Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 126. Memeriksakan Diri


__ADS_3

Belum sempat Lea menjawab pertanyaan Sella, ponselnya berdering Seila melihat layar ponselnya dan alisnya berkerut, begitu mengetagui siapa yang sudah menghubunginya.


'Ck! Ada apa dia pagi-pagi sudah menghubungiku bukankah dia baru saja berangkat bekerja?"


Begitu Sella menghubungkan panggilanny, terdengar suara di ujung telepon yang menanyakan apakah dia baik-baik saja, Sella menangkap ada rasa kekhawatiran yang kentara dari perkataan Alrega.


'Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku hamil? Apa tidak bisa menyimpan rahasia di rumah ini?'


"Aku baik ... jangan khawatir, Sayang."


Sella diam sejenak, menyimak pembicaraan dari balik telepon.


"Iya, aku tidak kemana-mana, hanya ingin pergi jalan-jalan saja."


Sella diam lagi, kemudian menyahut.


"Baiklah ... hati-hati, Kamu juga jangan lupa makan siang, ya?"


Sheila kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia melihat ke sekitarnya


'Banyak sekali mata-mata dan kamera pengintai di sini, memangnya aku bisa apa? Jangan berharap bisa kabur dari sini dengan aman'


"Nona ... saya tidak mengatakan apapun, tapi saya yakin Tuan Rega tetap akan tahu."


"Iya, aku tahu." Kata Sella sambil memasuki mobil, diikuti oleh Lea dan ia duduk di belakang kemudi.


"Antarkan aku ke klinik ibu dan anak sekarang," kata Sella ketika sudah ada di mobil dan memakai sabuk pengaman.


Lea menoleh pada Sella sekilas sambil mengernyit dan mengedikkan bahu.


'Kenapa Nona ingin pergi ke klinik, tapi tidak memberitahu pada Tuan, apa sebenarnya yang terjadi?'?


Sella menoleh ka arah Lea yang sedang sibuk mengendarai mobil Sella.


'Kenapa? Apakah kau mencurigaiku?" kata Sella ketika melihat raut wajah Lea yang keruh.


"Maafkan saya Nona"


"Ya, ya. Baiklah aku mengaku ... aku hami, aku tadi tidak enak badan dan aku ingin memeriksakan diriku ke dokter. Aku tidak ingin Tuan Rega dan semua orang mengkhawatirkanku, kau tahu sendiri, kan. Bagaimana kalau mereka khawatir padaku? Mungkin aku tidak akan bisa kemana-mana karena itu aku tidak memberitahu siapapun. Apa kau mengerti sekarang?"


Lea tersenyum, mengangguk lalu berkata, "baik, Nona saya mengerti?"


Hari itu matahari bersinar cukup cerah, ini adalah hal yang bagus di sela-sela musim hujan, yang biasanya air akan selalu tumpah, seperti dicurahkan dari langit. Sebagian orang akan memilih untuk diam di rumah ataupun melakukan sesuatu yang menghangatkan.


Sella pergi ke sebuah klinik kesehatan ibu dan anak, yang tidak jauh dari pusat kota dan menyuruh Lea menunggunya di tempat parkir. Lea menurutinya setelah memeriksa keadaan sekitar. Ia berjalan mengitari klinik dan saat ia yakin keadaan aman, maka ia pun merasa cukup menunggu Nona mudanya dalam kendaraan.


Butuh waktu beberapa lama bagi Sella untuk bisa sampai pada antriannya karena ia tidak memilih tempat yang istimewa, ataupun yang direkomendasikan oleh Alrega.


Apabila ia memberitahu laki-laki itu pasti Alrega akan langsung merujuknya pada dokter kandungan ataupun dokter spesialis lain yang akan menjadikan dirinya sebagai pasien VIP. Bila itu terjadi, maka ia bisa dengan mudah melakukan pemeriksaan tanpa harus mengantri bersama pasien lain seperti ini.


Sella pun menemui seorang dokter wanita yang ramah dan mengatakan keluhannya kepada dokter itu, tentang apa yang ia rasakan. Ia banyak menanyakan beberapa hal yang selama ini tabu, tidak pernah dia pikirkan sama sekali. Setelah konsultasi selesai, ia menjadi banyak tahu tentang kehamilannya dan apa yang harus ia lakukan. Setidak-tidaknya ia mengerti bahwa seperti inilah yang dirasakan kebanyakan wanita bila sedang mengandung. Ia pun berjanji untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia pun menelan ludah, saat ia sadar harus meminum vitamin serta obat yang diberikan oleh dokter klinik tadi.

__ADS_1


Ingatannya tiba-tiba melayang pada Flinna, dia adalah wanita terbaik tempatnya berbagi.


'Ibu ... aku akan mengunjunginya kalau aku sudah mengatakan kehamilanku pada Al, nanti'


Sheila menyimpan obatnya ke dalam tas, saat ia menerima sebuah pesan masuk pada ponselnya. Ia lihat pesan itu berasal dari nomor yang kemarin menghubunginya, itu nomor wanita yang mengaku teman Delisa. Bunyi pesannya mengatakan bahwa ia sudah berada di lokasi yang Ia janjikan.


'Aku kan belum menjanjikan apa-apa'


Sella merasa heran karena Ia memang tidak pernah berjanji apapun pada teman Delisa itu. Ada sesuatu yang mengganjal, tapi dengan pesan itu, justru semakin membuatnya penasaran.


Sella menghampiri Lea yang sedang menunggunya di sisi mobil dan meminta Lea mengantarkannya ke suatu tempat, dengan menyebutkan ciri-ciri lokasi yang diberikan oleh penelpon.


"Nona, apa Nona yakin akan pergi ke tempat itu?"


Saat mereka bicara, mobil sudah melaju ke jalanan dengan kecepatan sedang.


Sella mengangguk, ia hanya mengatakan secara kasar gambaran tujuannya tanda mengatakan secara detil dari pesan mencurigakan yang ia terima.l


"Iya, aku hanya penasaran saja hadiah apa yang akan dia berikan untuk suamiku." Sella berkata sambil tersenyum, menggenggam alat tes kehamilan dan menyimpannya baik-baik dalam tas.


"Nona, sebaiknya Anda pikirkan lagi, Anda sedang hamil dan saya belum pernah pergi ke tempat ini dan sepertinya ini tempat yang agak jauh dari kota."


"Hei, Lea. Sejak kapan kau jadi penakut? Aku tidak apa-apa."


Mobil itu memiliki sistem keamanan yang bagus GPS pun tersedia, Lea sudah mengaktifkannya, tapi hatinya tetap saja tidak tenang, mengingat Sella masih dalam kondisi yang rentan.


"Ya, baiklah Nona. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa."


"?Baiklah kalau begitu saya akan melaporkan kepergian Nona pada Tuan."??


"Kau tidak perlu melapor dia pasti akan mengetahuinya, sudah jangan khawatir."


"Bagaimana saya tidak khawatir karena saya menjaga diri Nona, orang yang berharga bagi keluarga Leosan apalagi sekarang Nona hamil"


"Ah, kau ini ... sudah tidak perlu khawatir. Ayo! cepatlah. Sebentar lagi sore."


Di sepanjang perjalanan mereka berdua menikmati pemandangan yang indah, jalan yang panjang dan berliku-liku, angin pegunungan yang sejuk, banyak bunga liar tumbuh di kiri kanannya, memanjakan mata siapapun yang melihatnya.


Semua itu seolah membayar kelelahan perjalanan ketika melewati area perbukitan di pinggir sebelah Barat Kota Jinshe.


Di sanalah terdapat sebuah kafe yang ciri-cirinya mirip sekali dengan yang ditunjukkan oleh penelpon misterius itu.


Kafe itu pun terletak di dekat perbukitan yang sangat cantik, di dataran yang cukup tinggi dan ada banyak bunga bermekaran di sekelilingnya. Tempat yang sangat nyaman dan tenang untuk bersantai dari segala kepenatan hidup.


Ada banyak anak tangga menuju lokasi itu, cafe itu dirancang dengan tema perkemahan, terdiri dari beberapa gazebo yang terpisah-pisah satu dengan lainnya. Konsep yang menarik dan unik, sayangnya Cafe seindah ini tidak ada di tengah kota. Mungkin apabila berada di tengah kota maka bentuknya tidak akan cantik seperti ini.


Sella kembali menghubungi nomor yang kemarin memintanya untuk datang ke tempat itu, namun tidak ada jawaban dan hanya sebuah pesan singkat yang masuk melalui nomor yang sama.


Nomor asing : apa kau sudah sampai?


Sella : aku sudah ada di sini sekarang di mana kau?

__ADS_1


Nomor asing : tunggulah, aku akan segera keluar.


Sella keluar dari mobil dan berdiri di parkiran. Ia terlihat tenang saja, tapi berbeda dengan yang dirasakan oleh Lea. Gadis itu khawatir karena sepertinya tempat ini berbahaya, apalagi tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang memang tampak mondar-mandir di sana, mungkin karena tempat ini berada di pinggiran kota.


Sella berjalan perlahan dan mendekati salah satu gazebo yang terdekat dan terbesar di antara gazebo lainnya.


"Nona, berhati-hatilah, sepertinya tempat ini berbahaya."


"Lea ... apanya yang berbahaya tempat sebagus sekali."


Lea diam Ia hanya mengikuti Sella dari belakang, mereka terus berjalan menaiki tangga, secara perlahan. Gazebo itu ternyata tidak kosong, ada beberapa orang yang sedang menikmati kopi robusta, minuman yang menjadi menu andalan kafe, juga beberapa makanan lainnya.


Sella memilih gazebo itu karena menurutnya yang paling indah, dicat dengan warna pelangi terang menyala dan juga berada di posisi strategis sehingga ia bisa melihat ke seluruh area dengan nyaman, namun gazebo ini pula yang paling tinggi diantara Gasibu lainnya.


Menurut Lea, yang berbahaya dari tempat itu, semua anak tangga tidak memiliki pegangan di sisi kiri atau kanannya. Maka, orang yang menaiki tangga itu harus berhati-hati sekali.


Sella melihat beberapa orang sedang menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan, membuat minatnya untuk mencicipi menu andalan kafe, meningkat.


Dua wanita itu hampir mencapai tangga terakhir yang artinya tangga paling atas, ketika seorang pelayan wanita, melintas di hadapan mereka. Pelayan itu membawa baki yang penuh dengan piring serta gelas kotor dan beberapa makanan sisa di atasnya.


Tidak diduga pelayan itu terpeleset sehingga seluruh isi nampan yang ada di tangannya pun berjatuhan, berceceran kesegala arah menimbulkan suara gaduh yang sangat keras, memekakkan telinga dan tentu saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


Pelayan itu terjengkang ke lantai, sedang sebagian lantai dan tangga penuh dengan kotoran sisa makanan dan minuman. Jatuhnya nampan itu, tepat mengenai kaki Sellla. Secara spontan, wanita itu berusaha menghindar dari gelas dan piring yang berjatuhan. Saat itu pula ia sontak kehilangan keseimbangannya.


Tubuhnya terhuyung ke samping, Sella berusaha menggapai apapun yang bisa ia gapai sebagai pegangan, namun justru tergelincir di lantai yang licin. Ia pun jatuh dengan sangat keras di atas lantai tak bisa dielakkan.


Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat, hanya beberapa detik saja, tanpa bisa dicegah siapapun juga.


"Nona ...!" Pekik Lea sangat kuat, tapi sia-sia.


Begitu juga Lea, ia yang saat itu posisinya di belakang Sella dan masih berada di atas tangga terakhir, berusaha menggapai Sella, namun karena lantai yang licin, justru terjungkal ke samping dan tubuhnya terpental hingga ia jatuh begitu saja ke bawah tangga. Ia gagal menangkap Sella. Aahk ...


Semua itu disebabkan oleh lantai yang licin dari minuman dan makanan yang tumpah dari atas nampan yang dibawa pelayan itu, hingga jatuhnya Sella dan Leana tidak bisa dihindarkan.


Sementara pelayan yang terpeleset tadi, tidak sadarkan diri.


Kecelakaan itu terjadi tanpa sengaja, Sella terjatuh hampir bersamaan dengan Lea, hanya posisi mereka saja yang berbeda. Sopir pribadi Sella itu terjatuh di bawah tangga dan ternyata, ada beberapa batu yang menonjol, ,sehingga tidak bisa di tebak bagaimana nasib Lea selanjutnya, apakah nyawanya bisa diselamatkan, atau tidak.


*Kasih like dong biar aku gak sedih*


Connected


Malam ini berlalu tanpa hangatnya... membiarkannya memberi luka....


menemani dengan resahnya... dan mengharapkan esok gundahnya segera sirna.


Ribuan purnama,


mungkin akan kita lewati bersama tapi purnama tak pernah berjanji kalau sinarnya akan selalu sempurna.


(puisi buat dia yang tidak datang, saat aku menulis kisah sedih ini 😭)

__ADS_1


Kamu di mana?


__ADS_2