
*Cover novelnya diganti sama NT. Cakep gak sih dears... Like, komen dan vote ya, kalau suka. Terimakasih atas dukunganmu. Happy reading*
Sella berteriak karena kaget., Belum sempat ia menjawab, Alrega dengan cepat melepas cengkraman tangannya dan menggendong Sella sampai di tempat tidur. Menghempaskan tubuhnya begitu saja.
Alrega mengungkung Sella di bawahnya, kedua tangannya berada di sisi tubuh Sella, dengan mata mereka yang saling menatap.
"Apa kau tidak mabuk?" Sella bertanya dengan nafas terengah karena dikejutkan oleh tindakan Alrega yang tiba-tiba.
"Tidak. Aku tahu semuanya, jelas sekali!"
'Sial ... '
"Maaf, sayang. Aku berkata seperti itu karena aku tidak ingin pasrah seperti ibuku. Maafkan aku sudah lancang padamu, ya?"
"Jadi ... Kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku ...?"
'Apa itu artinya dia ingin aku mencintainya?'
"Maaf, kalau ucapanku sudah menyakitimu ..."
"Kau pikir, kau bisa menyakitiku?!"
'Tidak. Aku memang membenci laki-laki, tapi aku tidak pernah berniat menyakiti mereka. Lalu apa yang bisa menyakiti orang berhati batu sepertimu, tuan Al. Apa kau juga akan sakit kalau aku membuka satu rahasia? Delisalah yang sudah membuat rencana untuk menghancurkan pestanya!'
Sella menggelengkan kepala.
"Tuan, Al. Sudah jam berapa sekarang. Mungkin tuan terlambat." Sella mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ia berkata sambil memutar pandangan kearah lain, tidak kuat rasanya harus bertatap mata seperti itu dengan Alrega. Sedangkan tubuhnya sudah terasa kaku karenanya.
Alrega tersenyum miring melihat kegugupan wanita, yang saat ini tidak berdaya di bawahnya.
"Aku tidak perduli." Alrega menjawab dengan ketus.
'Ya, ya kamu bos nya! Memangnya siapa yang berani dengan orang seperti dia'
"Tapi, sayang _ _" ucapannya terputus.
'Lawan aku kalau berani, lihat seberapa kuat dirmu'
"Kakek bilang kamu pernah mengalahkan penjahat. Kalahkan aku sekarang!"
'Aah, siapa yang berani'
"Oh, kakek terlalu mengada-ada ... "
"Jadi, menurutmu kakek sudah bohong padaku?"
"Uh. Bukan itu, maksudku _ _" Ucapannya terputus.
"Apa? Ayo lakukan!" Suara rendah tapi justru suara seperti itu yang membuat Sella merinding.
'Aaahk, aku sudah kalah! Tubuhmu, ototmu, semua jauh lebih kuat dariku tuan Al'
Sella mencoba mengambil ancang-ancang menjatuhkan lawan dalam posisi seperti itu. Ia masih ingat beberapa tehnik karate yang pernah dipelajari, dalam keadaan terdesak. Menyilangkan kaki di pinggang Alrega, mencengkram kuat bahu dengan kedua tangannya, lalu mendorong tubuh besar itu kesamping untuk menjatuhkannya. Tapi jangankan jatuh, bergerak saja tidak.
Sella mencoba sekali lagi, kali ini ia mengambil posisi seperti memeluk, sstu tangan di depan dada, mencengkram kuat handuknya. Lalu satu lututnya ia gunakan untuk menekan bagian dada dan perut Alrega dan kembali mendorong dengan kuat berusaha menjatuhkannya lagi. Dan ia tersenyum, tubuh Alrega sedikit terhuyung tapi ia masih kokoh dalam keadaan semula.
'Kaubmengerjaiku lagi, kan. Apa kau puas?'
"Jadi ... hanya itu kemampuanmu, hmm?" Kata Alrega sambil mengusap lembut pipi Sella.
Kepalanya menunduk, untuk menciumi seluruh wajah Sella dengan lembut, lalu tubuhnya merendah semakin menekan tubuh Sella, sedang ciumannya bertahan dibibirnya dengan ciuman yang kuat, sekuat keinginannya. Cukup lama ia menekan bibir Sella seolah-olah ingin menghisap seluruh kekuatan tubuh dan hatinya melalui ciumannya.
Tangannya merambah menjelajahi semua tempat, yang membuatnya semakin bersemangat, menekan dengan kuat di bagian dada, hingga Sella mengeluarkan suara lirih, yang justru membuat detakan keinginannya tidak bisa dibendung, untuk segera disalurkan dalam erangan kenikmatan.
Sella tidak bisa berbuat apa-apa, selain menerima semua perlakuan Alrega pada tubuhnya. Melayani dengan minat dan ketertarikan yang sama. Bahkan ia sendiri yang melepaskan handuk yang menutupi tubuh Alrega juga tubuhnya. Lalu membiarkannya melakukan aktivitas fisik saling memuaskan.
Alrega menghentikan aktivitasnya sejenak, saat itu kepalanya yang berada di atas dada Sella mendongak, menatap Sella dengan mata berkabut.
Ia berkata, "bayangkan kalau seandainya Delisa datang, apa yang akan kau katakan?"
'Bisa-bisanya dia bilang begitu, saat sedang seperti ini? Gila ya! Pasti aku akan bilang ... '
"Sayang, jangan hentikan. Kumohon ... "
"Kenapa?"
'Ahk, sial. Dia menjebakku. Tapi sungguh, aku tidak ingin kau berhenti sekarang!'
"Karena aku mencintaimu ... "
Alrega tersenyum puas mendengar jawaban itu, dan ia melanjutkan aktivitasnya dengan semangat yang menggebu. Berkali-kali Sella mengutuk dirinya sendiri, ia terbawa kenikmatan yang diberikan Alrega. Pria itu memperlakukan dirinya seperti seorang yang sangat berharga. Beberapa kali tatapan mata keduanya bertemu den Alrega memberinya tatapan penuh kasih sayang yang mengikat.
__ADS_1
Sella merasa dirinya dimanjakan, bahkan ia pun balas memanjakan Alrega, memberikan apa yang ia inginkan secara berulang-ulang. Ahk ...
Sementara itu di lantai satu.
Pak Sim heran, melihat Zen duduk di sofa ruang tamu, sambil memainkan ponselnya.
"Apa tuan belum juga turun?" tanya pria yang terlihat lelah itu dan ikut duduk di sampingnya. Zen menggelengkan kepalanya, menoleh pada Pak Sim tanpa ekspresi.
'Belum, aku melihatnya tadi duduk santai di balkon kamarnya, sambil bicara dengan nona. Kemungkinan akan selesai dua jam lagi atau bahkan lebih'
Ia berkata, "Istirahat saja seperti biasanya, anggap tuan sudah pergi," kata Zen datar.
"Aku akan melakukannya kalau aku bisa. Nyonya tua, selalu membuat orang lain waspada."
"Mungkin dia akan segera istirahat, kalau nona berhasil mengalahkannya." jawab.
"Apa kau mendo'akannya segera mati?"
Zen tertawa mendengar ucapan Pak Sim. Lalu berkata, "bukan aku, tapi nyonya sendiri yang berjanji, kan. Jangan bilang kau lupa?"
Pak Sim diam, menatap lurus ke depan, ia tahu semua yang terjadi di rumah itu, termasuk janji Marla yang mengatakan dengan jelas, bahwa ia tidak akan mati kalau belum melihat cucunya bahagia dengan seorang wanita. Dan akan memberikan berlian 'biru cahaya' yang langka miliknya.
Saat wanita angkuh itu mengatakan janjinya, seolah-olah nyawanya terlepas dari genggaman Tuhan dan berpindah padanya. Ahk, yang benar saja.
"Apa nona muda sudah mendapatkan berlian itu?" Tanya pak Sim dengan mata bersinar.
"Pak, apa kau sudah pergi berlibur ke planet lain selama ini?" Sahut Zen sambil tersenyum sinis.
"Apa kau melihatnya sendiri?"
Pak Sim tak percaya, merasa belum pernah melihat Sella memakai kalung berlian itu dilehernya, karena Sella lebih sering memakai pakaian yang tertutup dibagian leher dan dada.
"Tidak, tapi tuan Rega yang melihat nona memakainya."
'Aku hampir tidak percaya kalau tuan bisa bahagia dengan wanita seperti nona' Pak Sim.
'Apa bisa dipercaya, tuan Rega akan hidup bahagia dengan orang seperti dia?' Zen.
***
Sella membuka matanya dengan perlahan, dan ia melihat Alrega. Pria itu berada di sisinya dalam posisi tubuh yang miring, tengah menatap dirinya dengan tatapan mata penuh arti. Tangannya menyibakkan beberapa helai anak rambut yang ia selipkan di balik telinganya.
Sella menatap pria tampan di hadapannya ini dengan malu-malu, ia segera menutupi, wajahnya yang merona itu dengan selimut.
Alrega menyibakkan selimut yang menutupi wajah Sella, sambil tersenyum. Ia melihat Sella, seolah-olah ia adalah dunianya, ia tidak akan melepaskannya, bahkan saat ini ia ingin selalu bersamanya.
Kalau memang benar seperti, yang dulu pernah Alrega katakan padanya bahwa, kesetiaan adalah harga dirinya. Maka Sella tidak perlu kuatir. Bahkan ia bisa mencintai laki-laki ini sepenuhnya. Tidak perlu takut akan ditinggalkan.
Entah apa yang harus dia maknai, dalam hidupnya bersama Alrega. Apakah menjadi sebuah berkah atau menjadi sebuah musibah? Kelak dikemudian hari ia tidak akan mudah meninggalkan laki-laki seperti ini.
Bila seseorang yang mencintai, bukankah ia tidak akan menyakiti?
Kebanyakan wanita, akan senang kepada laki-laki yang berjanji kepadanya. Tetapi Sella tidak, ia tidak mengharapkan seorang laki-laki pun berjanji kepadanya. Saat ini, ia memegang satu janji Alrega, yang mengatakan bahwa ia, tidak akan bersikap seperti ayahnya.
Tapi, pertanyaan kembali muncul dalam benaknya, apakah ia harus mempercayai Alrega?
Sella mengulurkan tangannya untuk membelai bibir Alregaega dengan ibu jarinya.
Ia berkata, "apa kau tidak ke kantor?"
Alrega menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "kalau kau memintaku pergi, maka aku akan pergi."
'Haha. Memang siapa aku berani meminta'
Mendengar perkataan Alrega, Sella mengernyit, ia merasa dirinya benar-benar dicintai. Tiba-tiba ia merasa ingin sekali egois, pada Alrega. Ia tidak ingin bermimpi, ia ingin sebuah kenyataan terjadi, menjalani kehidupan nyata, dengan menikahi pria yang dicintainya. Bukan sebagai balas dendamnya. Ia takut suatu hari nanti Alrega akan pergi meninggalkannya.
Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan menjadi penakut. Ia akan sangat khawatir bila orang yang dicintainya mengalami sesuatu hal, yang tidak ia inginkan. Seperti yang Sella alami saat ini, menjadi orang yang penakut
Seorang yang terlalu mencintai orang lain, dengan cara berlebihan, maka ia akan menjadi seorang pengecut, karena begitu besarnya rasa takut kehilangan.
"Tidurlah kalau kau lelah. Aku akan meminta pak Sim membawa sarapanmu kemari," kata Alrega lagi, sambil meraih tangan Sella dan mencium jari-jarinya.
"Aku sudah makan, dengan ibu, tadi."
"Bagus. Kemarilah ..." Alrega berkata sambil merengkuh Sella kembali dalam pelukannya.
Seseorang akan merasa tersanjung, dengan cara orang lain dalam bersikap padanya, seperti membanjirinya dengan kata-kata manis dan perhatian. Membuat seseorang merasa bahwa dirinya sedang disayang. Seperti inilah yang dirasakan Sella.
Tapi ia kembali sadar bahwa ia dinikahi sebagai hukuman, dan karena dendam seperti yang dikatakan Delisa, padanya.
'Apakah mungkin akan ada cinta di antara kita berdua?'
Tapi apa yang dilakukan Alrega kepadanya saat ini, benar-benar membuatnya tak percaya. Apakah ia harus menangis atau tertawa menghadapinya? Ia hanya khawatir ketika Ia benar-benar mencintainya maka ia akan dihempaskan begitu saja.
__ADS_1
'Apakah ada yang lebih sedih dari diriku dalam sebuah hubungan?'
Sekali lagi ia merasa dirinya dalam dilema. Biasanya, orang seperti Alrega akan sangat mudah untuk melakukan balas dendam dengan berbagai cara, tapi mengapa ia melakukan hal yang sangat repot dan melelahkan seperti menikahinya? Yang ia tahu, pernikahan adalah muara bagi dua insan yang saling mencinta. Sedangkan dirinya, bukan!
Hingga Sella berpikir gila, dengan berkata, "sayang, sebenarnya aku tahu siapa orang yang sudah merencanakan untuk menghancurkan pesta pernikahanmu dulu ... Dia adalah Delisa."
Ia mendongak menatap Alrega yang juga tengah menurunkan pandangan kepadanya yang berada dalam pelukannya.
'Ya aku tahu sejak awal. Bahkan sebelum kita bertemu'
"Hmm... " Bergumam sambil menghela nafas panjang.
"Apa kau sudah tahu?"
Alrega menggeleng pelan, sambil menjawab "belum."
"Dan sekarang kau tahu, apa kau percaya padaku?"
Alrega mengangguk.
"Kau tidak marah?"
Alrega kembali mengangguk, lalu menjawab, "Aku akan menyelidikinya."
Sella mengerutkan keningnya, ia berfikir serius, kalau Alrega tahu, bukankah seharusnya dia marah dan menghukum Delisa lebih berat dari hukuman yang ia terima sekarang, namun anehnya ia sama sekali tidak marah.
"Apa kau akan menghukumnya juga?"
"Kau pikir hukuman seperti apa, yang pantas untuk dia?" Alrega bertanya, ingin tahu apa pendapat Sella.
Sebenarnya ia sedang menghukumnya. Alrega membayangkan saat ini Delisa tengah tersiksa dengan merasakan sakit hatinya, karena ia sudah menikahi Sella.
Namun tanpa sadar justru saat ini dirinya, yang terjebak dalam rencananya sendiri, karena Ia tidak menyangka bahwa ia akan menyukai keadaan bersama Sella seperti saat ini.
"Hukuman yang pantas untuk orang, yang sudah berbuat sememalukan itu pada suaminya? Hmm ... Aku tidak tahu. Tapi kau pernah mencintainya. Apa kau akan memaafkannya?" Tanya Sella, sambil memainkan jarinya di dada polos Alrega.
"Menurutmu?"
'Hei, Kenapa kau selalu meminta pendapat padaku, urusan Delisa itu denganmu bukan denganku'
"Aku tidak tahu."
"Lalu apa yang kau tahu, bodoh?"
Ck!
'Kau ini, apa kau lupa, kita baru saja melakukan sesuatu yang intim, tapi kau masih mengataiku bodoh, dasar!'
"Aku hanya tahu kalau aku harus membayar hutangku."
Alrega melepaskan pelukannya dan ia terduduk menatapnya serius. Tubuhnya hanya ditutupi oleh selimut sebatas pinggangnya.
"Hutang apa kau dengan perempuan itu?"
"Saat aku berjanji dengan Delisa, menjalankan rencananya dua tahun yang lalu, dia membayarku dan aku bertekad akan membayar kembali, arena aku menganggapnya sebagai hutang."
"Berapa hutangmu, biar Zen yang mengurusnya."
"Aku merasa tidak pantas, aku menganggap harga diriku tergadai karena kejahatan yang aku lakukan padamu. Kalau kau membayarnya, sama saja harga diriku masih tergadai padamu,"
"Apa salahnya kalau dirimu tergadai padaku, bukankah kita sudah menikah bahkan baru saja kita melakukan sesuatu dan kau menikmatinya kan?"
Wajah Sella kembali memerah dan ia menutup dengan selimut.
'Memalukan sekali'
Tak lama ia membuka selimut di wajahnya.
Ia berkata, "Itu uang yang sangat banyak, apa aku pantas membayar hutang dengan uangmu?"
"Tidak masalah, kau adalah istriku."
'Kenapa dia selalu mengatakan suami istri, suami istri terus sih'
"Aku ingin membayar hutang dengan segera, karena aku menjadi orang yang pantas berada di sisi siapapun, dan aku bisa menebus kejahatanku, hingga aku tidak perlu merasa bersalah di hadapan semua orang."
"Kalau begitu, kau bisa membayarnya sendiri, pakai saja kartumu."
"Itu, sama saja uang darimu. Aku punya tabungan sedikit. Aku akan menambahkan sedikit uang dari kartumu."
"Kau bisa memakainya sebanyak yang kau mau."
Sella mulai berfikir kalau ia ternyata bisa memanfaatkan Alrega untuk menuruti keinginannya, tiba-tiba ada senyum samar di bibirnya.
__ADS_1
Ia pun berkata, "Sayang, bagaimana soal jendela balkon kamar Ibu, berikan kuncinya padaku."
Bersambung