Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 57. Sengaja Lagi


__ADS_3

"Siapa Rinrin?" tanya Yorin.


"Kamu." jawab Sella.


"Jangan mengganti nama orang sembarangan. Aku tidak suka dengan panggilan seperti itu, kampungan," tukas Yorin.


"Menurutku cukup manis ... Oh iya, kalau kalian khawatir soal ibu, aku akan berusaha membantu," kata Sella, sambil mengubah posisi duduknya dengan bersandar.


"Apa kau yakin?" tanya Alrega, dengan kening yang berkerut. Dan Sella mengangguk.


Alrega memikirkan hal lain dari rencana Yorin, tapi ia membiarkan keinginan gadis itu, tanpa mengurangi kewaspadaannya nanti.


"Kapan ulang tahunmu?" tanya Sella.


"Sehari sebelum perayaan kemerdekaan." jawab Yorin membuat Sella mengangguk.


"Itu tanggal yang cantik, lima di bulan lima. Lagipula itu masih lama." sahut Sella.


"Kalau begitu, kau biaa bersiap lebih baik," kata Yorin sambil mengangkat bahu.


"Tentu saja. Kita bisa bicara soal konsep pestanya, aku akan senang membantumu, anggap saja seperti kakak yang membantu adiknya." kata Sella dengan senyum manis.


Yorin tertegun, baru kali ini ada orang yang menginginkan hubungan kakak dan adik dengannya. Ia seorang wanita penyendiri karena dari kecil kurang kasih sayang ibu dan sikap manja yang berlebihan membuat Yorin hanya mempunyai sedikit teman. Tapi kata-kata Sella seperti membawa aroma musim semi dihatinya.


"Ahk, kita hanya keluarga karena kak Rega. Tapi bagus juga kalau aku mempunyai kakak." kata Yorin akhirnya.


"Hei, kita keluarga sekarang? Ahk, senangnya. Akhirnya aku memiliki adik baru." kata Sella dengan tertawa kecil.


Sella berharap suasana rumah itu akan mencair dan ia bisa merasakan kehangatan seperti di rumahnya. Tampak sinar cerah menghiasi wajahnya, ia akan menjadi orang yang sangat bahagia bila suatu saat keluarga ini akan mendapatkan keceriaannya kembali secara lengkap.


Yorin berdiri dan mendekati Sella sambil berbisisk, "Hati-hati lah menjaga kak Rega. Dia mencintaimu, jadi jangan tinggalkan dia, seperti Delisa dulu," kata Yorin, lalu pergi meninggalkan Sella dan Alrega yang masih duduk berdua di sofa panjang.


Sella tersadar dengan ucapan Yorin tentang dirinya dan Alrega. Mereka adalah orang yang senasib, bahwa mereka memiliki ibu yang depresi, dan pernah di tinggal kekasihnya pergi. Ia sering melihat tatapan gelap dimata Alrega dan wajah tampan yang beku karena tertutup kesuraman maslalu. Apalagi ia harus mengurus perusahaan yang dibebankan padanya. Semua itu manimbulkan rasa kasihan dihatinya, menganggap Alrega adalah orang yang layak dicintai dan bukan di benci. Sudah beberapa bulan mengenal, dan kini hidup bersama ia memahami sedikit tentang Alrega.


Setelah kepergian Yorin, Sella merasa tubuhnya hangat karena Alrega sudah bersandar padanya dan menyimpan dagunya dibahunya.


"Kenapa kau meninggalkanku?" Ujar Alrega dengan suara rendah, yang menekan. Tapi bertentangan dengan sikpnya yang manja.


Sella menoleh hingga dahinya bersentuhan lalu menyahut, "Maaf. Aku pikir kau tidur, jadi aku menemui ibu."


"Apa ibu lebih penting dari pada aku?" Mendengar pertanyaan Alrega, Sella menjauhkan kepalanya.


"Dia ibumu, sama pentingnya denganmu. Seperti itulah kasih sayang, aku akan menyayangi apa yang kau sayang."


Sella berfikir bahwa Alrega akan puas dengan jawabannya, karena kata-katanya sudah menunjukkan sikap yang wajar diberikan seseorang sebagai keluarga. Tapi bagi Alrega Sella hanya boleh memberikan kasih sayang pada dirinya saja.


"Jadi, kau akan menyayangi ayahku dan juga kakek?" tanya Alrega lagi sambil berdiri.


'Hei, memangnya tidak boleh? Mereka itu orang-orang yang juga menyayangimu, sialan!'


Sejak mengenal Alrega, Sella sudah berfikir lebih dewasa dari sebelumnya, ia mengerti Alrega egois dalam perasaannya.


Ia ikut berdiri dan berkata, "Aku menyayangi semua yang menyayangimu, tapi kau adalah satu-satunya suami dan pacarku. Tidak ada yang lain." Sambil menggamit tangan Alrega.


"Ayo. Iatirahat lagi di kamar. Tadi kenapa keluar?" Tanya Sella sambil berjalan.


"Aku mencarimu." Menjawab sambil mengikuti Sella berjalan ke tangga, seperti anak kecil yang menurut pada ibunya.


Hari itu, Alrega tidak ke kantor karena ia merasa tidak enak badan, sebenarnya sakit seperti ini tidak berarti apa-apa baginya, ia masih bisa bekerja, tapi Sella memintanya untuk istirahat dan membiarkan Zen yang mengerjakan semua tugasnya.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan, Nenek melirik mereka dari pintu kamar. Wanita tua itu duduk di kursi Rodanya, hendak keluar tapi mengurungkan niatnya, ia kembali ke dalam setelah memberi isyarat agar pelayannya pergi. Ia melangkkah ke nakas di samping tempat tidur, semua forniture dalam kamar itu bergaya klasik terbuat dari kayu rosewood. Ia membuka laci tempat menyimpan kotak perhiasan, mengambil sebuah kalung. Menatap pada foto Tuan Nigiro yang berukuran besat tergantung di dinding kamar.


"Aku sedikit tenang sekarang. Aku akan memberikan kalung ini pada orang yang pantas untuk memakainya. Tinggal satu ujian lagi, saat pesta Yorin berlangsung, saat itu kau juga akan tahu sampai dimana batas kekuatan wanita itu dan juga cinta mereka berdua. Kalau mereka bisa membuktikannya maka aku akan siap untuk pergi dan tidak akan mengusik mereka walau wanita itu bukan kalangan kita."


ia berhenti sebentar lalau mengusap foto besar itu dengan lembut sambil tertawa, semakin lama semakin keras suara tawanya, lalu kembali berkata,


"Kau lihat, semua wanita yang sudah kita pilih yang berasal dari kalangan kita, ternyata mereka semua orang yang lemah dan manja. Aku juga tidak menduga Zania menantu lemah dan manja bahkan sekarang dia stress hanya karena tidak kuat dipermalukan oleh menantu bodohnya. Ahk ... Iya, aku pikir aku tidak salah memilihnya ..." kata wanita itu sambil mengepalkan kedua tangan.


Tapi sejenak kemudian Ia tampak lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ia menekan tombol telepon kecil di meja kopi dekat tempat tidurnya. Tak lama beberapa pelayan yang tadi keluar pun masuk kembali dan memapah Marla ketempat tidurnya. Wajahnya tampak pucat dan matanya memerah seperti menahan sakit. Jantungnya berdegup sangat kuat. Ia meminta pelayan memanggil Sella untuk ke kamarnya.


Di kamar Alrega.


Alrega dan Sella duduk berdampingan diatas tempat tidur sambil bersandar di kepala ranjang. Sella memijit telapak tangan Alrega dsngan creambody yang lembut untuk menghangatkan dan melancarkan peredaran darahnya.


"Sayang, kau harus sehat agar kita bisa pergi berkencan," kata Sella bermaksud menyemangati suaminya.


"Kencan seperti apa yang kau inginkan? Bukan kah kita sudah pernah berkencan sebelumnya?" kata Alrega sambil mencium Sella sekilas. Ciumannya hangat.


Sella berfikir kalau memang benar Alrega sebenarnya sudah melakukan hal-hal yang romantis bersamanya. Berciuman di mobil, memberinya cincin berlian, membelikan hadiah untuk anggota keluarga, Mereka pernah saling menyuapi makanan di restoran vrifate. Saat di restoran itu, Sella makan satu puding yang sangat enak hingga ia berkelakar kalau ia akan makan puding itu setiap hari di rumah.


Anehnya, keesokan harinya, apa yang ia inginkan tercapai, puding itu bisa ia nikmati setiap hari bahkan dari restoran yang sama. Saat itu ia sempat heran, namun akhirnya ia mengetahui bahwa restoran itu termasuk dari bisnis keluarga Haquel.


Tapi itu dulu, sebelum mereka resmi berpacaran. Kini Sella mengunginkan hal yang lain. ia ingin mengajak Alrega berjalan-jalan, membeli makanan kaki lima di pinggir jalan atau berkejar-kejaran di tepi pantai, atau beberapa cara berpacaran orang normal biasa lainnya.


"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kita jalan-jalan."


"Apa enaknya jalan-jalan?"


Belum sempat Sella menjawab, pintu diketuk dari luar. Sella turun untuk membuka kuncinya dan tampak Pak Sim di sana meminta Sella untuk berbicara dengan nenek.


Sella berpamitan pada Alrega sambil menciumnya agar laki-laki ini tidak marah. Ia pergi meninggalkan Alrega yang cemberut, menuju kamar nenek.


Sampai di kamar nenek, ia melihat wanita itu terbaring lemah, tanpa riasan dan rambut palsunya, hingga ia benar-benar terlihat sangat tua diusianya yang hampir delapan puluh tahun. Sella segera menghampiri, menyentuh tangan Marla dan memijiti kedua kakinya dengan perlahan.


"Uh, aku kira nenek tidur. Apa Nenek baik-baik saja?" tanya Sella.


"Aku baik. Hanya terlambat minum obat." kata Marla, sambil duduk bersandar di kepala ranjang dibantu asistnt. Ia mengulurkan tangannya memberikan sebuah kalung yang ia janjikan tadi pagi.


"Ini kalungmu, pakailah." kata Nenek sambil menaruh kalung itu dalam genggaman tangn Sella.


"Nenek, kau tidak perlu memberiku seperti ini. Aku merasa tidak pantas menerimanya." Sella mencoba menyerahkan kembali kalung itu.


"Aku yang menilaimu layak atau tidak. Sebenarnya aku ingin memberikannya nanti kalau kau bisa berhasil menjaga Zania dengan baik saat pesta Yorin berlangsung. Ingat, dia akam sangat trauma dengan suara musik dan keramaian."


'Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?'


"Aku akan berusaha. Seperti yang Aku katakan, aku melakukannya bukan karena kalung ini." kata Sella menggenggam kalungnya.


"Kalau begitu lakukan yang kau bisa dengan bak. Kalung ini aku berikam sekarang karena aku kuatir aku tidak sempet memberikannya nanti."


"Ahk, nenek, jangan berkata seperti itu. Kau akan sehat, kau panjang umur dan semua baik-baik saja..."


"Kenapa kau selalu menolak, aku melihatmu menolak cek anakku, menolak kartu dari cucuku. Apa kau memang tidak membutuhkan sesuatu?"


Sella termenung, ia memang menolak semua itu karena ia tidak membutuhkannya. Kehidupan masalalunya, yang membuatnya tidak mudah menerima pemberian orang secara cuma-cuma. Apalagi, merawat Zania adalah kewajiban sebagai hukuman, yang tidak perlu diberi imbalan. Dulu ia pernah meminta bantuan pada beberapa orang, termasuk ayahnya, yang ia anggap bisa membantunya saat ibunya masuk rumah sakit. Tapiia tidak mendapatkan apapun dari mereka, hingga ia terpaksa melakukan penipuan.


"Nenek, semua yang aku butuhkan ada di rumah ini. Jadi aku tidak menginginkan apa-apa lagi."


Marla heran, baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang merasa uang bukan kebutuhan. Memangnya untuk apa uang kalau ia selama seharian selalu berada di rumah yang sudah menyediakan semua yang ia butuhkan? Bahkan ia tidak diijinkan bekerja di dapur untuk membantu pelayan.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang Kau membutuhkan sesuatu katakan padaku. Pakai kalung itu, kau sudah menjadi menantu keluarga Leosan, dan lahirkan seorang anak laki-laki untuk Rega." kata Nenek sambil menggenggam tangan Sella.


Karena tak ingin mengecewakan nenek, Sella memakai kalung itu dilehernya. Dan nenek tersenyum sambil berkata,


"Bagus. Kalung itu sudah berada ditempat yang tepat. Berjanjilah kau tidak akan melepaskannya, dan lahirkan cucu laki-laki untuk Zania. Kalau kau memang menyayanginya ... Uhuk! Uhuk!" Marla terbatuk-batuk.


'Apa. Anak laki-laki, lalu bagaimana kalau aku tidak melahirkan anak laki-laki untuk mereka?'


"Nenek.." kata Sella sambil mengusap-usap punggung nenek untuk menghentikan batuknya.


"Pergi lah aku akan istirahat." kata Marla sambil menjauhkan tangan Sella dari punggungnya.


"Baiklah nenek, terimakasih. Aku permisi,"


Nenek membaringkan tubuhnya dan Sella diantar keluar kamar oleh seorang asistant, ia tersenyum dan membungkuk hormat.


Sella sebenarnya sangat risih diperlakukan seperti ini, tapi ia tidak bisa menolaknya, kan? Tugasnya sudah semakin berat, cincin di jarinya adalah janji untuk tetap di sini, sedang kalung ini artinya adalah seorang anak laki-laki. Ahk ... yang benar saja. Bahkan ia belum lakukan apapun dengan Alrega. Arti hadiah sebuah kalung adalah pengikat, tanda bahwa ia akan terus berada disisinya, seperti binatang peliharaan yang diberi tanda dengan pengikat dilehernya.


***


Sejak keluar dari kamar nenek, Sella tidak menemukan Alrega di kamarya. Dan setelah tahu ia berada di kamar kerja bersama ayahnya, Sella menyibukkan diri dengan Zania, sampai tak terasa waktu sudah menjelang malam. Mereka hanya bertemu sebentar saat makan malam. Alrega kembali menenggelamkan diri dengan pekerjaan, setelah Zen datang hingga larut malam, entah kapan akan selesai.


Sella berada di kamar, memilih baju tidur saat ia sudah mengantuk. Kini ia memakai nigtgown yang jarang ia gunakan. Pakaian tidur itu ia pikir bagus dan sopan karena panjang sampai menutupi matakakinya. Rambutnya ia biarkan tergerai menutupi punggungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sambil menyentuh kalung berlian biru di lehernya.


"Kalung yang bagus!" Kata Alrega tiba-tiba muncul di pintu kamar ganti. Sella terkejut karena ia tidak menyadari laki-laki itu sudah berdiri di sana menatapnya sejak ia mengganti pakaiannya.


"Hais. Sejak kapan dia ada di sana?'


Sella menatap bayangan Alrega dari cermin di depannya, lalu melangkah menuju sofa tanpa menanggapi kata-katanya. Saat Sella melewati Alrega, hap! Tubuhnya ditangkap dengan satu tangan, Alrega menariknya dari belakang, hingga berada dalam pelukannya.


Alrega menyibakkan rambut Sella pada satu bahu dan meletakkan dagunya pada bahu Sella yang lain. Nafasnya terasa meniup-niup leher Sella. Ia ingin Sella bisa menyerah saat itu juga, tapi ia tidak akan memaksa, ia khawatir Sella membencinya.


Sementara Sella merasa Alrega hari ini menjadi manja, mungkin karena ia sakit. Sikapnya sangat berlawanan dengan saat ia berada di kantor, di ruang kerjanya, atau saat berada di luar kamar mereka.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Sella sambil terus melangkah dan Alrega mengikutinya dibelakangnya masih memeluknya.


'Tidurlah, ini sudah malam." katanya lagi sambil menghamparkan selimut di sofa.


"Aku sakit. Jadi kau harus menemaniku!" kata Alrega sambil membalikkan tubuh Sella menghadapnya.


'Aku tidak mau!'


"Kau akan baik-baik saja walau aku tidur di sofa." Sella berkata sambil menepuk lembut dada Alrega. Lalu pergelangan tangan itu dipegang oleh Alrega agar tetap menempel di dadanya. Sella merasakan detakan jantung Alrega pada telapak tangannya.


"Apa kau tidak mau tidur dengan suamimu, kita sudah sering tidur bersama bukan? Aku tidak ingin memaksamu. Aku selalu memindahkanmu dari sofa karena aku lihat kau tidak nyaman. Apa kau harus selalu dipaksa, ha? Apa kau pikir aku tidak lelah?" Tanpa sadar Alrega sudah bicara banyak kali ini hanya karena Sella menolaknya lagi.


"Maaf ... ?" kata Sella.


"Minta maaf dengan benar! Kau selalu minta maaf tapi selalu berbuat kesalahan yang baru, apa kau sengaja lagi?" kata Alrega melepaskan pegangan tangannya.


Ia meminta Sella melakukan permintaan maaf dengan cara yang dilakukan orang di bagian negara Hindustan atau Turkistan. Orang di sana akan sungguh-sungguh meminta maaf dengan memegangi kedua telinganya dan mengetuk meja sebanyak tiga kali. Itulah yang Alrega perintahkan pada Sella kali ini, tapi Sella harus melakukannya secara berulang-ulang sambil berjongkok kemudian berdiri lalu berjongkok lagi. Hei, ini sudah malam, dan Sella masih harus melakukannya di hadapan Alrega beberapa kali.


"Apa kau sudah lelah? Berjanjilah kau tidak akan melakukan kesalahan lagi." kata Alrega setelah Sella kembali berdiri, untuk yang kesekian kali.


Tanpa menunggu jawaban Sella, Alrega membopong tubuh Sella dengan cepat ke tempat tidur. Ia membaringkannya dengan lembut, lalu ikut berbaring di sebalahnya, menggeser tubuhnya hingga merapat. Alrega menjadikan satu tangannya menjadi bantal Sella. Sedang satu tangannya yang lain mulai membelai pipi, kening, hidung, bibir dan leher Sella lalu merapikan rambutnya kebelakang telinga dengan lembut.


"Baiklah. Sudah cukup dan sekarang tidurlah." kata Sella sambil menjauhkan kepalanya dari tangan Alrega, tapi Alrega tetap melakukannya seolah wajah Sella magnet yang membuat tangannya menempel.


Sella menarik tangan Alrega dari wajahnya, membawa tangan itu dalam dekapan di dadanya, sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Apa kau sudah tidur?"


Bersambung


__ADS_2