
"Biar kulihat, " kata Alrega sambil berusaha menyibakkan baju Sella.
Sella melihat gerakan tangan Alrega yang kini berada di pundaknya. Ia menahan tangan besar itu, lalu ersenyum.
"Tidak perlu. Besok juga akan hilang." Sella berkata sambil menjauhkan tangan Alrega dari pundaknya. Laki-laki itu bersikukuh ingin melihat luka dipundaknya, tapi Sella dengan cepat mengalihkan atensi Alrega, dengan berkata,
"Aku harus memanggil Anda apa, saya tidak mungkin memanggil Anda anakku, kan?" sambil memundurkan badannya menjauhi Alrega dan melepaskan diri dari pelukannya.
"Panggil aku seperti kau memanggilku tadi malam."
'Apa. Apa itu artinya dia belum tidur waktu aku bicara? Mati aku'
"Panggilan seperti tadi malam?"
"Iya. Panggil aku, sayang." Alrega berkata sambil mengembalikan tubuh pada posisi semula, namun kini kedua tangan Alrega yang memeluk pinggang Sella.
'Hei, aku tidak mengatakan hal seperti itu semalam!'
Sella membelalakkan matanya dengan sempurna. Ia kembali mengambil sikap manis, lalu meletakkan tangan di dada Alrega siap mendorongnya, tapi laki-laki itu mempererat pelukannya.
'Untuk apa panggil sayang kalau ternyata tidak sayang?'
"Baik, akan saya katakan." Diam sejenak. "Tuan, Al. Anda sangat tampan. Jangan khawatir semua orang ...." Kata Sella mengikuti kebiasaannya kalrau ia bicara pada Zania.
Ia memalingkan pandangan, keraguan tiba-tiba mengetuk hatinya dengan kalimat yang akan ia katakan berikutnya.
Alrega menangkap dengan jelas kalau wanita yang ada dalam pelukannya itu sedang gugup. Ia merasakan badan Sella yang kaku.
"Apa ...? Teruskan!" suara Alrega rendah tapi justru suara yang seperti itulah yang membuat Sella merinding.
Ia merasa kalau hantu sedang lewat di sebelahnya dengan bentuk yang sangat mengerikan siap membawanya pergi ke alam lain.
"Panggil aku sayang ..." kata Alrega lagi karena Sella tidak meneruskan kata-katanya. Tatapannya begitu mengintimidasi dan memaksa.
'Aku tidak mau'
"Tuan. Al..." kata Sella dengan suara bergetar. Alrega menarik dagu Sella agar menatapnya. Sella memejamkan mata sejenak, menenangkan hati yang bergemuruh, lalu membuka mata memberanikan diri memandang Alrega.
"Tuan Al, jangan khawatir, semua orang menyayangimu dan tidak akan meninggalkanmu. Kau sangat baik dan tampan, pasti semua orang menyukaimu, cepat lah sehat, ya?"
Sungguh, membahagiakan orang lain yang kita sayang itu sama dengan membahagiakan diri sendiri.
"Apakah itu termasuk dirimu?" Alrega balik bertanya.
" Aku, apa?"
"Semua orang menyangiku, tidak akan meninggalkanku, senang memiliki orang seperti aku, apa itu termasuk kau juga?"
Mendengar pernyataan Alrega, Sella mengerjapkan matanya, bibirnya diam. Ia berpikir sejenak kemana arah pembicaraannya kali ini. Sementara tangan Alrega masih memegang dagunya.
Akhirnya Sella mengangguk, membuat laki-laki itu seperti merasa puas, ia tersenyum tipis dan melepaskan dagu Sella sambil berkata,
"Persiapkan dirimu besok," Alrega bicara sambil merapikan dasinya yang sudah rapi, lalu keluar kamar untuk sarapan. Ketika hampir sampai di tangga, Alrega menoleh pada Sella yang berjalan di belakangnya dan berkata.
"Kau harus berlatih, berpakaian yang pantas. Apalagi untuk besok, jangan lagi kau pakai baju dari rumahmu!" dan Sella pun terdiam di tempatnya.
"Ada apa besok?" Sella tidak mendapatkan jawaban.
'Hei, kenapa tidak memberitahuku, si. Apa yang harus aku persiapkan?" Sella bertanya pada dirinya sendiri.
Sella menyusul Alrega ke meja makan dan melayaninya dengan baik, ia menyapa semua orang seperti kemarin-kemarin.
"Apa kabar Nenek, kau terlihat cantik seperti biasanya. Apa kabar Ayah? Semoga semua urusanmu lancar hari ini. Yorin, kau juga semakin manis dari yang kulihat, semoga harimu menyenangkan, ya?"
Semua orang berpikir dengan pikiran masing-masing.
'Apa kau menganggap semua orang cantik setiap hari?' nenek.
'Tidak ada urusan apapuun yang harus aku lakukan karena semua sudah diurus Rega, tugasku hanya menjaga Zania kalau terjadi sesuatu padanya' ayah.
'Hari-hariku selalu menyenangkan, dan aku memang manis, tidak seperti dirimu. Aku tau, bahkan kak Rega tidak mau tidur denganmu. Kau, menyedihkan sekali' Yorin.
Setelah selesai sarapan, Alrega bergegas ke teras, menghampiri Zen yang sudah siap dengan mobilnya. Sella mengikuti dibelakang dan pak Sim disampingnya.
Sella meraih tangan Alrega dan menciumnya, lalu berkata,
__ADS_1
"Hati-hati dan jangan lupa makan siang," ia menepuk-nepuk pundak Alrega dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Besok kau harus memanggilku sayang di depan semua orang," kata Alrega.
"Hanya di depan semua orang, kan?"
"Kau harus berlatih dari sekanga," kata Alrega sambil memasukkan kedua telapak tangan di saku celana, menunggu Sella mengucapkan kata itu.
'Apa aku harus mengatakannya sekarang?'
"Sayang, jaga dirimu baik-baik ya?" Sella berkata lalu menggigit bibirnya.
Alrega tersenyum puas, memasuki mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Zen.
"Permisi, Nona" kata Zen sambil menutup pintu mobil dan membungkuk pada Sella. Saat itulah Sella menarik ujung jasnya sebelum ia sempat berbalik, dan gadis itu berkata,
"Ada apa dengan besok? Pasti kau tahu, kan?"
"Saya tidak mengerti maksud Nona, maaf kami harus pergi karena sudah terlambat.
" Sekertaris, Zen. Aku disuruh mempersiapkan diri untuk besok. Bagaimana aku tahu apa yang harus aku persiapkan kalau aku tidak tahu untuk apa?"
"Tenang, Nona. Kalau soal itu saya sudah mempersiapkannya. Anda hanya menyiapkan mental saja," kata Zen. Lalu mereka pergi meninggalkan Sella yang masih belum mengerti. Ia hanya bisa mengumpat.
'Sialan! Apa aku akan berhadapan dengan orang gila?'
***
Sella memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Zen, ini rancangan Selondra, perancang terkenal itu sudah membut pakaian itu khusus untuknya. Alrega sudah membayar pakaian yang sangat mahal malam ini.
Gaun itu dirancang khusus dari bahan yang sangat lembut, dilapisi brukat istimewa dan halus berwarna putih. Lengannya transparant sampai siku, bagian lehernya rendah dan bulat. Warna bajunya sama dengan jas yang dikenakan oleh Alrega, laki-laki itu mengenakan jas putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam.
Ini sebuah perhelatan istimewa tapi Sela hanya merias wajahnya dengan riasan tipis. Ia memberi wajahnya sedikit bedak dan memoleskan lipstick tipis warna merah muda. Ia mengikat rambutnya dengan sebuah syal di belakang lehernya penampilan yang cukup sederhana, yang membuatnya istimewa hanya gaun dan perlengkapan yang digunakannya.
Ketika Zen menjemput, Sella sudah menunggunya, ia mempersilahkan Sella masuk ke dalam mobil yang sudah ia bukakan pintunya. Lalu ia melajukannya saat Sella sudah duduk dengan nyaman.
"Kita mau ke mana Sekertaris Zen ...?" tanya Sella.
"Ke pesta peresmian sebuah butik besar, Nona," jawab Zen. Mereka berdua mulai terlihat obrolan.
"Tuan ingin nona ikut. Alasan itu sudah cukup."
"Ah, iya. Apa hubunganku dengan pesta itu, gak ada, karena kalau Tuan Rega Ingin aku ikut ya, aku harus ikut'
" Butik milik siapa, apa orang ini istimewa bagi Tuan? Aku yakin butik nona Sellondra juga pasti besar"
" Nona, butik ini dulu pernah menjadi sejarah bagi Tuan Rega dan Delisa, butik ini milik Delisa."
Deg. Jantung Sella seperti meloncat keluar, detakannya meningkat sekian kali lipat.
'Delisa? Bukankah itu nama istri tuan Rega yang pernah dibicarakan Yorin waktu itu?'
"Ya, ya aku tahu sekarang. Kalau memang mau pergi ketempat istimewa, kenapa aku harus ikut?" kata Sella, tapi Zen tak menjawabnya.
'Hei, bukankah mereka bisa menghabiskan waktu bersama karena sudah berpisah cukup lama? Kenapa aku harus ikut, bukankah kehadiranku justru akan membuat hubungan mereka semakin buruk? Akh, yang benar saja'
"Sekertaris Zen, boleh kah aku pulang saja?"
"Nona, anda tidak perlu melakukan apapun, anda hanya perlu berdiri di samping Tuan Rega tanpa melepaskan pegangan tangannya itu saja." kata Zen datar.
'Hei, kedatanganku akan mengganggu mereka, dulu mereka berpisah karena aku, kan?'
Merasa tidak ada yang perlu dilakukan, Sella diam melihat pemandangan di luar jendela. Pemandangan di luar sana seperti berkejaran, berlari menjauh meninggalkan mobil yang terus melaju.
Hingga kemudian mobil itu berhenti di depan sebuah restoran. Zen turun meninggalkan Sella sendiri di dalam. Tak lama setelah itu, keluar dengan Alrega disampingnya. Mereka berjalan dengan langkah lebar mendekati mobil. Alrega masuk, laki-laki itu menyeringai menatap Sella yang duduk dengan bosan di sana.
Alrega dan Sella duduk berjauhan, tapi dekat dengan jendela. Meskipun demikian Sella sempat melirik Alrega dengan mengerutkan keningnya, ia melihat penampilannya yang berubah, dengan memakai pakaian senada.
Timbul perasaan aneh dalam hatinya, merasa bila Alrega sedang menunjukkan bahwa dia adalah istrinya.
'Ini tidak mungkin, kau pasti merindukannya selama ini. Jadi kurasa tidak perlu menunjukkan siapa aku dihadapannya, kan?'
" Zen, cepat. Jangan sampai terlambat," kata Alrega, begitu Zen sudah duduk dan siap menjalankan kendaraan mereka.
"Baik, tuan. Anda tidak akan terlambat," jawab Zen tenang.
__ADS_1
"Hais, sudah tidak sabar rupanya'
Sampai disebuah bangunan yang cukup besar yang dihiasi dengan balon warna-warni dan karangan bunga ucapan selamat, bertebaran di mana-mana. Suasana cukup ramai, beberapa foto para model berpakaian rancangan dari pemilik butik juga terpampang di setiap sudut ruangan.
Beberapa orang berbaris rapi menyambut kedatangan tamu dan kehebohan pun terjadi ketika Alrega muncul di sana. Mereka bertiga disambut dengan antusias. Pemilik butik Delisa menghampiri mereka dengan langkah cepat.
Penampilannya menampakkan keanggunan yang sempurna, dia adalah bintangnya.
Delisa terlihat sangat menyolok dengan pakaian yang ia rancang secara khusus dengan model yang tidak biasa, sangat unik dan warna sesuai tema acara hari itu, glamor dan menarik. Rambutnya di sanggul rapi ke belakang dihias mahkota kecil di atasnya, ia tampil beda, cantik dengan kecantikan yang sempurna di mata kebanyakan orang.
Delisa menghampiri Alrega dan menggamit tangannya, seraya berkata,
"Kau datang, Rega? Aku sangat merindukanmu."
Alrega diam, ia justru melirik Sella disampingnya. Ia ingin melihat seperti apa reaksinya. Namun yang ia lihat adalah wajah yang biasa saja. Sella tampak tenang bahkan ia tidak melirik pada Delisa atau dirinya sama sekali. Sella tampak membuang muka, ia memandang ke arah keramaian, ke arah orang-orang yang melihat Alrega dengan penuh kekaguman.
'Memang menurut kalian tuan Rega itu seperti apa, si? Dia memang tampan, tapi kalau kalian tahu orang seperti apa dia, maka kalian tidak akan sesenang itu bisa melihatnya dari dekat'
Sella merasakan genggaman di tangan kanan yang semakin erat, Alrega menggenggam tangannya sejak turun dari mobil dan sampai saat ini belum melepaskannya. Sella mendongak kearah Alrega, dimana laki-laki itu juga tengah memandang dirinya. Sellla mengendikkan kedua bahunya dan ia menatap Delisa dengan tatapan yang aneh. Ia tersenyum ketika Delisa menoleh ke arahnya dan menyapanya dengan berkata,
"Siapa dia, Rega. Kenapa kau tidak memperkenalkannya padaku?"
Delisa memandang Sella dengan tenang, di matanya tidak menunjukkan gejala apapun. Sekuat hati ia mencoba menahan rasa penasarannya dan juga rasa cemburu yang begitu besar, bahkan bila perasaan aslinya ia tunjukkan, maka tempat itu akan meledak dan ledakannya bisa meluluhkan banguanan, hingga tidak bersisa.
"Kenalkan dia adalah Sella. Sella, ini Delisa dia temanku," kata Alrega tenang tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya, tetapi terlihat rahangnya mengeras, itu berarti dia sedang menggeretakkan giginya.
" Hai senang bertemu denganmu," kata Sella ramah dan Delisa hanya tersenyum tipis.
" Rega Bisakah kau jelaskan siapa dia? Apakah dia orang yang istimewa bagimu?" kata Delisa sambil berbisik di telinga Alrega dan tangannya masih memegang tangan pria yang masih dicintainya itu.
Sella melihat hal itu, Alrega memegang tangannya juga tangan Delisa. Timbul pertanyaan aneh dalam hati Sella.
'Apa maksudmu Tuan, kau menyambut tangannya tapi tidak melepaskan tanganku. Apakah semua laki-laki begitu serakah?'
Tiba-tiba ada seorang yang melewati Sela kemudian menyenggol bahunya, tanpa sengaja. Sella reflek melepaskan genggaman Alrega dan mengusap tangannya yang terkena sentuhan orang yang lewat itu.
"Maaf," kata orang itu sambil menundukkan kepalanya pada Sela, karena ia merasa bersalah sudah tidak berhati-hati ketika berjalan.
Saat wanita itu mendongak dan bisa melihat Sella, wanita itu itu membulatkan matanya secara sempurna bahkan mulutnya pun terbuka.
"Tidak masalah," jawab Sella tenang, meski perasaannya semakin gelisah demi melihat wanita yang telah menabraknya.
'Apa aku tidak salah lihat Kenapa kedua wanita ini sangat mirip dengan perempuan yang sudah bekerja sama denganku dua tahun yang lalu?'
Sedetik kemudian wanita itu segera menguasai dirinya kembali dan pergi meninggalkan Sella begitu saja. Penampilan wanita itu tidak pernah berubah setiap tahunnya, selalu begitu-begitu saja.
Wanita berambut pendek dan berkaca mata tebal itu berbalik, setelah berada cukup jauh dari sana. Ia mengamati gadis yang ada di samping Alrega, keningnya berkerut sambil menduga-duga. Bahwa memang benar gadis itu adalah Sella wanita yang pernah bekerja sama dengannya untuk memisahkan Alrega dari Delisa dua tahun yang lalu.
Ia teringat kembali tentang perjanjiannya dengan Alrega bahwa ia akan menjaga Delisa agar tidak mengganggu pernikahan mereka. Ternyata benar yang dinikahi Rega adalah wanita yang sudah menipunya di pestanya sendiri. Pikiran buruknya mulai mencerna sesuatu bahwa Alrega sengaja, menikahi wanita itu untuk membalaskan sakit hatinya pada Delisa.
'Ini sepertinya drama yang bagus, ahk.. kurasa Delisa akan dendam pada wanita itu kalau bener, aku merasa kasihan padanya, ia tidak tahu wanita seperti apa Delisa'
Acara pembukaan pun dimulai, Delisa sebagai pemilik butik memberikan sambutan. Ia mengatakan sesuatu, bahwa butik ini sangat berarti baginya dan dia akan meneruskan kembali bisnisnya, demi perjuangan cintanya.
Ucapan yang secara eksplisit mengandung isyarat bahwa di tempat itulah sebuah kenangan yang berarti baginya sudah tercipta, dan ia akan kembali memperjuangkan apa yang diinginkannya yaitu cinta Alrega.
Semua orang dipersilahkan untuk melihat-lihat koleksinya, bahkan penjualan pun dimulai saat itu juga. Diskon lima puluh persen untuk pakaian biasa, serta koleksi lama dan diskon dua puluh lima persen untuk pakaian yang spesial. Para pengunjung serta penggemar rancangan yang dulu pernah menjadi langganan Delisa, bersemangat untuk membeli dan memilikinya.
Di tengah-tengah acara penjualan yang di diadakan, Delisa dengan terus terang mengatakan kepada semua orang bahwa ia akan memberikan rancangan jas spesialnya kepada orang yang spesial juga baginya.
Delisa membawa Alrega berdiri di atas panggung dan menyerahkan jas warna biru navy kepadanya.
Semua orang bertepuk tangan dan menyambut mereka dengan antusias. Mereka berkomentar bahwa Delisa dan Alrega adalah pasangan yang serasi sejak dulu. Para tamu undangan yang hadir berharap bahwa hubungan mereka yang pernah kandas bisa kembali bersatu.
Sebagian dari para yang hadir itu menyalahkan orang yang pernah merusak hubungan mereka berdua. Tentu saja semua hal ini didengar oleh Sella dan Ia hanya tersenyum tipis, ia benar-benar memaklumi bahwa sepasang kekasih sudah kembali. Dan ia hanyalah sebagai pengganggu mereka saja.
'Seharusnya mereka lupa dengan kejadian itu. Hei, sudah lama sekali, bukan? Apakah kalian tahu bahwa orang yang kalian maksud adalah aku?'
Sella pergi ke area lain yang tidak banyak dilihat orang. Ia hanya melihat adegan berjabat tangan dan cipika-cipiki yang dilakukan oleh Delisa dan Alrega di atas panggung.
"Davi! Kau disini?" Sebuah suara mengagetkan Sella. Ia masih melihat-lihat koleksi baju pengantin dalam lemari kaca.
Seketika Sella menoleh dan terkejut demi melihat siapa yang ada dihadapannya.
Bersambung
__ADS_1