
Tiba-tiba mobil berhenti disaat Alrega hendak mendaratkan ciuman di bibir Sella. Ia melihat pemandangan diluar sekilas, lalu memundurkan kepalanya.
Sella melepaskan rangkulan tangannya dari leher Alrega. Setelah itu ia merapikan jas putih di bahunya. Alrega membuka pintu mobil dari dalam, ia tahu Zen tidak membukakan pintunya, karena khawatir ia masih bermesraan bersama istrinya.
Zen memang sempat melihat sekilas dari spion depan, apa yang terjadi, di belakang kursinya, sejak ia mulai mengendarai. Ia, seorang sekretaris yang sudah tahu semua seluk beluk majikannya, hingga ia memutuskan untuk menghentikan mobil di depan apartemen Alrega. Karena tempat inilah yang paling dekat dengan rumah Sella, dan juga tak jauh dari kantornya.
Alrega berpikir bahwa akan lebih baik meninggalkan Sella disana, dari pada wanita itu jenuh menunggu mereka meeting, yang kemungkinan akan memakan waktu yang lama. Rapat yang akan ia hadiri adalah rapat penting, dan ia tidak akan tenang bila ia membawa Sella bersamanya.
Sella mengikuti Alrega yang mendahuluinya keluar dari mobil, laki-laki itu melangkah dengan cepat sambil menggenggam tangan Sella, menuju apartemennya menggunakan lift.
Zen berjalan di belakang mereka berdua. Menguntit seperti ekor yang tidak bisa lepas dari tubuh seekor binatang.
Setelah di dalam Lift, Sella bertanya, "tempat apa ini?"
"Ini apartemenku." Alrega menjawab datar masih dengan menggenggam tangannya.
"Apa kita akan tinggal di sini?"
"Tidak, cuma kau sendiri."
Sella spontan melepaskan tangannya dari genggaman Alrega, lalu melipat kedua tangannya di depan perutnya, mencebik lalu berkata dengan sinis.
"Apa kau akan mengurungku, di sini? Aku sudah minta maaf, kan?"
"Bukan mengurungmu."
"Bukan mengurungku ... Lalu apa namanya kalau bukan mengurung, aku sendiri di tempat seperti ini, lalu kau pergi?"
"Diam, ini tidak lama."
Lift pun berhenti, Alrega membawa Sella masuk ke dalam apartemen yang terletak di lantai paling atas, apartemen mewah yang biasanya disebut dengan penthouse. Tempat itu berada di gedung tertinggi, dengan kaca-kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jinse. Sangat menggoda mata untuk melihatnya. Sebuah bangunan yang sangat indah untuk dijadikan penjara untuk Sella.
Sella pun tersenyum memandang apa yang ada di sekelilingnya. Tiba-tiba ia punya akal licik, ia akan membuat Alrega tetap tinggal di sana, bersamanya.
Sella bergelayut mesra di lengan Alrega, sambil merengek manja.
"Kau mau kemana?"
"Ada rapat penting hari ini."
"Rapat penting ... Penting apanya, sampai kau tega meninggalkan aku sendiri di sini?"
'Aku tidak tega juga'
'Kau pasti tidak tega, kan?'
Sella berjalan masuk keliling secara perlahan dan menemukan sebuah kulkas, ia membuka isinya yang ternyata kosong.
"Tuan Al, lihat tidak ada apapun disini, apa kau akan membunuhku secara perlahan, membiarkan aku mati kelaparan? Ya sudah sana pergi!"
Alrega mengeraskan rahangnya, gemeretak giginya terdengar, ia mengusap wajahnya dengan kesal sambil memberi isyarat pada Zen. Pria berambut cepak itu mengerti dan ia tampak menghubungi seseorang.
'Tidak kusangka kau akan merepotkan aku seperti ini nona'
"Sudah, tuan. Mereka akan mengantarkan makanan sebentar lagi." Zen berkata sambil memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.
"Tunggulah di sini. Makanan akan datang sebentar lagi." Alrega berkata sambil berjalan menjauhi Sella yang masih berdiri di depan kulkas.
"Hei, tunggu!" Pekik Sella, membuat Alrega menoleh kembali kearahnya.
"Ini bajumu!" Kata Sella sambil melepaskan jas Alrega yang sedari tadi melekat ditubuhnya, dan memberikannya pada Alrega.
Pria tampan itu mendekat dan Sella membantunya memakaikan jasnya, setelah itu, ia menepuk-nepuk dada Alrega
"Sayang, terima kasih sudah membantuku."
"Iya. Kalau sudah makan, tidurlah. Jangan menungguku." Alrega kembali melangkah.
'Ah, aku tidak biasa tidur jam segini, tau? Memangnya apa yang bisa aku lakukan, aku tidak membawa ponsel aku tidak bisa menelpon ibu'
Namun baru saja ia hendak menutup pintunya, terdengar suara jeritan keras dari dalam. Panik, Alrega membuka pintu dengan cepat, seketika itu juga Sella menghamburkan diri dan melompat ke tubuh Alrega.
"Kecoaa ... !" Teriaknya sambil memeluk Alrega erat. Kedua kakinya bersilang mengepit di pinggang Alrega.
Zen menatap Sella sekilas yang tampak menahan tawa, laki-laki itu mengerutkan alisnya lalu ia memeriksa bagian dalam disekitarnya.
"Kau yakin ada mahluk seperti itu di apartemenku?" Alrega bertanya tanpa melepaskan pelukannya, ia menahan tubuh Sella kukuh dalam gendongannya. Sella mengangguk dengan dagu yang menempel di pundaknya.
"Zen, kau sudah memeriksanya?"
'Ck! Anda juga tahu kan, kalau nona berbohong'
"Sudah, tuan. Tidak ada apapun di sini."
"Sekertaris, Zen. Aku melihat kecoa itu berlari ke sana!" Sella menunjuk sebuah arah.
Zen menatap Sella jengah, sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu kembali menghubungi seseorang melalui ponselnya. Ia melangkah keluar dari tempat itu setelah menutup pintunya.
"Beri pengumuman, mundurkan rapat dua jam lagi."
__ADS_1
Alrega tidak menurunkan tubuh Sella dari gendongannya, tapi justru membawa tubuhnya ke kamar dan membaringkannya secara perlahan ke tempat tidur. Itu kamar yang luas dan jendelanya juga berukuran sangat besar, ditutupi tirai warna peach yang senada dengan cat temboknya.
Ck! Manja.
"Temani aku sampai aku tidur. Aku takut kecoa itu datang lagi," kata Sella setelah ia terbaring sempurna di kasur yang luas dan empuk.
Alrega mengungkung Sella di bawahnya. Ia tampak kesal.
"Apa kau pikir aku percaya?"
"Aku tidak bohong, memang ada kecoa ditempatmu ini."
"Sudah lebih dari lima tahun tidak ada kecoa di sini!"
"Tapi aku tidak mungkin salah lihat. Ahk ... Sayang, mungkin ada di bajuku. Gatal, ih!"
Sella menggelinjang kegelian, lalu berusaha melepas tanktop yang dikenakannya, lalu celana jeansnya juga. Alrega beringsut dari posisinya, membiarkan Sella berjalan membuka lemari. Jakunnya sudah bergerak naik turun melihat tubuh Sella yang berjalan di depannya hanya dengan pakaian dalamnya saja. Ahh, laki-laki itu tergoda. Pertahanan yang ia jaga sejak dari dalam mobil sepertinya mulai goyah.
"Kau tidak menyediakan bajuku di sini? Ahk, lebih baik aku pulang, aku tidak mau di sini!" Sella berkata sambil menyibakkan beberapa pakaian Alrega yang tergantung dengan rapi berjajar di lemari.
Altega meraih pinggang Sella dan menjatuhkannya kembali ke tempat tidur. Lalu membuka jas dan pakaiannya sendiri, satu persatu.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Menuruti kemauanmu!"
'Aku punya kemauan apa? Sok tau! Haha'
"Bukankah kau akan rapat? Kau bisa terlambat. Jadi biarkan aku pulang ... Ya Sayang?"
"Mau pakai baju apa kalau pulang?"
"Pakai bajumulah!"
"Tunggu di sini, aku akan membelikanmu baju nanti."
Mulai mencium pipi, mata, kening, lalu turun ke leher dan pundak lalu tulang selangka yang membuat Sella mengerutkan lehernya karena geli.
"Ck. Tapi aku mau pulang. Se _ _" ucapan Sella terputus, karena bibirnya sudah dibekap oleh bibir Alrega yang penuh minat dan kasih sayang. Ia masih kesal. Tapi kekesalannya akan ia lampiaskan sekarang.
"Kau mau pulang?" Alrega menegakkan punggungnya tapi kedua tangannya masih berada di sisi tubuh Sella.
Mendengar pertanyaan itu Sella mengangguk.
"Tapi bukankah kau bersalah, dan aku belum menghukummu?"
"Kau kira itu cukup?"
'Mana kitahu?'
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau pikir apa lagi, ha?"
Alrega berkata sambil mencengkram dagu. Sementara Sella menggeleng. Melihat reaksi Sella seperti itu, Alrega beringsut turun dan mulai memakai celananya sambil berkata.
"Kau tidak tahu?"
Sella tetap menggeleng.
"Baik aku akan pergi dan jangan harap aku kembali."
Mendengar hal itu Sella berlutut seperti biasanya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maafkan aku, sayang. Ya memang tidak ada kecoa di sini."
"Memohonlah dengan benar."
Setelah mendengar ucapan Alrega, Sella kembali berdiri.
"Sayang ... Maafkan aku, ya?" Sambil mencium pipi kanan dan kiri lalu bibir, dan kening, membuat Alrega tersenyum lebar.
"Perempuan galak sepertimu takut kecoa? Kau ini tidak pandai berbohong."
"Aku tidak galak. Mana ada wanita galak yang memohon seperti ini," kata Sella sambil memutar pandangannya kesal.
"Kalau tidak memohon, kau akan apa?"
'Menendangmu!'
"Aku tidak tahu."
"Kemarilah, kau harus bermain denganku sampai aku puas kalau mau dimaafkan." Alrega berkata sambil merebahkan diri dan menjentikkan jari telunjuk sebagai isyarat agar Sella mendekat.
'Sial ... Kenapa jadi aku yang dikerjai!'
Alrega berbaring dalam keadaan tanpa busana, Sella berada di atasnya. Ia melakukan semua yang diinginkan Alrega dengan patuh, ia mengajarinya cara bermain cinta sesuai keinginannya.
__ADS_1
Kini Sella tertidur, setelah bergelut selama beberapa waktu, dengan Alrega yang benar-benar sudah membuatnya kelelahan. Ia menutup seluruh tubuh Sella dengan selimut. Sementara ia memakai pakaiannya kembali, dengan pandangan tak lepas dari tubuh Sella, yang tengah meringkuk di atas tempat tidur. Ia membelai rambut Sella yang acak-acakan karena ulahnya. Lalu mencium bibirnya dengan ciuman yang dalam, semakin dalam seolah ia tidak akan puas.
"Tidurlah, aku akan cepat menjemputmu." kata Alrega sebelum ia meninggalkannya, seolah Sella mendengarnya.
Ketika Alrega keluar kamar, beberapa makanan sudah tersedia, dan ditata dengan rapi di atas meja.
***
"Kau mundurkan rapatnya?" Tanya Alrega ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Benar, tuan."
"Berapa jam?"
"Dua jam. Sebentar lagi, tuan. Kita tidak akan menunggu lama."
"Ck! Itu lama."
'Ya, kan gara-gara tuan juga, eh, gara-gara nona. Ck!'
"Baiklah akan saya suruh mereka untuk datang secepatnya."
"Hmm ... "
Sampai di ruangan rapat, beberapa petinggi dan semua orang yang terlibat dalam urusan desain yang dicuri sudah berkumpul. Sebagian heran mengapa Alrega yang sebelumnya tidak ada hubungannya dengan rancangan itu ada di sana sementara Rehandy sebagai direktur tidak ada.
"Aku mewakili ayah." kata Alrega menjawab tatapan aneh mereka yang hadir pada saat itu. Tapi justru membuat mereka heran. Bagaimana ia bisa tahu apa yang mereka herankan?
Setelah semua berkumpul, Alrega memberikan semua file pada Zen dan laki-laki itu yang menjelaskan semuanya dari layout desain yang ada, dan menunjukkan kelemahan dari rancangan penirunya.
"Tentang siapa pelakunya, itu urusan direktur, yaitu ayahku, dan aku hanya perlu menjelaskannya pada orang yang berwenang atas tender. Agar bisa membedakan mana rancangan yang asli atau palsu." Altega membuka suara setelah Zen selesai memberikan penjelasan.
Hal mudah bagi Alrega, orang yang sangat teliti dalam menjalankan semua urusan. Ia hanya perlu bertanya pada si pembuat Rancangan itu, atas dasar pemikiran seperti apa ia membuatnya. Itu sebuah rancangan gedung pencakar langit baru, sebuah tower dengan bentuk yang unik yang di harapkan akan jadi ikon baru bagi Jinse.
Pada rancangan itu, Alrega menemukan dua perbedaan yang sangat kecil, bahwa perancang palsu tidak menyertakan sudut diagonal pada banguana kedua dari atas dan dua titik di sudut yang berbentuk diagonal itu. Ternyata itu hanya sebuah besi cakram yang kelak ketika bangunanitu selesai, maka besi cakram itu akan berfungsi sebagai pelindung, sekaligus penguat, karena sudut yang berbeda dari bangunan di bawahnya.
Perbedaan sekecil itu tidak akan bisa dilihat oleh orang yang tidak teliti dan tidak tahu latar belakang rancangannya.
Semua orang tercengang, tanpa penjelasan seperti ini, maka mereka akan kehilangan tender besar ini.
"Terimakasih, Rega. Kau sudah membantu kami," kata wakil direktur sambil menyalami Alrega.
Tiba-tiba salah seorang berdiri dan menyela dari kursinya.
"Jangan merasa hebat, hanya karena mememukan perbedaan sekecil ini. Jangan harap karena kau sudah membantu, maka perusahaan ini akan jatuh ke tanganmu."
"Ya, aku tahu."
"Bagus kalau kau tahu, sebab peeusahaan bagian ayahmu ini, tidak akan jatuh ketanganmy kalau Rehandy belum mati."
"Ya, aku tahu."
"Aku berharap ayahmu akan panjang umur."
"Ya, terimakasih, paman. Aku juga mendoakan ayahku panjang umur, begitu juga paman. Semoga panjang umur untuk kalian semua yang ada di sini." kata Alrega setelah berdiri dan membungkukkan badan.
Alrega pergi setelah berpamitan. Meninggalkan ruangan dengan cara yang elegan. Zen mengikuti di belakangnya setelah melakukan hal yang sama dengan Alrega. Mereka yang ada di sana adalah paman-pamannya juga.
"Kau, pikir apa yang kau lakukan, mengatakan hal seperti itu? Bagaimana kalau dia marah dan menggunakan kekuasaan Haquel untuk menghancurkan perusahaanmu?" kata paman yang lain kepada paman Alrega yang tadi menindas Alrega.
"Dia tidak akan berani, aku kan pamannya juga."
'Dia tidak akan tahu, aku pelakunya, aku tidak ingin perusahaan milik Rehandy ini sukses, sudah cukup kekayaan Alrega, dia tidak harus mendapatkan kekayaan dari tiga grup sekaligus'
Brakk! Tiba-tiba pintu ruangan rapat terbuka secara paksa dan Rehandy masuk dengan membawa pihak keamanan kota untuk menangkap seseorang.
"Kau!" Kata Rehandy menunjuk seorang saudaranya., lalu mendekati dan mencengkram kerah bajunya.
"Aku tahu, kau pelakunya!" kata Rehandy lagi dan ia memerintahkan petugas keamanan kota untuk menangkapnya.
"Kau salah faham, aku tidak melakukan apapun!" Itu oaman yang tadi tampak menindas Alrega dengan kata-katanya.
Tapi Rehandy menunjukkan beberapa bukti hingga ia tidak bisa mengelak. Mau tidak mau ia harus digelandang ke kantor keamanan kota untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sementara itu Alrega sudah tiba kembali ke panthouse miliknya. Ia mendapati Sella masih tidur dengan nyenyak dengan posisi yang menggoda. Selimut yang semula menutup seluruh tubuhnya itu kini sedikit terbuka dan terlihat sebagai tibuh polosnya.
Alrega tersenyum melihatnya dan menutupi kembali tubuh Sella dengan selimut. Lalu menyimpan beberapa pakaian, yang ia beli dari Sebuah butik saat ia dalam perjalanan pulang.
Lalu, Ia duduk di sisi tempat tidur, mendekatkan telinganya ketika ia mendengar Sella bergumam lirih dalak tidurnya.
"Sayang ... aku mencintaimu ... euum" Menggerakkan bibir seperti mengunyah.
"Siapa yang kau panggil sayang?" tanya Alrega di dekat telinga Sella.
"Hmm ... Itu, Red Devil"
Mendengar itu Alrega mengepalkan tangannya.
Bersambung
__ADS_1