Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 86. Sebuah Lukisan


__ADS_3

Yorin menoleh ke belakang, dari arah suara itu berasal. Nenek Marla yang bicara dan menjawab pertanyaannya, sedangkan Delisa masih tersenyum misterius.


Ketika Marla sudah berada di samping Delisa, ia menggamit tangannya dan mengajaknya pergi dari aula. Ia ingin duduk di dekat kolam renang yang tidak ramai, tapi tetap bisa melihat suasana pesta.


Wanita tua itu berkata pada Yorin, ketika berjalan melewatinya, "Biar Deli menemaniku saja. Dia tidak akan mengganggumu."


Yorin mengedikkan bahu, melihat punggung Marla dan Delisa yang menjauh. Ia kembali mendekati teman-temannya dan menyapa semua tamu dengan ramah. Sebagian di antara mereka, ada yang menikmati hidangan, berkerumun sambil berbincang dan ada pula di an asyik bernyanyi riang.


Mereka menggunakan fasilitas home teatre yang sangat besar. Seolah-olah mereka bernyanyi di atas panggung dan dilihat oleh ribuan penonton.


Zania melihat pesta keponakannya itu dengan mata yang berbinar, menunjukkan kebahagiaan. Ia juga ingin bernyanyi, seperti dulu. Ia sering berkaraoke di dalam rumah karena itulah kesukaannya.


"Ibu, ingin turun?" Sella bertanya sambil menatap ke wajah Zania, mencoba menelisik keinginan yang sebenarnya.


Ia tidak ingin menjadi orang yang menahan hak orang lain, padahal ia tidak berhak melakukannya pada Zania. Ibu mertuanya itu juga berhak untuk meramaikan pesta.


Dia bukan orang yang egois, hingga menahan hak orang lain, tapi ingin orang lain memenuhi haknya.


Zania mengangguk pelan, tapi Rehandy menggelengkan kepalanya. Laki-laki paruh baya itu membulatkan matanya pada Sella.


"Sese, sebaiknya jangan," kata Rehandi sambil memegang tangan istrinya.


"Baiklah, aku tidak apa-apa." Zania menyahut sambil menepuk-nepuk tangan suaminya.


Sella tersenyum masam, melihat raut wajah Zania yang tampak kecewa. Disaat yang bersamaan, telepon genggam Sella berdering.


"Ibu, Ayah, aku permisi." Sella meminta izin pada mertuanya. Rehandy dan Zania hanya mengangguk.


Sella menerima panggilan setelah melihat ID pada layar ponselnya.


"Halo, Rejan. Apa kau sudah datang?" Sella berkata sambil melangkah keluar dari kamar Zania. Rejan menghubungi untuk sekedar mengabarkan kehadirannya pada Sella.


"Iya, Kak," suara Rejan dari balik telepon. "Aku ada di halaman parkir sekarang, Kakak di mana?"


"Apa kau membawa lukisanmu juga?"


"Iya, aku membawanya."


"Tunggu di sana sebentar." Setelah berkata demikian, Sella mengakhiri panggilan telepon, lalu mendatangi keberadaan Rejan menggunakan lift.

__ADS_1


Sesampainya di halaman parkir, Sella tersenyum melihat adiknya yang tampak sangat tampan dan modis. Ia memakai stelan kaos warna hitam dibalut jas abu-abu yang sewarna dengan celananya. Itu pakaian bermerk yang pernah dihadiahkan oleh Alrega kepadanya. Rejan pasti terlihat lebih keren, saat mengendarai motor besar yang juga pemberian dari kakak iparnya.


"Hai, Kak!" Sapa Rejan sambil memeluk kakaknya. Sella membalas dengan hangat.


"Ini, lukisannya?" Sella bertanya setelah melepaskan pelukannya dan ia menyentuh lukisan yang masih terbungkus kertas jagung dengan rapi.


Rejan pandai melukis sejak ia masih kecil, dan ketrampilannya selalu ia kembangkan setiap ada kesempatan melakukan hobinya itu. Sudah banyak lukisan yang ia buat, tapi hanya menjadi koleksi pribadi dan disimpan rapi di kamarnya. Baru kali ini ia melukis untuk orang lain.


Rejan mengangguk, lalu berkata, "Kalau Kakak mau melihatnya, tunggu sampai Nona Yoorin membuka bungkusnya."


"Tentu. Oh ya, gimana dengan ibu, apa dia baik-baik saja, waktu kau tinggalkan dia ke sini?"


"Baik, ibu senang Kakak juga baik dengan keluarga Tuan Rega, tidak benci lagi dengan lelaki."


Mendengar ucapan Rejan, Sella tertawa kecil dan mengangguk pelan. Ia masih memiliki sedikit rasa takut atau benci itu, tapi pada Alrega ia merasakan sebaliknya. Ia mulai menyukai, bahkan merindukannya.


Ketika semalam ia mendapatkan pesan dari Alrega, yang menanyakan keadaannya, Sella sangat girang. Sampai-sampai ia tersenyum sendirian dan membalas pesannya dengan segera.


"Ayo! Temui Yorin sekarang," kata Sella.


"Kenapa Kakak sendirian, di mana Kakak Ipar?" Tanya Rejan sambil berjalan menuju aula pesta.


Mereka berjalan beriringan sambil bercakap-cakap. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan semua sikap dan tindakan Sella, sambil mencibirnya. Orang ini melihat Sella dengan sebelah mata, menilainya sebagai wanita buruk yang berani memeluk pria lain, padahal suaminya tidak ada.


Saat mendengar Sella berkata, Rejan menghentikan langkahnya dan langsung menoleh pada Sella. Ia menatap Kakaknya dengan penuh curiga.


'Dia pergi, saat ulang tahun adiknya sendiri? Mungkin bagi orang seperti Tuan Rega, adiknya tidak berharga'


"Tuan Rega pergi ke mana?"


"Jangan panggil Tuan lagi, dia Kakak Iparmu."


"Aku belum terbiasa, Kak."


"Ya sudah. Kau memang plin-plan."


Rejan tertawa kecil, menanggapi ucapan kakaknya. Anak remaja itu kadang masih menyebut tuan, pada Alrega. Kini ia mengerti, setelah Sella menjelaskan tentang kepergian kakak iparnya hari ini, untuk urusan penting ke luar kota. Walaupun ia sendiri tidak tahu urusan seperti apa, yang membuat Alrega harus menginap di sana?


Setelah sampai di aula, Sella dan Rejan menemui Yorin, untuk memberikan lukisan sebagai hadiahnya. Gadis itu melihat Rejan, yang menurutnya tampan, hingga ia tersenyum lebar saat menyambutnya. Apalagi dia adalah satu-satunya pria dalam kerumunan pesta.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, Nona." Rejan berkata sambil menyalami Yorin.


Yorin mengangguk dan menerima hadiahnya, dengan semangat membuka bungkus lukisan yang dibuat khusus untuk dirinya.


"Apa, ini aku?" Tanya Yorin ketika ia melihat lukisan fotonya yang terlihat begitu cantik dan indah.


"Iya, itu Anda." Rejan mengangguk cepat.


Semua orang ikut berkerumun dan memuji hasil lukisan yang terlihat mirip sekali dengan aslinya. Itu hadiah ulang tahun yang berbeda.


"Dari mana kau mendapatkan fotoku?"


"Dari laman Facebook Anda, Nona. Maaf saya tidak meminta izin waktu melukisnya."


"Tidak masalah. Aku akan menyimpannya. Terima kasih." Yorin berkata sambil menetap lukisan itu dengan mata yang bersinar.


"Jadi, kamu salah satu pengikutku?" Kini Yorin melirik Rejan.


"Iya," jawab Rejan singkat dengan raut wajah malu-malu.


Saat mereka tengah berbincang-bincang, suasana pesta masih meriah dan ramai dengan celoteh teman-teman serta beberapa kerabat keluarga Leosan dan Haquel. Mereka melakukan kesukaan masing-masing.


Tak lama, para pelayan datang dengan membawa beberapa keranjang besar yang berisi hadiah. Yorin membagikannya untuk semua orang yang datang hari itu, satu persatu.


Sella ikut membagikan, tapi ia menghentikan kegiatannya saat melihat Zania, hadir di sana. Wanita itu berjalan ke arahnya, bersama Rehandy yang menuntunnya.


"Ibu, syukurlah." Sella senang karena Zania justru terlihat sangat bahagia. Ia merengkuh bahu Zania lembut dan memberinya sebuah tempat duduk.


Zania ingin menyaksikan pesta dari dekat. Ini adalah pesta keponakannya, yang selama dua tahun ini tidak ia rayakan bersama.


"Ayah, lihat ibu. Dia senang bukan? Jadi ayah tidak perlu khawatir lagi sekarang," kata Sella setengah berbisik pada Rehandy, mertuanya.


"Hmm ...." gumam Rehandy sambil mengangguk. Lalu pergi untuk menunaikan keperluan, ia butuh ke toilet sekarang.


Ia membiarkan Sella dan Zania duduk bersama, berada di antara para tamu lainnya. Mereka mendengarkan nyanyian dan Zania juga bernyanyi dari tempat duduknya.


Tanpa mereka sadari, seorang wanita cantik berjalan dengan anggun, mendekati aula pesta. Ia berpakaian glamor dengan tatanan rambut indah, seperti artis iklan sampo. Ia adalah Delisa, sejak mulai berjalan tidak melepaskan tatapan nanarnya dari Sella. Ia bisa berada di tengah pesta karena Nenek Marla, mengijinkannya, dengan alasan ingin menemui Zania.


Setelah sampai di antara kerumunan pesta, tiba-tiba saja Delisa merebut mik yang ada di tangan seorang penyanyi. Lalu ia berteriak dengan keras.

__ADS_1


"Kau!" Katanya sambil menunjuk Sella.


Bersambung


__ADS_2