
Sampi di ruang Instalasi Gawat Darurat medik, klinik pinggiran kota, Hanza membiarkan dokter dan perawat melakukan pertolongan dan tindakan pada Sella. Ia menunggu di ruang tunggu sambil memegangi tas milik Sella, melihat isinya dan menemukan alat tes kehamilan yang ada di dalamnya.
Seketika alisnya berkerut dan kembali tertawa lebar, tidak peduli dengan beberapa orang yang lewat memperhatikan tingkahnya yang aneh. Rasa penasaran yang membuatnya kembali memeriksa isi tas Sella dan membuka isi dompetnya. Dari tanda pengenal wanita itu, ia mengeja nama panjang gadis yang lahir tanggal 27 Agustus itu.
'Hmm ... nama yang unik Sellamarini'
Hanza menghela nafas dalam, keunikan wanita yang iya sukai, nakun tidak bisa ia miliki.
'Ahk, lihat apa yang aku temukan di sini Rega? Apa yang kau lakukan sekarang padaku kali ini apa kau benar-benar berani menghancurkanku? Tidak ... aku senang sekali bermain-main seperti ini'
Hanza tidak sesibuk Alrega, karena prinsipnya hidup harus dinikmati. Biar orang yang mengurus perusahaan asal semua usaha berjalan sebagaimana mestinya, maka ia tidak perlu repot-repot. Tinggal bersantai sesuka hati. Prinsipnya berlawanan dengan Alrega, yang mempunyai prinsip bahwa hidup harus diisi dengan bekerja keras. Selama mampu maka apapun harus dilakukan yang penting bisa membahagiakan orang yang di sayang, bukannya membahagiakan diri sendiri.
Saat ia masih berpikir dan melamun, seorang perawat datang mendekat dan memanggilnya.
"Maaf. Apakah anda suaminya?"
Tanpa ragu, Hanza mengangguk, perawat itu tersenyum dan berkata lagi.
"Anda harus bersyukur, karena janin istri anda baik-baik saja, tidak terjadi masalah dengan kandungannya."
Mendengar perkataan perawat ini, Hanza tersenyum kecut. Gadis itu hamil karena Alrega, ia pernah menyangka bahwa Alrega punya kelainan karena ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun saat masih di sekolah dulu.
'Ahk, memang apa yang bisa aku harapkan? Aku tidak akan mengharapkan Sella mengalami hal buruk. Sesakit apa pun kesedihan yang aku alami, aku tidak ingin menyakiti perempuan ini'
Sella adalah wanita yang ia sukai, sehingga tidak mungkin menyakitinya, tapi ia tidak bisa mengalahkan laki-laki yang menjadi pilihannya. Ia pun mengangguk ke perawat itu, lalu masuk ke kamar perawatan Sella, berdiri di sisi bangsal dan melihat wajahnya dari dekat.
Kini dokter yang berada di hadapan Hanza dan menjelaskan keadaan Sella, ada luka kecil di bagian dahi, juga bahu dan tangan yang terkena pecahan kaca, cidera di bagian pinggul, memar di punggung akibat benturan keras yang dialaminya. Ia harus mendapatkan perawatan sementara di rumah sakit.
Hanza keluar kamar perawatan setelah dokter selesai memberinya penjelasan, bahwa janin yang dikandung Sella sangat kuat, disaat terguncang, ia memilih untuk bertahan. Ia memutuskan untuk menelpon Alrega, dengan menggunakan ponsel Sella. Ia menyeringai saat mendial nomor Alrega.
'Hei, kira-kira apa nama yang kalian gunakan pada layar ponsel?'
Ketika ia mendial nomor Alrega dan yang muncul di layar ponsel Sella, membuatnya mengerutkan alis dan kembali tersenyum masam.
'Hahah.... suamiku? Menjijikkan sekali kalian ini'
Nomor Alrega ini menghubungi berulang kali, menunjukkan betapa kuatirnya pria itu akan keselamatan istrinya. Ia kembali tertawa ketika membayangkan Bagaimana raut wajah Alrega saat ia mengangkat ponsel dan yang terdengar bukan suara Sella, melainkan suaranya.
'Lihat, sepertinya akan jadi lucu sekali'
"Hai ... halo!" Kata Hanza saat ponsel sudah tersambung, sambil menahan tawa. Lalu ia pun melanjutkan, "apa kabar?"
Terdengar suara dari balik telepon, "siapa kau!" Dia sebentar. "Di mana istriku!" suaranya sangat keras membuat Hanza menjauhkan ponsel itu dari telinganya, sambil nyengir kecil menahan berisik.
__ADS_1
Hanza kembali terkekeh dan berkata, "Apa kau mencari istrimu? Dia dalam pelukanku sekarang!"
Hanza menghela nafas berat. Ia memang sempat memeluk Sella tadi, ketika ia mengangkatnya dari lantai yang kotor di cafe. Ia membelai wajahnya dan bahkan membersihkan darah yang ada di dahinya. Mendekapnya erat ke dadanya, seolah-olah itu adalah pelukan pertama dan terakhirnya.
"Mana dia? Berikan ponsel istriku, padanya! Aku akan bicara!" teriak Alrega dengan keadaan yang marah di ujung telepon.
"Jangan terburu-buru ...." Katanya sambil mengusap rambutnya, sesantai ia menikmati kemarahan Alrega, ia menahan tawa membayangkan betapa bencinya n laki-laki itu kepadanya. "Dia aman bersamaku, dia sedang tidur sekarang."
'Kapan lagi? Puas rasanya bisa mengerjaimu seperti ini, Rega ....'
Ketika di sekolah dulu, mereka menjadi saingan dalam banyak hal, namun Hanza tidak bisa melakukan apa pun pada Alrega. Ia tahu betul apa akibatnya, begitu juga saat ini, tapi sekarang ia tidak perduli. Kemungkin Alrega akan marah atau meninjunya tapi ia sudah sangat puas, walaupun nanti akan mendapatkan sasaran pukulan dari Zen ataupun Alrega.
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Oh, tidak ada ... aku tadi hanya mengajaknya berjalan-jalan saja. Aku menemukannya di kafe Pelangi. Apa itu salah?"
"Jadi, kau yang menelepon dan menghubungi Sella membuatnya datang ke sana?"
Hanza sejenak berpikir apa mungkin hal yang dilakukan oleh Zola itu merupakan jebakan, dan dia melakukan panggilan pada Sella untuk menipunya? Ia tidak tahu apa yang menyebabkan Zola melakukan dan merencanakan hal selicik itu.
'Berarti Rega tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ahk ... yang benar saja'
"Hei. Aku hanya memberinya kehidupan, aku tidak melakukan apa-apa!' Hanza menyahut lebih panik sebab ini akan jadi kesalahpahaman antara mereka berdua.
"Jangan mengada-ada, kehidupan seperti apa yang kau maksud? Kurang ajar!"
Setelah Hanza berhenti bicara, di ujung telepon tidak ada jawaban, hanya ada suara ******* nafas yang terdengar bergemuruh dan saat itu ponsel pun ditutup secara sepihak.
Mendapati hal seperti itu, Hamzah tertawa terbahak-bahak, ia benar-benar tidak perduli akan dirinya sendiri, yang ia pikirkan adalah kesenangan sesaat.
Sementara di tempat lain, dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, Alrega mendengus sambil berkata, "awas kau nanti, berani-beraninya ..."
Saat yang bersamaan, mobilnya sudah menepi di depan rumah sakit di pinggir kota. Sebelum turun, Zen memperingatkan Alrega. "Tuan, bukan Hanza yang mengirim chat itu."
Kemudian Zen menunjukkan isi pesan dari ponselnya yang melacak nomor tak dikenal itu. "Itu nomor lama yang sudah tidak terpakai dan diaktifkan kembali dan nomor itu milik Zola."
Namun Alrega sepertinya tidak peduli siapa pelakunya, bahkan tidak tahu permasalahannya, tapi ia sudah terlanjur marah dan ingin melampiaskannya pada Hanza. Teman sekolahnya itu sudah berhasil mengerjai dirinya.
Alrega turun dari mobil dan langsung menuju ke lobby rumah sakit. Begitu ia melihat Hanza yang sedang duduk di depan ruang IGD, dia sudah mengepalkan tinjunya.
Sementara Hanza menoleh karena mendengar suara langkah kaki mendekat, melihat siapa yang datang, ia tersenyum sinis.
'Kenapa dia sudah ada di sini, cepat sekali'
__ADS_1
Lalu ...
Buk!
Saat itu juga Alrega mendaratkan tinju tepat di pipinya Hanza sekuat tenaga. Gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, membuat siapin tidak bisa mengelak. Sekali, dua kali dan saat pukulan yang ketiga kalinya hampir mengenainya, Hanza berhasil menangkisnya.
"Kenapa? Kau marah, hah? Sella memang luar biasa bukan?"
Buk! Tinju Alrega sekali lagi melayang ke kepalanya.
Lalu Hanza hendak membalas memukul Alrega. Melihat itu, Zen tidak tinggal diam, ia langsung menyeret Hanza pada kerah bajunya ke tengah-tengah lobi dan memukulinya tanpa ampun.
'Itu untuk membalas Tuan muda'
"Hei, Zen! Kau salah orang, sialan!" Kata Hanza.
Hanza mencoba menahan pukulan Zen yang di luar dugaannya. Zen melakukan itu untuk meredam kemarahan Alrega yang bagaikan iblis yang keluar dari sarangnya. Pukulannya sangat keras dan sakit, lebih sakit dari saat ia menjalani pertandingan karate dulu.
Kejahatan dan kegelapan seolah-olah berkumpul jadi satu dalam tubuh Alrega dan menjelma dalam pukulannya, memberikan rasa sakit yang menyiksa, seolah-olah pintu neraka sudah terbuka.
Kegelapan yang selama bertahun-tahun disimpan dan ditutupi, tidak ada orang yang tahu kekuatan seperti apa yang dimiliki laki-laki ini. Kegelapan dalam hati manusia yang akan selalu ada, walaupun diredam tapi tetap akan muncul juga bila tiba waktunya.
Satu tinju terakhir, membuat Hnza benar-benar berdarah, ia tidak terima hingga akhirnya ia berbalik membalas tinju dari Zen sekuat tenaga. Ia menyesal, tidak membalasnya dari pukulan pertama yang mengenai rahangnya.
Sementara itu tanpa sadar, kedua orang itu menjadi sasaran perhatian orang-orang di sekitarnya.
Belum selesai amarah daj pukulan Hanza, Zen menarik kerah dan mendesaknya ke dinding, lalu berkata, "apa yang kau lakukan pada Nona? Hah!"
Hanza menyeringai sinis sambil memalingkan mukanya dan menyahut sambil tertawa. "Sudah aku bilang, kan? Aku memberinya kehidupan, aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar ... bukan begitu, Zen? Kau selalu melakukan apa pun yang kau anggap benar." Tertawa lagi.
"Kau?!"
"Sudah, lepaskan aku. Urus Nonamu saja!" Hanza menarik paksa tangan Zen dari kerah bajunya. "Katakan pada Rega, maaf, aku sempat memeluknya, urus saja kandungan Sella dan temukan pelakunya!" ucap Hanza diselingi tawa sambil menghapus darah di sudut bibirnya.
"Cepat katakan padaku, apa yang sudah terjadi, ha?'
"Kau sudah memiliki banyak mata-mata, tanyai saja mereka. Aku hanya meniru seseorang, melakukan sesuatu yang kau anggap benar."
Buk!
Satu tinju lagi mendarat di wajah Hanza tapi kembali laki-laki itu tertawa sambil keluar ruangan, dengan langkah penuh kepuasan.
Tak jauh dari sana, Alrega menghubungi seseorang, "Lakukan penyelidikan kejadian di kafe Pelangi sekarang juga!" Setelah itu menutup telepon dan melangkah menuju kamar di mana Sella di rawat karena belum sadar dari pingsannya.
__ADS_1
Alrega belum menerima kabar yang jelas tentang kejadian yang sebenarnya. Ia hanya sekilas menerima informasi di kafe yang didatangi Sella, bahwa sudah terjadi kecelakaan yang melibatkan tiga orang perempuan dan satu orang dinyatakan meninggal dunia. Ia terus melacak sinyal ponsel Sella dan menemukan titik lokasi Sella setelah Hanza melakukan panggilan padanya.
Bersambung