Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 33. Zania Haquel


__ADS_3

Sella melihat seorang perawat mengeluarkan suntikan, dengan cepat ia menahan tangan perawat itu agar tidak melakukan tindakan pada Zania.


Wanita malang itu Zania Haquel, anak perempuan satu-satunya kakek Mett Haquel. Sebenarnya ia mempunyai seorang saudara perempuan, yaitu ibunya Yorin, tapi ia sudah meninggal dunia. Kini, hanya Zanialah anak kakek Mett yang tersisa. Namun ia juga kini hidup dengan malang, depreasi berat merusak kejiwaannya.


Manusia hidup tidak pernah ada yang sempurna, kehidupan kakek Mett yang penuh dengan kekayaan, kekuatan, pengaruh yang luar biasa dalam dan luar negeri, ternyata hanya dikaruniai dua orang putri, yang satu meninggal diusia muda dan yang lain mengalami depressi jiwa.


"Apa kalian selalu melakukan ini pada Nyonya?" Sella menarik tangan perawat itu dan ia memeluk Zania dengan erat.


"Lepaskan tangan kalian, nyonya bukan penjahat. Perlakukan dia dengan baik, seperti kalian menyayangi ibu kalian sendiri," kata Sella lagi, menahan kesal.


"Mana kami berani, Nona. Kami akan dianggap tidak sopan. Dan kami harus melakukan tindakan sesuai prosedur," kata perawat senior.


"Omong kosong!" Bentak Sella. Ia semakin mempererat pelukan.


"Nona, bajunya basah karena Nyonya tidak mau minum obat dan menumpahkan airnya," kata pelayan.


'"Lalu?"


"Kami ingin mengganti bajunya, tapi nyonya selalu susah kalau mau diganti, jadi kami harus menyuntikkan obat ini setiap kali nyonya memberontak."


"Sekarang jangan lakukan apapun. Biar aku yang mengatasinya. Lepaskan tangannya!"


"Tapi, Nona. Bagaimana kalau nanti Nona dipukul?" Kata perawat senior.


"Biarkan aaja."


Sella mengeratkan lagi pelukannya, membelai Zania pada punggung dan kepalanya, lalu berkata,


"Mama, Mama tenang ya ... Mama tenang ... Mama tenanglah," ia mengusap-usap rambutnya pelan.


Sella memperlakukan Zania seperti anak kecil yang merajuk, lalu berceloteh lagi.


"Mama, dengar yaa, Mama ini wanita cantik. Wanita cantik harus ganti baju! Ayo, ganti baju. Bajunya basah. Nanti, basah bajunya, basah kasurnya, basah semuanya. Gimana?" kata Sella lembut.


Zania tidak berhenti memukul Sella yang memeluknya. Tapi Sella menahannya dengan kuat. Rasa sakit tidak ia hiraukan. Membiarkan Zania melepaskan kegundahan, rasa sakit, kesal, emosi, gelisah, kekacauan perasaan dengan cara yang ia bisa. Sampai ia lelah. Sampai ia puas.


"Mama, kesal? Tumpahkan pada Sese, Ma. Ayo, ma. Asal Mama puas dan Mama bisa tenang. Mama bisa senang,* kata Sella.


Dari pengalamannya saat bersama dengan Flinna, ibunya itu akan menangis dan memukul lantai sampai berulang kali, menangis dan menjerit sampai Flinna puas dan lelah, setelah itu ia akan berhenti dan kemudian tertidur.


Sella tidak punya waktu membawa ibunya kerumah sakit, apalagi anak seusianya, belum tahu apa yang harus dilakukannya.


Waktu itu, Sella merasa lelah dan ingin mendapatkan kasih sayang dari ibunya kembali. Sudah cukup lama ia seolah hidup sendiri, hingga kemudian ia sering memeluknya, menganggap ibunya waras. Bahkan ia bercerita tentang apa yang dilaluinya, bermanja-manja di pangkuannya, walaupun Flinna hanya diam tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


Semua ia lakukan seolah-olah ibunya mengerti, padahal waktu itu Flinna tidak bergerak, ia diam seperti batu, seperti itu setiap hari, jangankan menjawab panggilan Sella, menatapnya saja tidak.


Tanpa diduga, justru sikap Sella itulah yang kemudian, mengembalikan kesadaran Flinna. Membuat rasa keibuan untuk melindungi dan menyayangi anaknya muncul kembali. Hingga tanpa pengobatan yang berarti, Flinna akhirnya sembuh, walau Sella harus melakukan berbagai usaha dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Saat ini Zania masih terus memukul, Sella juga masih terus memberikan tubuhnya sebagai umpan. Lalu ia tetap berkata-kata yang menghibur hati. Memuji serta membujuk agar pakaiannya mau diganti.


"Mama." Sella menunduk, memegang tangan Zania yang sudah mulai lemas karena sudah cukup lama memukul dengan seluruh tenaganya.


Semua yang ada disana, dua perawat dan seorang pelayan hanya terlihat cemas dan diam, membiarkan Sella berbuat sesuka hatinya.


Tanpa di duga, saat Sella menunduk dan menggenggam erat tangan Zania, wanita itu menggigit bahunya, hingga Sella meringis menahan sakit yang luar biasa. Zania menggigitnya dengan sekuat tenaga, bahkan pundak Sella berdarah karenanya.


"Mama sudah puas, menghigitku?" kata Sella sambil tersenyum lembut pada Zania. Ia duduk di sisi tempat tidur dan menatap Zania tepat dibola matanya.


Setelah Zania melapaskan gigitannya, ia diam lalu menatap Sella, dengan tatapan yang aneh. Semua perawat saling pandang. Selama ini Zania tidak pernah bertatapan mata dengan siapapun. Matanya memandang entah kemana, seolah ia berada di dunia lain.


Pengalaman Sella dengan ibunya dulu, kurang lebih sama. Flinna tidak pernah bertatap mata dengannya, walau ia sangat ingin diperhatikan ibunya. Pandangan mata ibunya seperti melihat ke alam yang berbeda.


"Mama ... lhat, bahuku. Mama puas? Mama tidak boleh ya begini lagi?" kata Sella sambil menunjukkan bahunya, tapi Zania hanya melihat pada wajah Sella yang tersenyum sangat manis. Senyumnya menunjukkan seolah-olah yang dilakukan Zania tidak berarti apa-apa.


"Mama yang cantik. Ayo tidur," kata Sella lagi. Tapi Zania tidak bergerak. Ia masih menatap Sella, yang membuat Sella tertawa.


"Mama, lihat aku...aku cantik? Mama lebih canti!" Kata Sella sambil memeluk tubuh Zania.


Sella memundurkan badannya lalu membelai rambut Zania dan menyelipkannya kebelakang telinga.


"Ayo! Mama tidur, ya ... aku ngantuk! Jadi, Mama harus tidur sekarang," kata Sella seperti merajuk pada ibunya sendiri. Meraih tubuh Zania agar berbaring.

__ADS_1


Sella berbuat sama seperti yang ia lakukan dulu pada ibunya. Saat ia lelah dan ingin ibunya membelainya, maka ia akan mengambil tangan Flinna dan ia letakkan diatas kepala, lalu menggerakkan tangan Flinna seolah-olah ibunya tengah membelai kepalanya.


Kini Sella tidur di samping Zania, ia memposisikan tubuh Zania yang sudah lemah seolah-olah ia sedang memeluk dirinya. Sella mengusap-usap punggung Zania. Tubuh mereka saling berhadapan.


Sella memulai bercerita, ia memulai dengan cerita burung Gagak yang mencuri jagung, agar ia bisa menang melawan burung Gereja, ia berbuat curang. Lalu karena kecurangannya itu, justru ia terbakar api yang dibawanya sendiri.


"Saat bertemu api, burung gagak itu bicara, wahai api, bolehkah aku membawamu, untuk menyalakan tungku si pandai besi, besi untuk membuat sekop, sekop untuk mengambil tanah liat, tanah liat untuk membuat belanga, agar bisa kuambil air kali, untuk mencuci paruhku, agar bersih diriku, akan kumakan burung Gereja. Kata Gagak, tapi ia tak tau kalau api bisa membakar dirinya, hingga akhirnya ia terbakar api yang ada di punggungnya, sebelum ia sempat memakan burung Gereja, tamat... itulah sebabnya mengapa burung gagak berwarna hitam," kata Sella diakhir cerita.


Selesai cerita itu. Zania belum juga tidur.


"Nona, kami harus mengganti baju nyonya," kata perawat senior.


"Ssstt, biarkan untuk kali ini. jangan ganggu," sahut Sella dengan perlahan dan menyimpan jari telunjuk di bibirnya. Tidak disangka gerakan Sella diikuti oleh Zania seperti anak kecil.


Para perawat akhirnya diam. Mereka tidak ingin merusak suasana yang terlihat harmonis itu.


"Haha. Mama. Mereka berisik ya. Ayo Maoma! Kita tidur. Biarkan mereka," kata Sella seraya memeluk Zania lebih erat. Zania melakukan hal yang sama.


"Mama mau dengar cerita lagi? Aku punya cerita soal burung pipit dan anaknya yang mencuri padi disawah," kata Sella.


Entah mengapa semua cerita Sella tentang burung. Apakah maksudnya berhubungan dengan kebebasan atau ia memang hanya tahu cerita itu? Setelah cerita burung pipit selesai, Zania belum juga tidur, kini ia berkisah tentang burung hud-hud dan raja Sulaiman. Setelah cerita itu usai, barulah Zania tertidur pulas hingga keesokan harinya.


-


Sella terbangun dengan membuka matanya secara perlahan, ia masih lemas dan seluruh badannya pegal. Itu karena sisa pergulatan semalam, ia menghabiskan semua energinya menerima pukulan Zania. Ahk, bahunya juga perih, belum sempat diobati.


Zania masih tidur dengan posisinya semalam. Sella pergi dengan perlahan agar tidak membangukannya. Sebab tidurnya baru sebentar. Perawat dan pelayan yang ada di sana berbeda dengan orang yang semalam berjaga.


'Apa mereka memiliki shif masing-masing? Ahk, terserah. Terlalu banyak misteri di sini'


"Panggil aku kalau nyonya bangun. Apa kalian mengerti?"


Mendengar ucapan Sella, para perawat itu saling pandang. Mereka seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa.


"Hei, dengar. Panggil aku kalau Nyonya bangun. Jangan takut. Aku yang akan bertanggung jawab," kata Sella sambil keluar menuju kamarnya sendiri.


Setelah tiba di kamar, Sella melihat Alrega masih tidur, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, yang terkena darah dengan kemeja warna putih yang biasa ia pakai di rumah. Ini salah satu kemeja terbaik yang ia miliki. Ia masih ragu untuk memakai pakaian yang ada dalam lemari karena ia tidak tahu pakaian siapa yang ada di sana, walau ia tahu semua pakaian itu sesuai ukurannya.


Sella mencari-cari sesuatu, ia tidak membangunkan Alrega atau menanyakan pada pak Sim soal obat. Takut disalahkan. Ia sudah sangat merasa bersalah.


Ia ingat kata-kata Yorin waktu itu yang mengatakan bahwa Zania menderita depresi sejak kejadian pernikahan Alrega. Itu artinya karena kesalahannya. Apa yang akan Zania lakukan kalau tahu, bahwa Sella lah pelakunya, ia yang telah menipu mereka semua.


Bagaimana dengan kakek Mett kalau dia tahu bahwa Sese, yang ia anggap baik untuk cucunya Itu, adalah orang yang sudah membuat anak perempuannya depressi, Sella merinding memikirkannya.


Sella memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak, ketika ia mendengar suara berdehem dari tempat tidur. Sontak saja ia bangkit menegakkan punggungnya dan menoleh pada Alrega. Lalu berkata,


"Tuan sudah bangun? Selamat pagi."


"Hmm. Mana sendalku," kata Alrega dengan menatap Sella dingin. Tatapan yang sudah biasa Sella dapatkan selama ini.


Sella mendekatkan sendal ke kaki Alrega dan laki-laki itu memakainya.


Alrega berdiri dan mengambil botol anggur yang ada di meja dekat tempat tidur nya, lalu menuangkannya dalam gelas kosong dan ia akan meminumnya, ketika Sella menahan tangannya sambil berkata,


'Apa ini kebiasaanmu? Buruk sekali'


"Apa harus minum anggur sepagi ini, Tuan?"


Alrega menepis tangan Sella dan berkata,


"Bukan urusanmu," menggoyangkan jari telunjuk dan minum anggur dalam gelas sampai habis.


"Apa itu enak, apa itu bagus, Tuan?"


Alrega mengangguk, menuang lagi anggur dalam gelas, dan berkata,


"Tentu saja," sambil mengangkat gelas.


"Kalau begitu, berikan padaku," kata Sella sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. Ia menatap Alrega dengan sorot mata pumpkin yang menggemaskan seolah berkata, kumohon.


Alrega mengerutkan keningnya dan menatap Sella dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Ini tidak baik untuk wanita,"


"Anggap saja kita sesama pria yang sederajat."


Entah kenapa Alrega ingin tertawa saat ini juga bagaimana bisa ia menganggap wanita itu pria yang sederajat. Alrega melihat kearah bibir Sella yang tersenyum penuh permohonan.


"Nanti..." belum sempat selesai Alrega menjawab.


'Kau mabuk'


Sella sudah memegang tangan Alrega yang memegang gelas anggur dan menariknya kearah bibirnya.


Reflek, Alrega mengangkat gelas itu tinggi dan menahan tangan Sella dengan satu tangan yang lain. Sella gagal, eh justru niatnya menggagalkan Alrega meminum anggur itu berhasil.


Alrega menyimpan gelas itu kembali ke atas meja. Lalu tangannya yang masih memegang tangan Sella, menarik tubuh Sella dalam pelukkannya. Ia menggunakan tangan yang lain untuk mengusap bibir Sella dengan ibujarinya lembut.


"Ini..." kata Alrega sambil mendekatkan kepala dan mencium bibir Sella, memaksa Sella merasakan anggur dari mulutnya dan memberi aroma anggur yang wangi hingga memenuhi rongga hidungnya.


Alrega menghentikan ciuman bibirnya setelah Sella memalingkan wajah dan menarik nafas dalam. Ia hampir kehabisan udara.


"Apa kau senang?" tanya Alrega.


'Senang kepalamu'


"Berterimakasihlah padaku," kata Alrega lagi dengan senyum miring kemenangannya.


Akh, ia lupa untuk tidak terburu-buru pada Sella. Bibir gadis itu tidak bisa membuat Alrega mengabaikannya.


'Untuk apa? Tidak akan'


Sella berusaha melepaskan diri dari pelukan Alrega.


"Lepas. Tolong, lepaskan saya, tuan," kata Sella lembut. Tapi sorot matanya penuh kebencian. Ia seperti burung kecil tak berdaya dalam genggaman pemburu yang berhasil menangkap nya.


Akhirnya ia bisa lepas dari pelukan Alrega, Sella berpaling dan melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi suaminya.


Setelah menyiapkan air mandi dan semuanya termasuk pakaian dan sepatu, Sella melangkah mendekati Alrega, pria itu duduk menghadap jendela balkon yang terbuka lebar.


"Air mandinya sudah siap, Tuan," kata Sella sambil menuju kearah pintu.


"Kemana kau pergi semalam?" Alrega bertanya pada Sella tanpa menatapnya.


Sella mendekat untuk melihat ekspresi yang ia dapatkan dari laki-laki ini.


"Saya tidak kemana-mana," jawab Sella tenang.


Alrega menoleh dan berkata,


'Dasar bodoh'


"Kau pikir aku tidak tau?"


"Maaf, tuan. Saya hanya mendengar suara orang menangis dan... tuan...apakah itu ibu anda?" kata Sella.


Ia mendekat, berlutut dekat single sofa yang diduduki Alrega lalu meraih tangan Alrega, mendekap tangan besar itu dengan kedua tangannya, lalu berkata sambil berurai airmata,


"Apakah karena ini anda menghukum saya, apa semua ini salah saya, Tuan? Maafkan saya ... sekarang saya tahu salah saya sangat besar pada keluarga anda, Maaf..."


Alrega menarik tangannya lalu berdiri, melihat Sella yang berlutut dikakinya, ia berkata,


"Kalau begitu, jalani hukumanmu dengan baik."


"Baik, tuan. Asal Tuan mau memaafkan saya," kata Sella sambil berdiri.


"Siapa yang menyuruhmu bangun. Berlutut!"


"Baik," Sella berlutut kembali.


"Sini, ikut aku!" kata Alrega lagi sambil berjalan ke kamar ganti.


'Sialan! Bukannya tadi menyuruhku berlutut?'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2