Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Eps 22. Lamaran


__ADS_3

Syalu tersenyum mendengar ucapan Flinna lalu menatap bayangan dirinya dicermin. Riasan tipis yang ia poleskan diwajahnya membuatnya sedikit berbeda, memperlihatkan wajah yang lebih bersinar.


"Apa ibu senang kalau aku menikah?" tanya Sella sambil melihat ekspresi wajah ibunya dari balik cermin.


"Tentu saja, Sese. Perempuan seusiaku selalu ingin tahu bagaimana rasanya menggendong bayi dari anaknya."


"Kalau aku punya bayi, itu artinya ibu akan segera menjadi nenek." sahut Sella kini menghadap pada Flinna.


"Tidak masalah. Jadikan aku nenek secepatnya" kata Flinna membuat Sella terkekeh.


'Apakah ibu begitu bahagia dengan menjadi nenek? Jadi apa salahnya pernikahan ini kalau memang bisa membuat ibu bahagia?'


"Haha. Ibu, seandainya bisa menikah ribuan kali dalam hidupku, maka akan aku lakukan asal ibuku ini bisa bahagia."


"Bicara apa kau ini. Aku tidak meminta anak-anakku untuk membahagiakanku."


"Ibu, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu."


"Seorang ibu juga punya kewajibannya sendiri untuk mengurus anaknya. Jadi anakku tidak perlu merasa, harus membalas jasaku, karena jasa seorang ibu tidak akan terbalas sampai kapanpun. Begitu juga anakmu, tidak akan bisa membalas jasamu nanti saat kau membesarkannya."


'Ya, kalau memang tidak mungkin membalas jasa ibu, setidaknya aku tidak akan menyakiti ibu'


Bagi Sella kebahagiaan ibunya sangat penting. Ia bisa melihat ibunya tersenyum, melupakan semua rasa sakit dan tidak lagi mengalami cobaan berat, itu sudah membuatnya sangat bersyukur.


Tiba-tiba ia merasakan sebuah tekad baru kembali muncul, menjalani pernikahannya dengan baik, apapun alasannya. Biarlah Alrega menganggapnya sebagai seorang pesakitan yang menjalani hukuman tapi baginya adalah penebus dari sebuah kesalahan.


Sella sudah terbiasa menyimpan segala kesedihan dan beban hidupnya sendiri, termasuk menyembunyikan hal yang besar, menyimpan kebenaran tentang penipuan yang ia lakukan dua tahun yang lalu pada Flinna, agar ibunya itu tetap bahagia.


Tok tok tok! Suara ketukan dipintu membuat Sella dan Flinna sama-sama terhenyak. Begitu pula Rejan dan Runa yang sudah rapi dengan pakaian casual yang ia kenakan. Mereka berjalan bersama ke ruang tamu. Semua pakaian yang mereka pakai saat itu adalah pemberian dari Alrega.


'Apakah itu tamunya?'


Flinna segera membukakan pintu, lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk di sofa warna putih yang disusun di sudut ruangan. Di sebelah sofa itu ada nakas yang juga terlihat masih baru ditata dengan rapi dan bersih. Cukup pas dalam ruangan yang tidak begitu luas.


"Permisi" kata Zen yang berdiri di pinggir pintu.


"Silahkan,  silahkan duduk" kata Flina sopan.


Zen yang berdiri di samping Alrega menjulurkan tangannya mempersilahkan Alrega masuk dan duduk lebih dulu. Mata pria itu menyapu sekeliling ruangan dan pandangannya berakhir pada Zen, seperti meyakinkan sesuatu. Melihat tatapan tuannya, Zen mengangguk.


Alrega duduk dengan menumpuk kedua pahanya secara bersilang, lalu tangannya menepuk-nepuk pada tumpuan sofa. Pandangannya tertuju pada Sella tajam. Membuat Sella merinding, seolah ia hantu yang mendatangi dengan wujud aslinya yang mengerikan. Kecanggungan tercipta diantara mereka.


Flinna meninggalkan mereka sejenak lalu kembali dengan beberapa cemilan dan teh hangat. Menatanya dengan rapi dia atas meja. Ia duduk kembali setelah selesai dengan makanan dan teh hangat buatannya.


"Bu, Flinna, perkenalkan, ini adalah tuan Alrega Leosan dan saya Zen sekertaris pribadi tuan." kata Zen memulai obrolan, dengan Raut wajah datar seperti biasanya.


'Bagaimana dia bisa tahu nama ibuku?'


Mereka duduk saling berhadapan. Alrega duduk di sofa panjang sendirian, dan di hadapannya adalah Flinna, dan Sella. Rejan dan Runa duduk di kursi yang lain tidak jauh dari Sella, seperti pengawal. Sedangkan Zen, seperti biasa, ia berdiri disamping Alrega.


"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda, bu Flinna dan nona Sella. Kami datang sudah cukup malam." kata Zen.


"Tidak masalah. Kami menunggu dengan sabar. Sebenarnya ada keperluan apa kalian berdua kemari. Ini sungguh tidak biasa bagi kami, Sese tidak mengatakan apapun soal kalian. Dia cuma bilang akan ada tamu malam ini." kata Flinna.


"Baiklah, memang seharusnya kedatangan tuan Rega selalu ditunggu, beliau adalah _ _ " kata Zen terputus.


 "Sudah, tidak usah mengatakan apapun tentang diriku, semua orang juga tahu siapa aku." kata Alrega dengan senyum tipis diujung bibirnya.


'Ck! Kedua orang ini sama-sama sombong. Memangnya siapa yang mengenalmu. Kalau bukan karena ibu, pasti aku sudah membalas ucapanmu'


'Oh, ternyata benar dia tuan Alrega, akan menjadi kakak iparku! dia adalah kakak iparku! Aku harus mendapatkan rekomendasinya!' Runa dan Rejan.

__ADS_1


"Bu Flinna, langsung saja pada maksud kedatangan kami kemari, tuan Rega ingin melamar nona Sella untuk menjadi istri tuan." Zen diam sejenak, setelah tidak ada sahutan apapun, ia berkata lagi.


"Jadi tuan Rega akan menikahi nona Sella. Ini sudah menjadi kesepakan antara Nona dengan Tuan. Dan untuk urusan yang lainnya, anda tidak perlu repot, karena kami akan mengurus semuanya."


Mendengar ucapan Zen, Flinna melirik Sella sambil mendengus pelan.


"Sebelumnya, aku sudah menduga kalau Sese akan dilamar seseorang. Tapi apakah kalian hanya berdua saja?" kata Flina.


"Oh, iya. Kedua orang tua tuan Rega sudah menyerahkan semua urusan kepada saya. Jadi sayalah wakil keluarga Tuan Rega." jawab Zen tenang.


"Tentu saja keluarga kalian sangat sibuk, ya? Aku mengerti... Lalu apakah semua barang-barang yang selalu kami terima dalam sepekan terakhir adalah kiriman dari kalian?" tanya Flinna.


"Benar." jawab Zen.


Suasana kembali sepi seakan suara kepakan sayap nyamuk pun terdengar.


"Kalau soal lamaran seperti ini, aku tidak bisa menentukannya sendiri. Aku sebagai seorang ibu akan sangat senang kalau ada pria baik yang menikahi putriku. Tapi sekali lagi, biarlah Sese yang akan menjawabnya." kata Flinna, seketika keheningan pecah karena suaranya.


"Terimakasih atas kesediaan ibu merestui pernikahan ini, tuan pasti sangat senang mendengarnya."


Setelah Zen selesai bicara, suasana sedikit kaku dan tegang. Mereka belum saling kenal, kan? Lalu Alrega bicara memecah ketegangan.


"Kemarilah." kata Alrega sambil menepuk ruang kosong disebelahnya. Sedang matanya masih terpaku pada Sella. Melihat gerakan itu Sella mendekat dengan gugup dan ragu. Sejak datang tadi, setelah menatap sekelilingnya, Alrega tidak melepaskan tatapan mata padanya.


Begitu Sella duduk, ia sedikit memberi jarak agak jauh dari Alrega. Laki-laki itu meletakkan tengannya dipinggang Sella yang membuat punggungnya menjadi kaku. Lalu tangam besar itu menarik tubuh Sella agar lebih dekat, dengan satu tarikan saja. Kini tubuh mereka saling menempel.


Melihat sikap Alrega, yang terkesan hangat, Flinna tersenyum. Ia melihat Sella yang selama ini sangat menjaga diri dari laki-laki, saat ini terlihat pasrah dalam pelukan Alrega.


"Rere, Ruru, apa kalian tidak punya tugas sekolah. Ayo kerjakan tugas kalian. Dan ucapkan Terimakasih pada tuan Rega, calon kakak ipar kalian." kata Flinna seolah memberi ruang untuk Alrega dan Sella.


Mendengar kata-kata ibunya, Razan dan Runa berdiri.


"Terimakasih, tuan atas kebaikannya. Saya menyukai semua yang sudah tuan berikan untuk kami. Sekali lagi terimakasih." kata Rejan mewakili. Mereka membungkuk lalu pergi ke kamarnya masing-masing. Alrega hanya mengangguk.


'Ahk, dasar bodoh. Aku lupa kalau aku sendiri yang memintanya seolah dia menikahiku karena cinta. Jadi mari hadapi harimau ini dengan sangat terpaksa'


Ia memainkan rambut Sella ditangannya, menggulungnya hingga memaksa Sella menjadi lebih dekat dan kepalanya seolah menempel dibahunya. Bagi yang melihatnya, pemandangan ini sangat romantis dan mesra


'Kenapa memainkan rambutku si. Sakit tahu? Ah, kan. Jadinya aku seperti bersandar saja. Sialan!'


"Kenalkan siapa saja anggota keluargamu" kata Alrega tanpa melepaskan tangannya dari rambut Sella.


'Apa ini awal siksaanmu? Aw! kepalaku sakit.'


"Ini, ibuku. Anda sudah tahu namanyakan? Nama ibuku Flinna Feliya. Dan adik lelaki saya, namanya Rejan Yanusa."


"Ya, aku tahu." sahut Alrega.


'Kalau sudah tahu, kenapa tanya?'


"Kalau adik perempuan saya, Namanya Haruna Joyi. Mereka berdua akan masuk universitas tahun ini."


"Ya, aku tahu. Apa mereka kembar?" Tanya Alrega tanpa mengalihkan tangannya. Ia menatap Sella dari samping.


"Tidak," jawab Sella dengan menggeretakkan gigjnya, kesal, "Mereka lahir dalam waktu yang sangat berdekatan. Hanya selisih satu tahun. Jadi ibu memasukkan mereka kesekolah bersamaan"


"Ya, aku tahu. Lalu dimana kepala keluarganya, ayahmu?" tanya Alrega.


"Maaf, ayah kami tidak tinggal disini bersama kami." sahut Sella dengan suara rendah.


"Iya, aku tahu." mendengar kata-kata Alrega,

__ADS_1


Sella yang semula sangat menjaga diri, kini menatap Alrega dengan kesal. Ia melepaskan tangan pria berpenampilan satu milyaraan dari rambutnya, menggenggam tangan Alrega dengan kuat.


"Kalau anda sudah tahu kenapa tanya, tuan?" suaranya terdengar geram, ia menggeretakkan giginya.


Melihat reaksi Sella yang seperti itu Alrega sangat ingin tertawa, entah kenapa semua yang dilakukan Sella terkesan lucu dimatanya.


Alrega bereaksi, ia balas menggenggam tangan Sella yang masih memegangi tangannya, Sella masih berusaha melepaskan rambutnya dari jari-jari tanganAlrega, ia meremasnya jari-jari tangan Alrega dengan sekuat tenaga. Tapi yang terlihat justru seolah mereka saling menggenggam tangan. Terlihat mesra.


"Apa ini yang kamu mau. Mematahkan jari-jariku?" tanya Alrega, nada bicaranya tertahan tapi dalam, ia bicara sangat dekat dengan telinga Sella.


Menyadari kelakuan Alrega itu, Sella dengan cepat melepaskan tangannya.


"Nah, sekarang katakan apa jawabanmu" kata Alrega ia sudah kembali mengendalikan emosinya.


'Jawaban seperti apa yang anda mau?'


"Baiklah. Aku menerima dengan senang hati. Terimakasih sudah datang melamar."


Jawab Sella, ia gugup dan tangannya yang gemetar tidak bisa ia tutupi. Membuat Alrega semakin geli melihatnya.


"Bagus. Aku tidak bisa menerima penolakan." kata Alrega tegas.


Alrega melihat kembali pada tangan Sella, ia tidak melihat Sella memakai perhiasan satupun dijarinya. Hingga ia kembali berbisik di dekat kepala Sella.


"Bukankah aku memberimu perhiasan?"


"Ah... I, iya." kata Sella menjauhkan kepalanya dari wajah Alrega.


"Kenapa tidak kau pakai?"


"Baiklah akan saya pakai sekarang."


"Bawa kemari padaku." kata Alrega.


Sella mengangguk, entah kenapa Sella jadi penurut sekali dihadapan Alrega. Laki-laki ini berhasil membuat wanita sekeras Sella menyerah.


Sella beranjak ke kamar dan mengambil sekotak perhiasan. Lalu kembali dan membukanya dihadapan Alrega. Pria berjas abu gelap itu mengambil sebuah cincin dan menarik tangan Sella di depan dadanya dan menyematkan cincin berlian itu kejari manis Sella, sambil berkata.


"Ingat, jangan lepaskan, sampai kapanpun." setelah selesai, Alrega mengecup jari-jari Sella dengan lembut.


Sella mengerjabkan mata berulang kali, tak percaya bahwa Alrega sudah mencium jari-jarinya. Lalu ia mengangguk seperti terhipnotis.


'Apakah ini artinya aku tidak akan dia lepaakan? Matilah aku.'


Alrega mengalihkan pandangan pada Zen, dan sekertaris pribadinya itu berkata.


"Bu, keperluan kami sudah selesai, nona sudah memberikan jawaban." ia membungkuk pada Flinna.


Alrega berdiri setelah Zen selesai bicara, lalu menundukkan kepala pada Flinna. Flinna membalas dengan senyum dan berkata.


"Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya."


"Baiklah, aku permisi." kata Alrega pada calon ibu mertuanya, yang tetap duduk dikursinya.


Sikap keduanya menunjukkan jati diri mereka masing-masing dengan sangat baik. Walau Flinna tahu bahwa Alrega bukan orang sembarangan, tapi ia tetap bersikap sebagai seorang ibu yang harus dihormati oleh menantunya.


Alrega berjalan keluar mendahului Zen menuju mobilnya. Beberapa orang yang lewat sempat memperhatikannya. Ia selalu jadi pusat perhatian dimanapun berada.


"Masuklah sebentar." kata Alrega pada Sella, ia sudah duduk di kursi mobilnya.


Sella mengikuti kemauan Alrega dengan malas. Tapi ia tetap harus melakukannya, kan? Zen menutup pintunya dari luar ketika Sella sudah duduk di samping Alrega. Wajah dan hatinya tegang.

__ADS_1


'Apa yang dia inginkan?'


__ADS_2