
Memang tidak ada yang salah, Alrega sendiri tidak tahu bila ditanya mengapa? Sebab ia tidak mengerti, dengan perasaannya sendiri. Saat ia melihat Sella memeluk binatang itu, Alrega tidak suka. Ia tidak ingin Sella menyayangi hal lain, atau orang selain dirinya.
"Ayo ikut aku." katanya seraya melangkah dan menggamit tangan Sella.
"Kemana? Semua orang masih di sini. Ayo bermain dengan mereka." Sella menyahut sambil berusaha melepaskan tangan dari genggaman Alrega. Namun Alrega tetap menahan tangannya dan berjalan menjauh dari kandang Singa.
Saat itu Zania dan Rehandy hanya menatap keduanya dengan tersenyum hambar. Mereka tahu kalau Alrega menginginkan Sella pulang bersamanya.
Setelah berada agak jauh dari ayah dan ibunya, Alrega menoleh pada Sella, menatap wajahnya yang cemberut. Ia menarik tubuh Sella dan memeluknya, dengan satu tangan berada di pinggang dan tangan yang lain berada di dadanya.
Sella melihat ke arah tangan Alrega yang mulai melakukan sesuatu di sana.
"Apa yang kau lakukan, bagaimana kalau ada orang yang melihatnya?" Sella berkata sambil menepis tangan Alrega dari dadanya, tapi Alrega menangkap tangannya dan menggenggamnya.
"Jangan bermain dengan binatang itu,"
"Kenapa? Singa itu lucu dan lembut kalau dipeluk."
'Aku tidak suka kau memeluknya!'
"Rambutku lebih lembut dari bulu singa itu. Akan kubunuh singa itu, kalau kau masih menyukainya."
'Hei, apa kau cemburu? Bahkan dia bukan orang, ck!'
"Untuk apa membunuh binatang, singa itu tidak bersalah kecuali aku dimakan."
"Jauhi binatang itu, sebelum kau dimakan!"
"Itu tidak mungkin, Anda berlebihan Tuan Al!" Sella berkata sambil mendorong dada Alrega.
Alrega melepaskan pelukan. Ia membiarkan Sella yang menatapnya dengan raut wajah masam. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.
Alrega menarik nafas dalam, menyimpan kedua telapak tangan di saku celananya. Ia tahu Sella kesal karena ia memanggilnya dengan tuan Al.
Ia tidak bisa mengatakan terus terang, tentang bagaimana perasaannya kepada Sella.
Dulu, saat Delisa masih menjadi kekasihnya, Alrega tidak pernah mengatakan bagaimana perasaannya, walaupun mereka menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya. Ia hanya menunjukkan perhatian, menjaga dengan memberinya pengawal dan memberikan semua yang Delisa inginkan. Hanya Delisa yang sering mengungkapkan perasaannya pada Alrega hingga akhirnya ia menyerah.
Sore ini, saat ia melihat Sella memeluk singa, mengayunkannya dan menempelkan tubuh binatang kecil itu dipipinya, Alrega dibuatnya takjub dan tercengang, seolah ia melihat sinar bulan turun dan melingkupi tubuhnya.
Apalagi saat Sella memamerkan binatang itu, sambil tersenyum, itu pemandangan indah yang hanya ingin ia nikmati sendirian. Alrega tidak rela, bila Sella melakukan hal indah seperti itu dengan binatang peliharaannya.
Seandainya ia memang bidadari yang turun dengan pelangi, maka ia akan menggulung pelanginya kebumi, agar tak muncul lagi, hingga Sella tidak bisa kembali.
Seandainya Sella memang malaikat bersayap, maka ia akan mematahkan sayapnya, hingga ia tetap berada di bumi bersamanya dan tidak akan pergi untuk selamanya.
"Dengar, aku tidak ingin kau celaka, sebelum janjimu menjaga ibu di pesta Yorin, selesai kau lakukan."
"Oh, jadi karena itu?!" Sella menyela ucapan Alrega dengan cepat. Ada nada kecewa dalam nada bicaranya.
Ia mengira Alrega cemburu padanya, berharap Alrega mencintainya, bukan hanya sekedar janji tidak akan meninggalkannya. Ia begitu tenggelam dalam kebaikan dan belaian Alrega.
'Bagaimana bisa aku berharap seperti itu padanya? Dia memang bisa membuat bahagiaku sempurna, tapi kemudian ia akan menghancurkan dengan cara yang sempurna pula'
Selama beberapa hari ini, Sella tidak lagi memikirkan masalah harga diri, yang ia anggap sudah tergadai karena bayaran atas kejahatan di masalalunya. Ia mengabaikan kartu kredit dari Alrega, yang bisa ia gunakan untuk membayar kembali uang yang sudah di terima dari Delisa.
Semua itu karena Sella menganggap Alrega, mungkin mencintai dan menerimanya apa adanya. Ia tidak harus menjadi orang yang sempurna dan pantas berada di sisinya, sebab siapapun dirinya, maka Alrega tetap akan mencintainya.
__ADS_1
Seseorang tidak perlu menjelaskan banyak hal tentang dirinya, hanya untuk mendapatkan sebuah simpati. Sebab orang yang mencintai tidak membutuhkannya. Sebaliknya bagi orang yang membenci, sebanyak apapun menjelaskan kebaikan seseorang, ia tidak akan mempercayainya.
Ternyata apa yang ia pikirkan berbeda dengan kenyataannya. Sella mendengus kasar dan berbalik, dengan cepat berjalan menuju rumah. Ia meninggalkan ayah dan ibu yang masih berada di halaman belakang.
"Kau pikir soal apa memangnya?" Tanya Alrega.
Mendengar pertanyaan Alrega, Sella menghentikan langkahnya dan menoleh.
Alrega menatap Sella lurus, dengan sinar mata penuh makna, seolah melalui tatapan itu ia ingin mengungkapkan, semua rasa yang ada dihatinya. Aahk, seandainya tatapan mata bisa bicara, pasti hanya kejujuran yang akan dikatakannya.
'Oh, kupikir karena kau mencintaiku'
"Tidak, aku pikir Anda terlalu mencintai singa itu. Hingga Anda takut kalau ia dipenjara karena memakanku!"
"Apa. Apa kamu bilang?"
"Maaf. Sepertinya sekarang cuaca mau hujan. Saya harus berteduh," kata Sella sambil membuat telapak tangannya menjadi payung di atas kepalanya.
Sella mengalihkan pembicaraan, ia mengatakan hal berlebihan. Bahkan hari ini sangat panas, sama sekali tidak ada tanda akan turun hujan.
Alrega mendongak melihat langit, ia mengernyit setelah menatap Sella kembali. Entah ia harus tertawa atau marah, ketika ia mendengar Sella kembali mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Tuan Al, saya tidak boleh sakit kan? Kalau sakit, saya tidak bisa menjalani hukuman. Jadi permisi."
Sella berlalu pergi, tanpa menghiraukan Alrega yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring. Ia mengikuti langkah Sella dengan tenang.
Sesampainya di ruang besar, ia melihat Yorin membawa beberapa tas jinjing yang cukup banyak. Anak gadis itu terlihat kepayahan membawanya. Kemana perginya semua pelayan? Sella membantunya membawa semua tas itu ke kamarnya.
"Apa ini, kau menghabiskan uangmu lagi?" Tanya Sella ketika berjalan menaiki tangga.
"Hmm ... Seperti ini caramu menghargai mereka?"
"Tentu saja, untuk apa uang mereka kalau tidak untuk kita habiskan semaunya."
"Terimakasih, aku tidak terbiasa."
"Kakak Ipar, Sese ... kamu terlalu baik."
'Haha. Aku bukan orang yang baik, kalau kau tahu siapa aku, kau akan membunuhku, akulah yang sudah menipu kakakmu dua tahun yang lalu!'
"Ini barang yang banyak, bagaimana kau akan menghabiskannya?"
Ketika Sella bicara, mereka sudah sampai di kamar Yorin dan ia meletakkan semua tas itu di lantai.
Itu kamar yang besar, hampir mirip dengan kamarnya dan Alrega. Ada ruang ganti dan kamar mandi secara terpisah di dalamnya, ada meja rias yang panjang dan bagus, dipenuhi berbagai alat kecantikan serta pernak pernik wanita lainnya. Kamar itu di cat penuh warna warni dan lukisan bunga-bunga.
Sella menggelengkan kepalanya, melihat isi kamar yang tidak biasa, mungkin ia tidak bisa tidur nyenyak, walaupun itu kamarnya. Ia baru sekali ini masuk ke kamar Yorin, meski sudah cukup lama tinggal bersama menjadi satu keluarga.
"Kakak, semua ini hadiah untuk pesta. Bantu aku membungkusnya ya," kata Yorin sambil melepas sepatu, tas dan duduk di sisi tempat tidurnya yang besar.
Warna bedcover dan tirai jendelanya senada, menampilkan kesan glamor dan fanki gaya anak muda.
'Hais, banyak pelayan di sini, kenapa harus aku si. Apa kau mau mengerjai ku seperti kakakmu?'
"Hadiah untuk siapa, seharusnya kamu yang dapat hadiah, bukan?"
"Haha, Kakak. Ini bukan pesta ulang tahun anak kecil. Dipestaku, semua tamu undangan akan datang karna hadiah dan mereka akan sangat berterimakasih padaku, mereka akan mengingatnya. Aku ingin membuat pesta yang tidak bisa mereka lupakan seumur hidup mereka!"
__ADS_1
'Mungkin memang seperti itulah misi semua orang kaya dan ambisius. Mereka melakukan sesuatu bukan hanya demi kepuasan pribadi, tapi ada tujuan yang lain lagi. Tujuan dan ambisi mereka kadang tidak terpikirkan oleh orang sepertiku. Orang yang masih perlu berjuang hanya untuk urusan perut. Mana sempat memikirkan sebuah misi apalagi ambisi, yang ada dalam pikiran kami hanyalah bagaimana caranya agar kebutuhan hidup terpenuhi'
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Terimakasih Kakak, kamu adalah yang terbaik."
Saat Yorin berkata, ia tengah memeluk Sella dan tersenyum ramah padanya. Sella hanya menepuk-nepuk tangan Yorin tanpa ekspresi berarti.
"Kau ...." Alrega yang semula hanya melihat apa yang dilakukan Sella dan Yorin dari pintu kamar, tiba-tiba mendekat dan melepaskan pelukan dua wanita itu, lalu berkata.
"Siapa kau berani-beraninya memerintah Kakakmu?"
"Kakak!" Kata Yorin menunjukkan ketidaksukaannya pada Alrega. Kakak sepupunya itu tidak pernah memasuki kamarnya selama ini.
"Apa?"
Alrega berkacak pinggang, berdiri di samping Sella dan berhadapan dengan Yorin. Tingkahnya seperti anak remaja yang marah, ketika ada orang lain merebut kekasihnya.
"Kak Sese hanya membantu, aku tidak menyuruhnya."
"Apa kamu tidak punya asisten sendiri, apa pelayanan di rumah ini habis, ha? Sese bukan pelayanmu!"
Setelah selesai bicara, Alrega menarik tangan Sella keluar dari kamar Yorin. Ketika sudah sampai di pintu ia kembali berkata, sambil menoleh menatap Yorin kesal.
"Awas kau, meminta ini itu lagi pada Kakak Iparmu!"
Yorin bermuka masam pada Alrega dan mencibirnya.
'Dasar, bilang saja cemburu' katanya dalam hati, sambil menutup pintu kamarnya kasar.
"Lihat, adikmu marah. Kamu tidak perlu seperti itu padanya. Ia masih labil."
"Jadi, kau membelanya?"
'Padahal aku membelamu!'
Sella tidak menanggapi ucapan Alrega, ia terus berjalan memasuki kamar dan duduk di meja rias. Ia tahu Alrega marah, hanya saja ia tidak tahu, apa yang menjadi sebab kemarahannya.
Pria itu baru pulang bekerja dan ia harus pergi ke taman belakang, melihat hal yang tidak disukainya dan sekarang harus melihat adiknya memanjakan diri pada istrinya. Semua hal itu, sudah cukup membuat otaknya mendidih dan membutuhkan ketenangan.
Sella tentu belum faham tentang sesuatu yang Alrega inginkan. Mereka belum lama berumah tangga, masih banyak yang belum mereka fahami dari karakter masing-masing. Ia hanya menduga Alrega membencinya.
Alrega membungkukkan badannya mendekati Sella yang masih membuka layar ponselnya, lalu berkata dengan lembut.
"Aku sebenarnya membelamu, aku tidak suka Yorin terus mengganggumu."
Sella menoleh, wajahnya sangat dekat dengan wajah Alrega, bahkan hidungnya hampir menempel.
Sella memundurkan kepalanya dengan cepat, wajahnya masih masam semasam asam, yang sudah lama diperam dalam tempayan. Ia menyimpan ponselnya dan berkata dengan suara pelan.
"Aku tidak memintamu membelaku. Aku tidak merasa diganggu. Kita ini saudara, seperti itulah keluarga. Saling bantu saling jaga, juga saling sayang."
"Tapi aku tidak ...." Kata Alrega terputus, ketika Sella dengan cepat menyahut.
"Tidak usah ikut campur?"
Bersambung
__ADS_1