Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 99. Harga Diri Yang Tidak Berharga


__ADS_3

Apakah ada yang menjual harga dirinya? Tentu saja tidak ada, harga diri tidak ternilai, bahkan oleh seluruh isi dunia sekalipun. Oleh karena itu para wanita yang berani menjual diri pada laki-laki hidung belang itu, dikatakan wanita tuna susila ataupun orang-orang yang tidak memiliki moral. Karena mereka sudah berani menjual harga dirinya.


Seluruh hukum yang ada di dunia ini, mengacu pada perlindungan salah satunya adalah, untuk melindungi harga diri. Bagaimana tidak, semua hukum yang ada di seluruh negeri, tujuannya untuk melindungi lima hal, yaitu nyawa, kehormatan, harta, keturunan dan ideologi. Sedangkan harga diri adalah kehormatan jiwa dan raga.


Saat itu Sella sudah berada di mobil, ia sampai di sana dengan di tuntun oleh Leana, dengan berjalan secara perlahan-lahan.


"Ingat, jangan nyalakan peringatan yang ada di mobil ataupun di ponselmu sekarang. Kau boleh mengirimkan sinyal ataupun memberi kabar pada Tuan, kalau kita sudah sampai sana oke?"


'Kenapa Anda seperti ini, Nona?'


"Baik, Nona."


Mereka berdua berbincang-bincang, setelah berada di dalam mobil dan Leana sudah menjalankannya, dengan kecepatan sedang.


Mobil itu berjalan melalui sebuah jalan yang sesuai dengan alamat, di mana rumah Delisa berada. Sella mendapatkan alamat itu dari Zola dan ia sudah memberitahukannya kepada Leana.


"Kenapa Anda tidak mau jujur dan bilang kemana kita pergi, Nona? Saya yakin Tuan tidak akan marah karena Tuan begitu mencintai Anda." Leana bicara sambil mengemudikan kendaraannya, matanya fokus menatap jalanan. Ucapannya ini sudah memecah keheningan, yang terjadi di antara mereka setelah mobil berjalan.


Sella tersenyum tipis, menanggapi ucapan Leanna, sambil menatap keluar jendela yang ia biarkan terbuka, seperti itulah kebiasaannya. Ia lebih menyukai angin membelai wajah daripada menggunakan AC di mobilnya.


Ia berbincang dengan hatinya sendiri, sambil menatap pemandangan rumah-rumah dan juga pepohonan, yang seperti berlari meninggalkannya pergi.


'Kau pikir cinta seperti apa? Apakah membiarkan orang yang dicintainya berada dalam tekanan, menganggap hubungannya sebagai hukuman dan selalu mengungkit-ungkit kesalahan, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan itu adalah cinta?'


Sella menghela napasnya pelan.


'Kalau memang demikian, maka berat sekali rasa cinta. Ya, mencintai seseorang itu seperti memiliki pekerjaan saja, kalau begitu, siapa yang berani jatuh cinta? Lebih baik mencintai ibu sendiri, dengan setulus hati, ya ... mencintai ibu, karena seorang ibu tidak pernah menuntut apapun dari anak yang dicintainya. Tidak seperti dia, mungkin baginya cinta adalah mengerjaiku, tidak lebih dari itu'


Setelah waktu berjalan beberapa lama, akhirnya sampailah mereka di sebuah jalanan yang agak lengang. Leana mengatakan bahwa di sinilah rumah itu berada dan mereka mulai mencari nomor bangunan tempat tinggal Delisa.


"Nona, Apa tidak masalah anda pergi ke sana sendirian, bagaimana kalau Nona Delisa menyakiti Anda?"


Leana berkata ketika mobil sudah berhenti tepat di sebuah rumah, yang cukup besar, memiliki gaya dan bentuk sederhana, namun eksteriornya terlihat mewah, ada beberapa kesan yang kontras di beberapa titik dari sudut rumah itu.


"Tidak perlu, kau di sini saja." Saat itu Sella sudah keluar mobil, berjalan dengan perlahan.


Sella tahu bahwa Delisa tidak ada di rumahnya. Memang inilah kesempatannya karena bila Delisa ada di sana, mungkin mereka akan bertengkar dan Delisa tidak akan mau menerima uang itu darinya.


Sela masuk seorang diri ke dalam, ia berkata pada penjaga di pintu gerbang, bahwa dia adalah teman Delisa dan dia ingin menemui Delisa atau ibunya. Ia sengaja datang karena memiliki sebuah keperluan. Para pengawal mengizinkan masuk karena melihat Sela, bukan orang yang mengancam dan tidak ada itikad buruk dalam kunjungannya, walaupun mereka belum pernah sekalipun melihat Sella sebelumnya.

__ADS_1


Begitu sampai di dalam, seorang pelayan menyambutnya dan menyuruhnya untuk duduk. Sementara menunggu, ia memberinya makanan dan minuman.


Tidak lama kemudian, muncullah seorang wanita paruh baya yang mirip dengan Delisa, ia memakai pakaian yang rapi juga terlihat sangat elegan. Wanita itu sedikit lebih tua dari Zania, tatapan mata dan gaya tubuhnya sangat tenang dan anggun, ia tersenyum manis pada Sella dan menanyakan siapa namanya.


Wanita itu duduk berhadapan dengan Sella, dengan melipat kedua kakinya.


Sella memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah teman Delisa, sudah hampir tiga tahun yang lalu atau tepatnya dua tahun lebih delapan bulan.


"Kalau kau memang sudah berteman dengan Deli selama itu, kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Kata wanita itu.


"Iya, saya memang tidak pernah datang ke rumah ini, Bibi," kata Sela, sopan.


"Nah, biasanya teman-teman Deli yang dekat dan berteman sudah lama, pasti sering datang ke rumah ini, bahkan menginap di sini, itu sudah biasa." Wanita itu hapal betul kebiasaan anak perempuannya.


"Maaf Bibi, saya teman Deli yang punya utang, saya tidak pantas bersama-sama dengan Deli, saya sibuk bekerja. Saya harus membayar hutang padanya."


"Oh jadi begitu, kamu orang yang berbeda, sebab semua teman Deli itu, suka berfoya-foya dan berbelanja, tidak suka bekerja."


"Mana mungkin, Bibi. Deli punya butik dan tentu saja ia sangat rajin bekerja selama ini."


"Ah, benar butik itu, ya? Tapi dia tidak banyak bekerja, dia cuma memberi perintah pada pegawainya saja."


"Iya, kau sangat mengerti dia. Hmm ... memang dia seperti itu, kalau dia punya kemauan, semua orang tidak bisa menolak keinginannya itu." Ibu Delisa berkata sambil tertawa.


Sella pun mengatakan apa niat dan tujuannya, bahwa ia akan membayar hutang, yang pernah ia pinjam dari Delisa waktu itu, padanya.


"Semua uang itu ada dalam kartu ini dan pin-nya adalah tanggal lahir Delisa." Sella menjelaskan, sambil menyerahkan sebuah kartu kredit yang diberikan oleh Alrega.


"Oh begitu," kata ibu Delisa, sambil melihat kartu yang ada di atas meja, ia menyentuhnya dan kemudian ia bertanya.


"Apa hutangmu banyak, sampai kau pakai kartu seperti ini untuk membayarnya?"


"Saya hanya berpikir agar lebih mudah saja, Bibi ... saya tidak mungkin membawa uang yang cukup banyak dalam tas yang sekecil ini, saya takut, tidak aman di luar sana." Sella berkata sambil menepuk tas kecilnya.


"Ahk, iya iya. Kau benar juga. Baiklah akan aku katakan nanti pada Deli. Oh iya, siapa namamu, tadi?"


Sella tersenyum lalu menjawab, "Nama saya Sella, itu nama yang gampang diingat, Bibi ... Delisa pasti ingat."


Setelah Sella berpamitan, ia pun pergi meninggalkan rumah itu dan langsung masuk ke mobil, menghenyakkan badannya ke kursi dengan kasar.

__ADS_1


"Kita akan kemana lagi, Nona?"


Sela tidak menjawab pertanyaan Leana, bahkan ia sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan Gadis itu kepadanya. Ia justru menunduk menempatkan kepalanya di atas dasbor mobil dan menangis sekencang-kencangnya.


'Ibu, harga diriku tidak akan pernah terbayar, tidak ... masa lalu juga tidak akan pernah bisa dihapus'


Sella hanya berharap, Delisa akan menerima walaupun terpaksa, dan tidak melakukan hal lainnya yang lebih buruk kepadanya.


Ia ingin hidup normal, seperti orang lainnya, bahkan ia ingin menikmati masa-masanya dulu, sebelum menikah dengan Alrega.


Itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan, walaupun ia harus bekerja keras, untuk memenuhi semua kebutuhan dan juga menjalankan usahanya, agar semua berjalan dengan baik, tetapi ia sangat senang dan bahagia.


Leana tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menenangkan Nona mudanya saja ia tidak berani. Ia hanya diam sambil menepuk-nepuk pundak Sella membiarkan ia menangis, menumpahkan segala perasaannya. Ia tidak tahu penyebabnya, karena ia juga tidak melihat peristiwa yang terjadi di pesta.


Saat kejadian di pesta itu, ia ikut berjaga bersama teman-teman penjaga lainnya. Kemudian, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik, datang terlambat. Ia masuk sambil mengeluarkan beberapa minuman dari bagasi mobilnya dan membagi-bagikannya kepada semua, termasuk dirinya.


Temannya mengatakan, itu adalah Delisa. Ia mantan istri Tuan Alrega, saat itu juga Ia baru tahu, bahwa Tuan Alrega adalah seorang duda, ketika menikahi Sella.


Waktu itu ia sempat berpikir, kenapa mantan istrinya ikut datang ke pesta itu? Satu hal yang janggal, tapi ia tidak berani memikirkannya lebih jauh.


Ia mengikuti teman-temannya, menikmati minuman itu, namun akhirnya ia tidak sadarkan diri dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Ketika ia bangun, ia sudah berada di halaman rumah besar. Sebelumnya ia ingat, ia berada di kursi dekat taman dan air mancur. Namun sekarang mereka sudah berbaring berjajar dengan teman-temannya yang lain, baru sadarkan diri juga, sama seperti dirinya.


Leana tidak tahu, bagaimana dirinya bisa berbaring di sana, secara berjajar dengan pengawal lainnya, kemungkinan besar tubuh mereka diseret atau digelindingkan begitu saja, nyatanya sekujur tubuhnya ngilu semua.


Saat itu sudah hampir tengah malam, tubuhnya kotor dan terasa sakit ketika ia bangun. Ia mulai mencoba berdiri, di saat yang bersamaan, sekretaris Zen memukul semuanya dengan tangannya sendiri, dengan pukulan yang sangat keras. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.


Leana hampir menangis dan berteriak, kalau saja ia tidak sadar, dengan siapa ia bekerja.


"Apa kalian tahu, apa kesalahan kalian, ha?!" Sekertaris Zen bertanya waktu itu, tentu saja tidak ada yang tahu. Ia pun kembali memukuli mereka satu persatu.


'Sebenarnya ada apa ini?" Leana berbisik pada teman di sampingnya, tetapi, sekali lagi tidak ada yang tahu.


Leana hanya berpikir realistis waktu itu, bahwa tidak mungkin Sekertaris Zen berbuat seperti itu, memukuli mereka, kalau tidak ada peristiwa besar yang terjadi, selama mereka tidak sadarkan diri.


Tentu saja, apa pun yang terjadi adalah kesalahan mereka, karena saat mereka terbangun tadi, hari sudah mulai gelap ....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2