
Senja, menyebarkan sinar hangat yang selalu lembut bila tidak di iringi dengan hujan. Waktu pergantian hari, saat terbenamnya matahari yang selalu indah untuk dinikmati tanpa kebosanan walau dilihat sampai ribuan kali.
Seiring dengan tenggelamnya matahari, Sella menutup tirai jendela, dan menuntun Zania untuk duduk di tempat tidur. Yorin datang tak lama setelah mereka duduk berdampingan di sana.
Sella mengatakan bila mereka akan pergi besok sesuai rencana mereka. Sella meminta Yorin untuk mengabarkan hal ini pada kakek.
Saat mereka membicarakan hal ini, pak Sim kebetulan lewat di depan pintu dan mendengar semua ucapan dan rencana nona mudanya.
Wajahnya terlihat cemas, ia mengerutkan keningnya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat menemui Alrega yang berada di ruang kerjanya.
Sementara itu di ruang kerja.
"Mana kartunya," tanya Alrega kepada Zen yang duduk di hadapan Alrega.
Zen memberikan kartu debit yang diminta oleh Alrega, kartu yang akan digunakan untuk membayar hutang Sella pada Delisa. Sebenarnya bukan hutang, tapi Sella sendiri yang berniat untuk membayar kembali, uang yang sudah ia dapatkan sebagai kompensasi, atas penipuan yang pernah ia lakukan bersama Delisa, dua tahun yang lalu.
Perbuatan buruk yang sudah Sella lakukan, tidak akan hilang begitu saja walaupun ia mengembalikan uang yang pernah ia terima. Toh, sebagian uang yang ia dapatkan, ada yang ia nikmati untuk membeli makanan, juga kebutuhan sehari-hari, dan itu artinya sudah menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhnya.
Sella hanya merasa tidak pantas dan tidak memiliki harga diri di depan suaminya. Gadis itu masih saja keras kepala, walau Alrega tidak mempermasalahkan uang atau harga dirinya. Sebab memang itulah yang diinginkannya. Seperti itulah caranya mengikat Sella agar tidak pergi darinya seperti yang dilakukan oleh Delisa.
Zen, sebagai orang yang paling dekat dengan Alrega, merasa tuannya terlalu berbelit-belit dalam masalah cintanya, menurutnya Alrega cukup mengatakan kalau ia mencintainya, maka Sella tidak akan meragukan dirinya, atau mengabaikannya.
"Apa nona mau menerimanya?"
"Dia harus mau agar dia tidak repot."
"Tapi sepertinya nona justru lebih suka yang repot."
Mereka berdua tertawa kecil menertawakan Sella.
"Iya, aku harus mengancamnya agar dia mengerti."
Tok! Tok!
Pak Sim mengetuk pintu kamar kerja, Zen membuka kan pintunya ketika Alrega sudah mempersilahkannya.
"Ada apa,?" Zen lebih dahulu menanyakan keperluan pak Sim, sebelum ia menyampaikannya pada tuannya. Sesuai yang harus ia lakukan sebagai tangan kanan Alrega tentu harus lebih dahulu mengetahui apa yang terjadi.
"Nona punya rencana yang menurutku tidak baik."
Zen meminta pak Sim mengatakan semuanya langsung pada Alrega, sebab apa yang akan disampaikan oleh pak Sim menyangkut masalah nona mudanya. Rencana yang dibuat tanpa sepengetahuan Alrega.
"Panggil mereka kemari," kata Alrega setelah pak Sim mengatakan semua yang ia dengar beberapa saat tadi. Lelaki paruh baya itu segera memnuhi perintah majikannya.
Tak lama, Sella dan Yorin memasuki ruangan yang terdapat Alrega serta Zen sedang duduk di sofa, dekat meja kerjanya. Dua wanita itu tampak was-was dan bingung karena mereka tidak tahu apa kesalahannya, sehingga mereka harus menghadap Alrega secara bersamaan seperti ini.
"Apa benar kalian memiliki voucher belanja dan kalian akan membawa ibu pergi bersama kalian?" Alrega bertanya sambil menegakkan punggungnya.
Hari sudah malam, tapi Alrega masih menampakkan aura keemasannya dengan balutan jas putih yang masih rapi melekat ditubuhnya yang membuatnya semakin mempesona. Wajahnya terlihat tenang walaupun rahangnya sedikit mengeras karena menahan kesal.
Sella dan Yorin duduk bersebelahan di hadapan Alrega, sedangkan Zen mengambil posisi berdiri, seperti menjadi mata kedua bagi Alrega untuk mencari sebuah kebenaran, dengan pandangannya yang lebih tajam, melebihi tajamnya mata pembalap jalanan, yang waspada saat mengemudikan mobilnya dengan nyawa sebagai taruhannya.
'Oh, jadi karena masalah ini, apa ruginya sih?'
"Benar, kenapa memangnya?" Sella menjawab dengan tenang dan Yorin mengangguk.
"Aku atau ayah, tidak akan mengizinkannya."
"Tapi kakek setuju," sahut Yorin.
"Jangan harap kalian bisa membawanya sebelum dokter memeriksanya."
"Jadwal kunjungan dokter masih dua hari lagi. Sayang, kami tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan diskon!"
'Ah, kau pasti marah kalau aku bilang mau bertemu aktor tampan itu'
__ADS_1
"Lalu, apa kau siap menanggung resikonya, nona?" Zen tiba-tiba angkat bicara.
"Hei, apa kau meragukan kami?" kata Sella dan Yorin bersamaan.
"Kita tunggu, apa ayah mengizinkan Kalian," sahut Alrega sambil memberi isyarat agar Yorin dan Sella pergi.
Sebelum pergi, Yorin mengambil beberapa voucher yang ia kantongi, voucher itu sempat ditunjukkan kepada Zania untuk memberikan semangat kepadanya. Ini adalah kesempatan yang bagus.
Mereka memiliki banyak uang, untuk membeli berbagai macam barang tanpa memerlukan voucher belanja seperti itu, tapi itu bukan voucher biasa, melainkan sebuah tiket VIP untuk bisa bertemu langsung dengan artis, yang menjadi bintang tamu dalam acara cara pembukaan Mall.
Zania saat itu juga terlihat ceria, karena ia akan bertemu artis, yang mungkin bisa menyanyikan lagu kesukaannya.
Alrega menatap yorin dengan nanar gadis itu melemparkan voucher-voucher yang sudah ia remas sebelumnya ke atas meja, dan ia berkata.
"Kakak memang tidak suka melihatku senang ya?" sambil mendengus, Yorin pergi meninggalkan ruang kerja.
Alrega melihat semua voucher yang sudah menjadi kusut berhamburan di atas meja, dan mengerutkan alis ketika mengeja sebuah nama artis yang tertulis di sana. Itu nama artis yang memerankan tokoh jahat dalam sebuah film, dan nama tokoh ini dijadikan ID namanya di ponsel Sella.
Ia menarik nafas dalam sambil menyandarkan tubuhnya, lalu menumpuk kedua kakinya dan melipat kedua tangannya di depan dada
Ia erkata sambil melirik Sella yang masih duduk terpaku di depannya.
"Apa karena ini kau ingin pergi ke sana?"
Sella tidak mengerti apa yang dimaksud Alrega, ia memang tidak mengerti apa arti voucher bertanda, yang ada di depannya, yang ia tahu, bahwa itu adalah voucher belanja.
"Apa maksudmu? Ya jelas itu voucher belanja, kau tau tidak, aku tidak pernah mendapatkan voucher seperti itu, jadi aku ingin sekali merasakan belanja, dan membayarnya hanya dengan sebuah kertas." Sela tertawa di akhir kalimatnya. Suaranya yang biasanya lembut agak sengau di hidung itu terdengar ceria.
"Kau bilang tidak menyukainya, kan, apa kau bohong lagi sekarang?"
"Menyukai apa maksudmu? Tentu saja aku menyukai belanja. Kau tau kan, aku punya satu toko, dan aku ke pasar hampir setiap hari, apa itu salah?"
"Hah! Apa memang menipu adalah bakatmu?"
"Sebenarnya apa maksudmu, aku tidak tahu, aku hanya tahu itu voucher belanja untuk membeli barang-barang!"
Mendengar ucapan Sela, Alrega mengambil sebuah voucher dan dia penunjukan lambang tiket khusus diujungnya yang bertuliskan jumpa Fans.
'Ya Tuhan jadi karena ini dia marah, aku benar-benar tidak tahu, tuan haha'
"Apa kau marah lagi, aku benar-benar tidak tahu, dan aku tidak berbohong kali ini ... Percaya lah."
Alrega mencibir, lalu berkata, "kau senang dihukum rupanya," ia berkata sambil menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.
'Bukannya kamu yang senang menghukumku? Dasar!'
Tanpa memperdulikan Alrega, Sella pun berdiri, beranjak meninggalkan tempat itu, menuju kamarnya sendiri untuk mandi. Setelah selesai, ia mengambil sebuah baju tidur yang seksi dan minim.
'Aku akan menaklukkannya malam ini, aku harus mendapatkan kunci balkon kalau ia tidak mengizinkan aku pergi'
Sella tahu akhir-akhir ini, Alrega sangat berminat pada dirinya, hingga Ia menggunakan kesempatan ini untuk merayunya. Ia menyemprotkan parfum yang jarang ia pakai bahkan tidak pernah, lalu mengambil posisi duduk bersandar di ujung kepala tempat tidur. Menunggunya.
Tapi begitulah, kadang kenyataan tidak seindah harapan. Sella menunggu Alrega sambil berselancar di dunia maya, melihat banyak berita di internet, sampai ia mengantuk dan akhirnya tertidur.
Alrega tidak juga masuk ke dalam kamar.
Laki-laki itu menunggu sang ayah pulang untuk membicarakan tentang masalah, yang baru saja berhasil mereka selesaikan. Rehandy pulang, setelah ia selesai mengurus pelakunya di kantor pihak berwajib, membuat laporan pengaduan, agar pelaku bisa di adili secepatnya, dan menerima akibat dari perbuatannya.
Rehandy puas, karena Alrega, sehingga perusahaan bisa mengambil kembali tender yang memnag menjadi hak mereka.
"Aku tahu, Sella bermasalah dengan ayahnya, apa kau sudah menyelesaikannya juga?" Kata Rehandy ketika mereka sudah duduk tenang di sofa, sedang Zen tengah merapikan beberapa dokumen yang berantakan untuk di simpan di tempat yang seharusnya.
"Sudah, karena itu aku menunda rapatnya," kata Alrega sambil membuka jas, melepaskan kancing lengan kemejanya, melepas syal, dan membuka kancing atas bajunya. Tugasnya sudah selesai, hingga ia tidak harus berpakaian rapi.
"Oh, bagaimana laki-laki itu sekarang?"
__ADS_1
"Zen ... Kau sudah menyuruh dia pergi?" Tanya Alrega dengan suara yang agak keras.
"Sudah,Tuan. Menurut informasi terakhir, ayah nona sudah pergi ke bandara dan akan pergi ke tempat yang kita minta, sesuai yang tertulis dalam surat pemecatannya."
"Bagus, ku pikir dia tidak akan berani kembali ke kota, kalau anak istrinya masih ingin selamat," kata Alrega. Ia tidak ingin laki-laki itu mengganggu kenyamanan keluarga istrinya.
***
Ketika Alrega sampai di kamar, ia melihat Sella yang tertidur seperti biasa, tanpa mematikan lampunya. Ia mendekat, mencium pipinya yang sangat harum memabukkan Indra penciumannya, menelusup ke dalam darah yang memanas. Perempuan ini selalu membuatnya lemah tak berdaya untuk mengendalikan seleranya.
Keinginan kuat secara spontan terkumpul dalam benaknya, dan mendobrak pertahanan kemarahannya, niat untuk tidak menyentuh tubuhnya tiba-tiba lenyap. Semula ia ingin membuat Sella penasaran saja karena ia merasa sudah terlalu manis padanya.
Tapi sekarang, keinginan untuk melihat ponsel juga hilang. Masa bodoh dengan nama dalam IDnya, karena siapapun dirinya bagi Sella, gadis itu tidak akan pernah ia lepaskan begitu saja.
Ia bisa saja memaksa Sella untuk melakukannya dalam kondisi tertidur, dan ia pun melampiaskan has saratnya saat ini juga. Tetapi ia lebih senang melakukannya apabila Sella dalam keadaan sadar, melenguh dan memujanya dalam setiap gerakan, dan saling memuaskan dalam melakukan aktivitas bersama, dengan mata yang terbuka.
Alrega membangunkan Sella dengan cara mencumbuinya kasar, tangannya menyusup melalui bagian bawah gaun pendeknya, menggerayangi, setiap bagian tubuhnya dan berhenti di tempat kesukaannya, merem masnya lebih kuat dibagian itu cukup lama, hingga akhirnya Sella sedikit demi sedikit mulai membuka mata.
Menyadari Sella sudah terbangun, Alrega menyibakkan pakaian tidurnya ke atas, sehingga ia bebas melancarkan serangannya di atas dada Sella dan bermain dengan ujung dada, menggigit kecil beberapa bagian hingga keluarlah suara dari mulut Sella yang menggoda, menambah semangatnya.
Sella tersadar akan niatnya semula, yang ingin menaklukkan Alrega, agar memberikan kunci Balkon kamar Zania.
'Aahk ... Lagi-lagi aku kalah, tidak bisa sekarang'
"Cukup!" kata Sella menahan kepala Alrega yang berada di atas dadanya, tapi Alrega masih mau memainkan ujungnya. "Hentikan, kubilang hentikan!"
"Kenapa?" Alrega berkata sambil menatap Sella dengan pandangan yang sedah berkabut, wajahnya memohon agar ia melayanninya.
"Aku mau tidur dan kau menggangguku." Sella berkata sambil menutupi kembali tubuhnya dan ia menarik selimut.
Mengabaikan Alrega yang menatapnya dengan penuh permohonan.
'Kalau kau tidak ingin menggodaku, kenapa kau memakai pakaian seperti itu, aku tidak sebodoh dirimu!'
"Anggap saja kau membayar kesalahanmu."
"Memangnya kali ini apa kesalahanku?"
"Banyak, mau aku sebutkan satu-persatu?"
"Tidak, tidur saja sana, dan jangan menggangguku." Sella berkata sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai di kepala.
Alrega menyeringai, lalu menjatuhkan dirinya di atas badan Sella yang terbungkus selimut. Ia sudah tidak memakai pakaiannya. Lalu berkata dengan suara rendah di dekat kepala Sella.
"Baik, tidur lah, aku pergi, dan jangan harap apa pun untuk ibu."
Sella menyibakkan selimut yang menutupi bagian kepalanya, ia melihat Alrega yang berwajah masam diatas tubuhnya.
'Aaah, kau berat sekali tau?'
"Jadi, berikan kuncinya."
"Kunci balkon kamar ibu."
'Jadi cuma itu yang kau minta, kau ini menakutiku saja'
Tatapan saling mengunci mengirimkan perasaannya masing-masing, hingga seolah-olah banyak percikan diudara yang saling berbenturan, yang satu mengirim percikan has sarat, dan yang lain melempar percikan kepasrahan.
Permintaan Sella membuat Alrega ingin sekali tertawa, sebab ia pikir Sella akan meminta hal besar, seperti meminta bertemu aktor yang ada dalam umpa fans, atau belanja di mall dengan ibu dan Yorin, seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Gadis ini selalu memberi kejutan yang menggemaskan.
Tidak tahan lagi, Alrega menyibakkan selimut dengan kuat sampai terlempar ke lantai, memeluk Sella dengan erat, menggulung tubuh wanita itu dalam dekapannya seperti guling, sambil menciumi seluruh bagian kepala, wajah dan berakhir di bibirnya. Ia memberikan ciuaman yang kuat, disertai decakan yang menandakan ciuman itu sangat menghanyutkan. Sementara bagian bawah tubuhnya sudah siap sempurna.
"Jadi, kau akan memberikannya, kan?" tanya Sella ketika Alrega melepaskan ciumannya.
"Hmm..." Alrega bergumam sambil menarik baju Sella hingga terlepas.
__ADS_1
Bersambung