Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 80. Gadis Bermata Jeli


__ADS_3

Zen kembali terdiam mendengar pertanyaan Alrega, sebab ia memang belum memiliki kekasih. Jadi, agaimana mungkin ia akan menikah?


Akhir-akhir ini ia terganggu dengan kehadiran seorang wanita yang bekerja sebagai pembantu di apartemennya. Mereka bertemu saat Zen melakukan aktivitas amal, dengan membagikan makanan kepada semua pengunjung kedai kopi miliknya dan semua orang yang lewat di sekitar kedainya.


Semula hanya asisten rumah tangga yang biasa membantu Zen memasak makanan, melihat gadis itu hanya duduk menunggu makanan dibagikan di dekat kedai kopi.


Setelah makanan dibagikan, asisten Zen yang sudah berusia setengah abad lebih, menemui gadis itu tetap duduk di trotoar dekat kedai.


Asisten itu bertanya padanya, hingga mereka berbincang-bincang cukup lama. Setelah itu asisten Zen membicarakan tentang gadis tuna wisma itu kepada Zen. Gadis itu mengaku, sudah menikmati pembagian makanan beberapa kali.


"Gadis itu namanya Lonisa, Tuan, kalau Tuan berkenan, biarkan Lonisa yang menggantikan saya." kata bibi Asisten sesudah mengatakan tentang Lonisa.


"Apa bibi sudah bosan bekerja denganku?"


"Tuan, rasanya saya sudah cukup lama bekerja di rumah Anda, saya sudah sering libur karena sakit. Saya tidak ingin merepotkan Tuan, jadi biarkan gadis ini yang menggantikan saya."


"Baiklah kalau bibi ingin istirahat. Padahal aku tidak memaksamu bekerja keras."


"Tapi, Tuan. Saya ingin lebih sering berkumpul dengan anak dan cucu saya."


"Apa kau yakin, dia bisa menggantikan tugasmu?"


"Saya akan melatihnya selama sepekan, atau sampai dia terbiasa."


"Apa dia bisa dipercaya?"


"Entahlah kalau soai itu, saya akan bisa menilainya nanti. Saya hanya kasihan, dia tidak punya rumah, juga keluarga."


"Hmm..."


Bibi Asisten Zen, melatih gadis yang bernama Lonisa itu selama sepekan lbekerja. Ia sudah terbiasa dan cekatan dalam mengerjakan beberapa tugas. Ia hanya perlu beradaptasi dan kerepotan sekali selama satu pekan, ketika harus ikut menyiapkan makanan gratis pada semua pengunjung dan semua orang, di kedai kopi.


Zen punya keahlian khusus dalam menyelidiki seseorang, ia punya kemampuan seperti seorang intelejen dalam bekerja. Namun, ia tidak menemukan berkas apapun tentang Lonisa, ia benar-benar bersih, tidak ada catatan kriminal selama hidupnya, tapi bagaimana ia bisa menjadi seorang tuna wisma?


Zen tahu, ia adalah anak seorang pegawai biasa yang bekerja di kantor pemerintah kota. Apa yang terjadi pada keluarganya, tidak ada catatan apapun yang berhasil ia kumpulkan. Bahkan dari pihak kepolisian daerah juga tidak memiliki catatan apapun tentangnya.


Zen melakukan kegiatan penyelidikan itu, di sela-sela kesibukannya, mengurus kepentingan keluarga Alrega, dan juga perusahaannya.


Suatu malam ketika Zen baru pulang dari bekerja, ia duduk dikursi kebesaran di ruangannya yang mirip sebuah perpustakaan. Gadis itu membawa segelas teh susu hangat, dan dua butir telur rebus, yang ia hidangkan di meja.


Kebiasaan Zen ketika ia sampai di rumah, ia tidak segera tidur. Ia akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk keesokan harinya.


Seperti biasanya ketika ia pulang, Lonisa sudah menunggu dan akan menyediakan minuman itu padanya, sesuai yang bibi ajarkan dan kini sudah jadi rutinitas baginya.


Sudah satu bulan lebih Lonisa bekerja di apartemennya, tapi gadis itu tidak pernah bicara apapun. Yang keluar dari mulutnya hanya kata 'silahkan tuan' atau kata 'apa ada yang lain lagi tuan?'


"Duduk." kata Zen sambil menunjuk sofa yang ada di ruangannya. Ia sudah menghabiskan teh susunya ketika ia bicara.


Gadis itu bermata jeli, sangat jeli dengan bulu mata yang lentik dan garis bulatan mata yang hitam, rambutnya panjang sampai sebahu, tubuhnya proporsional, sesuai antara tinggi dan berat badan, kulitnya eksotis. Secara keseluruhan, gadis yang akrab di sapa Loni itu, cantik.


"Saya?" kata Loni seraya menunjuk dirinya sendiri, yang di angguki oleh Zen dengan antusias.


Lonisa tampak ragu, untuk mengikuti perintah Zen yang diluar kebiasaannya itu, tapi ia tetap menurut dan duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Ceritakan semuanya sekarang," kata Zen begitu Lonisa duduk.


Pertanyaan Zen itu, sukses membuat gadis itu diam, ia tercengang tidak percaya, bila dirinya ditanya tentang masa lalunya. Selama ia bekerja dengan Zen, ia merasa puas karena majikannya itu yang tidak pernah membicarakan hal pribadi dengan dirinya.


Lonisa perempuan yang cuek dan keras kepala, ketika mendapatkan kenyataan yang menimpa dirinya, ia begitu terpukul. Tapi sifat cueknya masih sama, ia tak perduli kalau ia harus mati.


Suatu saat ia mengamati kegiatan kedai kopi Zen, yang sering membagikan makanan, membuatnya merasa bahwa kesempatan untuk tetap hidup masih bisa ia dapatkan, walau tidak memiliki tempat tinggal.


Ia tidak menduga bila kedatangannya secara terus menerus, diperhatikan seorang wanita yang sebaya dengan neneknya. Ia memang terlihat oleh wanita itu, beberapa kali mengambil jatah walau sudah mendapatkan jatah sebelumnya.


"Tidak ada yang menarik dari saya." ucap Lonisa datar nyaris tanpa ekspresi. Mirip dengan Zen saat menghadapi beberapa hal yang tidak ia sukai.


"Tapi ini peringatan. Kau harus menceritakannya suka atau tidak."


"Tuan pasti tidak akan percaya."


"Itu urusan ku."


"Ck! Kenapa orang kaya selalu begitu mudahnya bilang, sepert itu?"


"Kau tidak berhak mengomentari sikapku!"


"Tuan, aku memang cuma pembantu di sini, tapi aku juga punya hak untuk tidak mengatakan apapun tentang hal pribadi."


"Kalau begitu, aku juga berhak untuk tidak membayar gajimu, bulan ini."


Lonisa mendesah keras. Kesal. Biar bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang buruh. Ia tidak memiliki kekuasaan apa-apa, selain menuruti majikannya. Ia punya mimpi, yang ingin diwujudkan dan itu membutuhkan uang.


"Ya, aku tahu," sahut Zen, sambil mengingat sosok seorang rentenir yang cukup disegani di kota karena terkenal dengan kekasarannya.


"Dia mengambil semua harta orang tua saya dan membuat ayah saya bunuh diri, lalu sakit jantung ibu juga kambuh, hingga menyusul ayah ... Karena tidak tahan menerima kematian ayahku. Jadi, seperti inilah aku sekarang."


"Apa ayahmu pernah berhutang padanya?"


"Ya, untuk operasi penyakit jantung ibuku."


'Pantas saja tidak ada catatan kriminal apapun karena mereka terlibat hutang dengan rentenir itu'


"Kau bisa mengambil pelajaran dari kehidupanmu sekarang," kata Zen, sambil menyerahkan sejumlah uang, yang sudah ia persiapkan sebagai gaji Lonisa, setelah sebulan ia bekerja. Gadis itu menerima dengan sukacita.


Berhutang pada rentenir seperti menyerahkan harta dan nyawa secara perlahan-lahan, ia menjerat seseorang yang berhutang, dengan bunga yang sama sekali tidak indah apalagi wangi.


"Apa kau tidak bersedih?" Zen bertanya karena ia tidak melihat ada airmata setetes pun yang keluar dari mata jelinya, yang menunjukkan kesedihan atau kehilangan orang tuanya.


"Anda heran kenapa saya tidak menangis, bukan?"


Zen mengangguk.


"Saya sudah bosan. Berapa banyak airmata yang sudah saya keluarkan, tidak bisa membawa semuanya kembali."


Gadis itu merasa lebih baik menjadi dirinya yang sekarang, tidak perduli dan cuek, dengan apapun yang terjadi di sekitar, membuatnya lebih nyaman. Ia cukup memikirkan dirinya sendiri, dan bekerja dengan baik juga demi dirinya sendiri.


Zen kembali menghela nafas kuat, seolah ingin melepaskan beban yang tiba-tiba bergelayut dihatinya, karena pertanyaan Alrega soal kekasih.

__ADS_1


Alrega sekarang sudah menemukan tambatan hatinya, seorang gadis yang baik walau sedikit aneh dengan prinsipnya. Zen bersyukur bahwa sekarang kehidupan tuan dan nona mudanya baik-baik saja.


Ia sebenarnya memang membutuhkan orang yang disebut sebagai kekasih. Ia juga ingat bagaimana dulu Sella mengajaknya menjadi kekasihnya sebelum menikah dengan Alrega.


"Sekertaris Zen, apa kau sudah punya pacar? Bagaiman kalau kau yang menikah denganku?"


Saat itu Zen hanya mampu menggelengkan kepala, sambil berkata, "Anda jangan bercanda, Anda calon istri tuan Rega."


Waktu itu Zen sama sekali tidak memikirkan untuk memiliki seorang pacar. Walaupun ia sudah cukup lama hidup tanpa kasih sayang orang tuanya.


Kakek Alrega, Nigiro Leosan meninggal karena memang usianya yang sudah senja. Laki-laki itu pergi dengan tenang setelah ia menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.


Entah mengapa ayah Zen yang menjadi pengawal pribadinya, sangat kehilangan dan bersedih atas kematian kakek Nigiro, hingga ia sakit-sakitan dan menyusul majikannya itu, setahun kemudian.


Sedangkan ibunya, seperti cinta sehidup semati dengan ayahnya, yang meninggal hanya selang beberapa hari saja, dari kematian suaminya. Saat itu Zen hanya berpikir, ayahnya terlalu merindukan ibunya di alam sana, hingga ia terus menerus memanggilnya dan ibunya pergi menemui ayahnya.


Zen kembali dari lamunannya dan membereskan berkas berkas yang ada di meja.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Alrega dengan tatapan penuh selidik pada Zen.


"Saya hanya tidak ingin bicara soal kekasih dulu, Tuan."


"Apa kau tadi memikirkan perempuan, kau tidak sadar dia sudah menggangu ketenanganmu?"


"Ya, Anda benar Tuan, seperti pengalaman Anda dengan nona muda, ya?" Zen tertawa diakhir kalimat.


"Ck! Kau ini. Bilang padaku, siapa perempuan itu, Zen?"


"Nanti saja, Tuan. Saya masih belum yakin ... Kita akan meninjau renovasi Daville setengah jam lagi." Zen berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi sepertinya tidak berhasil.


"Aku mau tahu perempuan itu sekarang."


'Ck! Apa yang membuat Anda antusias begini soal wanita?'


"Saya pasti mengenalkannya pada Tuan dan Nona, tapi tidak sekarang."


"Wah, wah, kau mulai berani membantahku karena wanita, ya?"


'Hais, kenapa Anda jadi menyebalkan seperti ini, virus nona muda sudah menulari Anda rupanya'


Zen memalingkan pandangan sambil tersenyum masam. Ia berkata setelah menghela nafas dalam.


"Baiklah, saya akan membawa gadis itu besok. Dimana Tuan akan menemuinya?"


"Di rumahmu saja, aku mau mengajak Sese jalan-jalan."


'Siapa itu, Sese? Apa itu jalan-jalan, tidak ada itu dalam kamus kita Tuan'


Ya, mereka memang tidak pernah pergi hanya untuk jalan-jalan.


"Baiklah," jawab Zen sambil mengendikkan bahu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2