Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 110. Ini Tidak Pantas


__ADS_3

Alrega membawa Sella masuk dan melepaskan genggaman tangannya, lalu mendorong bahu wanita itu hingga ke dinding. Punggung Sella bersandar sedangkan kedua tangan Alrega berada di sambing kepalanya.


"Apa yang akan kau lakukan di sini?" Suara Sella terdengar gemetar dan rendah.


"Kau pikir, apa lagi, ha?" Alrega berkata dengan posisi wajah sangat dekat dengan Sella, membuat tubuhnya yang tinggi sedikit membungkuk.


"Aku tidak memikirkan apa-apa. Jangan berbuat macam-macam, ini rumah sakit, kalau kita melakukan sesuatu, itu tidak pantas."


"Kau bohong, kalau tidak memikirkan apa-apa, bagaimana kau bisa bicara seolah-olah aku akan bercinta denganmu, di sini?"


'Hei, dari mana kau tahu? Aku tidak bilang apa pun'


"Sudah kubilang, aku tidak memikirkan apa-apa."


"Aku akan mewujudkan hal yang kau pikirkan." Saat berkata, Alrega sudah memiringkan kepalanya dan bibirnya sudah berada di atas bibir Sella. Ia memagut dengan sangat kuat, lebih kuat dari biasanya sampai, Sella merasakan sakit karena beradu dengan gigi Alrega.


Alih-alih menahan ciuman, Sella justru membuka mulutnya hingga lidah Alrega menjelajahi kenikmatannya, itulah ciuman yang dalam.



Ia terus melakukan ciuman dengan beberapa kali merubah posisi kepalanya. Ia tidak memberi kesempatan Sella untuk bernapas, hingga ia menghirup udara dari hidungnya dan yang tercium adalah aroma khas Alrega. Wanginya seperti aroma pohon Pinus bercampur cengkeh yang dipanen di pagi hari.


Sella tidak kuat, tangannya yang ada di dada Alrega, mendorong kuat, hingga pagutan bibinya terlepas. Ia bukan menolak Alrega, hanya saja ia khawatir ada yang melihat mereka, atau ada yang tiba-tiba membuka pintunya saat mereka tengah melakukannya.


"Al, aku ...." Sella memutar bola matanya ke sana ke mari, ia melihat situasi.


"Kenapa? Apa kau takut?" Tanya Alrega, kembali mendekat, sambil memegang dagu Sella agar pandangan matanya terarah padanya.


Kamar itu kamar VIP, semua pengawal tahu ada Alrega di dalamnya, tentu mereka akan menjaga. Tidak akan ada yang berani mendekatinya walau apa pun yang terjadi, kecuali Alrega mengizinkannya. Kalau ada, maka Zen siap mematahkan tangan orang yang sudah berani melakukannya.


Sella mengangguk.


"Tidak ada yang akan masuk walau kau berteriak, kecuali aku mengizinkannya."


Sella menatap wajah Alrega yang sudah mulai mengendur tegangannya. Akan tetapi, ia juga tidak akan meminta maaf padanya karena ia merasa tidak bersalah. Siapa yang bisa menyalahkan perasaannya?


Sekarang ia sudah tahu kebenaran di balik pernikannya, ia bukan satu-satunya orang yang harus menanggung hukuman sepenuhnya. Ia merasa tidak perlu lagi terus menerus merasa bersalah, lalu melakukan hal yang aneh-aneh seperti dulu demi mendapatkan maaf dari Alrega.

__ADS_1


"Dengar, aku tidak mau di sini, aku mau kembali ke kamar Nenek."


"Aku tidak mengizinkanmu. Sebelum kau menghiburku!"


'Ha, apa ... menghiburmu? Ahk, yang benar saja'


"Apa kau sedih?"


Alrega mengangguk, ia melepaskan cengkraman tangan di dagu Sella, lalu menyibakkan rambut yang membuyar, mengumpulkannya di salah satu bahu. Setelah itu ia menyimpan kepalanya di pundak yang kosong, napasnya terasa hangat di ceruk leher Sella.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Sella bertanya sambil menunduk, melihat wajah Alrega yang memelas seperti anak kecil. Kemarahannya sudah menghilang, ia seperti seorang bocah yang membutuhkan kasih sayang.


Dia pria yang dibesarkan dengan penuh kedisplinan dan pelatihan tanggung jawab yang tinggi. Zania sangat menyayanginya dengan segala kelembutannya, hanya saja, sejak dua tahun lebih, ia tidak pernah mendapat belaian dan kasih sayang itu dari ibunya. Jangankan ucapan yang menyemangatinya, senyuman pun tidak.


Hingga ia menikahi Sella, wanita yang ia nilai kasar karena penampilannya, ternyata sangat lembut dan menyenangkan, penuh keceriaan serta ramah, lucu dan menggemaskan dimatanya. Tanpa sadar rasa ketertarikan pada Sella itu tumbuh sedikit demi sedikit dalam hatinya.


Sesuatu yang tumbuh dalam hati itu akan sulit di hilangkan, melainkan ia akan terus tumbuh semakin besar dan kuat. Dimulai dari sehalai daun kecil hingga menjadi satu pohon yang rimbun. Berbeda dengan sesuatu yang tumbuh di bumi, bila seseorang tidak menginginkannya, maka dengan mudah untuk menebang dan membuangnya.


"Tidak ada.," kata Alrega singkat, tapi ia segera menegakkan tubuhnya, lalu membopong tubuh Sella, secara tiba-tiba.


"Kenapa tidak memanggilku sayang?"


'Hah, kau ini kekanakan sekali, seharusnya kau sadar, tahu?'


"Aku masih marah." Sella berkata ketus, memalingkan pandangan ke samping.


"Aku sudah minta maaf ...." Alrega berkata dengan suara rendah yang menekan perasaan. Ia hampir tidak pernah mengucapkan maaf, tapi ia sudah mengatakan kata itu beberapa kali kepada Sella.


"Kau juga tidak pernah memanggilku sayang."


"Jadi, itu masalahnya, panggilan seperti itu tidak penting."


Sella merasa geli mendengar penuturan Alrega, seolah hatinya digelitiki. Lucu.


"Haha. Kalau memang tidak penting, kenapa sekarang mempermasalahkannya? Sudah, pergi sana!" Sella berkata sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.


Alrega tidak membiarkannya, ia menekan buah dada Sella dengan kuat, dalam genggaman seperti menggenggam bola yang lunak dan menggemaskan untuk dimainkan.

__ADS_1


Sella meringis, salah satu bukit dadanya terasa dingin dan panas sekaligus seperti di timpa sesuatu yang keras.


"Aku tidak akan melepaskan sebelum kau panggil aku sayang."


'Ahk, itu pemaksaan, kau benar-benar tidak mencintaiku kan Al? Kau menyakitiku ... ini sakit, tahu?'


Air mata Sella tiba-tiba menetes, membuat Alrega terbelalak, ia sudah menyakitinya. Ia menyesal dan melepaskannya lalu menjatuhkan diri ke samping, dengan mata yang terpejam. Ia berpikir bahwa gadis itu sudah menjadi obsesi kebahagiaannya, ia sangat menyukai semua yang dilakukannya, termasuk panggilan sayang dari bibirnya.


Dulu mereka tidak memiliki perasaan apa-apa, lalu Alrega yang memaksa memanggilnya dengan panggilan itu, untuk mengerjainya. Beberapa kali panggilan Sella berubah-ubah, tapi sejak ia pergi ke luar kota beberapa hari yang lalu, ia belum mendengar Sella memanggilnya dengan sebutan itu. Ia mulai terbiasa.


Semua kebiasaan yang dilakukan seseorang pada orang lainya, menjadi salah satu penyebab sulitnya melupakan, bila terjadi perpisahan. Apalagi bila kebiasaan yang dilakukan seseorang itu adalah hal yang manis-manis.


Sella menoleh ke samping, melihat Alrega yang terpejam, lalu memiringkan tubuhnya. Ia mengusap dada Alrega sambil berkata dengan lembut.


"Al, sayang ... apa kau merindukanku, waktu kau ada di Mioshen?"


Alrega membuka mata dan menoleh, wajah mereka berdekatan dan pandangan matanya saling bertabrakan.


'Aku tidak tahu apakah itu rindu atau bukan, yang jelas aku selalu berpikir seandainya ada kau di sampingku'


"Aku cuma ingin cepat pulang dan menemuimu, itu saja," sahut Alrega.


'Apakah sulit sekali kau mengaku?'


Detik berikutnya, Alrega sudah memeluk wanita di sampingnya dan tangan yang di belakang tubuh Sella, membuka resleting gaunnya. Ia menyibak pakaian yang dikenakannya, setelah berhasil menarik pengait gaun itu sampai ke ujungnya.



Matanya berkilau saat bertemu pundak Sella yang putih dan dadanya yang masih tertutup bra. Itu adalah salah satu bagian tubuh yang disukainya, sangat bagus dan nikmat untuk di sentuh. Ada beberapa bintik merah keunguan yang masih membekas. Pria itu yang membuatnya dan masih terlihat, namun kini ia akan menciptakan tanda itu lagi.


"Al, ini rumah sakit ...." Sella berusaha mengingatkan, namun tidak berhasil.


Alrega masih memainkan puncak dada dengan mulutnya. Saat Sella berkata, ia menatap dengan pandangan yang sangat menuntut agar Sella mau memberikan tempat, untuk ia bisa melepaskan libidonya malam itu.


Alrega turun dari tempat tidur untuk melepaskan pakaiannya sendiri, lalu kembali naik, menutupi tubuh Sella dengan tubuhnya, yang sudah tak berbusana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2