
Yorin berdiri kaku di pintu yang terbuka, ternyata gadis itu yang datang dengan membawa bungkusan di tangannya. Ia mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan, di mana Marla yang tengah di rawat, berbaring lemah di atas tempat tidur.
Ada Rehandy, pamannya, yang duduk kelelahan di sofa dan Zen di sampingnya, ada juga asisten Marla yang berdiri di sisi bangsal, tengah berhadapan dengan Alrega.
Ketika pandangannya jatuh pada Sella yang berdiri di samping kakak sepupunya, ia memalingkan wajahnya. Gadis itu tidak berani menatap Sella. Ia tidak menyangka akan menemuinya di sana.
'Ahk, aku pikir dia belum di temukan, atau dia tidak mau pulang karena malu. Semestinya dia membenci semuanya, tapi dia di sini sekarang ...
sebenarnya terbuat dari apa hatinya hingga dia masih mau pulang? Mungkin dia benar-benar mencintai kakak dan kakak juga sangat mencintainya'
Saat Alrega datang dan mendengar semua kejadian di rumah, pria itu sangat marah pada Yorin, seandainya ia bukan adik sepupunya, mungkin ia sudah mati di cekik saat itu juga.
Yorin menahan napasnya sejenak lalu melangkah mendekati meja. Ia dan seorang asisten, menyimpan beberapa makanan yang sengaja di buat oleh Pak Sim di rumah, untuk semua orang yang menemani Marla.
Alrega terlihat masam sejak melihat Yorin muncul di sana, ia masih kesal saat membayangkan adik sepupunya itu, berniat akan membunuh Sella kemarin. Untung saja hal buruk itu tidak terjadi.
"Kenapa wajahmu cemberut begitu?" Tanya Alrega sambil duduk berhadapan dengan ayahnya.
Yorin tidak menjawab, meliriknya sekilas, ia berniat kembali melangkah keluar, tidak ada keinginan lagi untuk berbincang dengan Marla. Di saat itu pula, Sella menahan dengan memegang pergelangan tangannya.
"Apa kau masih marah padaku? Yorin ... maafkan aku, sudah merusak pestamu kemarin," kata Sella dengan penuh permohonan.
Sikap Sella yang seperti ini justru membuat Yorin terperangah, ia merasa dirinyalah yang seharusnya meminta maaf, pada kakak iparnya. Hanya saja ia tidak tahu harus mengatakan apa dan memulai dari mana. Perasaannya tidak enak, seandainya bisa ia ingin lari menghindarinya saat itu juga. Ia sudah sangat keterlaluan, mengingat Sella bukanlah orang yang bersalah.
Saat ia mendengar ucapan Delisa yang mengatakan siapa Sella, di masa lalunya, ia benar-benar tidak percaya. Kebencian yang muncul dari benaknya seperti kekuatan singa yang menerkam mangsa dan mencabik-cabik daging buruannya. Ia merasa dikhianati oleh orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Kehangatan yang diciptakan Sella di rumah, sudah membuat mereka begitu dekat. Namun semua sirna ketika mengetahui bahwa bSella, yang sudah menipu semua orang di pesta pernikahan kakaknya hampir tiga tahun yang lalu.
Rasa dikhianati dalam hatinya lebih sakit, dari saat ia dikhianati pacarnya. Ia memang ingin sekali membunuh Sella seperti janjinya, tapi tiba-tiba ia tersadar, ia tidak bisa melakukannya. Sella sendiri yang mengatakan kalau ia bersedia disiksa dengan siksaan apapun yang bisa memuaskannya asal tidak mengotori tangannya, dengan menjadi seorang pembunuh.
Yorin melihat tangan Sella yang memegang tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia pergi keluar kamar, seketika pegangan tangan Sella terlepas.
Sella melangkah mengikuti gadis itu hingga ke koridor, suasana saat itu sepi, sebab satu lantai itu sudah di sterilkan dari pengunjung dan penghuni lain, setelah Marla mulai di rawat.
"Yorin! Tolong maafkan aku! Aku mau kita kembali bersahabat seperti dulu. Kau mau, kan?" Sella berkata setelah berhasil memegang tangan Yorin kembali.
Yorin membalikkan badannya sambil menggelengkan kepalanya, menatap Sella sambil berkata dengan suara lirihnya.
"Kakak tidak salah, aku yang harusnya minta maaf. Aku malu sudah menyiram kakak." Waktu itu Yorin menumpahkan mangkuk besar berisi makanan yang sedikit panas, sebagai pelampiasannya. Ia terbawa emosi hingga mengabaikan tatakrama karena sangat marah dan tidak mungkin untuk membunuhnya.
Mendengar ucapan Yorin, Sella mengerutkan alisnya, berfikir sebenarnya apa yang dikatakan Alrega, hingga Marla dan Yorin tidak marah padanya.
__ADS_1
Tidak ada kemarahan di wajah gadis itu, melainkan rasa bersalah yang sangat dalam. Ia dikhianati dua kali oleh Delisa. Wanita yang sudah ia anggap paling pantas mendampingi Alrega. Siapa yang menduga kalau ternyata gadis wanita itulah yang sudah menghancurkan pestanya sendiri.
Sesaat kemudian, Yorin mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkan sebuah benda kecil, berwana hitam. Itu sebuah flashdisk tempat semua data tentang kebenaran, dari Alrega, yang diberikan padanya.
"Apa yang kau simpan di sini?" Tanya Sella sambil melihat benda kecil di tangannya.
"Kupikir, Kakak Ipar tahu? Itu dari Kak Rega, bukti kalau Kakak tidak bersalah."
"Oh, seperti itu." Sella berkata sambil mengangguk, menggenggam benda kecil itu, matanya mengerjab berulang kali, banyak prasangka bermunculan di benaknya.
"Maafkan, aku Kak. Kau sangat baik. Oh iya, seharusnya, saat sudah menerima uang dari Delisa, Kakak tidak perlu menangis di trotoar seperti itu, katakan saja pada semuanya bahwa itu hanya akting saja. Mungkin aku tidak akan membencimu."
Yorin tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, menyadari kebodohannya, selama hampir tiga tahun sudah membenci orang yang salah.
Sella diam karena berfikir, lalu ia bertanya, "Kapan kau mendapatkan ini." Sambil menunjukkan benda kecil itu di tangannya.
"Kemarin, Kak Rega marah sekali, dia tahu aku mengguyurmu dengan kuah sup. Kalau saja aku bukan adiknya, mungkin aku sudah mati sekarang."
Sella mendengar semua penuturan Yorin yang menceritakan bagaimana Alrega bisa tahu, hingga ia segera kembali dari urusannya. Begitu sampai di rumah, laki-laki itu langsung memberikan rekaman itu dan memintanya untuk melihatnya saat itu juga.
Yorin memutar isi rekaman itu di hadapan Marla, Zania, pak Sim juga Rehandy melalui laptopnya. Setelah melihat semuanya, barulah ia tahu dan menyesal. Bahwa mereka semua sudah menghukum orang yang salah.
"Baiklah aku akan pulang kalau Nenek sudah sembuh."
"Kakak mau di sini menunggu Nenek? Tidak perlu ... lebih baik temui ibu dulu, dia sendiri di rumah sekarang."
Sella memang memikirkan Zania, tapi ia juga memikirkan Marla, ia berjanji akan menemaninya sampai sembuh.
"Baiklah, aku akan menemui ibu, nanti," jawab Sella sambil melepas pelukannya dan kembali ke bangsal.
***
Sella memutuskan untuk menemani Marla di rumah sakit, Alrega menemaninya. Pria itu tidak dalam posisi bisa mengatur Sella sekarang, ia sudah menjadi sangat terikat dengannya. Menuruti apa mau Sella, seperti sebuah keharusan baginya. Sementara asisten setia Marla, berada di luar kamar, bersama dengan para penjaga lainnya.
Marla sudah tertidur, saat Alrega menarik Sella duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur Marla. Ia merengkuh bahu istrinya merapat ke dada. Sella membiarkannya tapi ia tidak merespon lebih hangat, sikapnya cenderung dingin.
Sejak kepergian Yorin tadi, ia terus bermuka masam pada Alrega. Lagi-lagi ia kesal, entah harus marah pada siapa, atas semua yang ia dengar dari adik iparnya, tentang isi rekaman yang diberikan padanya. Ia enggan membahas, sebab jawaban yang Alrega berikan setiap kali ia bertanya, selalu tidak pernah jelas. Ia selalu mengalihkan pembicaraan, lalu dengan tenang mengatakan, 'semua itu masa lalu, tidak penting lagi apakah semua itu benar atau tidak'.
Kebenaran saja ia tidak mau mengakuinya, apalagi cinta, tapi jelas sekali sikap dan perbuatan yang Alrega tunjukkan, hanya bisa dilakukan oleh orang yang mencintai.
__ADS_1
Sella ingin sekali tahu soal flashdisk itu, sejak kapan dia memilikinya, bagaimana, apa yang membuatnya bisa mengumpulkan semua bukti menjadi satu di sana. Kalau memang sejak lama, kenapa setiap kali ia bertanya, ia selalu mengelak?
"Apa ada yang membuatmu kesal? Apa itu orang, atau sesuatu?" Alrega bertanya sambil menundukkan kepalanya menatap Sella dari arah samping.
'Ya, ada, itu kamu, tahu?'
"Katakan. Biar aku pikirkan bagaimana cara membalasnya, biar dia lebih kesal lagi dari rasa kesalmu sekarang."
'Balas dirimu sendiri sana!'
"Sampai kapan kau mau diam seperti ini, hemm?"
'Terserah akulah!'
"Baiklah, kalau begitu ...." kata Alrega sambil melepaskan pelukannya, berdiri dan melangkahkan kakinya ke pintu.
'Menangnya mau ke mana, kamu?'
Sebelum keluar, ia menoleh pada Sella yang masih duduk bertahan dengan diamnya, lalu berkata dengan tegas.
"Aku pulang, kau tidak membutuhkan aku, kan?"
'Terserah ....'
"Apa kau marah lagi?" Alrega kembali mendekati Sella, duduk tegap di hadapannya seolah hendak menyelesaikan masalah penting dengan mitra perusahaannya.
'Iya'
"Cepat katakan, aku tidak tahu masalahmu, kalau kau tidak bicara."
'Bagaimana kalau aku tidak mau?'
"Apa kau mau aku paksa lagi untuk bicara?"
'Memangnya apa yang mau kau lakukan?'
Alrega mendekat, bergerak dari posisi duduknya, ke sebelah Sella. Di saat yang sama, ponsel Sella yang berada di dalam tasnya berdering.
Bersambung
__ADS_1