Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 88. Aku Tidak Bersalah


__ADS_3

"Aku tidak mengatakan siapa kau pada mereka, karena aku bukan orang yang sama seperti kamu, mempermalukan keluarga dan menganggap," Sella memutus ucapannya, mengambil nafas sejenak, "menganggap pernikahan cuma permainan, apa itu pantas?"


"Haha. Kau ini sok suci! Memangnya seperti apa aku? Kau sendiri, dasar tukang selingkuh!" Delisa berkata dengan suara keras, sambil menepis tangan Sella yang menahan tangannya.


"Aku tidak pernah berselingkuh! Aku jadi penipu juga karena kau memaksaku!" Sella berkata sambil mencengkeram bahu Delisa.


"Apa?!" Delisa melotot menyadari Sella mulai berani melawannya, hingga dia kalap dan hendak menampar Sella lagi. Saat tangannya mulai berayun ke arah pipi, Sella menahannya kembali.


"Kau tahu, laki-laki itu adikku! Jadi, aku tidak pernah selingkuh. Kalau tidak ingin kubeberkan semuanya di sini, jangan coba menamparku lagi." Sella berkata sambil mendorong tubuh Delisa.


"Kakak, sebenarnya ada apa ini, kak?!" Rejan bertanya pada Sella, tapi kakak perempuannya itu hanya meliriknya sekilas, tidak menjawabnya. Ia tidak mengerti dengan semua yang terjadi dan apa penyebab pertengkaran antara Kakaknya dan seorang wanita yang tampak sangat membencinya.


Kedua wanita itu tidak memperdulikan Rejan, laki-laki itu heran sekaligus miris, melihat pemandangan kakaknya yang sangat menyedihkan. Seluruh tubuhnya kotor oleh makanan dan minuman.


"Kau, sekali penipu tetap penipu! Apa kau sekarang kau memfitnahku? Ingat ... kau sudah membuat ibu gila!" Delisa berkata sambil mendorong tubuh Sella, namun wanita itu bergeming, dan tersenyum miring.


"Fitnah, kau bilang itu fitnah?!" Sela ganti mendorong Delisa dan ia mulai tidak bisa menahan sabar. Rasa sakit sekaligus amarah mencuat dibenaknya.


Ia beru saja hendak bicara, saat Marla menarik tangannya dan menyeretnya keluar aula dengan kasar.


Sella berusaha melepaskan tangan dari cekalan Marla, ia heran mengapa wanita tua itu masih bisa mencengkeram dengan sangat kuat seperti ini.


"Nenek, percayalah padaku, aku tidak bersalah."


"Aku bukan pengacaramu. Jadi aku tidak bisa membelamu!"


Sella mengikuti karena merasa tidak mungkin melawan wanita tua, yang sebenarnya sangat dihormati. Ia berjalan keluar dengan langkah berat, sambil menengok ke arah Zania. Wanita itu melihat kepergian Sella dengan tatapan mata tak berdaya.


"Keluar sekarang juga. Pergi! Kalau kau masih ingin hidup, jangan pernah perlihatkan wajah penipu itu lagi!"


"Nenek, sampaikan permintaan maaf ku pada ibu."


"Pergilah! Kau tidak perlu minta maaf padanya!"


Setelah berkata seperti itu, Marla masuk kembali, sambil mendengus kasar. Ia sangat kecewa dan merasa tertipu oleh seorang memantu untuk yang kesekian kali. Marla melirik Sella dengan tangan yang terkepal menahan geram, sebelum akhirnya pergi.


Sella menatap punggung Marla dengan tatapan kosong, ia tertegun sejenak dan melangkah ke halaman depan, diikuti Rejan di belakangnya.


Kedua itu berjalan ke arah parkiran dengan langkah gamang, di saat yang bersamaan, Sella melihat para penjaga semuanya tertidur dalam berbagai keadaan. Ada yang bersandar di kursi, ada yang tertidur di rerumputan taman, ada yang bersandar pada badan mobil.


Kini ia mengerti mengapa para penjaga membiarkan keributan terjadi di aula pesta, tanpa ada seorang penjaga mencegahnya. Mereka tertidur dalam keadaan memegang sekaleng minuman soda pemberian Delisa. Gadis itu yang membagikan minuman itu pada para penjaga, saat ia masuk melalui pintu gerbang seperti biasanya.


Para penjaga tahu dan kenal dengan Delisa, sehingga ia diperbolehkan masuk begitu saja. Sebenarnya Rehandy memberi perintah untuk melarang Delisa masuk, begitu ia tahu Marla mengundangnya, tapi mereka tidak bisa membantah keinginan Nyonya besar mereka, Marla.

__ADS_1


"Kak, apa mereka semua tertidur?" Tanya Rejan ketika ia hendak menyalakan motornya.


"Mungkin, biarkan saja." Sella menjawab sambil neik ke atas motor mengikuti adiknya.


"Kenapa mereka semua seperti habis ditembaki?"


"Entahlah."


'Apa mungkin Delisa yang melakukannya, dia benar-benar nekat untuk menghancurkan ku'


Mungkin iblis dalam diri seseorang sedang berkuasa saat ini, hingga ia tidak bisa diperingatkan walau ia akan mati. Setiap manusia memiliki sisi gelap dalam dirinya, apabila satu kegelapan itu hilang, maka akan muncul kegelapan lainnya, begitu seterusnya sampai manusia itu tak bernyawa.


"Kakak, ini sabotase."


"Bukan urusanku lagi."


"Sebenarnya soal apa tadi, sampai kakak belepotan begini?"


"Tidak ada, tidak sekarang."


"Benarkah kakak menipu mereka, sebenarnya apa yang kakak lakukan, kalau kakak memang menipu mereka, kenapa Tuan Rega menikahi kakak."


"Entahlah."


***


Sella duduk di atas pasir pantai sambil melipat kedua lututnya dalam dekapan lengannya. Ia membiarkan angin pantai membelai wajahnya, membiarkan pakaiannya kering dengan sendirinya. Ia tidak memperdulikan rasa lengket dan bau dari kuah makanan yang melekat di baju dan rambutnya.


Air mata terus mengalir dipipinya, selama ia bercerita pada Rejan tentang hal yang terjadi padanya, selama ini. Sebuah rahasia besar yang memalukan, karena itu ia menutupi dari ibu dan adiknya.


Anak remaja itu duduk bersila di samping Sella, sambil mendengarkan cerita kakaknya. Meski, sebenarnya Rejan terpukul, tapi ia tetap tenang. Ia tahu kakaknya tidak bersalah, dan orang kaya itu memperlakukannya dengan sangat buruk. Ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan, merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk Sella. Ia cukup mengerti beban yang kakaknya rasakan, menyimpan hal besar seperti itu seorang diri.



Sella menatap ombak di lautan yang berkejaran sambil tersenyum, setelah berhenti bercerita. Ia mengusap air mata dengan telapak tangan lalu menoleh ke samping. Setelah berbagi beban dengan adiknya, ia merasa sedikit lega.


"Kau sekarang sudah tahu, tapi jangan membenciku, aku melakukan semuanya karena terpaksa, ingat itu!" Kata Sella masih terus membersihkan wajah dari sisa air mata.


"Aku tidak akan membencimu, kak, tapi aku pikir ibu perlu tahu."


"Jangan, belum waktunya. Biar aku yang akan menceritakannya sendiri."


"Kenapa, kakak takut? Tidak ada salahnya ibu tahu sekarang, kalau tidak, gimana kakak pulang terus ganti baju. Ibu pasti tanya kenapa kakak seperti ini?"

__ADS_1


Sella memalingkan wajahnya kearah pantai, yang sepi. Ia sengaja mengajak Rejan ke tempat ini karena ingin menenangkan hati.


Mengingat Flinna pernah depresi, Sella tak mungkin menambah beban, dengan menceritakan penipuan yang dilakukannya dua tahun yang lalu. Apalagi ia menipu demi mendapatkan sejumlah uang, saat ibunya sakit, yang pasti akan membuatnya merasa bersalah.


Matanya nanar menatap lautan seolah ingin menyalahkan takdir atas segala yang terjadi padanya. Ia tidak membawa apa pun barang miliknya, bahkan tidak memiliki uang sepeserpun juga.


"Hmm. Sewakan aku kamar hotel, untuk satu malam saja, oke? Kalau soal baju ... pasti ada toko pakaian di sekitar sini, ayo cari!"


Sella ingin menyendiri, malam itu ....


"Baiklah, ayo!"


Mereka kembali mengendarai motor besar, melaju meninggalkan pantai, untuk mencari beberapa kebutuhan Sella.


Tak jauh dari pantai, Sella menemukan sebuah toko pakaian. Rejan menghentikan motornya dan membiarkan Sella memilih sendiri semua keperluannya. Setelah selesai, laki-laki itu cukup membayarnya dengan kartu debit yang dimilikinya.


Setelah puas berbelanja, mereka menyewa sebuah hotel sederhana yang juga tidak terlalu jauh dari pantai, hingga Sella masih bisa menikmati suasana pantai dari tempat itu.


"Kakak yakin, tidak mau aku temani di sini?" Kata Rejan setelah mengantarkan Sella ke kamarnya. Ia duduk di sisi tempat tidur saat mereka saling berbincang.


"Kalau kamu di sini, apa alasannya kalau ibu mencarimu, nanti?"


"Aku bisa bilang kalau aku menginap di rumahmu."


"Apa kau pikir, ibu percaya?"


"Aku rasa tidak," kata Rejan sambil tertawa.


"Dasar, kau. Pulang sana dan bilang kalau aku baik-buruk saja." Sella berkata sambil memukul bahu adiknya lembut.


"Iya, iya, baiklah. Apa kakak tidak lapar?"


"Tidak, aku sudah kenyang. Cepat pulang sana sebelum malam."


"Baiklah aku pulang sekarang. Tapi kak, apa yang harus aku katakan kalau Tuan Rega datang mencarimu?" Rejan yang semula sudah berdiri pun duduk kembali.


"Kau pikir, dia akan datang dan mencariku? Tidak, kan?"


"Aku hanya bilang, seandainya."


"Keluarganya pasti tidak ingin aku kembali, jadi untuk apa aku mengharapkan dia lagi?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2