Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 124. Melepas Lelah 2


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk berhenti membalas chat, Sella menyambar tas kecil dari etalase yang ada di ruang ganti. Kemudian memasukkan ponsel serta dompet ke dalamnya. Ia ingin pergi ke spa, tempat yang diharapkan bisa melepaskan penat dan lelahnya selama beberapa hari ini.


Selama di perjalanan, Sella yang biasanya banyak bicara, tidak mengatakan apa pun pada Lea, wanita yang menjadi sopir pribadinya. Ia hanya mengatakan tujuan kepergiannya saja, tempat di mana dia biasa melakukan perawatan seperti biasanya.


"Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Lea, dan Sella mengangguk. Setelah itu tidak ada lagi obrolan yang terjadi antara mereka berdua.


Di sebuah salon dan spa yang cukup elit di tengah kota, di sanalah kini Sella memanjakan diri, tempat itu sudah menjadi langganannya untuk melakukan perawatan tubuh dan rambut serta wajahnya.


Selama dipijat dan luluran, wanita itu hanya diam. Pikirannya yang melayang tak tentu arah, bercabang memikirkan ibunya, kehamilannya dan juga chat aneh yang dikirimkan padanya tadi pagi. Chat itu berasal dari nomor yang sama yang sudah menghubunginya beberapa kali.


Hari sudah menjelang sore saat Sella sudah selesai melakukan paket lengkap perawatan tubuh di tempat itu. Betapa terkejutnya ia saat keluar dari sana, karena ia tidak menemukan Lea dan mobilnya melainkan mobil Alrega yang sudah terbuka pintunya.


Sella memutar bola matanya malas, ia sudah menduga bila semua yang dilakukannya pasti diketahui oleh laki-laki ini, hanya saja ia tidak menyangka bila Alrega akan menyusulnya.


"Mau ke mana kita?" Tanya Sella setelah berada di dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang dengan Alrega yang mendekap bahunya dari belakang punggungnya.


"Ke Hotel, seperti permintaanmu."


'Hais, aku minta ke hotel itu sebelum kita melakukan hal itu, tapi sekarang untuk apa ke sana?'


"Aku sudah tidak berminat lagi pergi ke tempat itu." Sella menjawab sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Aku ingin kau keramasi rambutku. sudah lama kau tidak melakukannya." Alrega berkata sambil menarik dagu Sella dengan lembut agar menatap ke arahnya.


"Apa? Hanya mau keramas, kita ke hotel?"


Alrega mengangguk. Lalu mencium bibir wanita itu sekilas.


'Ahk. yang benar saja, di rumah juga kan bisa?'


"Kenapa tidak minta, kalau mau di keramas."


"Nanti kamu capek."


'Sekarang juga aku capek. Capek hatiku'


"Kau sudah lama tidak memanggilku, sayang."


'Kau manja sekali' - Sella.


'Tuan, jangan terlalu manja!' - Zen. Laki-laki ini mendengar semuanya dalam diam.


"Sayang ...." Kata Sella melemparkan senyum manis padanya. Alrega membalas senyumannya.


"Aku perlu hiburan, jadi aku mau kau temani aku di hotel." Alrega berkata, lalu menyandarkan tubuhnya.


"Apa kau masih sedih dengan kematian Nenek?"


"Tidak, siapa bilang aku sedih."


'Kan kau bilang tadi butuh hiburan, kan? Dasar tidak punya perasaan'


"Baguslah, kalau kau tidak sedih lagi. Sebaiknya relakan kepergian Nenek, itu jauh lebih baik."


"Hmm ...."

__ADS_1


Sesampainya di hotel, mereka berdua langsung pergi menuju kamar yang biasa mereka tempati sebelumnya. Sella segera pergi ke kamar mandi dan mengisi bak mandinya hingga penuh dan mencampurnya dengan sabun dan aroma terapi.


Sementara menunggu, Alrega sibuk memeriksa ponselnya sambil duduk di balkon.


"Sayang ...! Ayo sini!" Sella memanggil Alrega dengan berteriak dari kamar mandi.


Alrega segera beranjak dari tempat duduknya, sambil melepaskan pakaiannya satu persatu, lalu mendekati Sella yang sudah siap untuk mengeramasi rambutnya. Ia duduk di sisi bathtube yang sudah terisi air dengan handuk kecil di pundaknya.


"Kau tidak mandi?" Tanya Alrega setelah seluruh tubuhnya masuk ke dalam bak.


'Aku sudah luluran, tadi. Jadi aku tidak mandi juga sudah wangi'


Sella mulai membasahi rambut Alrega dengan air, menuangkan sampo lalu memijat lembut kepalanya, seperti halnya dulu ia sering melakukannya, karena dikerjai suaminya.


"Ayo mandi bersama, kau bau!" Alrega berkata sambil memercikkan air ke wajah Sella.


Seketika ia menghentikan aktifitas memijat kepala Alrega, dan mengusap air diwajahnya dengan pangkal lengannya. Ia mencium bagian ketiaknya sambil mengerutka di salon tadi masih tercium, menguar dari badannya.


'Bau apanya, aku wangi gini dibilang bau'


"Aku sudah mandi, di spa tadi," kata Sella, sambil membilas rambut Alrega lalu mengeringkannya dengan handuk kecil, rambutnya sudah selesai di keramas.


Sella baru saja hendak beranjak ketika mulut Alrega kembali bicara. "Sekarang gosok punggungku, dengan tanganmu, sekalian kau mandi, ya?"


'Aku tidak mau. Aku sudah wangi!'


Sella kembali duduk di sisi bak mandi dan mengusap punggung Alrega secara perlahan. Tiba-tiba Alrega memutar badannya dan menarik tangan Sella agar menggosok bagian dadanya. Kini posisi mereka saling berhadapan.


"Ayo! Buka bajumu, nanti basah." Alrega mengulurkan tangannya untuk membuka pakaian Sella. Tapi wanita itu menahannya.


'Jangan bilang kamu akan melakukannya di sini, jangan mencari alasan aku tidak mau!'


Sella baru saja selesai bicara, tapi Alrega sudah memercikkan air yang lebih banyak ke tubuh Sella yang masih berlutut di samping bak mandi. Pria itu tertawa kecil melihat Sella yang kini basah pakaian dan kepalanya. Ia sebenarnya menyukai aroma terapi dari spa tadi, hingga ia tidak berniat untuk mandi lagi.


"Tuh, kan. Apa tadi kubilang, nanti basah." Alrega berkata sambil berdiri dan menarik tangan Sella agar ikut berdiri pula. lalu melepaskan pakaiannya secara paksa, namun tetap penuh kelembutan.


'Ahk, kau ini sengaja, kan?'


Setelah semua baju Sella terlepas, ia membawanya masuk ke dalam bak mandi. Sementara Sella terus mengoceh menyesali wangi dari aroma terapi dari tubuhnya yang hilang. Alrega tersenyum melihat reaksi Sella yang cemberut karena ia harus mandi tiga kali hari ini. Ia kesal sekali.


"Ayo sini," kata Alrega sambil berdiri dan menuntun Sella untuk membilas tubuhnya yang penuh busa di bawah guyuran shower. Sella memejamkan mata saat air mengenai wajah dan kepalanya, sedang Alrega menikmati pemandangan indah di depannya sambil tersenyum.


Alrega selesai lebih dahulu dan keluar setelah memakai jubah handuknya, namun Sella kebingungan karena tidak mendapatkan handuk untuk dirinya kecuali handuk kecil yang biasa digunakan untuk mengeringkan rambut.


'Perasaan tadi ada dua handuknya, kemana yang satu lagi?'


Sella terpaksa keluar dengan memakai handuk kecil yang hanya menutupi bagian dada sampai bokong saja. Sementara bagian pundak dan pahanya terbuka. Ia berjalan menuju meja rias hendak mengeringkan rambutnya tapi alat pengering tidak ada di sana. Ia tidak memperdulikan Alrega yang berdiri di sisi meja rias sambil memperhatikan dirinya, seolah-olah laki-laki itu seperti udara yang tidak terlihat.


'Kemana alat itu, biasanya di sini, kok tidak ada?'


Karena curiga, ia melirik Alrega sekilas, tapi tidak bicara karena kesal Alrega sudah membuat dirinya harus mandi. Akhirnya ia memakai handuk lain untuk mengeringkan rambutnya sambil berdiri di depan cermin.


Sella sejenak menghentikan kegiatannya dan melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, yang membuatnya tercengang. Entah karena perawatan kulit yang baru saja ia lakukan tadi, atau karena memang ia sudah seperti ini, hingga ia merasa saat ini dirinya begitu cantik.


Rambutnya setengah basah dan acak-acakan, tubuhnya hanya dililit handuk kecil yang menampilkan keindahan tubuh, serta kulit yang tampak putih bercahaya. Wajahnya yang tanpa polesan, begitu alami dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.

__ADS_1


Setelah beberapa detik berlalu dalam keterpanaan, Sella baru sadar dengan tingkah Alrega yang sudah beberapa kali mengambil gambar dirinya.


'Hei, apa yang dia lakukan? Gila!'


"Sayang, hentikan!" Sella berteriak sambil berusaha mengambil ponsel Alrega dari tangan pemiliknya.


"Hapus fotoku sekarang juga!"


"Tidak. ini bagus!" Alrega berkata sambil mengangkat ponselnya ke atas. Tinggi tubuh Sella yang tidak sampai telinganya itu, tentu kalah telak, hingga ia tidak bisa mengambilnya.


"Hapus! Kataku, hapus! Bagaimana kalau Zen melihat fotoku, itu memalukan. Aku tidak pakai baju, tahu?"


Sella berkata seperti itu karena ia tahu bila ponsel suaminya, selalu dibawa oleh asisten pribadinya itu.


Alrega menyeringai, lalu berkata, "fotomu seksi. sekali. Aku tidak akan menghapusnya!"


Sella cemberut, berpaling dari Alrega dan kembali ke meja rias, melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut.


"Iya ... lalu kau biarkan laki-laki lain melihat fotoku yang hampir telanjang itu, begitu?"


Alrega diam, ia mendekati Sella, merengkuh bahu, mendekatkan wajahnya ke pundak Sella dan mengarahkan kamera ponsel kepada mereka berdua. Secara spontan, Sella menjauhkan kepalanya, menghindari bidikan kamera, membuat Alrega menoleh.


"Apa kau tidak mau berfoto bersamaku?"


"Foto yang kau ambil sudah cukup banyak. Aku tidak mau Zen melihat foto kita berdua seperti ini!"


Alrega lagi-lagi tidak menjawab, tapi ia membawa Sella lebih dekat dan kembali membidikkan kamera ponsel ke arah mereka. Kali ini berhasil tapi wajah Sella cemberut.


Dua kecupan di pipi pun mendarat setelah selesai, tapi tetap saja masih terekam oleh kameranya.


"Tenanglah," Alrega menyimpan ponsel, lalu membuka salah satu laci di bawah meja rias, mengambil alat pengering rambut dan mulai mengeringkan rambut Sella dengan tangannya sendiri.


'Oh. Jadi dia yang menyembunyikan alat itu di sana? Dasar!"


"Aku tidak akan memberikan hp-ku lagi pada Zen." Alrega bicara sambil membelai kepalanya.


Pria itu begitu lincah mengerikan rambut panjang Sella, hingga hampir kering. Sella membiarkan dan menikmati semua yang dilakukan Alrega kepadanya. Mereka saling bertukar pandangan mata melalui cermin.


"Nah, sudah selesai sekarang," kata Alrega seraya menyimpan alat pengering rambut, mecium pucuk kepala Sella dan kemudian menarik Sella dalam pelukannya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Alrega berkata di dekat telinga Sella, setengah berbisik.


'Apa? Apa kira-kira dia tahu soal kehamilanku? Suster itu tidak mungkin bilang padanya, kan? Apa aku harus jujur sekarang?'


"Tidak, ada. Menyampaikan apa misalnya?" Sella memundurkan kepalanya.


"Benarkah, tidak ada?"


Sella mengangguk.


Tahu-tahu Alrega sudah menyimpan tangannya di belakang kepala Sella, agar tidak menjauh dan mulai menciumi bibirnya, dengan penuh semangat. Sella mengikuti arus ciuman yang membara itu, hingga beberapa saat, sebelum Alrega menyudahi ciumannya, karena ia hendak mengatakan sesuatu pada Sella.


"Aku ingin melepaskan lelahku di sini, bersamamu." Sambil berkata, pria itu sudah membawa Sella ke tempat tidur dan hanya sekali menjentikkan jarinya saja, handuk yang melilit di tubuh Sella sudah terlepas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2