
Sella terbangun dan duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap pria yang tengah tertidur dengan nyenyak. Ia tidak menemukan kepalsuan dalam ekspresi, dan sikapnya semalam. Laki-laki itu benar-benar memperlakukan Sella seolah-olah ia adalah dunianya, memperlakukannya dengan lembut dan menunjukkan kekuatan minat bahwa ia lah satu-satunya wanita yang diinginkannya.
Alrega telah membuat Sella terbang ke nirwana tadi malam, bagaimana tidak, Alrega telah menyebut namanya beberapa kali saat sebelum dan sesudah laki-laki itu mencapai puncaknya.
"Sese ... Sese ..." Seperti itulah Alrega memanggilnya dengan suara lirih, disertai erangan rendah dari tenggorokannya, yang terdengar seksi dan menggetarkan.
'Tapi, benarkah ia mencintaiku, tidak mungkin, kan?'
Sella mengendikkan bahu, melihat sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh bekas ciuman Alrega.
Ia mengambil pakaian dan mengenakannya kembali, lalu beranjak menuju kamar mandi. Suara gemericik air meningkahi senandung lirih yang keluar dari bibir Sella.
Ia menyenandungkan lagu 'Cinta Musim Semi' dari penyanyi lawas yang di sukai Flinna dan Zania, dua wanita itu memang seumuran, mereka mengenal dan menyukai lagu-lagu yang sama.
Suara yang keluar dari mulut Sella juga mirip semilir angin yang berhembus di musim semi, senandung yang menghangatkan hati di pagi hari. Belum pernah ada orang yang bersenandung di kamar mandi itu, seperti yang dilakukan Sella saat ini.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Sella duduk di depan meja rias, untuk merapikan rambutnya. Ia menoleh ketika menangkap ada gerakan dari tempat tidur
Ia melihat Alrega yang sudah terbangun sambil menggeliatkan tubuhnya. Ia mendekat dengan wajah yang bersinar, menyunggingkan senyum sejuta wattnya yang manis, dan mencium pipinya. Sella terlihat bahagia karena ia akan mendapatkan, apa yang dijanjikan Alrega kepadanya. Kunci balkon.
"Sayang, sudah bangun?" Kata Sella, seraya duduk di sisi tempat tidur.
"Hmm ..."
"Apa kau ingin minum?"
"Hmm ..." gumam Alrega sambil menggelengkan kepalanya.
Ia kemudian duduk dan bersandar di kepala tempat tidur, lalu membuka laci meja kecil yang berada di sampingnya. Ia mengambil sesuatu yang ada di dalamnya, dan memberikan sebuah kunci kecil pada Sella.
'Apa, jadi kunci itu ada si sana selama ini. Ahk... kenapa aku membiarkan laci itu, seharusnya aku menggeledah isinya dari dulu'
Sella melihat kunci di tangan Alrega dengan dahi berkerut.
"Aku membawanya dari ruang kerja semalam," kata Alrega seolah membantah isi kepala Sella.
"Oh," Sella hendak meraih kunci dari Alrega, tapi pria itu menarik tangannya, lantas menunjuk pipi sebagai isyarat agar Sella menciumnya.
Sella mengerti, dan memberi ciuman di kedua pipi kanan dan kiri Alrega, seperti yang diisyaratkannya.
"Terimakasih, Sayang." Sella berkata sambil menggenggam kunci gembok, sementara Alrega beranjak dari duduknya.
"Tunggu sebentar di sini, aku yang akan membukanya nanti."
Sella mengangguk dan melanjutkan menyisir rambut, merapikannya dengan sabar, sambil menunggu Alrega menunaikan hajatnya di kamar mandi.
***
Alrega berjalan dengan menggandeng erat tangan Sella menuju kamar Zania. Ia sudah berpakaian dengan rapi. Ada banyak emosi yang bermacam-macam memenuhi raut wajahnya. Meski demikian, ia tetap terlihat tenang.
Zania adalah ibunya yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Saat ayah, kakek dan neneknya, memberi banyak tuntutan tentang kepemimpinan, kedisplinan dan kepribadian yang tinggi dalam perusahaan, dan juga dalam kehidupan, maka Zanialah yang terus menerus memberi kekuatan dengan senyuman dan belaian yang tidak pernah putus.
Saat ayahnya marah karena kesalahannya, maka Zanialah yang menghibur, memeluknya sambil memberinya semangat, dan mengatakan bahwa ayahnya bersikap seperti itu, agar ia tumbuh menjadi anak yang tangguh dan berdedikasi, dan ia kelak menjadi anak yang mandiri dan disegani.
Saat kejadian dua tahun yang lalu, dan Zania mulai terlihat murung, sering menangis bahkan mencoba bunuh diri, dengan melompat dari atas balkon, Alregalah orang yang paling terluka, yang paling kecewa dengan semuanya. Ia sempat menyesal mengapa ia tidak memaksa Delisa agar tetap bertahan di sisinya demi keluarga.
Tapi waktu itu, ia tahu Delisa tidak suci lagi, dan ia tidak menyukainya karena Delisa sudah berkhianat. Ia berencana akan mengusir Delisa di malam pertamanya, tapi siapa yang menduga kalau Delisa justru membuat sandiwaranya sendiri, hingga ia tidak perlu repot-repot mengusirnya pergi.
Hanya saja Alrega tidak menyangka, jika sandiwara yang dilakukan Delisa, sangat fatal akibatnya, hingga ia perlu mencari siapa orang yang sudah bekerja sama dengannya. Semua orang yang sudah ikut andil dalam mempermalukan keluarga Leosan, harus menerima hukumannya.
Namun akhirnya, Alrega hanya membiarkan Delisa begitu saja, terserah apa maunya karena pria itu tidak tahu harus berbuat apa, setelah tahu Delisa sedang berbadan dua.
Di kamar Zania, wanita itu masih tidur dengan nyenyak. Alrega mengusap kepala ibunya lembut lalu membuka tirai jendela dengan perlahan. Agar wanita itu tidak terbangun. Ia membuka kunci gembok jendela balkon dengan hati-hati.
__ADS_1
Tak lama, Yorin masuk ke kamar juga, ia masih memakai piyama tidurnya, dengan mata yang mengantuk, bahkan sambil menguap.
"Kau, jorok sekali, jangan bilang kau belum gosok gigi," kata Alrega begitu melihat Yorin mendekati Sella.
Yorin mencebik, menanggapi ucapan Alrega dan ia memeluk Sella dari samping, menyimpan kepalanya di bahunya, Sella mengusap-usap kepala Yorin dengan lembut.
"Menjauh dari kakak iparmu ..." Alrega berkata sambil berusaha memisahkan Yorin dari Sella.
Laki-laki itu terlihat cemburu, kalaulah ada kecemburuan wanita pada suaminya, bukan tidak mungkin terjadi kecemburuan antara suami pada istrinya walau mereka sesama wanita. Menunjukkan ia pria yang posesif, siapapun dicemburuinya.
"Apa sih, kak!" Yorin berkata dengan mempertahankan posisinya memeluk Sella. Alrega pun tak berdaya, ia hanya melihat dua wanita itu dengan masam.
"Kak Sese ... Kau berhasil menakhlukkan singa jantannya, hmm ..."
"Iya, ternyata singa itu tidak segarang kelihatannya."
Yang di maksud singa oleh mereka adalah Alrega.
"Benarkah, jadi kakak menakhlukkaannya dengan mudah?"
"Hmm ... Ia hanya kuberi tiga ciuman saja."
Maksud Sella adalah ciuman yang tadi pagi.
"Wah, kak, kau luar biasa!"
Yorin berkata dengan suara yang cukup keras, hingga Zania terbangun. Seketika dua wanita itu, berdiri berjajar dan tersenyum pada Zania, Yorin tersenyum lebih lebar, untuk menutupi kesalahannya membangunkan Zania.
Alrega mendekati Zania sambil melirik Yorin kesal.
"Ibu, maaf membangunkanmu," kata Alrega.
Zania menatap Alrega dan semua yang ada disekitarnya, ini terlihat tidak biasa. Sepagi ini sudah banyak orang yang mengelilinginya. Zania menatap ke satu arah dan semua orang mengikuti pandangannya, yang tertuju pada Rehandy. Laki-laki itu ada di sana, berdiri di sisi pintu kamarnya.
"Maaf, aku baru menemuimu sekarang, aku sibuk," kata Rehandy dalam pelukannya.
Secara kebetulan, saat Rehandy akan menemui istrinya, ia mendapatkan masalah di perusahaan yang memaksanya harus turun tangan. Membuatnya menunda untuk menyapa Zania.
"Kapan kau pernah tidak sibuk?" sahut Zania sambil melepaskan pelukannya.
Semua mata melihat apa yang terjadi, dan mereka menyimpulkan bahwa Zania benar-benar sudah pulih. Rasa syukur memenuhi hati semua orang.
Alrega membuka pintu balkon kamar lebar-lebar, Zania melihatnya dan bergegas turun dari tempat tidur. Ia melangkah ke sisi pagar balkon kamar sambil menghirup udara dalam-dalam. Sella dan Yorin berdiri di sampingnya, sambil tek henti-hentinya berceloteh dengan riang tentang banyak hal.
Suasana pagi itu secerah sinar matahari yang hampir meninggi, masih ada suara burung yang terdengar ramai disekitar rumah, entah itu suara burung yang ada di sangkar belakang atau yang terbang bebas di alam liar.
"Jadi, apa kita jadi pergi berbelanja?" Tanya Sella.
"Jadi, dong kak."
"Apa kakek akan datang?"
"Aku akan mogok makan kalau dia tidak datang. Jangan khawatir, semua sudah di atur."
'Ya, kenapa aku tidak heran?'
Semua orang tengah menunggu Zania di meja makan. Ia sedang membersihkan diri dan berganti pakaian, ketika kakek Mett Haquel datang.
Laki-laki tua itu menyempatkan diri pergi ke Kaki Langit di pagi buta, ingin segera menemui anak dan cucunya yang berencana pergi ke mall untuk pertama kalinya setelah ia sembuh. Ia percaya dengan pengawalan yang dilakukan oleh Rehandy dan Alrega, tapi ia juga ingin menyaksikan sendiri kebahagiaan anak dan cucunya. Sekaligus memastikan bahwa mereka akan baik-baik saja sampai mereka kembali ke rumah.
Ini sarapan bersama untuk pertama kalinya dengan semua anggota keluarga, setelah setahun lebih mereka tidak melakukannya. Suasana tidak terlalu kaku karena ada obrolan ringan di saat mereka tengah menikmati makanannya.
***
__ADS_1
Sella kini duduk di kursi penumpang, sambil memainkan ponselnya, sedangkan Leona, duduk di sampingnya sambil mengemudikan mobil, membelah jalanan menuju mall yang baru di buka.
Zania berada satu mobil dengan kakek Mett, Yorin mengendarai mobilnya sendiri, begitu pula Marla yang tidak mau ketinggalan, ia menaiki mobilnya sendiri dengan para asistennya. Sisanya mobil pengawal dan para asisten yang siap mendapatkan perintah.
Alrega dan ayahnya pergi ke kantor setelah mempersiapkan semuanya. Iring-iringan kendaraan itu pergi setelah beberapa jam dari kepergian dua kepala keluarga itu.
Kehidupan tetap harus berjalan, roda keuangan tetap harus dijalankan, dan seorang pria, sebagai penanggung jawab harus tetap bekerja, sementara para wanita bisa bersenang-senang.
Sebagian orang mungkin memandang mereka dengan iri hati, padahal mereka tidak tahu apa yang sudah di lalui, apa yang sudah dikorbankan, hingga mereka bisa seperti sekarang ini.
"Nona, Anda harus sering jalan-jalan, agar aku juga bisa keluar rumah seperti ini," Leana memulai obrolan ketika mobil sudah sampai di jalanan kota.
"Oh, maaf, aku tidak memikirkanmu. Mungkin, setelah ini aku akan sering pergi keluar."
"Maaf, waktu Anda pergi ke rumah orang tua, saya tidak melihat. Jadi anda harus pergi dengan motor."
"Tidak masalah, aku memang mau naik motor dengan adikku. Apa kamu tidak apa-apa Lea, apa kamu mencariku?"
Mendengar pertanyaan Sella, Leana menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin menceritakan, apa yang ia alami waktu Sella meninggalkan Kaki Langit dengan naik motor, bersama Rejan. Kalau bukan karena pak Sim yang membelanya, mungkin ia sudah habis dipukuli Zen. Ia dinilai bersalah karena membiarkan nona mudanya pergi.
Leana adalah wanita kuat dengan ilmu bela diri yang mumpuni sehingga ia terpilih menjadi penjaga sekaligus sopir pribadi Sella. Saat ia di hukum karena kesalahannya, ia menerima dengan menahan serangan dari Zen, tanpa melawannya.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Aku khawatir mereka menyalahkanmu karena kelakuanku."
'Memangnya saya dan Anda bis apa, Nona ... Walaupun aku tidak salah, dia tetap akan menghukumku'
"Tidak ... Sekarang sudah tidak apa-apa, saya bersyukur Anda pulang."
"Ah, iya. Maaf ...."
"Anda tidak perlu minta maaf."
'Saya sangat bersyukur Anda baik-baik saja, sebab kalau tidak, mungkin saya sudah mati untuk menebusnya. Sungguh tidak banyak orang lain yang tahu, sisi kelam kehidupan orang-orang seperti tuan Rega atau tuan Haquel, termasuk Nona, manusia biasa yang sekarang menjadi bagian dari mereka'
Setiap manusia memiliki sisi kelam dalam hidupnya, karena itu Tuhan menciptakan cahaya dalam hati manusia. Walaupun cahaya itu kecil, seperti kerlip bintang di langit yang kelam, ia tetap akan menjadi petunjuk, agar manusia tidak tersesat disetiap langkah dan keputusan yang diambilnya.
Akhirnya mereka tiba juga di Mall Kota, bangunan itu cukup besar dan megah. Rombongan yang terdiri dari beberapa mobil pun menuju tempat parkir khusus, di halaman gedung yang sudah disiapkan.
Di dalam Mall, suasana sudah sangat ramai, semua stand sudah buka, para pengunjung hilir mudik mencari sesuatu yang dibutuhkan. Sementara di panggung hiburan yang megah dan gemerlap, seorang pembawa acara memulai perhelatan dengan antusias, disertai tepuk tangan yang menggema dari para pengunjung.
"Ibu, lihat semua ini, apa kau senang?" tanya Sella sambil terus memegang tangan Zania, dan wanita itu mengangguk.
"Ibu, itu artisnya!" Pekik Yorin ketika seorang penyanyi berdiri, dan bernyanyi seiring kedatangan mereka. Seperti sengaja untuk menyambut Zana.
"Kalian bersenang-senanglah, aku pergi ke kedai teh," kata kakek Mett ketika sudah memastikan mereka sampai di tempat itu dengan selamat, dan tidak ada yang terjadi pada Zania.
Laki-laki itu sudah tua, ia tidak akan kuat berada di keramaian seperti itu terlalu lama.
Saat kelompok keluarga Haquel datang, kerumunan pengunjung itu seperti tersibak begitu saja, beberapa orang pengawal yang datang entah dari mana, membuat semua bisa diatasi dengan mudah bagi mereka untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman, untuk menonton para artis bernyanyi, dan menyanyikan lagu-lagu kesukaan Zania. Tampaknya semua sudah direncanakan.
Sella menyaksikan dengan senyum. Ia turut merasakan menjadi orang VVIP yang dulu hanya bisa ia lihat di televisi, atau di jalan raya saat mereka lewat, bunyi sirine dari mobil pengawal menyingkirkan orang biasa dari jalan untuk mereka.
Ya, Sella pernah mengalaminya, saat ia harus menepikan motor tuanya, karena bunyi sirine, agar para VIP bisa lewat dengan mulus tanpa kendala.
Banyak pengunjung yang ada di sana, memperhatikan mereka, walau mungkin tidak semua nya tahu siapa mereka. Tapi mereka harus mengalah demi orang-orang seperti keluarga Haquel ini. Sebuah ketimpangan kah? Tentu saja tidak, dunia memang berputar dengan segala bentuk ketimpangan, kanekaragaman, termasuk beberapa jenis kasta atau kedudukan dalam masyarakat seperti ini.
Harus ada yang diatas agar bisa memberi, harus ada yang di bawah untuk bisa menerima. Seandainya semua orang diciptakan sama dalam seluruh asfek, maka tidak ada masalah yang terjadi di dunia, hingga manusia seperti robot yang diciptakan oleh sebuah pabrik. Ahk, dunia tidak seperti itu.
Beberapa lagu sudah selesai dinyanyikan dan Zania sudah terlihat puas, hingga Yorin mengajak untuk mulai berbelanja.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sella, saat ia sedang melihat-lihat beberapa barang di etalase, sementara Zania, Marla dan Yorin tengah mencoba beberapa pakaian yang mereka beli.
"Kau masih ingat aku?" tanya orang itu saat Sella menoleh.
__ADS_1
Bersambung