
Selesai rapat hari itu, Alrega menuju Daville, gedung kembar nan megah yang belum selesai direnovasi. Bangunan itu dirancang mirip dengan sebuah gedung yang sangat terkenal di Negeri Jiran. Sebuah desain yang sama, disetiap konsep yang khas milik keluarga Leosan.
Begitu Alrega turun dari mobilnya, ia berpapasan dengan Hanza, seorang teman yang menjadi pemilik gedung itu sebelumnya.
"Kebetulan sekali kau di sini," kata Hanza.
Ia sudah berada di hadapan Alrega, yang belum beranjak dari samping mobilnya, sementara Zen berdiri di belakangnya.
"Bagiku bukan kebetulan," jawab Alrega sambil memakai kacamata hitam.
Ia berdiri tegak dihadapan Hanza sambil menyelipkan tangannya di saku celana. Ia sudah menduga, Hanza akan ada di sana hari ini, untuk melihat renovasi interior gedung, di mana monumen kecil tentang ayahnya akan dibangun.
"Oh, begitu?"
"Jadi, apa kau mencariku, Han?"
"Aku hanya mau mengatakan, surat kelengkapan gedung yang kau cari, ternyata tidak hilang. Kau bisa mengambilnya kalau kau mau."
"Aku tahu."
"Kau hanya perlu berhati-hati. Orang ini tidak mudah ditaklukkan."
"Aku tahu."
Hanza tertawa mendengar ucapan dan sikap Alrega, yang tanpa ekspresi, bahkan tidak bergerak dari tempatnya. Seolah ia akan tetap seperti itu kecuali kiamat, atau bumi terbelah menjadi dua.
"Kau pasti sudah tahu, di mana orang itu selama ini bersembunyi?"
'Aku tahu, Han. Semua ini rencanamu, kan?'
"Ya, aku tahu. Aku akan ke sana secepatnya." Alrega berkata tegas sambil mengangkat kedua alisnya.
"Oh, baguslah." Hanza mengangguk tapi bibirnya mencibir.
"Aku hanya heran, kenapa surat sepenting itu bisa hilang begitu saja?"
"Aku tidak tahu kalau surat itu penting, kau bahkan tidak bisa meresmikan gedungmu tanpa surat itu."
"Ah, tidak masalah, sekarang aku sudah tahu dimana surat itu."
"Pasti Zen yang memberitahu kan, siapa lagi?"
Mendengar perkataan Hanza yang menyepelekan dirinya, Alrega tersenyum miring, sambil melempar pandangan ke samping. Ia mendekati Hanza satu langkah.
"Aku tetap bisa melakukannya sendiri, tanpa Zen, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Alrega berkata sambil menepuk bahu Hanza.
Itu cara yang dilakukannya untuk membalik keadaan, hingga Hanza justru merasa Alregalah yang menyepelekannya.
"Cih! Aku tidak khawatir sama sekali padamu!"
"Zen sudah punya pacar, dia telalu sibuk kalau harus mengurusku."
"Hah, aku tidak percaya kalau dia tidak mengurusmu."
"Kepercayaanmu tidak penting bagiku."
__ADS_1
"Haha ...." Hanza kembali tertawa mendengar ujaran Alrega, seperti menertawakan dirinya sendiri. Gaya khas Alrega dari dulu tidak berubah. Sebagian orang akan memandang dirinya sombong, sebagian lagi menilai kepribadiannya kuat.
Setelah berhenti tertawa, Hanza mengalihkan fokusnya pada sekertaris pribadi Alrega, ia berteriak, "Zen!" Sambil melangkah mendekati Zen.
Ia lalu berkata, "Pesanku masih sama, buatlah perusahaanmu sendiri." Ia berbicara setengah berbisik dekat kepala Zen. Walaupun ia seolah berbisik, Alrega tetap bisa mendengarnya.
"Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengurusnya, dia bukan bayi!" Kali ini, Hanza bicara cukup keras, ia berusaha menyindir Alrega.
Zen beringsut, meraih kerah kemeja Hanza secara cepat dan kuat, membalikkan tubuhnya hingga menempel pada badan mobil yang ada di belakangnya. Ia menekan tubuh Hanza dengan tangan yang berada di kerah bajunya.
Hanza menahan tangan Zen dengan kuat pula agar lehernya tidak tertindas oleh cengkraman tangan kekar Zen padanya.
"Dengar ...." Zen berkata dengan suara rendah.
Wajahnya dekat dengan wajah Hanza, disertai tatapan tajam setajam scapel dokter bedah di meja operasi.
"Tuan Rega tidak pernah memintaku untuk jadi pengawalnya, sekali lagi kau mengatakan Tuan, bayi ... aku akan membunuhmu saat itu juga, Han!" Setelah berkata, Zen melepaskan dengan kasar cengkraman tangannya dari kerah baju Hanza.
Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangannya dan kembali berkata, "Kau kuampuni, kali ini. Tapi lain kali, aku tidak akan sungkan lagi!"
Hanza tertawa keras, sambil merapikan kembali kerah bajunya, dengan posisi tubuh masih bersandar di mobil.
Setelah berhenti tertawa, ia berkata, "Kenapa, apa kau takut, ha? Aku tidak menyangka kalau kau juga berubah menjadi pengecut!"
"Kurang ajar!" Kata Zen, lalu ...
Buk!
Pukulan keras dari kepalan tangan Zen mengenai rahang kiri Hanza dengan telak. Hanza melotot menyadari dirinya mendapat pukulan yang tiba-tiba, lalu ....
Buk!
Hanza kini mencengkram kerah jas sekertaris pribadi Alrega itu penuh emosi, menariknya hingga mendekati tubuhnya, menatap Zen tajam dan berkata, dengan suara rendah penuh tekanan.
"Aku bisa membunuhmu, sebelum kau bisa membunuhku, ingat itu, Zen!"
Zen hanya menahan tangan Hanza agar tidak terlalu keras mencengkram kerah jasnya. Biar bagaimanapun mereka adalah teman. Ia hanya menyeringai sambil menyipitkan matanya.
"Aku tunggu sampai hari itu tiba." Zen berkata sambil menepuk-nepuk tangan Hanza, lalu menarik tangan itu dengan keras hingga lepas dari lehernya.
"Kami harap, Anda puas melihat renovasi yang kami lakukan, Tuan Han."
Saat Zen bicara, Hanza sudah melepaskan cengkraman tangannya dan merapikan kembali pakaiannya. Lalu menyeringai dan berkata.
"Kalian hanya melakukan hal kecil, tapi menganggap kalian sudah merubah dunia!"
"Kau ...!" Kata Zen, dengan posisi badannya bersiap hendak kembali melancarkan serangannya. Satu tangan mendorong tubuh Hanza dan satu tangan terkepal diudara.
Hanza benar-benar membuat mereka kesal. Ia sama sekali tidak menghargai orang lain, tanda ia tidak bisa menghargai dirinya sendiri.
Alrega sudah berusaha merenovasi gedung sesuai keinginan Hanza, walau ia bukan lagi pemiliknya. Namun apa yang dikatakan Hanza, sangat tidak pantas diucapkan di hadapan Alrega, orang yang sudah memenuhi janjinya.
"Zen. Cukup!" Alrega berteriak keras ketika ia melihat Zen bersikap demikian. "Jangan kotori tanganmu untuk menghancurkan orang seperti dia."
Alrega mendekati Zen, menepuk bahu dan membantu merapikan jasnya, sambil berkata, "Dia hanya cemburu karena ada orang hebat seperti dirimu, yang mengurusku. Biarkan saja dia hancur sendiri karena tidak ada satupun orang, yang mau mengurusnya."
__ADS_1
Tentu saja ucapan itu di dengar jelas, oleh orang yang dimaksud Alrega. Hanza hanya mendengus, sambil mengusap darah yang ada di sudut bibir dengan punggung tangannya. Menatap kepergian dua manusia berjas hitam itu, dengan tatapan kesal.
"Ayo!" Alrega melangkah seraya melirik Hanza yang masih menatapnya, banyak emosi teekumpul di sana. Laki-laki itu entah mengapa membencinya, sejak hadirnya Sella di antara mereka.
"Baik, Tuan." Zen menjawab, sambil berjalan di belakang Alrega, menuju gedung yang tengah di renovasi.
Ia tahu, Hanza bersikap seperti itu karena diam-diam pria itu menaruh hati pada Sella, yang ditemuinya secara tak sengaja.
Hanza menyukai Sella sejak pertama kali bertemu dengannya. Namun ia putus asa setelah tahu gadis yang disukainya, ternyata sudah menikah dengan Alrega.
Dulu, ketika ia tahu bahwa Sella tidak menyukai Alrega, ia merasa punya kesempatan untuk mendekati dan mendapatkannya. Namun saat terakhir kali mereka bertemu, membuat Hanza menilainya berbeda. Alrega tampak sangat mencintainya dan tidak akan mudah melepaskan Sella, bahkan sampai akhir hayatnya.
***
Alrega segera memasuki rumah setibanya dari kantor, dan mendapatinya dalam keadaan sepi, ia bahkan hanya disambut Pak Sim sendirian. Tidak ada Sella yang biasanya menyambut dirinya dengan senyum sejuta wattnya. Senyum khas yang beberapa hari terakhir mulai dirindukannya.
"Kemana semua orang?" tanya Alrega pada Pak Sim setelah ia selesai mengganti jas dan sepatunya.
"Nona muda, Nyonya Zania, Tuan dan Nyonya Besar, semua ada di taman belakang, Tuan."
"Sedang apa mereka di sana?"
"Nona yang mengajak semua orang menengok Kimilea dan Koroleon, Tuan."
"Siapa mereka?"
"Anggota baru keluarga kita, apa Tuan Muda lupa?"
"Anggota baru, apa singa kakek punya bayi?"
'Ya, wajar kalau Anda lupa, ini hal yang tidak penting kan, Tuan?'
"Benar Tuan. Mungkin sebentar lagi akan ada bayi juga di rumah ini."
"Hmm ... Jangan percaya tahayul seperti itu."
'Saya berharap tahayul itu benar, ck!'
Saat berbincang-bincang, dua orang itu sudah berjalan menyusuri koridor, yang memisahkan antara dapur dan ruang penatu, lalu melewati taman, tempat yang biasa mereka pakai untuk acara kumpul keluarga. Mereka terus berjalan menuju halaman belakang, di mana kebun binatang kecil milik keluarga berada.
'Jadi, ada bayi binatang baru, dan dia menyukainya. Awas dia kalau lebih menyukai binatang itu dari pada aku'
Sesampainya di tempat Singa besar milik keluarga Leosan itu berada, Alrega menjadi cemberut. Ia melihat Sella yang memeluk, membelai seekor singa kecil dan sibuk menciuminya sehingga tidak melihat kedatangannya.
Tiba-tiba Alrega menarik pangkal lengan Sella dan membawanya menjauh dari sana. Ia mengambil anak singa dari dalam pelukannya dan memberikan singa itu pada pawangnya, yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Apa kau menyukai anak singa itu?!"
"Iya. Tentu saja," jawab Sella sambil tertawa kecil.
Ia pikir pertanyaan Alrega sangat lucu. Untuk apa mempertanyakan sesuatu yang memang menyenangkan bagi kebanyakan orang? Tunggu, bisa jadi pria itu tidak menyukai hal imut dan menggemaskan seperti anak-anak.
"Itu, jawaban yang salah, Nona ...."
"Apanya yang salah, tapi kenapa harus salah?"
__ADS_1
Bersambung