Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 100. Perempuan Arogan


__ADS_3

Alrega duduk berhadapan dengan Delisa yang tengah makan. Mereka berada di sebuah ruangan bawah tanah yang sedikit gelap. Tempat itu sengaja dibangun oleh eh kakek Mett sebagai gudang penyimpanan barang-barang, bila bahan baku produksi yang ada di perusahaannya berlebih. Saat ini ruangannya sedang kosong karena tidak ada barang-barang yang mengisinya.


Zen berdiri di antara mereka berdua, diam seperti tiang rumah yang kokoh namun siap dan waspada seperti binatang pemangsa yang siap menerkam mangsa atau lawannya.


"Kenapa kau datang kemari? Apa kau akan membunuhku, dengan tanganmu sendiri?" kata Delisa dengan mulut yang penuh berisi makanan. Ia melihat Alrega penuh dengan kebencian.


Ia mengabaikan kesopanan dan keeleganan yang selama ini melekat pada dirinya. Penampilannya yang selalu nampak anggun dan berkelas itu seakan sirna menguap ditelan keputus asaan yang tiada tara. Harga diri seolah tergadai oleh rasa lapar, takut dan penyesalan.


Pakaian dan rambutnya tidak keruan, karena ia sudah berada di gudang itu dalam keadaan yang menyedihkan. Ia sangat berbeda dengan penampilannya di pesta, sehari sebelumnya.


Mett Haquel kemarin membawa dan mengurungnya di sana, sejak itu pula kakek Mett tidak memberinya makan.


Saat itu Delisa makan dengan lahap, walaupun, yang ada di piringnya hanyalah nasi dan kuah sup saja. Ia sangat lapar.


"Bicara kalau sudah selesai makan." Alrega menyahut pelan dan santai sambil melipat kedua tangannya. Mereka terpisah oleh sebuah meja bulat berwarna coklat tua.


"Kalau kau membunuhku sekarang juga, silakan!" Kata Delisa lagi, sambil menyimpan sendok, menyudahi makannya.


"Aku tidak akan membunuhmu sekarang, nasibmu berada di tangan istriku. Dia yang akan memutuskan kau masih layak hidup atau pantas mati."


'Beraninya kau menghancurkan pesta, mempermalukan keluargaku, lagi! Berlaku kasar pada istriku dan merepotkan Kakekku!'


"Cih! Istriku?" Delisa mencebik Alrega.


Delisa sangat kecewa, putus asa dengan keadaan yang berjalan tidak seperti yang diinginkannya. Ia mendengar semuanya dari kakek Mett semalam, ia menjelaskan tujuan Alrega menikahi Sella. Walaupun, awalnya hanya untuk menyakiti perasaannya, tapi kini pria itu sudah mencintai istrinya.


Wanita itu sadar, sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk mendapatkan Alrega kembali. Oleh karena itu, ia sangat membencinya, ternyata pria itu bisa berpaling kepada Sella. Padahal laki-laki tahu, wanita itu sudah ikut menipunya. Delisa merasa bila Sella bahkan lebih buruk dari dirinya.


Delisa berpikir mungkin yang bisa ia lakukan sekarang adalah, berusaha agar Sella tidak mendapatkan kebahagiaannya. Sama seperti dirinya yang juga tidak bahagia karena tidak bisa lagi memiliki Alrega.


"Kenapa, apa kau cemburu, kau sakit hati sekarang? Itu bagus!"


Alrega dulu sengaja melakukan pernikahan dengan Sella untuk membuat Delisa cemburu dan sakit hati. Kini tujuan itu sudah tercapai! Alrega tersenyum puas.


"Kau ...?!" Delisa berdiri dan mencondongkan tubuhnya kedepan, bertopang dengan kedua tangannya.


"Kenapa, apa kau membenciku sekarang?" Alrega tertawa lebar sambil memalingkan mukanya ke samping.


Alrega memang ingin Delisa membencinya dan itulah yang terjadi. Delisa muak begitu dalam padanya, seolah rasa itu menggumpal diperutnya. Lalu ia ingin muntah bila berhadapan langsung dengan Alrega.


Perasaan buruk Delisa, terlihat jelas di wajahnya, Alrega pun merasa tidak perlu lagi repot-repot menghancurkannya karena perasaan benci itu akan membuat wanita itu hidup menderita, bahkan bisa jadi, ia akan mati tercekik oleh kebenciannya.


"Apa tujuanmu menikahi wanita penipu itu, demi ini? Kau naif sekali Rega! Seharusnya kau malu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan ini balasanmu?!"


"Apa, kau bilang cinta sepenuh hati. Hah?!" Alrega menjawab tanpa merubah posisi duduknya. Ia memandang sambil mencibir Delisa. Seketika wanita itu terperangah, selama ini ia tidak pernah melihat ekspresi berlebihan, dari pria di hadapannya.

__ADS_1


Semua yang dirasakan Delisa atas sikap Alrega, semakin membuatnya tertekan. Sejak kemarin, ia berusaha menutupi kekhawatiran akan konsekuensi yang harus diterima. Ia tak pernah mengira kalau Rehandy dan Mett Haquel pun sudah mengetahui perbuatannya, bahkan mereka mendukung Sella.


Mungkin Delisa lupa, atau memang ia tidak sadar saat dulu ia menjalin hubungan, selama tiga tahun dengan Alrega. Bahwa keluarga Haquel adalah orang yang bisa membuat dunia, seolah bekerja atas kemauannya.


Sungguh ia sangat menyesali semua yang sudah ia lakukan, Ia berpikir akan mendapatkan dukungan dari semua pihak, lalu kembali pada kedudukannya sebagai menantu dan istri.


Namun nyatanya berbeda, bahkan Kakek Mett Haquel, pria tua itu mengurung Delisa di ruangan itu, sebagai bentuk hukumannya, karena sudah bersikap buruk pada Sella.


"Aku sudah pernah melarangmu untuk mendekati Sella. Kau harus menjauhi keluarga Leosan, tapi kau sekarang seperti orang yang sudah siap mati!?"


"Aku mencintaimu, Rega! Ingat kita pernah bersama, apa kau lupa?"


Alrega berdiri menghadap Delisa, ia ingat juga akan penghianatan yang dilakukannya, tapi sekarang berani-beraninya wanita itu mengatakan tentang 'lupa'.


"Kau juga lupa, sampai kau terlena dengan laki-laki itu, lalu apa yang kau dapatkan darinya, ha? Kau pikir aku tidak tahu kau sudah hamil dengannya?!"


"Aku hamil anakmu, Rega!"


"Cih! Kapan aku melakukannya?"


Dua orang mantan kekasih itu saling menyalahkan. Tidak ada lagi cinta di antara mereka, yang ada hanyalah kebencian. Hingga akhirnya, kakek Mett datang masih dengan pakaian berkudanya.


Pria tua itu sedang melakukan hobinya ketika Alrega datang, dan seorang pelayan menunjukkan keberadaan Delisa, hingga mereka bisa berbincang seperti tadi.


"Tidak ada."


Mendengar perkataan Alrega, Kakek Mett mengangkat alisnya dan menggeleng.


"Lalu akan kau kemana kan wanita ini?"


"Biarkan Sese yang menentukan nasibnya, Kek!" Alrega berkata sambil melangkah ke pintu.


Zen mengikutinya.


"Baik, aku setuju, bawa dia kemari. Tunggu!" Kakek Mett mengikuti langkah Alrega yang tidak perduli lagi dengan Delisa.


Alrega mengehentikan langkahnya dan menoleh pada kakeknya.


"Rega! Maafkan aku!" Tiba-tiba Delisa berlari menghampiri Alrega, dengan beruarai air mata.


Alrega tertawa kecil, ia membuang muka ke arah lain, muak dengan wanita yang tampak seperti bunglon. Tadi ia menampakkan sikap seorang wanita yang arogan, tapi sekarang ia menunjukkan sikap penyesalan. Mengharukan sekali, tapi semua sia-sis di mata Alrega, cara Delisa menipunya, lebih buruk dari Sella.


Ia yang lebih dahulu menghianati Alrega sekarang membalik keadaan, seolah alrega yang sudah bersalah padanya.


Delisa merengek memohon pengampunan pada Alrega. Ia berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, sebentar-sebentar matanya melirik pada ada kakek Mett yang terlihat angkuh, memegang cambuk kudanya. Ia ketakutan melihat laki-laki tua itu, saat tidak membawa apapun, apalagi sekarang saat kakek membawa sebuah cambuk di tangannya.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar takut kalau kakek akan menyiksanya.


Zen yang melihat kejadian itu bergumam.


'Sepertinya dia takut dengan Kakek, bagus sekali. Padahal Kakak tidak akan melakukan apapun padanya. Walaupun, kakek seperti terlihat kejam, tapi dia tidak pernah berbuat kriminal. Kami benar-benar seorang pebisnis kalaupun memang ada orang yang harus kami lenyapkan, maka kami tidak akan melakukannya sembarangan'


"Pergilah, Kalau kau memang ingin pergi. Apa itu urusan penting?" kakek bertanya tanpa melihat kearah Delisa, yang sedang menangis dengan kerasnya, seolah-olah wanita itu tidak ada diantara mereka.


Alrega menggangguk, pria itu sama cueknya dengan kakeknya. Ia menganggap wanita yang memohon maaf padanya, hanyalah sebuah rekaman lagu yang rusak.


"Pergilah, biar aku yang akan mengurusnya." kata kakek sambil memerintahkan beberapa pengawal untuk membawa Delisa kembali ke tempatnya.


"Rega! Kumohon, maafkan aku, aku tidak akan melakukan apapun lagi pada Sella dan juga kepadamu. Rega Aku mencintaimu!"


Delisa terus berteriak, sambil melangkahkan kakinya dengan terpaksa karena diseret oleh dua pengawal, sampai suaranya tidak terdengar lagi oleh Alrega yang sudah melangkah jauh dari sana.


Sementara pintu gudang bawah tanah itu sudah kembali di tutup oleh para penjaga.


"Kau sudah menemukannya? Sim, bilang dia diusir Nenekmu." Kakek berkata ketika berjalan di sisi cucunya.'


"Sudah, dia ada di --" ucapan Alrega terputus di saat yang bersamaan Zen menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan lokasi di mana Sella berada.


"Sial ...!" gumam Alrega sambil mengusap wajahnya kasar. "Kek, aku pergi dulu!"


"Apa ada masalah lagi?!"


"Tidak ada, kakek tenang saja!"


Mett hanya menggeleng melihat kepergian Alrega yang tergesa-gesa.


***


Alrega dan Zen masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa, ketika suara ponsel Zen kembali menyala. Alrega menoleh pada orang yang di sampingnya dan Zen pun melihat pesan serta identitas diri pengirim pada layar ponselnya.


Zen mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang tertera pada layar GPS.


Dua laki-laki itu tidak banyak bicara saat berada di dalam mobilnya. Bagi sebagian orang yang melihat mobil BMW X 15 hitam itu melintas, mungkin seperti melihat nyamuk yang terbang saja.


Setelah sampai di lokasi ....


Zen menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Bugatti Veyron warna putih milik Sella yang berhenti di pinggir jalan. Miereka melihat mobil sport itu tidak bergerak dari tempatnya.


'Sebenarnya apa yang dia lakukan di sana?'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2