
Sella berjalan lebih cepat ke dalam rumah, Alrega mengikutinya, masih dengan memegang tangannya. Mereka tidak menemukan siapa pun di dalam. Semua pelayan yang biasa menyambut kedatangan tamu atau para tuan rumah yang datang, tidak ada di ruang tamu atau di beranda rumah mereka.
'Apa yang terjadi?'
'Semoga ibu baik-baik saja'
Saat sampai di tangga, Sella menoleh ke belakang dan melepaskan genggaman Alrega, lalu mempercepat langkahnya ke lantai tiga.
"Hei, jangan lari, kau bisa jatuh nanti," ucap Alrega dengan tenang, menaiki anak tangga satu persatu sambil menatap kesal pada Sella yang setengah berlari, mendahuluinya.
'Ck! Aku bukan anak kecil'
Suara teriakan itu jelas sekali terdengar dari lantai tiga di mana Zania berada. Sampai di kamar yang pintunya terbuka, beberapa pelayan yang melihat kehadiran Sella, membungkuk dan menyingkir.
Sella melihat Zania yang terkapar di lantai, sedang dibantu untuk berdiri oleh para pelayan. Perawat masih senantiasa disiapkan, hanya saja jumlah mereka sudah berkurang. Seperti saat ini, keberadaan mereka sangat dibutuhkan.
"Nyonay! Bangun Nyonya!" Beberapa suara pelayan yang panik terdengar jelas.
Melihat Sella dan Alrega, pak Sim yang tengah menopang tubuh Zania bersama para pelayan lainnya, menundukkan kepalanya.
"Ada apa, Pak. Ibu Kenapa?" Sella bertanya sambil mendekati Zania yang sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Ia duduk di sebelah tubuh Zania, melihat tindakan perawat yang masih berusaha menyadarkannya.
"Nyonya tiba-tiba saja berteriak dan pinsan. Sebelumnya baik-baik saja." Perawat yang menjawab, sedang kan pak Sim dan pelayan lainnya hanya diam, berdiri berjajar rapi di dekat tempat tidur.
"Memangnya, kemana saja kalian!" Alrega menyahut ucapan perawat, dengan suara keras dan berat yang menggelegar di ruangan itu. Ada kekhawatiran yang tersembunyi di balik tekanan nada bicaranya.
Seketika suasana yang mencekam menyelimuti seluruh isi ruangan, yang dipenuhi oleh beberapa orang. Para pelayan menundukan kepala semakin dalam, tentu saja sekarang tubuh, kaki dan tangan mereka gemetar. Keringat di kepala mereka mulai meluncur karena rasa panas dan sesak yang tiba-tiba datang.
Mereka takut di salahkan atas semua kejadian. Tingkatan kedudukan mereka di rumah itu, seperti berada di ujung rantai makanan siklus mangsa memangsa pada binatang. Mereka tidak mungkin memangsa. Mereka tidak punya naluri membunuh dan tidak punya kemampuan berburu juga. Bahkan kadang, mereka disalahkan atas segala sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan.
"Maafkan kami, Tuan!" Mereka berkata bersamaan.
Perawat yang sudah selesai menangani Zania pun bercerita, bahwa Zania masih beraktivitas seperti biasanya walaupun ia terlihat lebih gelisah dari biasanya. Sejak kejadian di pesta, ia terus diam, mirip seperti kondisinya dulu sebelum pulih.
Wanita itu terus menerus mencari Sella seolah menghawatirkan menantunya. Ia tidak menangis atau berteriak, tapi ia sering meremas kedua tangannya dan berjalan mondar mandir sampai ia kelelahan. Perawat dan pelayan terus mencoba untuk menenangkan, tapi tidak berhasil.
"Benar, Tuan. Nyonya Za selalu memanggil Nona Muda." Perawat pun mengakhiri ceritanya.
Selama Zania, Sella selalu berada di sisinya memberi energi positif dan terus memberi semangat serta pujian yang menyenangkan padanya. Seperti keinginan Sella bahwa suatu saat, ketika Zania pulih, semua sikapnya itu akan membuat Zania begitu terikat dengannya.
Sella mempunyai niat seperti ini karena saat itu ia belum mencintai Alrega, ia masih membenci laki-laki itu. Begitu juga Alrega, masih sering sekali mengerjai dirinya, bahkan sampai ia kelelahan, lalu berharap tidak hidup lagi. Ia begitu putus asa waktu itu, hingga ingin sekali hidupnya diakhiri, apalagi jika ditambah dengan penyesalan atas penipuannya, dia sangat ingin mati.
"Lalu, bagaimana sekarang?" Alrega kembali bertanya.
"Nyonya seperti baiik-baik saja
Saat suara khas milik pria tampan itu keluar, Sella sudah berbaring di sisi Zania, memeluk dan bersenandung lirih, dengan air mata yang menetes tanpa dipinta, membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ibu ... maafkan aku, sudah mengingkari janji meninggalkanmu."
Dua wanita itu seperti sejoli, yang tergantung satu sama lain. Sella sengaja menciptakan suasana seperti itu, membuat Zania begitu terbiasa dengan kehadirannya. Sebenarnya ia punya alasan kuat, hingga ia membuat suasana ketergantungan pada ibu mertuanya. Alasan itu adalah bila suatu saat Alrega bertindak seperti ayahnya, agar tidak memutuskan hubungan pernikahan begitu saja.
Mungkin kehangatan atau senandung lagu Sella yang membuat Zania perlahan membuka mata. Wanita itu menoleh dan melihat Sella yang tengah memeluk dan tersenyum, berada di sebelahnya.
Zania memutat posisi menghadap Sella, sambil memeluk gadis itu, ia berkata dengan suara lirih.
"Kau baik-baik saja?"
Sella mengangguk, lalu menjawab, "Apa ibu khawatir padaku?"
Zania mengangguk. Lalu melirik Alrega yang berdiri di sisi tempat tidur.
"Rega tidak memarahimu, kan?" Katanya.
"Tidak. Dia baik, dia memang anakmu yang terbaik." Sella menyahut dengan sinar mata bersinar di balik kkerjapannya.
"Aku percaya padamu, bukan kau yang bersalah. Maaf ... aku tidak bisa membelamu karena ibu lebih percaya pada perempuan itu."
Kedua wanita itu masih berpelukan sambil terus berbincang, menganggap orang yang ada di antara mereka tidak ada.
"Terima kasih, Bu. Sudah percaya padaku."
"Kau tahu, Se ... kalau memang wanita itu mencintai Rega, seharusnya ia tidak akan meninggalkan anakku, dan mempercayai perempuan penipu itu ...."
"Aku tahu, waktu itu aku lihat, kau menangis, kau bukan pembohong yang pandai. Semua orang percaya kau berkata benar soal Rega, tapi aku tahu dia tidak berbuat serendah itu padamu."
'Ahk, ibu tidak tahu ya, apa yang dia lakukan, setelah dia berhasil menikahiku?'
"Katakan padaku, bagaimana kau bisa menikah dengan Rega. Aku senang dia memilih orang yang tepat kali ini."
Mendengar pertanyaan Zania, Sella menoleh pada Alrega yang ada di belakangnya. Matanya mengerjab-ngerjab, menutupi perasaan di sudut hatinya yang tiba-tiba saja seperti dicubit.
"Ibu," Alrega membuka mulutnya sambil duduk di sisi tempat tidur, tepatnya di dekat Sella. "Aku menemukannya di besmen gedung kita, waktu itu yang aku lihat, matanya sangat unik dan hanya sekali aku melihat bentuk mata seperti itu saat pesta."
"Kau mencintainya, kan?" Tanya Zania. Sementara Sella menatap wajah laki-laki itu dengan penuh harapan, lalu mau mengakui apa sebenarnya yang ia rasakan
"Ibu tahu, kan. Aku tidak mudah jatuh cinta, tapi aku menyukai wanita yang baik." Alrege menjawab dengan senyum di sudut bibirnya.
'Hei, apa maksud ucapannya itu?'
"Ya, kau tahu apa yang baik untuk dirimu sendiri." Zania berkata sambil mengusap lengan Sella yang ada di atas perutnya.
"Kenapa semua orang ada di sini?" Zania bangkit dan duduk sambil mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada di sana.
Sella menjelaskan keadaan Zania ketika ia datang dan mendengar teriakan yang keras dari salah seorang pelayan yang melayaninya. Pelayan itu sangat terkejut dan reflek berteriak karena wanita itu pinsan di pintu kamar mandi.
__ADS_1
Begitu melihat Zania terkapar tak sadarkan diri, semua orang pun panik, hingga mereka meninggalkan semua pekerjaan dan tugas mereka masing-masing untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana dengan nenekmu, Rega?!" Zania kembali terlihat panik dan turun dari tempat tidur."
Sella mengikutinya dan turun dari tempat tidur, saat hendak turun, Alrega memegang tangannya, tapi Sella menepisnya kasar.
'Kalau tidak mencintaiku, untuk apa baik padaku. Kau membuatku berharap banyak, bahkan aku sudah menyerahkan tubuhku. Dasar!'
Alrega menoleh pada Zania lagi lalu mengangguk, dan berkata, "Ibu jangan memikirkan Nenek, banyak dokter yang merawatnya. Jadi, ibu tidak usah kuatir."
"Apa ayah ada di sana?"
Alrega mengangguk. Sementara Sella berjalan mengitari tempat tidur dan menghampiri Zania, lalu berjalan ke luar menuju lift. Para pelayan sudah pergi, mereka kembali ketugas mereka kembali.
"Ibu, mau ke mana?" Tanya Sella. Ketika sudah berada di dalam lift yang menuju lantai dasar.
"Aku mau menengok ibu. Ayo! ikutlah denganku." Jawab Zania sambil menggamit tangan Sella.
Alrega yang berdiri di samping Zania meraih tangan ibunya. Sementara lift sudah terbuka.
"Ibu, tidak perlu ke sana. Sebentar lagi juga nenek pulang," katanya.
"Tapi aku mau melihat nenekmu." Zania terlihat sangat gigih dengan keinginannya.
Sella menggenggam tangan Zania erat, lalu berkata, "Ibu, percaya padaku, nenek baik-baik saja, aku sudah menengoknya, semalam saja aku tidur dengan nenek."
Zania terlihat tenang setelah Sella berkata demikian. Lalu berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa besar yang ada di sana.
"Rega, telepon ayahmu."
"Baik, Bu."
Baru saja Alrega hendak memanggil Zen, karena ponselnya itu, selalu disimpan Zen di saku bagian dalam jasnya, ketika ponsel Sella berdering juga.
Sella segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah menghubungi. Nama Rejan muncul di sana, membuat matanya mengerjab berulang kali. Ingatannya tentang perbincangan mereka tentang Flinna, semalam, melayang kembali. Ia merasakan hatinya mulai berdebar.
"Halo, Rejan," kata Sella setelah ponsel mereka tersambung.
"Kakak, apa bisa pulang sekarang juga, Kak? Ibu pingsan di dekat kamar mandi!" ucapan Rejan dari balik telepon itu membuat hati Sella semakin berdegup kencang.
Secara spontan ia berdiri dan langsung melangkah keluar, sambil menutup teponnya. Tanpa menoleh lagi pada Alrega dan juga Zania, yang melihat heran dengan tingkahnya.
Ia sebenarnya masih ingin menemani Zania, tapi ibunya saat ini lebih membutuhkannya. Flinna adalah separuh hatinya, karena wanita inilah dia bisa bertahan. Demi keluarga ia mengarungi kerasnya hidup, dengan kata lain, ibunya adalah alasannya untuk tetap hidup dan bertahan dalam segala kesulitan, termasuk menjalani pernikahannya dengan Alrega.
'Bagaimana bisa dua wanita itu pingsan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan tempat yang hampir sama pula. Akh ... mereka seperti ibu kembar saja. Kompak sekali mereka membuatku khawatir'
"Sella! Tunggu!"
__ADS_1
Bersambung