
Sella dan Delisa duduk berhadap-hadapan, mereka seperti orang yang sedang membicarakan masalah bisnis, dan sangat penting, bahkan sesuatu yang menyangkut nyawa manusia. Mereka saling bertukar tatapan serius, dan mengesampingkan makanan lezat yang ada di hadapan mereka.
"Sekarang kita sudah berdua, apa yang ingin kau bicarakan? Kata Sella, mencoba akrab dengan Delisa.
Delisa tersenyum miring dengan tingkah Sella yang ia anggap meremehkannya.
"Apa kau mencintai Alrega?" Delisa bertanya langsung pada inti pembicaraan, yang ingin Ia ketahui tentang perasaan Sella pada ada Alrega.
"Aku istrinya, tentu saja aku mencintainya," jawab Sella tenang.
"Apa kau mengenalku?" tanya Delisa.
'Kau mencoba menjebakku dengan pertanyaanmu, maka aku juga akan menjebakmu, dengan pertanyaanku. Kau pikir aku mudah terpedaya? Tidak akan. tuan Al adalah suamiku'
"Kau Delisa, siapa lagi? Atau mungkin kau punya dua wajah yang kau sembunyikan, dan semua orang tidak tahu?"
'Sialan! Apa dia mencoba menjebakku. Tidak mungkin dia ingat aku, sebagai orang yang membayarnya, kan?'
"Aku adalah istri Alrega yang dulu sangat dia cintai _ _ " ucapan Delisa terputus.
"Lalu apa artinya sekarang?" Sella menyela ucapannya.
'Tidak penting siapa dirimu dimasa lalu, yang penting adalah siapa dirimu dimasa sekarang, dan siapa kita di masa yang akan datang'
"Sella, kau perlu tahu, Alrega adalah laki-laki setia, hatinya tidak mudah berpaling dari wanita yang dicintainyaa. Aku yakin dia masih mencintaiku dan aku pun mencintainya."
"Delisa, sepertinya kau sangat mengenal suamiku, ya. Tapi aku heran, kalau memang kau mencintainya, mengapa kau meninggalkannya?"
Delisa tertawa jengah, menangkap keangkuhan dari Sella. Ia kesal sekaligus membencinya.
Ia berkata, "kau harus tahu, aku pergi karena dia berkhianat padaku, dia menghamili seorang wanita, dan wanita itu mengakui semua perbuatan mereka ditengah-tengah pesta."
Mendengar perkataan Delisa, Sella tersenyum masam. Ia ingat kejadian, di mana ia berkata sambil menangis mengakui sebuah perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Saat itu ia mengatakan kebohongan dengan menangis, sambil menatap wajah Alrega yang juga menatap matanya. Hingga kini, bila ia menatap mata itu, seolah ia sedang di adili dan memaksanya menyerah kalah.
Ia berkata, "lalu kau percaya begitu saja?"
"Bagaimana aku tidak percaya, wanita itu bahkan menangis dan ia memang hamil!" sahut Delisa.
"Apa kau yakin, tuan Al yang menghamili perempuan itu? Padahal kau sendiri mengakui bahwa dia laki-laki setia dan tidak mudah tergoda? Bahkan dengan dirimu saja dia tidak pernah melakukannya, bagaimana dia bisa melakukannya dengan orang lain?" kata Sella.
"Kau ... Dari mana kau tahu semua itu?"
"Ada yang mengatakan padaku, orang terdekat adalah orang yang sangat mengenal tuan Al. Tentu aku harus mempercayainya, kan?"
Melihat Delisa diam, dan tidak menanggapi ucapannya, Sella menarik nafas dalam-dalam.
Jangan mudah mempercayai penilaian seseorang, tentang seseorang lainnya, bila ia belum pernah tinggal selama tiga hari bersamanya, karena berarti mereka belum benar-benar memahami siapa orang yang dinilainya. Mereka hanyalah komentator semata.
Sella berkata, "Delisa, suamiku sudah memberikan segalanya untukmu, seharusnya kau tidak percaya begitu saja pada perempuan itu. Dan kau tidak perlu pergi meninggalkannya di pestamu sendiri, bahkan nekat mempermalukan seluruh keluarga."
"Ck! Semua itu hanya dimasa lalu, kau belum tahu bagaimana sakitnya dikhianati orang yang kau cintai. Seandainya kau tahu, pasti kau akan melakukan seperti yang aku lakukan." sahut Delisa dengan percaya diri.
'Aku sudah merasakan sakit, yang lebih sakit dari apa yang kau katakan'
"Aku bukan kau, Delisa. Aku tidak akan bersikap sama sepertimu. Aku mempercayai suamiku, dia orang yang sangat menghargaiku, maka aku tidak akan begitu saja, dengan mudahnya mempercayai kata-kata siapapun, yang belum tentu kebenarannya."
Suasana sejenak hening, baik Sella atau Delisa tidak ada yang bicara lagi. Mereka sejenak berpikir tentang apalagi yang akan mereka ungkapkan, hingga kemudian Sella memalingkan wajahnya dan tertawa.
"Kenapa kau tertawa? Apa kau menertawaiku?" tanya Delisa.
__ADS_1
"Tidak, aku menertawakan kejadian dua tahun lalu, tuan Al bercerita, bahwa ia tahu kalau wanita itu berbohong hanya dari melihat matanya saja." Sella kembali tertawa, lalu meneruskan ucapannya.
"Tapi anehnya dia membiarkan istrinya pergi. Apa kau mau tahu apa alasannya?" kata Sella setelah ia berhenti tertawa.
"Apa?"
"Kadang seseorang harus melewati berbagai macam cobaan hidup, agar orang lain bisa tahu apakah berlian atau lumpur yang ada dalam hatinya."
Itu kata kiasan yang menyindir Delisa, bahwa ia sudah gagal ketika melewati ujian yang ada dalam cinta mereka. Seharusnya ia memilih bertahan, ia tidak akan rugi sedikitpun, dengan mempertahankan orang seperti Alrega, untuk tetap di sisinya.
Sesal itu benar-benar seperti buih di lautan. Banyak. Tapi tak berguna.
"Apa kau pikir kau sudah menang karena kau sekarang menjadi istrinya?" tanya Delisa penuh rasa iri. Ia tidak ingin siapapun bahagia bersama Alrega, laki-laki itu miliknya!
"Kita tidak sedang bicara soal menang dan kalah, kita bicara soal tuan Al."
"Kau pikir kau siapa sudah berani memanggilnya dengan sebutan itu pada Rega?"
'Aah.. berarti benar, hanya aku yang boleh memanggilnya begitu. Tuan Al, kenapa aku merasa kau mencintaiku? oh oh oh seandainya saja!'
"Aku tidak tau. Yang jelas dia tidak marah padaku." Sella berkata sambil tersenyum malu.
Ia mengingat ciuman mereka, ketika memanggilnya dengan sebutan itu. Ciuman yang hangat, tidak ada kemarahan yang ia rasakan darinya, bahkan ciuman itu terasa manis, Alrega begitu lembut memperlakukannya.
Delisa merasa sudah kalah, ia tersenyum masam dan ia tidak bisa mengatakan apapun lagi selain mengatakan yang sebenarnya.
"Sella, jangan harap kau sudah menang. Rega mencintaiku dan aku mencintainya. Kau hanya dijadikan alat untuk membalaskan dendamnya saja. Tunggu sampai dia puas, dan kau akan dicampakkan." kata Delisa sambil berdiri.
'Maka saat itu aku akan kembali padanya' Delisa.
'Aah, rupanya dia tahu juga' Sella.
"Oh, aku tahu. Kau tidak perlu repot-repot mengingatkanku." Tandas Sella datar.
"Tidak, aku juga tahu diri.Tapi aku menerimanya karena tuan Al akan menghancurkan mobil itu kalau aku tidak menerimanya. Jadi kupikir kenapa aku tidak memanfaatkan kebaikannya sebelum aku di campakkan."
Mendengar penuturan Sella, justru Delisa menjadi merinding, sungguh sikap Alrega yang seperti ini, menunjukkan bahwa ia menganggap Sella berharga baginya. Ia tidak akan membiarkan barang atau apapun, yang diberikan pada orang yang ia sukai, lalu orang itu menolaknya, maka ia akan lebih baik menghancurkannya, dari pada barang itu dimiliki oleh orang yang tidak berhak menerimanya.
'Apa dia gila, bicara setenang itu padahal tahu akan dicampakkan. Dia benar-benar siap untuk ini, baiklah. Lihat setenang apa kau sekarang?'
"Lalu bagaimana kalau Rega tahu, siapa kau sebenarnya?" Tanya Delisa.
Ia seolah enggan melihat dunia tenang, atau bisa jadi dia termasuk orang yang merasa bahwa dunia tidak perlu damai terlalu lama, orang-orang seperti ini hanya akan senang kalau dunia dalam kekacauan.
"Apa kau tahu sesuatu, yang aku tidak tahu, misalnya tentang kejadian dua tahun yang lalu. Bagaimana kau bisa pergi dari pesta dengan penjagaan seketat itu?"
'Apa dia tidak takut, kalau keluarga Leosan tahu siapa dia sebenarnya, dan dialah orang yang sudah menipu Rega?'
"Sella ...," kata Delisa, sambil berdiri di sisi meja, badan sedikit membungkuk dengan menggunakan kedua tangan untuk menopang tubuhnya.
"Ya?" sahut Sella dengan wajah polosnya. Ia tampak tenang seteguh karang dalam lautan yang dalam.
"Aku tau siapa kau yang sebenarnya, aku tahu kau terlibat dalam kejadian dua tahun yang lalu di pesta pernikahanku dan Rega ...!"
'Kena, kau!'
"Haha. Delisa, bagaimana aku bisa tidak heran, kalau kau tahu semuanya? Padahal itu rahasia!"
"Ya, aku tahu semuanya karena orang yang merencanakan kehamilan dan kebohongan itu adalah temanku." Delisa berkilah.
__ADS_1
'Ya, dan kau juga terlibat di dalamnya' Sella.
Delisa kembali berkata, "Seandainya aku tahu kalau semua itu adalah konspirasi, aku tidak akan pergi meninggalkan Rega!"
Ck!
'Aku tidak mengira kau masih sok polos dan merasa tidak bersalah'
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Dan dimana temanmu yang berkacamata itu? Apa kalian kembali bersama?" Tanya Sella sambil memainkan jarinya di atas meja. Menatap Delisa dengan tatapan dingin.
"Sella, jangan berpura-pura baik dengan merawat mami Zania, dia gila karena kau. Kalau bukan kamu yang menipu mereka semua dengan kebohongan itu, mami tidak akan gila."
'Baiklah, aku akui itu karena kesalahanku'
"Delisa, tidak ada orang yang tahu tentang konspirasi yang sudah terjadi dua tahun yang lalu, kecuali dia menjadi salah satu pelakunya."
"Apa kau menantangku?" Delisa berkata sambil mendekati Sella dan ia seperti ingin menyakitinya, dan ia
Kini kedua wanita itu berdiri saling berhadapan, karena Sella juga ikut berdiri mengimbangi Delisa. Walaupun tubuh Sella tidak setinggi tubuh Delisa yang tinggi sempurna, ia tidak berkecil hati, ia bisa bela diri. Ia siap dengan apapun yang akan dilakukan Delisa bila akan menyakitinya.
"Aku yakin, hanya orang yang cerobohlah yang berani mengatakannya. Apa kau takut aku akan mengatakan bahwa kaulah dalangnya?"
'Haha. Bahkan Rega sudah tahu, bodoh?'
"Katakan saja. Aku tidak takut." jawab Delisa.
Ia sebenarnya sedikit takut, sebab kalau ancaman Sella benar bahwa dia akan mengungkapkan semua kepada keluarga Leosan, maka ia tidak akan pernah punya peluang kembali dalam keluarga itu.
"Aku juga tidak" kata Sella sambil membenahi rambutnya.
"Ahk, kasihan sekali kau Sella. Kau mungkin akan mati di tangan Yorin, kalau mereka tahu kebenaran tentang siapa dirimu."
"Kalau begitu, kau tidak perlu kasihan pada orang yang hampir mati ini, aku tahu cepat atau lambat, semua yang kita simpan akan terungkap, lagipula aku sadar semua kebenaran selalu pahit untuk didengar."
"Jadi, kau benar-benar tidak takut mati?" Tanya, Delisa sambil mencengkram bahu Sella dengan sangat kuat ia meremas dengan tangannya yang halus dan berkuku tajam.
'Hei, ini sakit!'
Sella menarik tangan Delisa dari bahunya dengan kasar, dan menurunkannya kembali,
"Aku bukan malaikat... tentu aku takut mati juga, Tapi aku lebih takut kalau orang yang menyayangiku kecewa. Itu saja."
'Dan yang lebih parah mungkin ibu jadi depresi lebih berat, aahk ... Tidak!'
Ucapan Sella mengingat kan bahwa, ia tidak takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri, tapi ia lebih takut kalau keluarganya akan kecewa, dan bahkan sakit hati karenanya.
'Maafkan Sese, bu. Kalau suatu ketika ada kejutan tentang apa yang aku lakukan dimasa lalu. Maka maafkanlah aku. Kumohon, berada dimanapun kalian saat kejadian itu, maka pergilah, menghindar sejauh-jauhnya, agar kalian tidak melihat dengan cara seperti apa aku akan mati. Kalian pasti tidak nyaman'
"Kalau begitu, aku akan berjanji, tidak akan membuka rahasia itu, asal kau juga berjanji akan menutup semua yang kau tahu!"
Delisa, memulai janji terlebih dahulu, menunjukkan rasa takutnya. Kalau kejadian itu terbongkar, maka yang akan malu bukan hanya dirinya tapi keluarga besarnya, bahkan bisnisnya mungkin akan rugi dan hancur. Dan yang lebih parahnya kalau keluarga Leosan akan membawanya keranah hukum maka ia akan jauh lebih rugi.
Sella menyeringai sambil memalingkan mukanya. Kesal, tapi marahpun tidak berguna.
Ia berkata, "jadi kau mengaku, bahwa kau yang sudah merencanakan semuanya, dan menjadikan aku sebagai satu-satunya tersangka? Kau luar biasa. Sebenarnya apa yang kau kejar sampai kau tega meninggalkan pria seperti, tuan Al?"
Walaupun, dari percakapan dirinya dan Delisa membuat Sella tetap dalam posisi yang sama, tetap menjadi tahanan bagi Alrega, tapi ia memahami satu hal, bahwa seorang manusia akhir zaman yang terlihat begitu sempurna seperti Alrega pun bisa ditinggalkan, apalagi dirinya yang hanya butiran debu bagi keluarga Leosan?
"Aku mengejar sesuatu yang tidak bisa Alrega beeikan padaku"
__ADS_1
"Ck! Apa itu?"
Bersambung