
Alrega masuk ke dalam kamar, Sella yang berada dalam gendongannya yang membukakan pintu. Ia menidurkan Istrinya di tempat tidur yang besar dengan lembut. Suasana kamar itu redup, hanya sinar lampu dari luar jendela yang menerangi mereka.
Setelah itu Alrega mengunci pintu, menyalahkan lampu dan membuka kancing kemejanya satu persatu. Sementara Sella menegakkan separuh badan, menopang dengan salah satu sikunya, dalam posisi miring.
Wanita itu berkata sambil menjentikkan jari telunjuk pada Alrega, sebagai isyarat agar pria itu mendekat. Melihat tingkah Sella yang seperti wanita berkuasa membuatnya tersenyum miring di sudut bibirnya, lalu memalingkan wajahnya seraya melemparkan kemeja yang sudah berhasil dibuka.
Alrega mendekati Sella dengan langkah tenang, lalu badannya membungkuk di sisi ranjang, hingga wajah mereka saling berdekatan, ia bertumpu dengan kedua tangan yang diletakkan di atas tempat tidur.
"Apa yang akan kau lakukan, malam berkabung belum berakhir," tanya Sella sambil menatap lekat pria yang tengah menyapu wajahnya dengan tatapan penuh cinta dan rasa ingin.
"Menurutmu, apa aku harus menahannya?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
'Ahk, aku tidak bisa!'
Tanpa menunggu Sella bicara lagi, ia duduk di sisi ranjang, tangannya terulur untuk menahan kepala Sella lalu mengulum bibirnya dengan lembut. Sella membiarkannya sejenak, lalu memundurkan kepala dan menghentikan ciumannya. Ia duduk di hadapan Alrega dan memegang dagunya, sambil berkata, "apa kau tidak bisa bersabar?"
Alrega menggeleng cepat, tapi pegangan tangan Sella tidak terlepas.
'Ini pelarianku agar tidak terlalu sedih'
"Bagaimana kalau kita ke hotel besok, setelah semua pulang. Anggap saja hiburan setelah kita berkabung."
Alrega terdiam mendengar ucapan Sella. Ia sangat menginginkannya untuk saat ini, ia hanya berharap Tuhan mengampuni karena hanya dirinya yang melakukan percintaan di saat makasih dalam suasana dukacita, atas kematian Marla. Ia tidak menyangka bahwa umur wanita itu tidak panjang seperti keinginannya.
Entahlah, Alrega hanya menghela nafas berat dan menggeleng pelan. Ia menatap Sella dengan tangan penuh samba.
'Ya Tuhan, aku tidak tega melihatnya seperti ini, dulu dia pernah mengurung diri. Ahk ... apa tidak apa-apa melakukannya? Atau sebaiknya aku mengalihkan perhatiannya saja?'
"Sayang, bolehkah aku bertanya?"
"Apa?" Alrega bertanya kembali dengan malas, tapi ia tidak bisa mengatakan tidak pada perempuan ini. Lalu tidur demi sisi Sella. Ia mencoba meredam gejolak membara dalam dirinya yang sudah sangat ingin untuk di tuntaskan, saat itu juga.
Sella melihat Alrega yang tidur tengkurap dengan bertelanjang dada, nafasnya memburu, terlihat dari gerakan dipunggungnya yang turun naik. Tangannya terangkat, ingin sekali membelai punggung itu, atau memijat
"Tentang janji neneka ... aku pena--" ucapan Sella terputus.
"Nenek memilihmu, itulah janjinya. Kalau kau bisa membuktikan bahwa kau mampu."
"Maksudnya?"
"Nenek, dulu berjanji dia akan memberikan kalung berharganya pada wanita, yang dia nilai layak menjadi nyonya besar di kaki langit."
__ADS_1
Sella diam, ia terharu mendengar kata-kata pria itu tentang neneknya, tapi kenapa bukan Zania, ibu mertuanya, apakah karena dia gila? Meskipun, ada rasa malu kalau dirinya yang mendapatkan kalung berharga itu dan bukannya Zania, ia tetap tidak bisa menolaknya.
"Lalu, bagaimana dengan Delisa dan Zola, apa kakek akan memenjarakan mereka?"
"Tidak. Zen yang akan mengurusnya."
"Lalu, benarkah kau akan menuruti kemauan Ibu yang ingin bertemu Ayah?"
"Iya. Zen yang akan mengurusnya."
'Hais. Kenapa harus selalu dia? Ya ... dia memang asisitennya, dan satu yang tidak bisa diurus Zen adalah kemauan yang satu ini, hanya aku yang bisa mengurusnya!'
Sella tidak menyadari bila tangannya kini sudah berada di atas punggung Alrega dan bergerak berputar dengan lembut di sana, menekan sedikit lebih kuat, ke atas dan ke bawah, lalu memutar kembali lagi. Itu pijatan lembut yang justru bisa meningkatkan gelora laki-laki.
Ia menelan ludahnya berulang kali. Terjerat daya pikat dari punggung yang bidang dengan otot yang ramping. Tergiur untuk mengusap bahu yang kokoh dan kuat itu. Semakin ke bawah bentuk punggungnya semakin sempit, lalu menonjol sempurna bagian bokongnya, yang terkesan seksi.
Pria itu tiba-tiba berbalik badan dan menyimpan satu tangan di bawah kepalanya sebagai bantal, memperlihatkan ketiaknya yang bersih. Ia menatap Sella dengan tatapan mata yang masih sama, bahkan semakin berkabut.
"Kemarilah," kata Alrega dengan suara pelan sambil menjentikkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar Sella mendekat padanya. Perempuan itu menurut, berbaring di sisi Alrega dan menyimpan kepala di atas bahu yang terbuka ketiaknya.
Alrega meraih tangan Sella dan meletakkannya di atas dadanya, lalu berkata dengan lembut.
"Sentuh saja tubuhku, bagian manapun yang kamu suka ...." Sambil menggerakkan tangan Sella meraba dada bidangnya.
"Apa tidak masalah kalau kita melakukannya?" Sella mengeluarkan suaranya yang terdengar gemetar.
Mendengar ucapan itu, Alrega mengangkat tangan Sella kebibirnya dan mencium berulang kali, lalu mengusap seluruh wajahnya dengan penuh kelembutan. Pria itu tidak menjawab, tapi perbuatannya seolah mengatakan, 'biar aku yang bertanggung jawab, aku yang menginginkannya jadi aku pastikan kau akan baik-baik saja'
Alrega masih menggenggam tangan Sella dan mengusapnya dengan lembut, tangan itu kasar karena dulu sering digunakan untuk bekerja keras, saat anak-anak seusianya melumuri tangan mereka dengan krim penghalus kulit, Sella pernah memakai tangannya untuk mencetak batu bata.
Sella tidak bisa menolak ketika Alrega bergerak, memposisikan diri di atas tubuh Sella. Membuka kain pakaian yang membungkus tubuh Sella satu-persatu dan tangannya mulai menari-nari liar diseluruh permukaan kulitnya. Lalu berakhir di dada, tempat yang paling disukainya.
"Al ...." Sella berusaha menahan aktifitas Alrega selanjutnya, namun bibir laki-laki itu sudah membungkam mulutnya, menekan kuat seolah ingin menjadikannya sebagai makanan terlezat di dunia yang hanya bisa dinikmati olehnya.
Saat melakukan hubungan itu, Alrega memberikan seluruh perasaannya pada Sella. Ia menjadikan wanita itu sebagai manusia paling berharga bagi dirinya. Bagaimana tidak, ia menyentuh seluruh bagian tubuh Sella dengan bibirnya karena tubuh wanita itu yang akan ia miliki selamanya. Tidak ada yang lain dan tidak akan pernah.
Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan bila Sella mengkhianatinya, seperti yang dilakukan Delisa padanya. Mungkin ia akan melenyapkan wanita ini juga. Tidak ... Sella adalah miliknya sendiri, semua yang sudah ia sentuh dan ditandai, tidak akan bisa disentuh dan dimiliki oleh orang lain.
Alrega memuaskan wanita berwajah manis yang berada dalam dekapannya dengan caranya. Ia tidak ingin egois dalam melakukannya, karena tujuan akhirnya adalah membahagiakan wanitanya. Melalui hal yang disukainya juga, yaitu bermain dengan ceruk diantara dua kakinya.
Sella tidak bisa menahan suaranya yang terdengar mendesah ketika Alrega membuatnya terbuai, bahkan dirinyalah yang lebih dahulu mencapai puncak, hingga berulang-ulang. Setelah itu barulah Alrega yang memuaskan dirinya sendiri, berulang kali pula.
***
__ADS_1
Ketika Sella terbangun keesokan harinya, ia berusaha memulihkan ingatan, tentang apa yang mereka lakukan pada malam sebelumnya. Bagaimana Alrega yang saat ini tengah memeluknya, bisa membuatnya serasa terbang ke nirwana. Ia ingin segera beringsut dari tempat tidur, ketika Alrega memeluknya lebih erat lagi, seolah tidak mengizinkannya beranjak walau satu senti.
'Ahk ... ini memalukan sekali. Kenapa justru aku yang terlihat berminat padanya?'
"Al sayang, lepaskan aku mau ke kamar mandi." Sella berkata dengan lembut, sambil mengusap wajah Alrega yang masih terpejam.
Alrega membuka matanya dan melihat Sella dengan kening yang berkerut.
"Apa kau baik-baik saja?" Kata Alrega sambil duduk. Sella mengangguk. Sebelum Sella sempat berdiri, ia beranjak dari tempat tidur dengan cepat dan berjalan untuk mengambil piyama handuk dan kembali lagi.
"Ayo! Biar aku gendong kalau kau tidak kuat." ia berkata sambil melilitkan handuk ke tubuh Sella.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Apa kau tidak sakit, atau pegal-pegal?" Alrega bertanya dengan gusar.
'Aki bukan pengantin baru, masa mau sakit terus si?'
"Tidak."
"Aku takut kamu tidak bisa berjalan."
Sella tergelak kecil, melihat tingkah Alrega yang terlihat begitu mencemaskan dirinya.
"Aku bisa, sudahlah ... aku bukan pengantin baru lagi."
"Kenapa, apa waktu itu kau kesakitan?"
"Iya "
"Maaf ...." Alrega berkata seperti anak kecil yang ketakutan melihat hantu atau khawatir ditinggalkan oleh ayahnya. Pemandangan yang sangat lucu bagi Sella.
Saat malam pertama mereka melakukan hubungan itu, Alrega tidak melakukan banyak hal, membuatnya sangat merasa bersalah. Sedangkan Sella juga tidak mengatakan apa pun karena ia masih canggung.
Tidak seperti sekarang, Alrega menunjukkan rasa khawatirnya, isyarat yang sangat jelas, mengatakan bahwa Sella adalah kelemahan terbesarnya. Tidak akan ada yang melihat bahwa lelaki kuat pewaris tiga grup di Jinshe itu, bisa terlihat begitu rapuh di hadapan Sella, ia tidak bisa melihat Sella terluka, sediih atau sakit karena dirinya.
Akhirnya, Sella tidak bisa menolak saat ia kembali digendong Alrega ke kamar mandi.
"Al sayang, kapan ibu akan bertemu ayah, apa aku boleh ikut?" Sella bertanya ketika ia sudah menyelesaikan keperluannya.
"Apa itu penting bagimu?"
Bersambung
__ADS_1