Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 55. Banyaknya Rasa kecewa


__ADS_3

Sella melihat pada Zania dengan perasaan takjub. Ia menyimpulkan bahwa Zania lebih memilihnya menjadi seorang anak daripada seorang menantu.


'Apakah ibu akan kecewa lagi, akan terluka lagi, apabila ia tahu bahwa aku adalah menantunya? Sudah banyak rasa kecewa hingga ibu bisa seperti ini. Lalu apa yang harus aku lakukan?'


Kemudian secara berulang-ulang kembali Sella mengatakan, "maafkan aku, maafkan orang lain dan maafkan dirimu sendiri...maafkan aku, maafkan semua kesalahan orang lain, dan maafkan mereka yang sudah kau anggap bersalah padamu, lalu maafkan dirimu sendiri..."


Sella mengatakan semua dengan ucapan yang jelas, tapi lembut. Tak henti tangannya memijit-mijit telapak tangan Zania dengan cream body yang harum. Tujuannya selain untuk relaksasi, tapi juga untuk melancarkan peredaran darahnya. Para suster dan pelayan hanya bisa melihat saja. Sesekali mereka terlihat sibuk dengan ponsel atau mongobrol. Sebuah hal yang hanya bisa mereka lakukan apabila Zania dalam keadaan tidur. Tapi karena Sella, pekerjaan mereka terasa lebih mudah.


"Terima kasih nona, anda sangat membantu kami," kata mereka sambil tersenyum penuh arti pada Sella.


Sella menatap mereka, dengan senyum manis, lalu berkata, " memang aku dibutuhkan untuk ini. Kalau ibu sudah sembuh, maka kita tidak dibutuhkan lagi."


Maksud Sella adalah bahwa mengurus ibunya adalah hukuman dari kesalahannya di masa lalu.


Zania sudah tertidur ketika Sella melihat jam, sudah hampir waktunya makan malam. Ia bergegas kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri secepatnya. Dia masuk ke dalam bak mandi untuk berendam dengan air hangat, meregangkan semua otot-ototnya yang terasa kaku, dan mengistirahatkan tubuh lelahnya sebentar, ia menikmati semuanya sambil memejamkan mata.


Setelah menyudahi acara membersihkan dirinya, Sella mendengar sebuah suara di luar kamar mandinya. Ia berpikir mungkin itu adalah Alrega. Selama ini ia selalu melakukan kegiatan membersihkan dirinya ketika laki-laki itu tidak ada, karena ingin menjaga dirinya. Saat ini ia merasa Alrega ada didalam kamar, sehingga ia mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan cepat.


Semua itu bisa ia lakukan di dalam kamar mandi, tapi bagaimana ia harus mengganti pakaian? Sejenak ia merasa ragu untuk keluar, dan hanya menatap dirinya di cermin.


'Apa aku pantas menjadi menantu ibu, apa aku akan ibu terima nanti? aku harus menjadi pantas dan aku akan membayar hutang itu agar harga diriku kembali dan aku menjadi pantas berada di keluarga ini'


Sella sadar, apabila ia iangin menjadi menantu di keluarga Leosan, maka ia harus menyerahkan diri seutuhnya pada Alrega, tetapi ia masih merasakan ketakutannya. Ia memejamkan mata untuk melihat dalam dirinya sendiri, mengambil nafas dalam dan membuangnya pelan-pelan seolah ia ingin mengalahkan rasa takutnya.


Tentu saja dia harus mengalahkan rasa takutnya membuang rasa takut itu jauh-jauh sehingga ia bisa menyerahkan diri sepenuhnya pada Alrega, namun sekali lagi ia menggelengkan kepalanya menandakan ia, belum bisa menghilangkan rasa takut itu sepenuhnya.


Sella keluar sambil melihat sekeliling kamar dan tidak ada siapapun di tempat tidur hingga Ia merasa lega. Ia kembali ke ruang ganti dan mengambil pakaiannya, namun ketika ia berbalik, justru laki-laki itu ada di sana, bersandar di dinding antara ruang tidur dan ruang ganti kamarnya.


'Sejak kapan dia berdiri di sana, bukan kah tadi dia tidak ada?'


Sella hendak kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya, namun Alrega menghalangi pintunya yang sudah terbuka. Kemudian laki-laki itu memeluknya erat dengan penuh kehangatan seolah-olah ia mengalirkan seluruh perasaan di hatinya dalam pelukannya.


'Kenapa kau seperti ini?'


Alrega menyandarkan kepalanya di pundak Sella dan bernafas diantara ceruk lehernya. Kemudian Alrega berbisik, dengan suara lembut yang mengalir di telinga Sella, bahkan udara yang keluar dari mulut Alrega terasa di telinganya. "Terima kasih." katanya.


Sella tidak percaya mendengar ucapan itu, sakan-akan ia tersedak karena kegirangan, ucapan yang keluar dari mulut Alrega seperti angin yang berhembus saat musim semi tiba, tapi untuk apa? Sella menarik tubuhnya dari pelukan Alrega dan mendongak untuk menatapnya.


Ia pun berkata, "Untuk apa berterima kasih?"


Alrega tersenyum menatapnya penuh cinta, satu tangannya terangkat untuk membelai dan merapikan rambut Sella yang berantakan, lalu ia selipkan dibelakang telinga, sambil berkata,


"untuk ibu."


'Tidak, rambutku pasti jelek sekali sekarang. Ahk..aku belum pakai baju. Siaal...!'


"Dan jangan pernah berpikir untuk pergi, tetaplah disampingku sampai kau mati," kata Alrega sambil menatap Sella dengan tatapan tajam.


Alrega tahu tentang perkataan Sella pada perawat. Sella sudah berjanji ia tidak akan pergi, tapi itu sebelum Delisa kembali. Sejak ia kenal dengan Delisa, gadis itu selalu berkata tentang pergi dan pergi. Ia harus membuat gadis ini menyerah secepatnya.

__ADS_1


'Apa? apa ini artinya dia akan mempertahankan aku selamanya? Dia menginginkanku dan bukan Delisa? Ahk, seandainya itu benar'


"Sayang, tidak perlu berterima kasih padaku," kata Sella seraya menatap wajah tampan yang ada di hadapannya ini dengan lekat.


Sella tidak heran apabila Alrega mengatakan terima kasih karena ibunya. Tadi, Sella sempat melihat seorang perawat memegang ponselnya begitu mendengar ibu mengatakan sesuatu. Ia juga mengingat bagaimana kakek Mett tahu tentang dirinya, mungkin perawat itu sudah menyebarkan beritanya. Apalagi sekeliling kamar yang dilengkapi dengan CCTV mungkin orang-orang yang berada di balik kamera itu juga sudah mengetahuinya. Tentu saja mereka mengawasinya selain untuk keamanan Zania, juga untuk memastikan apa yang dilakukan para perawat sesuai dengan prosedur yang ada.


Sella menatap wajah tampan yang menyiratkan kesuraman dimatanya. Sella merasa bahwa Alrega sudah menyimpan kekecewaan selama ini. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Alrega yang bersih dan halus, mata dan alis menjadi perpaduan wajah yang sempurna, menyiratkan ketegasan seorang laki-laki dewasa, ditambah hidung yang mancung membuat Alrega nampak tampan dan cantik secara bersamaan.


'Apakah kau sudah begitu banyak menanggung rasa sakit karena aku?'


Sambil berkata, "maafkan aku, sudah memberikan kecewaan dan rasa sakit selama ini dan menyebabkan penderitaan pada keluargamu..."


Mendengar ucapan Sella, kening Alrega berkerut. Ia menurunkan satu tangannya dari pinggang Sella, badannya membungkuk, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sella. Lalu melingkarkan tangannya kebelakang lutut dan punggung Sella, dan mengangkatnya. Ia melakukan gerakan itu dengan sangat cepat.


"Ahk!" Sella kaget dengan sikap Alrega yang tiba-tiba. Hatinya kembali berdebar, wajahnya merona dan karena takut terjatuh, ia pun iapun melingkarkan kedua tangannya ke leher Alrega.


"Lepaskan aku!" kata Sella segera tersadar ia hanya memakai handuk kimononya.


Saat itu wajah mereka sangat dekat dan tatapan mereka pun terperinci namun Sella segera tersadar bahwa ia tidak akan mungkin bisa melepaskan dirinya dari gendongan Alrega.


Alrega meletakkan tubuh Sela dengan keras ke atas tempat tidur. Walaupun tempat tidur itu empuk, tapi tetap saja tidak enak kalau diperlakukan seperti itu. Sella segera bergerak untuk menjauh, tapi sebelum ia sempat melakukan sesuatu, Alrega sudah mengungkungnya. Alrega berada di atas Sella, menopang tubuhnya dengan kedua lutut dan kedua tangannya. Sella tidak dapat bergerak, bahkan kedua paha Alrega menjepit kedua pahanya dan kedua tangan Alrega pun menekan kedua telapak tangan Sella.


"Apa kau akan menolakku lagi?" katanya sambil menyeringai. Nafasnya dihelanya kasar. Sella hanya diam. Menatap Alrega nanar.


"Cobalah, kalau kau bisa, kali ini tidak akan aku biarkan," kata Alrega lagi sambil mendekatkan kepalanya pada wajah Sella, dan menciu seluruh wajahnya dengan lembut.


Setelah Alrega puas menciumi seluruh wajahnya kemudian ciuman itu turun, merambah ke lehernya, dan berakhir dibibirnya. Ia melakukan ciuman seperti biasanya, tapi ia merasakan ketegangan di tubuh Sella, bahkan wanita itu tidak membalas ciumannya, menahan giginya agar Alrega tidak bisa menembusnya. Alrega mengangkat kepalanya dan saat itulah ia melihat air mata sudah mengalir di ujung mata Sella.


Ia beranjak dari tubuh Sella dan berdiri di sisi ranjang sambil berkata,


"Ayo. Bangunlah dan pakai pakaianmu. Kita makan malam." Laki-laki itu terlihat begitu menahan hasratnya yang begitu besar.


Sella turun dari tempat tidur dengan cepat, sambil memegang kerah handuk kimono nya ia menyambar pakaian ganti, dan menyelesaikannya di kamar mandi, kemudian merapikan rambutnya dan memberi sedikit riasan di wajahnya, ia melihat Alrega masih duduk di single sofa, dekat jendela balkon kamar mereka.


Sheila mendekatinya sambil berkata, "aku sudah siap. Ayo makan malam."


Masih ada sisa getaran di hatinya dan masih berusaha menenangkan dirinya, ia benar-benar belum siap apabila Alrega menyentuhnya walaupun, ia sudah sering menciumnya.


Mereka turun untuk makan malam, wajah mereka menunjukkan perasaan seperti apa yang mereka simpan.


Rehandy menyapa Sella dengan ramah, saat ia sudah duduk di meja makan, ia menawarkan cek untuk Sella, sebagai ucapan terimakasih. Sella mendorong lembaran cek dengan tangannya, sambil berkata,


"Ayah, kita keluarga, tidak perlu seperti ini. Kalau aku membutuhkan sesuatu aku akan memintanya pada Ayah."


"Baiklah aku akan menunggu, aku pasti akan memenuhi permintaanmu," kata Rehandy sambil menyimpan ceknya kembali. Laki-laki itu tahu bagaimana tabiat menantunya itu.


'Walaupun aku meminta kebebasanku?'


Sella kembali tersenyum, dan mengangguk.

__ADS_1


"Apa kau memang bodoh atau tidak membutuhkan sesuatu. Atau kau... menunggu waktu yang tepat untuk bisa merebut semua nya dari Rega?" Tanya nenek.


Sella menatap nenek sambil tersenyum dan ia menjawab, "nenek aku tidak membutuhkan sesuatu selama Alrega bersamaku, aku sudah pernah mengatakan kepadamu kalau aku tidak membutuhkan harta kalian, bukan?"


'Ck! kau bilang cukup hanya denganku padahal membalas ciumanku saja tidak mau' Alrega.


"Baiklah, aku percaya, habiskan makananmu," kata Rehandy.


Begitulah akhirnya malam makan malam itupun berakhir. Dengan berbagai perasaan yang berbeda.


***


Sejak saat itu Alrega tidak lagi memaksakan kehendaknya kepada Sella, Ia hanya kadang-kadang saja mengerjainya, dengan sesuatu yang menurutnya lucu. Seperti, berulang kali menyuruhnya untuk memilihkan dasi dan memakaikannya, tapi kemudian ia mengatakan bahwa itu tidak cocok hingga harus diganti. Sella pun memilih dan memakaikan dasi yang lain lagi, tapi setelah selesai Alrega pun tidak mengatakan tidak cocok hingga Sella harus melepasnya kembali. Dan begitu seterusnya sampai terlihat Sella kesal dan berakhir dengan satu kecupan di bibir. Ini hampir terjadi setiap pagi.


Setiap malam kadang-kadang Sella tidur dengan Zania, atau tidur di sofa, dan sering juga Alrega memindahkan tubuhnya di tempat tidurnya, hingga Sella sadar keesokan harinya, bahwa Alrega sudah memindahkannya


Hal ini menjadi rutinitas mereka sehari-hari dan tanpa terasa bulan-bulan pun berganti.


Alrega tidak lagi meminum anggur nya walaupun sebotol anggur selalu disediakan pak Sim, di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Hingga suatu hari Sellla berniat ingin mengerjai Alrega, karena sudah terlalu sering dirinya dikerjai olehnya, tapi justru dirinyalah yang dikerjai kembali oleh Alrega.


Beberapa kali, Sella disuruh untuk memakaikan bajunya, tapi selalu salah, hingga Sella memakaikan pakaian pada tubuhnya secara berulang-ulang. Sebenarnya, secara tidak langsung hal itu membuat dirinya menjadi terbiasa menyentuh tubuh Alrega.


Atau saat mengganti dasinya, Alrega selalu mengatakan bahwa hidupnya kini berada di tangan Sella. Kalau ia membencinya maka ia boleh menarik dasinya hingga ia mati.


Dan setiap kali Alrega mengatakannya, Sella selalu menjawab,


"Aku tidak akan melakukannya, semua orang membutuhkanmu, kau harus tetap hidup dan baik-baik saja."


"Apa itu juga yang kau inginkan?" Alrega balik bertanya.


Dan Sella selalu menjawab, "tentu saja."


Hari itu, karena sudah terbiasa, Sella menyiapkan lebih dari satu pakaian untuk Alrega, Ia hanya menjaga agar dirinya tidak terlalu lelah, harus mondar-mandir antara meja rias dan kamar gantinya. Ia duduk di sofa menunggu Alrega bangun. Ia bersantai setelah selesai mengurus Zania dan membersihkan dirinya sendiri.


Beberapa hari terakhir adalah hari yang menyenangkan bagi Sella, karena Zenia sudah lebih banyak merespon perkataannya, bahkan sudah mengeluarkan beberapa gumaman secara jelas. Ia tidak lagi banyak berteriak walaupun masih sering menangis. Wanita itu seperti benar-benar tergantung dengan Sella sebab, setiap kali ia menangis, begitu ia melihat Sella, maka ia akan langsung memeluknya dan kembali tenang seperti biasanya. Sella memperlakukan Zania seperti anak atau adiknya yang membutuhkan kasih sayang darinya.


Sella menatap Alrega dari tempat duduknya, ia benar-benar sudah terbiasa dengan Alrega, demikian pula sebaliknya.


Sewajarnya, rasa terbiasa inilah yang membuat seseorang sulit melepaskan diri, dari sesuatu yang menjadi kebiasaannya.


"Air..." tedengar suara parau dari atas tempat tidur. Sella beranjak mendekati Alrega yang masih terbaring di sana.


Semalam mereka tidur bersama. Sella secara tidak sengaja tertidur di sofa, setelah ia selesai melakukan banyak chat dengan saudaranya, dan seperti biasa Alrega memindahkannya di tempat tidurnya.


"Apa kau sudah bangun?" tanya Sella sambil mengusap lembut kepala Alrega, tapi ia mendapati tangannya terasa hangat.


Sella mengerutkan keningnya lalu kembali bertanya, "apakah kau sakit? apa kau baik-baik saja?" tidak ada jawaban di sana dan kembali terdengar suara yang parau.


"Air.."

__ADS_1


'Aah, ia, air.. Baiklah, baiklah, aku akan mengambilnya ke bawah. Seperti ada yang tidak beres. Tidak biasanya dia minta air dipagi hari'


__ADS_2