampai di dalam, dan ia sendiri yang akan membawa botol minuman kedalam kamar. Ia tahu kebiasaan Sella yang tidak mematikan lampu kamar, dan ia khawatir saat Sella tertidur dalam posisi, yang tidak bisa dilihat orang lain kecuali dirinya.
Alrega menyimpan botol minuman di atas meja kecil, dan berdiri di samping tempat tidur sambil menggelengkan kepalanya melihat Sella yang tidur dengan ponsel di telapak tangannya. Ia memakai baju tidur berwarna putih yang tipis sehingga bentuk tubuhnya membayang di sana.
'Hais. Dia mau menggodaku rupanya'
Alrega adalah orang yang penuh dengan rencana bisnis, ia akan memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi bila melihat sebuah peluang besar. Dan pemandangan yang ia lihat di atas tempat tidurnya itu, ibarat peluang emas dan rencana cemerlang, yang membawa keuntungan menggiurkan.
Ia mengusap wajah dengan telapak tangannya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mendinginkan kepalanya, meredakan gejolak yang terasa seperti hampir meledak dari tempatnya. Ia harus meredam keinginan yang muncul begitu kuat saat ini. Ia harus membuat Sella mengakui ucapannya sendiri, esok hari, saat gadis itu sudah terbangun, dan ia akan menjawab semua perkataan Alrega dengan sadar.
'Ini akan sangat menarik'
Setelah selesai, Alrega mengambil dan memakai pakaiannya sendiri di kamar ganti, lalu melangkah dan berdiri di depan meja rias.
Ia mengangkat sudut bibirnya, dan membasahinya dengan ujung lidahnya. Ia memandang dirinya sendiri di depan cermin, sambil mengeringkan rambutnya. Sesekali ia menoleh ke tempat tidur di sampingnya, tatkala ia mendengar suara gumaman dari mulut Sella yang sedang tertidur dengan nyenyak. Lucu.
Alrega merebahkan tubuhnya miring ke samping, sambil mengambil ponsel dari tangan Sella. Ia menyalakan hp-yang bahkan tidak di kunci layarnya, lalu memeriksa semua isi ponsel itu, hingga ia menemukan ID dirinya dalam kontak Sella.
Itu sebuah nama yang mengandung sarkasme, yang membuat ia terpaksa memijit pelipisnya, dengan jari secara perlahan.
'Apa-apaan ini, beraninya kau menyebutku dengan nama ini ...
Itu nama seorang tokoh film, sebenarnya dia tokoh yang terlihat tampan dan sangat modis dengan gaya keren, sangat gagah luar biasa, tapi tetap saja tokoh itu adalah seorang penjahat. Satu yang menghibur adalah, nama tokoh film itu, sangat terkenal tahun ini.
Haruskah ia marah? Ia sangat cocok dengan tokoh itu, bahkan kabarnya tokoh ini lebih terkenal dari tokoh yang menjadi super hero dalam filmnya.
Alrega menghela nafas, menyimpan ponsel itu di meja kecil di samping tempat tidurnya, ia beringsut mendekati Sela lalu memeluknya dari belakang, ia menyimpan tangannya di bagian tubuh yang menjadi kegemarannya, sejak Sella menyerahkan dirinya, ia meremas benda yang ada di tangannya dengan kuat hingga muncul suara berdesis dari mulut Sela. Disaat yang bersamaan, Sella merubah posisi tidurnya dengan memeluk Alrega seperti sebuah guling, membuat Alrega tersenyum puas dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya.
Sella terbangun begitu mendengar suara alarm dari ponselnya. Ia segera membebaskan diri dari pelukan Alrega secara perlahan. Setelah berhasil, ia duduk di sisi tempat tidur sambil melihat wajah laki-laki yang masih pulas dalam tidurnya. Ia membelai lembut pipi laki-laki itu, dengan jemari tangannya. Mata Alrega yang terpejam membuat bulu matanya yang menempel di pipinya, terlihat seperti kipas. Ada beberapa anak rambut yang tidak beraturan di keningnya membuat ia tampak lebih tampan. Sella tidak bosan mengagumi wajahnya.
'Bolehkah aku jatuh cinta padamu, tuan Al?'
Saat itu ia ingin sekali menciumnya, tapi ia khawatir ciumannya akan membuat Alrega terbangun, dan menggagalkan rencananya.
Rencananya pagi itu, membuat Zania keluar dari kamar dan melihat ruangan lain di bawahnya. Dan ia akan melakukannya, sebelum semua orang yang ada di rumah itu terbangun dari tidurnya.
Sella segera membersihkan diri dengan cepat, ia mengeringkan rambutnya tidak merata dan ia keluar dari kamar, dengan rambut yang masih setengah basah.
Sesuai rencana, Zania sudah terbangun dan ia menyapanya seperti biasa. Wanita itu membalas sapaannya dengan senyum, lalu mengeluarkan suara seperlunya. Mereka berdua membuka tirai jendela bersama, lalu duduk sambil menyanyi, dan menunggu sarapan yang akan segera disajikan untuk Zania.
Tak lama mereka beenyanyi, Sella mengajak Zania berdiri dan berjalan kearah pintu sambil terus berceloteh tentang semuanya hal yang menyenangkan, berbelanja pakaian baru, makanan enak, mal-mal besar yang baru dibuka menceritakan film baru bioskop, restoran cepat saji dan taman kota. Ia menceritakan tentang pergelaran seni yang diadakan di sana juga pesta rakyat, yang disajikan dengan sangat menarik dan pantas untuk dilihat.
Tidak terasa mereka sudah berjalan di tangga kedua, saat itu Sella bercerita tentang riwayat sebuah tangga, tentu saja yang diceritakan adalah karangannya sendiri, yang lucu dan sedikit aneh sehingga membuat beberapa orang, yang mengikuti mereka dari belakang dengan waspada, ikut tersenyum.
Kelompok kecil itu berhenti di tangga besi melingkar, yang ada di rumahnya, tatapan Zania mengedar ke seluruh ruangan, ia melihat pada dinding sisi tangga, ada foto-foto keluarganya. Dari mulai leluhur mereka, kakek, nenek, suaminya hingga anaknya. Zania meraba semua foto itu dengan jari-jari tangannya, satu persatu, sampai akhirnya mereka berada di bawah.
Saat berada di bawah, semua yang mengikuti Zania dibelakang lebih waspada dan bersiap dengan segala kemungkinan. Tapi Sella tetap tenang dan terus bercerita tentang sesuatu yang menyenangkan, harapan-harapannya dan juga cita-citanya, menunjukkan kasih sayangnya pada Zania.
Setelah sampai di meja makan, Zania menatap tempat itu dengan penuh arti. Sudah lebih dari satu tahun yang lalu ia tidak pernah lagi makan disini. Atau tempatnya ketika ia mencoba bunuh diri. Tangannya meraba sandaran kursi dan ia duduk di salah satu kursi.
Setelah zania duduk dengan tenang, ia menceritakan tentang makanan yang akan mereka makan hari itu, dengan senyum ramah, dan juga rasa bersyukur pak Sim membawa beberapa makanan di atas meja, semua makanan itu kesukaan Zania.
Sella berkata, "Ibu, makanlah di sini bersamaku, kita sedang berada di alam bebas sekarang, ibu dengar burung burung yang berkicau di luar sana? Lihat bunga anggrek di mana-mana, mereka semua menemani kita menikmati makanan ini, ayo makan Bu ... "
Zania bertingkah seperti anak kecil yang menurut pada ibunya. Ia pun duduk sambil melihat semua makanan yang sudah terhidang dan mengambil sendoknya. Sella mengambilkan beberapa makanan di atas piring di hadapan Zania. Mereka pun menikmati makanan bersama.
Memang Sella sengaja menyimpan beberapa bunga anggrek, yang dulu pernah dibelinya, di beberapa tempat, dekat nakas,di atas meja makan, bahkan di ruang tamu dan di meja kopi juga ada. Membuat suasana terasa berbeda. Semua sudah disiapkan oleh Sella, seolah-olah ruangan itu memang sengaja menyambut Zania sebagai putri tidur, yang sudah terbangun kembali untuk menghadapi masa depannya.
Lalu bagaimana dengan semua orang yang ada di rumahnya, benarkah semua orang tidak tahu akan rencana Sella? Sbelumnya Sella sudah meminta Pak Sim, untuk memberitahu seluruh anggota keluarga, agar tidak keluar dari pintu kamar mereka sebelum Zenia kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, rombongan kecil itu kembali ke ruangan Zania dengan obrolan yang riuh rendah. Mereka berbincang seperti orang normal dan Zania pun turut serta, sedikit-sedikit menimpali obrolan mereka.
Saat melintas di kamar Alega, Sella menoleh, menebak dan berpikir, apakah ah laki-laki itu sudah bangun dari tidurnya atau belum? Tetapi ia merasa cukup tenang, karena semua keperluan Alrega sudah ia siapkan seperti biasanya.
Ini hari pertama Sella mengajak Zania pergi jalan-jalan keluar kamarnya. Ia sudah berencana keesokan harinya, akan membuka jendela kamar. Beberapa hari kemudian ia akan mempertemukan satu-persatu anggota keluarga, dengan Zania. itulah rencananya, hingga ketika nanti pesta Yorin diadakan, maka setidak-tidaknya, Zania sudah bisa beradaptasi dengan keluarganya.
Setelah Zania kembali ke kamarnya, ia terlihat sedikit lelah hingga suster memberikan vitamin, dan suplemen makanan lainnya. Sella menemaninya berbincang sejenak, sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, hingga ibunya Alrega itu terlihat tenang.
Sella menitipkan ibu mertuanya itu kepada suster yang berjaga. Ia akan meninggalkan Zania untuk mengurus suaminya yang mungkin sudah bangun.
Sesampainya di dalam kamar, Sellla menutup pintunya rapat, ia mendapatkan Alrega tengah duduk di sofa tunggalnya, di dekat balkon kamar mereka. Betapa terkejutnya Sella melihat segelas anggur yang ada ada ditangan Alrega dan sudah habis, bahkan dalam botol itu hanya tersisa sedikit.
'Sial ... Seharusnya aku datang lebih cepat. Dia minum sepagi ini dan bahkan belum mandi. Apa maunya orang ini. Apa dia mau bolos bekerja?'
"Tuan, Al! Kenapa Anda minum?"
Alrega diam tidak menjawab tapi ia menyeringai dan menatap Sella dengan tatapan kesal. Seketika Sella menjadi takut. Ia mundur satu langkah, menjauhi Alrega yang sudah berdiri menghampirinya, melangkah dengan sempoyongan, dia mabuk! Tapi di pagi hari? Ahk, yang benar saja ...
"Dari mana saja kau?!" Bentak Alrega.
Alrega berkata sambil mendekati Sella sambil menundukkan kepalanya menatap Sella tepat di bola matanya.
Sella memundurkan kepalanya.
"Kenapa kau minum, sayang. Kau sudah lama tidak minum, kenapa seperti ini lagi?" Tanya Sella sambil menyimpan kedua telapak tangannya di dada Alrega mencoba waspada kalau-kalau ia berbuat buruk.
"Semua ini karena kau, meninggalkan aku kemarin ... " Kata Alrega dengan tubuh yang bergoyang-goyang dan mata setengah terkatup, sedangkan satu tangannya masih memegang gelas anggur, yang tersisa sedikit.
'Ya Tuhan. Dia benar-benar mabuk!" gumam Sella tapi cukup jelas terdengar.
Sella mengambil gelas anggur dari tangan olahraga dan menyimpannya di atas meja kecil.
"Ibu, Aku tidak percaya, kalau aku harus mengurus suamiku seperti ini."
"Memang aku pergi ke mana kemarin? Hei, aku tidak kemana-mana, aku pergi ke pekan raya bersama dengan semua pengawal dan mata matamu. Kau pasti tahu kan? Jadi jangan menyalahkan aku, dasar."
Sella menekan dada alrega dengan kedua tangannya tapi ia tidak bisa menahan tubuh alrega yang berjalan mendekatinya dan ia pun melangkah mundur, hingga langkah terhenti karena punggung Sheila sudah membentur dinding.
"Aku mau kamu peluk aku, kamu mau kan?" kata Alrega dengan gaya yang sangat mabuk.
"Hei, kau tidak akan ingat yang akan aku katakan, kan? Ya, aku senang pelukanmu, sayang ... " Sella pun memeluk Alrega. Dengan penuh kasih sayang, menepuk-nepuk punggung lurusnya dengan lembut.
"Apa seperti ini sudah cukup?" tanya Sella.
Alrega tiba-tiba tertawa dengan keras saat tubuhnya yang lunglai masih dalam pelukan Sella.
Ia berkata, "jangan pergi ke tempat seperti itu lagi ... "
"Kenapa?" tanya Sella masih dalam posisi memeluk.
"Hmm ... kau harus bersenang-senang denganku tidak boleh dengan orang lain."
"Baiklah, aku akan pergi denganmu, lain waktu. Tapi apa kau tahu sesuatu kemarin?"
"Apa?"
"Kau tau kan, aku menemui seseorang?"
"Siapa yang kau temui, aku tidak tahu."
'Yes! Dia tidak tau. Orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Jadi dia tidak tahu kalau aku bertemu Delisa dan tidak tahu soal rekaman itu. Oh oh oh, ternyata aku terlalu khawatir saja'
"Benarkah? Aku akan memberitahumu, aku menemui Delisa."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan padanya? Dia mantan istriku, dia masih menyukaiku ... "
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak ingin dia kembali padamu. Jadi aku katakan kalau aku mencintaimu. Aku mengatakan itu karena aku tidak ingin seperti ibuku yang tidak berbuat apapun ketika ayahku pergi meninggalkan kami."
"Haah ... Bagus!" sahut Alrega sambil tersenyum.
"Sudahlah, ayo ikut aku."
Sella berkata sambil melepaskan pelukan, lalu ia mengusap wajah Alrega dengan lembut, dan merengkuh lengannya mengajaknya berjalan menuju kamar mandi.
Ia berkata, "pergilah mandi, bersihkan dirimu, kau harus berangkat bekerja bukan?"
"Aku tidak mau, aku masih mabuk!" Alrega cemberut.
'Hei, mana ada orang yang mabuk sadar, kalau dirinya sedang mabuk. Tunggu, apa dia mengerjai ku? Sial. Haruskah aku meladeninya sekarang?'
"Sayang, justru dengan mandi, maka mabukmu akan hilang lalu kau harus minum air putih yang banyak," kata Sella sambil tersenyum.
"Aku tidak bisa mandi sendiri, karena aku tidak bisa mengangkat tanganku," kata Alrega sambil mengangkat kedua tangannya yang lemas, lalu menjatuhkannya kembali.
"Aku akan memandikanmu, tapi dengan air dingin apa kau mau?" Sella bermaksud mengerjai. Kapan lagi, kan?
Alrega menyeringai, kemudian ia mengangguk dengan cepat.
Ia berkata, "baiklah, bantu aku, oke?"
"Kemarilah," kata Sella.
Ia pun membuka kancing baju Alrega, dan membuka semua pakaiannya satu persatu, hingga hanya memakai pakaian dalamnya saja. Sellla membawa tubuh besar itu ke dalam kamar mandi, dan menyalakan shower yang mengeluarkan air dingin.
Alrega menundukkan kepala dan berbisik di dekat telinga Sella. Alrega tidak melepaskan tangannya dari tangan Sella, hingga tubuh mereka basah.
"Aku akan mandi air dingin, asal kau mandi bersamaku. Apa kau mengerti?" kata Alrega. Ia berkata sambil merangkul Sella dalam pelukannya.
"Tuan Al! aku sudah mandi, lepaskan aku!!" kata Sella sambil memukul-mukul dada Alrega.
Tetapi percuma, seluruh tubuhnya sudah basah oleh air dingin dari shower yang ia nyalakan sendiri. Ia menatap Alrega, ia terperangkap dalam pelukannya. Walaupun tubuh yang menempel terasa hangat, tapi itu tidak bertahan lama.
'Aah, aku salah perhitungan. Gagal. Aahk! Dingin!'
Sellla menyesal sudah membawanya ke sana, dan mendapatkan masalah. Ia melihat tubuh mereka berdua yang basah dan, dingin!
Alrega menatap bibir Sheila yang gemetar, ia kedinginan. Ia yang semula hendak menciumnya, membatalkannya.
Sella sudah mandi, ketika ia mendapatkan guyuran air dingin lagi, dia merasa lebih cepat kedinginan. Cuaca baru memasuki musim hujan, hingga udara semakin terasa lebih dingin.
Alrega mematikan shower, masih dalam keadaan memeluk Sella, dan membuka pakaiannya yang sudah basah dengan cepat.
"Sudah, aku saja. Aku tidak apa-apa .." kata Sella, sambil memegang tangan Alrega agar menghentikan gerakannya.
"Diam ..." Alrega menyahut dengan kesadaran penuh, tidak tega melihat Sella yang kedinginan.
Ia mengambil jubah handuk untuk mereka berdua, dan membopong tubuh Sella ke ruang pakaian, ia mendudukkannya di kursi meja rias, lalu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Setelah ia selesai mengeringkan rambutnya, Ia pun menarik tubuh Sela, kembali dalam pelukannya. Ia memeluk dengan sangat erat seolah takut kehilangannya.
Ia berulang kali berkata, "maafkan Aku."
Sejenak kemudian ia melepaskan pelukannya, lalu mencengkram dagu Sella dengan kuat dengan jarinya yang panjang dan ramping.
Ia berkata, "siapa yang menyuruhmu melakukan itu bodoh!"
"Aku ... Aah!"
__ADS_1
bersambung