Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 47. Hanya Mirip


__ADS_3

Dengan hati berdebar, Sella turun menuju lantai dasar. Namun ketika ia mencoba. untuk berjalan, tangan serta kakinya pun seperti lemas, telapak tangannya pun berkeringat. Ia hanya ingin memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar Delisa dan ia adalah orang yang sama yang sudah membuat kesepakatan dengannya dua tahun yang lalu.


Ketika sampai disana, Sella melihat perempuan cantik itu sedang berbincang dengan Yorin sedang nenek mungkin berada di kamarnya. Ia duduk dengan cara yang sangat anggun di sofa besar ruang tamu. Ada dua gelas teh di meja yang sudah tersedia.


Mereka kemungkinan sudah duduk beberapa saat lamanya di sana. Tadi Sella sempat menenangkan dirinya beberapa saat juga.


Ia berkata, sambil mengusap wajah Zania dengan perasaan bersalahnya,


"Ibu, maafkan aku. Aku sangat bersalah padamu. Maaf..."


Ia tidak bisa membayangkan seandainya seluruh keluarga tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Apalagi bila mengingat Yorin yang akan membunuh wanita yang sudah memfitnah Alrega dipesta pernikannya, maka Sella hanya bisa menangis menyesali perbuatannya.


Dalam pikiran Sella, ia heran sekaligus senang dengan dua orang laki-laki di rumah itu, yaitu Alrega dan Rehandi yang mengetahui tentang keterlibatannya dalam kejadian dua tahun yang lalu, namun tidak mengatakan apapun kepada anggota keluarganya.


Sebenarnya, Alrega dan Rendy sudah mengatakan berulang kali kepada semua anggota keluarga. Bahwa sumber kesalahan dalam kejadian dua tahun lalu, adalah Delisa. Bukan seorang wanita yang datang memfitnah Alrega. Apabila cinta dari Delisa pada Alrega kuat, maka ia tidak akan segampang itu terpengaruh pada fitnah dan tetap mencintai Alrega. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Delisa memutuskan pergi mempermalukan dirinya sendiri dan juga keluarganya.


Seharusnya, sebagai wanita sudah diperlakukan dengan istimewa, Delisa tetap mencintai Alrega bagaimanapun adanya dan ia akan percaya dengan Alrega seutuhnya tanpa terpengaruh oleh seseorang wanita yang belum tentu kebenarannya.


Tetapi dua wanita yang ada di rumah itu dan juga keluarganya yang lain, tidak mempercayai Rehanndy dan Alrega, saat itu seluruh keluarga besar juga menyalahkan Alrega, kenapa ia tidak mengejar Delisa pergi, atau setidak-tidaknya menahan dengan kekuatannya, tetapi yang dilakukan oleh Alrega justru membiarkan Delisa mempermalukannya.


Yorin melihat kehadiran Sella dia tersenyum tipis dan menunjuk pada Sella dengan dagunya, ia berkata pada Delisa,


"Kak Deli, dialah wanita itu yang sudah merebut kak Rega darimu."


'Hei, Jangan memfitnahku. Aku tidak merebut siapapun. Justru kakakmu yang merebut kebe basannku, tau?'


Mendengar ucapan dari Yorin, Delisa menoleh. Ia membelalakkan matanya secara sempurna begitu melihat wanita yang ada di hadapannya. Kemudian Delisa dengan gugup berdiri.


"Kamu? Apa kamu mengenalku?" tanya Delisa sambil melangkah mendekati Sellla dengan wajah berkerut.


Sellla menatap lekat Delisa, ia sedikit ragu karena setelah ia berdiri cukup dekat Delisa, tampak sedikit perubahan di wajahnya. Ia terlihat lebih manis dan lebih cantik dari dulu. Tubuh dan kulitnya juga berubah, entah apalagi perubahan yang ada pada Delisa yang membuat Sella sedikit ragu


Kemudian ia menggeleng kan kepalanya sambil berkata, "tidak, kau hanya mirip dengan seseorang yang kukenal."


Mendengar ucapan Sela, Delisa terlihat lega, ia menarik nafas dalam. Ia berkata sambil mengulurkan tangannya,


" Aku Delisa. Siapa namamu?"


" Aku Sella," kata Sella sambil mengulurkan tangannya menyambut tangan Delisa dan mereka berjabat tangan, sedangkan tatapan mata saling menghunjam mencoba menelisik ke dalam hati menyelaminya lebih dalam.


"Lalu, menurutmu. Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya? Mungkin saja kau pernah bertemu denganku beberapa tahun yang lalu?" kini Sella balik bertanya.


Mendengar perkataan Sella, Delisa tertawa kecil. Ia kemudian memalingkan pandangn seolah berfikir, sambil berjata,


"Tidak, aku juga merasa bahwa kau hanya mirip dengan seseorang saja."


Setelah mengatakan itu, Delisa duduk kembali dengan melirik Sella sekilas ia kemudian mengajak Yorin kembali berbincang dengan suara yang cukup keras.


"Yorin, apa yang akan kau lakukan bila menemukan orang yang sudah memfitnah kakakmu?" kata Dslisa sambil memegang tangan Yorin. Tangan itu mengepal, karena geram dengan memejamkan matanya, Yorin berkata, "aku ingin sekali membunuhnya, kak!"


Delisa tampak tersenyum puas sambil melirik pada Sella.


'Sepertinya Delisa memang mengenalku'

__ADS_1


Sella melirik Delisa sebelum akhirnya ia melangkah pergi, meninggalkan Delisa yang mencoba menenangkan Yorin, dengan menepuk-nepuk pundaknya.


Delisa kembali berkata dengan suara keras yang bisa didengar Sella. Sebab Sella belum melangkah jauh dari mereka,


"Aku juga menyesalkan hal itu. Mengapa ada orang bodoh yang tega melakukan perbuatan memfitnah kakakmu, padahal aku tahu kakakmu adalah laki-laki yang setia dan bukan penggoda wanita seperti yang dituduhkan oleh perempuan jahat itu kepadanya." Delisa tersenyum tipis.


"Iya, kak. Kau benar," Yorin menimpali.


Sella tidak lagi mendengar ucapan ataupun obrolan antara Yorin dan Delisa. Karena ia kini melangkah dengan cepat menuju ke kamarnya. Ia mencoba mengirim pesan kepada Zen, menanyakan,


"Sekertaris Zen, jam berapakah tuan Al akan pulang?"


"Sekretaris Zen,l apakah Tuan Al akan pulang terlambat hari ini? Atau apakah ia akan lembur?"


"Apakah tuan akan pulang cepat? beritahukan kepadaku, ada seorang tamu yang menunggunya di rumah."


Sella mengirim pesan seperti orang yang gugup. Tidak lama setelah pesan itu terbaca langsung ada jawabannya,


" Apakah anda tidak menunggu tuan pulang? Anda hanya memikirkan orang lain yang menunggu dan anda tidak, begitu?"


'Wah, sepertinya orang ini pengangguran. Dia tidak punya pekerjaan lain selain menjawab pesan, hehe,lihat saja dia menjawab pesan ku cepat sekali'


"Tentu saja aku menunggunya" Sella menjawab pesan yang Ia pikir bisa menyenangkan hati Alrega.


'Kau pasti senang kan?'


Setelah itu Sella menghabiskan waktunya dengan menemani Zania dan bernyanyi bersamanya, seperti hari-hari sebelumnya. Sella masih menepuk-nepuk tangan Zania ketika Yorin dan Delisa masuk begitu saja ke kamar itu tanpa memberitahu pada perawat terlebih dahulu.


Semua yang ada di sana terperanjat. Sebab, bila ada orang lain yang akan menengok atau melihat Zania harus ada persiapan dan mereka akan mengatakan pada Zania bahwa akan ada yang ingin bertemu. Walaupun Zania tidak merespon, tapi ini adalah tatakrama sopan santun yang memang di jaga dalam keluarga.


"Ibu..ini Kak Deli, datang, bu. Kak Deli ingin menengok ibu. Apa ibu baik-baik saja?" kata Yorin.


Sejak ia datang dari luar negeri beberapa waktu lalu, ia hanya sekali saja melihat Zania, itupun dari balik pintu. Sebab ia enggan bila harus berhadapan dengan Sella yang selalu menemani Zania, gadis itu menempel pada ibunya lengket seperti lem saja.


Setelah Yorin melepaskan pelukannya dari tubuh Zania, kini Delisa yang memeluk Zania sambil berkata,


"Ibu..aku sangat merindukanmu!" Delisa menangis tersedu-sedu dalam pelukan in Zania.


"Ibu..Tahukah kau bahwa aku sangat menyesal meninggalkanmu? Seharusnya aku tetap disini, menjadi pendamping Alrega untukmu. Kalau bukan karena wanita itu, aku pasti akan tetap disisimu Bu. Wanita itu jahat, dia yang sudah menggoda suamiku..!' ia berhenti sejenak sambil menghapus air matanya lalu berkata lagi,


"Aku saat itu benar-benar kecewa, bu! aku menjadi gelap mata sampai aku pergi meninggalkan kalian semua. Maafkan aku... semua karena karena wanita itu, semua karena wanita bodoh itu, Bu...!" kembali menangis.


Melihat Delisa menangis, Yorin juga ikut menangis, hingga suasana sedikit riuh. Sella melihat semua dengan tatapan mata tak berdaya, memang apa yang bisa Ia lakukan selain diam?


'Apa. Apa? Jadi Delisa waktu itu pergi meninggal tuan Al? Apa perempuan itu bodoh, berani berbuat seperti itu dengan orang seperti tuan Al? Dia gila!'


Tiba-tiba saja Zania berteriak sangat keras ia meronta dari pelukan Delisa dan mendorong tubuh Delisa dengan kuat. Melihat hal yang tidak baik seperti itu, Sella segera meraih tangan Zania dan melingkarkan tangan itu di pinggangnya setelah itu ia memeluk pundak Zania erat, berusaha menenangkan wanita malang itu dengan segera.


Sella berkata, dengan menahan rasa sesak di dadanya, "Tenanglah Bu..Tenang.. ada aku disini...aku tidak akan meninggalkan ibu..!"


Tapi Zania seperti enggan. Ia kembali seperti dulu berteriak, menangis sambil memukul-mukul Sella dengan sekuat tenaga. Sikap Zania yang seperti ini sudah tidak terjadi dalam beberapa hari terakhir.


Sella membiarkan dirinya menjadi sasaran pukulan dan ia terus-menerus membiarkan Zania berteriak dan menangis cukup lama. Karena merasa tidak ada yang bisa dilakukan, Delisa dan Yorin melangkah mundur, menjauhi Zania, ada senyum tipis dibibir Delisa.

__ADS_1


Dan hingga Zania lelah, ia menghentikan pukulannya pada tubuh Sella, walau tangisannya masih saja terdengar. Zania juga masih menggumamkan kata-kata yang tidak jelas sambil mencengkram bahu dan tangan Sella dengan kuat.


Sella memperhatikan gumaman itu, seolah-olah ia mengerti. Ia hanya menganggap ada sesuatu yang dipendam oleh Zania yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini.


Sheila merasa perlu untuk menanggapinya sehingga Zania menganggap seolah-olah Sheila memahaminya, hingga timbul rasa bahagia karena dirinya dimengerti, ia tidak sendirian dan dan ia merasa lega. Hingga ia berhenti bergumam.


Rehandi datang. Ia menyuruh Yorin dan Delisa keluar dari sana, setelah mereka berdua hanya menonton saja melihat Sella dipukuli seperti tadi. Padahal para perawat dan pelayan juga ada di sana tapi sama-sama tak berdaya karena Zania juga seolah hanya ingin melampiaskan kemarahnnya pada Sella.


"Ibu.. aku tahu, kalau kau seperti itu. Tapi sebaiknya ibu katakan saja apa yang jadi beban ibu selama ini." kata Sella.


Ia duduk di hadapan Zania sambil mengusap-usap kepala dan menghapus air matanya. Sella bersikap seolah-olah Zania memang anak kecil yang baru berhasil ditenangkan olehnya. Tapi diluar dugaan Zania kembali memeluk Sella dan menangis tersedu-sedu di hadapannya.


Namun, tangisannya kali ini tangisan orang normal yang merasakan kesedihan begitu dalam. Tentu saja Sella tidak menyia-nyiakan hal ini. Ia pun memeluk Zania dengan erat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja... semua akan baik-baik saja... ia tak akan meninggalkannya. Sampai akhirnya Zania berhenti menangis, karena terlihat lelah.


Sella meminta Zania untuk tidur dan wanita itu menurutinya setelah Sella menemani dan memeluknya.


"Pergilah biarkan aku yang menemaninya. Sekarang istirahatlah dan obati lukamu kalau memang tubuhmu ada yang terluka." kata Rehandy.


Sella menatap laki-laki itu dengan mengerutkan alisnya, ia sedikit ragu. Tapi Sella menurutinya, ia merasa tidak akan ada yang terjadi karena Zania sedang tidur, mungkin Rehandy hanya ingin memeluknya saja begitu pikir Sella.


Sella kembali ke kamarnya dan setelah ia hanya seorang diri di sana ia pun menangis tersedu-sedu, menyesali nasibnya menyesali perbuatannya, rasa bersalah memenuhi kembali jiwanya. Ia mengingat kata-kata Delisa yang menyalahkan dirinya. Tapi ia mengakui bahwa memang Ia adalah orang yang sedah bersalah.


'Memang untuk inilah aku menikahinya, memang untuk menebus kesalahan Inilah aku harus disini seumur hidupku, walaupun aku hanya dijadikan budakmu, bukankah begitu Tuan Al? bBsakah kau memaafkanku dan menjadikan aku istrimu yang sesungguhnya dan bukan dia? Apabila memang dia adalah istrimu yang sudah meninggalkanmu waktu itu, dan dia adalah orang yang sama yang melakukan perjanjian denganku, maka sungguh dia tidak pantas untukmu. Bagaimana mungkin ada wanita yang tidak menghargai pernikahannya dengan membuat sebuah perjanjian keji untuk melukai suaminya sendiri?' menangis sampai matanya sembab.


***


Sheila menerima pesan bahwa Alrega sudah hampir sampai di kaki langit. Begitu melihat pesan itu di sore hari, Sela pun menggerutu pada sekretaris menurut itu.


'Kenapa memberitahuku dengan cara mendadak seperti ini? Untung saja aku sudah mandi dan membersihkan diri'


Sela saat itu sedang duduk di sofa kamarnya. Ia segera merapikan kembali pakaiannya dan pergi ke teras rumah. Ia memakai gaun warna hitam tanpa lengan, ada sedikit renda kecil di bagian lehernya, dress hitam panjang sampai menutupi lututnya, berlapis kain brokat yang sangat lembut dan pas di badannya, sehingga terlihat lah lekuk tubuhnya yang indah. Sella seolah-olah ingin menunjukkan siapa Nona muda yang sebenarnya di rumah ini. Bahkan ia mengenakan perhiasan yang diberikan Alrega kepadanya, yang selama ini Sella belum pernah memakainya.


Alrega keluar dari pintu mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Zen. Ia melangkah mendekati Sella yang berdiri menatapnya dengan tatapan mata seperti memohon pengampunan darinya. Ia kembali dipenuhi oleh rasa bersalah pada Alrega


Alregamendekatinya dan Sella meraih tangannya kemudian menciumnya. Alrega membelai pipinya lembut, sambil berkata,


"Apa kau baik-baik saja?" namun mendengar perkataan Alrega ini justru Sella ingin menangis saat itu juga. Terlihat matanya berkaca-kaca, ia menahan air matanya agar tidak tumpah sekuat hatinya.


Disaat yang sama, terdengar sebuah suara mendekat.


"Rega...Kau sudah kembali, apa kabarmu? Aku sudah menunggumu sejak tadi." kata Delisa tiba-tiba ia langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan Alrega, lalu bergelayut manja dilengannya.


' Bisakah kalian tidak melakukan hal manis itu dihadapanku? kalian bisa melakukannya setelah aku pergi, kan? kalian memang ingin menyakitiku, kan? Baik. Aku sakit! Apa kalian puas?'


Sela dengan perlahan melepaskan jas dari tubuh Alrega dan membawanya di lengannya. Kemudian ia menyiapkan sendal rumah Alrega, seperti kebiasaanya. Sella membungkuk untuk melepaskan sepatu Alrega.


Alrega membiarkan sebelah lengannya digelayuti oleh Delisa. Tetapi matanya tidak lepas dari melihat raut wajah Sella. Ia mencari sesuatu di wajah itu seolah ingin sekali melihat gadis itu cemburu kata pun marah padanya dengan tingkah Delisa. AlRega ingin Sella menunjukkan perasaannya melalui ekspresi wajahnya.


Aalrega hanya menarik salah satu sudut bibirnya sedikit, kemudian memberi isyarat kepada Pak Sim untuk mengambil alih pekerjaan Sella. Ia menarik tubuh Sella agar duduk di sebelahnya.


Pak Simpun melakukan tugasnya untuk melepaskan sepatu Alrega. Saat itu hanya kata-kata Delisa yang terdengar terus bicara soal penyesalannya dan keinginannya agar Alrega memaafkannya. Tanpa malu-malu ia mengucapkan rayuan dan candaan yang menggoda.


Sella menatap Alrega begitu juga sebaliknya, pandangan mereka beradu hingga Sela tak bisa menahan aliran air matanya. Bibirnya bergetar tapi tidak ada kata-kata yang keluar darinya.

__ADS_1


'Bisakah kau melepaskan tangannya dan hanya memegang tanganku saja? Apa kau ingin aku aku sakit seperti ini. Puaskah kau? Apakah kau ingin Aku mengakuinya bahwa hatiku sangat sakit? Walaupun aku belum mengerti apakah aku mencintaimu atau tidak, tapi aku adalah istrimu yang sah. Lalu kau melakukan hal ini padaku, menggandeng tangan wanita lain dihadapanku, apakah ini juga hukuman mu? Baiklah'


Sella melepaskan tangan Alrega begitu saja menepisnya dengan kasar. Ia meninggalkan semua yang ada disana dengan langkah cepat menuju kamarnya. Sella tidak kuat menahan hatinya, ingin segera meluapkan tangis di kamarnya, karena ia kembali teringat bagaimana saat Ibunya ditinggalkan oleh ayahnya.


__ADS_2