Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 34. Kasih Sayang


__ADS_3

Sella mengikuti Alrega menuju ke ruang ganti. Alrega melihat pakaian kerja yang sudah Sella siapkan di sana lalu berkata,


"Ini, baju yang kau siapkan?"


"Hmm." Sella bergumam sambil mengangguk.


"Bicara yang jelas," kata Alrega melirik Sella.


'Ih, kamu sendiri begitu, tapi nyuruh orang bicara jelas'


"Iya. Itu baju untuk Anda hari ini," jawab Sella datar.


"Kau mau aku ditertawakan?"


'Ah, iya. aku ingin sekali melihat hal itu terjadi'


"Tentunya tidak, Ttuan. Siapa yang berani menertawakan Anda," sahut Sella.


"Lalu, apa ini. Aku tidak akan memakainya" tandas Alrega.


'Ya sudah, telanjang saja sana, lagipula itu bagus. Aku dilarang banyak bertanya, tapi yang aku lakukan salah. Menyebalkan'


"Warna apa yang anda sukai, Tuan. Saya akan memilih lagi, baju seperti apa yang aynda inginkan. Kalau yang ini, bagaimana?" kata Sella sambil memilih beberapa pakaian yang menurutnya semua hampir sama.


Dalam lemari itu, kemeja warna putih mendominasi. Jas warna gelap juga mendominasi. Hanya sedikit warna yang berbeda.


"Lakukan saja kewajibanmu, jangan banyak bertanya."


"Baik," jawab Sella.


Akhirnya ia memilih yang biasa dipakai Alrega, yang pernah ia lihat dibeberapa pertemuan mereka. Kemeja putih, stelan jas hitam dasi biru.


Setelah Sella menyimpan baju pilihannya, Alrega beranjak ke kamar mandi sambil berkata,


"Jangan lagi keluar dari kamar, tanpa seijinku"


'Apa maksudnya tadi malam?'


"Apa aku salah menemui ibuku sendiri?" Sahut Sella balik bertanya.


"Dia bukan ibumu!" Tandas Alrega.


"Dia ibu Anda, dan Anda suami saya, apa salah kalau saya menganggap ibu Anda seperti ibu saya sendiri?" kata Sella sambil berlalu meninggalkan Alrega.


"Hei, siapa yang mengijinkanmu pergi!" kata Alrega, "aku belum selesai bicara!" kata-kata itu membuat Sella menghentikan langkah dan berbalik sambil berkata,


"Apalagi yang anda butuhkan, tuan?"


Lama Alrega diam, Sella juga diam menunggu jawaban Alrega. Hingga akhirnya ia berkata,


"Tidak ada. Sana, pergilah" sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya. Lalu masuk ke kamar mandi.


Sella mengepalkan tangannya dengan geram. Sungguh ia tak berdaya tapi ia sangat kesaal!


Sella keluar menuju meja makan, saat ia melihat seorang pelayan sedang mendorong sebuah meja kecil berisi beberapa makanan, menuju lift untuk dibawa naik kelantai tiga.


Sementara sarapan untuk anggota keluarga yang lain, sedang di siapkan oleh beberapa pelayan lainnya.


"Selamat pagi, Nona," sapa pak Sim ramah.


"Pagi, pak Sim. Apa makanan itu untuk nyonya?" tanya Sella.


Pak Sim tampak terkejut, ia tak menyangka Sella akan tahu soal Zania secepat ini.


Dengan cepat ia mengangguk.


"Ini saatnya Nyonya minum obat," jawab pak Sim sambil mengikuti arah meja itu.


Sella juga ikut bersama pak Sim dan pelayan menuju lift.


"Apa yang akan Nona lakukan di sana. Ini tugas saya,"


"Pak Sim. Seandainya kau tahu, aku seolah melihat ibuku sendiri."


'Apakah Nona... Ahk, Nona kau sangat baik'


Pintu lift terbuka, Sella lebih dulu masuk dan mendapati Zania sedang berdiri setelah selesai dibersihkan. Kedua tangan dipegang erat oleh dua orang pelayan, Zania terlihat meronta, sedang seorang perawat laki-laki itu sudah siap memberikan suntikan.


"Mama, kau sudah mandi?" kata Sella sambil memeluk Zania. Lalu mencium pipinya.


"Mama .. kau cantik dan harum, aku senang memelukmu seperti ini."


Pak Sim masuk dan menutup pintunya rapat. Ia tersenyum melihat interaksi Sella dengan ibu mertuanya.


"Lepaskan tangan kalian ..." kata Sella yang melihat ketiga orang perawat dan pelayan memegang erat tangan Zania.-

__ADS_1


"Nona, nanti Nyonya akan memukul kalau tidak dipegang. Apalagi sekarang sudah waktunya minum obat," kata perawat yang sekarang adalah seorang laki-laki.


"Biarkan saja," kata Sella, "sudah aku bilang, perlakukan dia seperti ibu kalian sendiri!"


Mereka akhirnya melepaskan tangan dari Zania. Sella melihat pergelangan tangan Zania yang memerah. Benar saja saat itu Zania langsung memukul tak tentu arah. Sella dengan sigap menahan dengan memeluknya, hingga tubuhnya menjadi sasaran pukulan kembali.


"Nona, biarkan saya menyuntik-nya biar nyonya tenang" kata pria itu, sambil berusaha memegang tangan Zania.


"Cukup!" kata Sella sambil menepis tangan pria itu sementara satu tangan yang lain memeluk Zania erat.


Pria itu menghentikan gerakannya dan menatap Sella dengan penuh pertanyaan.


"Mama... tenanglah, Mama sayang... tenang ya... ada aku di sini. Mama cantik, Mama jangan marah ya ... Mama, nanti cantiknya hilang ...!" kata Sella terus menerus sambil mengusap punggung dan kepala Zania dengan lembut.


Hingga beberapa waktu berlalu, Sella melakukan hal sama seperti semalam, Ia terus mengulang kata-kata yang sama, dan gerakan yang sama agar Zania tenang, ia rela dirinya menjadi aasaran pukulan


Kini mulai terlihat ketika tangan dan kaki Zania sudah lelah karena menumpahkan amarahnya kesegala arah, akhirnya ia berhenti dan hanya suara tangisan yang terdengar.


Sella membawa Zania duduk sisi tempat tidur dan Sella berada di depannya sambil memegang tangannya. Ia membungkuk, melihat wajah Zania sambil tersenyum, mengusap air mata Zania.


"Mama sudah lelah, ya? Kalau marah itu cape, mama... makanya besok lagi, gak boleh marah, yaa." kata Sella sambil membelai rambut Zania.


Sella duduk di samping Zania. Ia masih terus mengatakan hal yang positif. Seperti mama cantik, mama baik, mama manis, semua yang hal baik yang Sella ucapkan ketika Zania mulai tenang.


Sella mengusap pipi Zania lembut dan mengajaknya minum obat. Zania menurut, lalu makan sambil disuapi oleh Sella. Mulutnya tak henti berceloteh riang. Kamar itu mendadak ramai. Oleh suara tawa Sella yang bercerita hal-hal yang menurutnya lucu.


Zania menghabiskan makanannya. Dan Sella bertepuk tangan, mirip seperti memperlakukan anak kecil.


"Mama, kau hebat. Makananmu habis dan sudah minum obat," tersenyum sambil menatap wajah Zania tepat dibola matanya.


"Mama, dengar. Ada Sese di sini. Aku. Sese. Aku sayang sama mama..." kata Sella sambil memeluk Zania, tapi kemudian Sella merasakan kembali sakit yang luar biasa dibahu sebelahnya.


'Apa dia menggigitku lagi? Ahk, yang benar saja'


Sella membiarkan gigitan itu sampai Zania puas dan melepaskannya sendiri.


"Mama, lihat," kata Sella menunjukkan bahunya yang sakit dan bahunya yang kembali berdarah. Kemeja putihnya bernoda bercak merah.


"Apa mama sudah puas menggigitku?" kata Sella sambil menatap Zania dengan senyum manis. Zania kembali menatap Sella.


"Nona, Anda ..." pak Sim hendak membantu tapi Sella melambaikan tangan memberi isyarat agar tidak mengganggu mereka.


Ini momen penting ketika korban depressi mau bertatap muka dan mau melihat kearah wajah lawan bicaranya. Jadi saat penderita depresi mulai mau melihat wajah orang yang ada didepannya, maka orang itu harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, sebelum otak orang itu kembali pada posisi tidak stabil.


Ia mencoba membangun komunikasi, membangun hubungan baik dengan wanita itu, ia mengenal kan siapa dirinya, agar nanti ketika Zania kembali membaik, mereka akan sangat dekat karena hubungan emosional mereka sudah terjalin, Zania akan terbiasa dengan dirinya, hingga akan menurut padanya.


Setelah selesai berinteraksi, dan Zania terlihat lelah, ia membaringkan tubuh dengan sendirinya ia diam tapi bibirnya mengeluarkan gumaman.


Sella mendekat, ia mendengar apa yang disenandungkan Zania. Lirih tapi ini mirip sebuah lagu.


'Lagu apa ya, seperti lagu lama tapi apa?'


"Biarkan dia tenang, aku akan pergi. Ingat. Jangan berikan obat penenang itu lagi. Karena itu akan membuat ketergantungan dan nyonya tidak akan sembuh. Kalau nyonya kambuh, panggil aku. Paham kalian!" kata Sella. Semua perawat dan pelayan mengangguk.


Sella keluar menuju kanarnya menggunakan tangga. Ia pergi ke sana hanya untuk melihat apakah suaminya sudah selesai mandi atau bahkan sudah sarapan.


Ia mengedarkan pandangan kebawah, tak ada seorang pun di meja makan. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat semua yang ada di lantai dasar dengan sangat jelas.


'Kemana semua orang, apa mereka sudah sarapan tanpa menungguku? Tapi Pak Sim masih ada dikamar Mama, itu artinya mereka belum makan, atau justru mereka sudah selesai. Ahk... biarlah'


Sella masuk ke kamar, bersamaan dengan pak Sim yang sampai dilantai bawah.


Sella membuka pintu kamar dan menutupnya kembali, tanpa memperhatikan keadaan kamarnya. Ia membuka kancing kemejanya yang terkena noda darah satu persatu, menyibakkannya, hingga terlihat sebagian pundaknya sampai ia mendengar suara merdehem yang mengagetkan.


Sella menghentikan gerakannya dan matanya tertuju pada Alrega yang berdiri di dekat meja rias. Laki-laki itu sudah berpakaian rapi.


Sella dengan cepat menutup kembali kemeja yang sudah terbuka tadi.


Alrega menatapnya lurus, kedua tangan besarnya memegang tangan Sella yang menahan pakaian didadanya. Sella mendongak melihat wajah Alrega, cengkraman tangan dibajunya semakin kuat menahan agar bajunya tidak dibuka secara paksa.


"Apa kau bodoh?" bisik Alrega sambil membungkukkan badan ketelinga Sella, nafasnya terasa sampai dilehernya membuat Sella merinding.


Karena bisikkan itu, kewaspadaan Sella berkurang hingga Alrega berhasil menyibakkan kemeja yang dipakai Sella hingga terbuka, kini bahu dan sebagian dadanya terlihat.


Alrega mengeluarkan salep luka yang sudah dipegangnya, ia mengoleskan salep kecil itu pada bahu Sella yang terluka. Alrega mengoleskannya dengan lembut. Sementara Sella seperti tersihir, ia diam tak bisa melakukan apapun, tatapan mata pria ini benar-benar membuatnya tak berkutik.


"Ssshh..." Sella mendesis saat merasakan perih pada luka barunya. Sontak Alrega menghentikan gerakannya, menatap Sella dengan kening berkerut, lalu bertanya dengan lembut,


"Apa sangat sakit?"


"Sedikit," jawab Sella. Mata mereka saling menatap.


"Ini, yang terakhir. Jangan terluka lagi karena ibuku," kata Alrega sambil melanjutkan mengolesi salep pada kedua bahu Sella.


Setelah selesai, Alrega menutup baju Sella dengan cepat, melemparkan salep keatas tempat tidur, sambil membuang pandangan kearah lain.

__ADS_1


"Ganti bajumu dan turun. Cepat!" kata Alrega sambil keluar pintu.


"Baik," sahut Sella yang terlihat masih membeku.


Sella bergabung di meja makan setelah mengganti pakaiannya. Semua sudah mulai sarapan dengan tanpa suara. Sella melihat wajah-wajah kaku disekelilingnya yang menikmati makanan seolah tanpa rasa.


"Apa kabarmu, Nenek?" tanya Sella sambil mengambil makanan dengan senyum manis dibibirnya.


Tidak ada jawaban.


"Hei, Yorin. Apa kau kuliah, bagaimana kuliahmu?" tanya Sella lagi.


Tidak ada jawaban.


"Ayah, apa Ayah baik-baik saja?" tanya Sella lagi masih dengan senyum sejuta watt-nya.


Rehandy diam tak menjawab, hanya menatap Sella sekilas kemudian melanjutkan menikmati makanannya lagi.


"Banyak bicara. Tidak sopan," kata Yorin.


" Akhirnya ada yang bicara juga," kata Sella sambil tersenyum. Ia hanya mencoba memberi kehangatan pada keluarga itu di saat makan.


Yorin berdiri hendak meninggalkan meja makan, tapi dilarang oleh Alrega. Hingga ia duduk kembali dengan wajah cemberut.


"Habiskan makananmu," kata Alrega sambil menikmati makanannya sendiri.


"Kalau kau yang pergi berarti kau yang tidak sopan," kata Alrega tanpa melihat pada Yorin.


Sella menikmati makanannya, sementara semua orang sudah selesai dan kemudian mereka pergi meninggalkan meja makan untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Setelah Sella selesai makan dia dipersilahkan oleh Pak Sim untuk pergi keluar dan melepas suaminya yang hendak pergi bekerja.


Sella berjalan ke teras dan menemui suaminya yang masih berdiri di dekat mobilnya bersama dengan Zen sekretaris pribadinya.


" Apakah kau sudah mau pergi ke kantor?" tanya Sella sambil mendekati Alrega.


Ia membetulkan letak dasi dan merapikan pakaian Alrega kemudian menepuk-nepuk dadanya dengan lembut. Ia melakukan semua itu dengan penuh kasih sayang.


Alrega mengangguk sambil melihat Sella tanpa ekspresi seperti biasanya. Sella menggamit tangan suaminya lalu menciumnya sekilas sambil berkata,


"Hati-hatilah di jalan dan jangan lupa makan siang," kata Sella sambil tersenyum manis pada Alrega.


"Hmm..," jawab Alrega dingin sambil masuk ke dalam mobil, yang pintunya sudah dibuka kan oleh Zen.


Zen mengangguk hormat pada Nona mudahnya kemudian memasuki mobil mengikuti Alrega


"Daah... Jaga dirimu baik-baik ya," kata Sella sambil melambaikan tangan.


Mobil mewah warna hitam itu pun pergi meninggalkan Sela yang diam termangu di tempatnya berdiri. Ia menyesali dirinya sendiri, tidak meminta izin suaminya. Ia ingin pergi hari ini untuk menemui ibunya.


Karena merasa tidak ada yang perlu disesali, Sella kembali masuk kedalam rumah, tanpa ia duga ternyata dirinya sudah ditunggu oleh dua wanita penghuni rumah, yaitu nenek dan Yorin.


Dengan ramah Sella tersenyum dan mengangguk pada kedua wanita yang sedang duduk berdampingan di sofa. Ia enggan meladeni mereka bicara tapi wanita itu mencegahnya pergi dan menahannya agar tetap di sana. Lalu menanyai Sela beberapa hal.


"Jadi seperti ini penampilan mu sehari-hari kata Yorin," Iya bertanya pada Sella dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


" Memangnya apa yang salah dengan penampilanku?" kata Sela tenang.


"Kau kampungan. Entah dari mana Alrega memungutmu? Apakah Kau berasal dari jalanan?" kata nenek sambil tersenyum mengejek Sella.


" Apa kau pikir kau pantas menjadi pendamping kakakku?" kata Yorin bersungut-sungut.


" Memangnya apa batasannya, bagi orang yang dinilai pantas atau tidak pantas, mendampingi seseorang?" kata Sella sambil menatap Yorin lekat.


" Penampilanmu sungguh tidak pantas," jawab nenek dengan malas. Yorin mengangguk tanda Ia setuju dengan apa yang dikatakan nenek.


" Mengapa kalian hanya menilai eorang yang pantas dari penampilannya saja? Apakah kalian tidak berpikir bagaimana orang yang pantas mendampingi Alrega di hatinya?" Kata Sella dengan tersenyum ramah.


" Nenek, kau lihatkan dia pandai sekali bicara," kata Yorin.


" Aku yakin kepandaiannya hanya sebatas itu tapi kita lihat kalau nanti Deli kembali apakah dia masih bisa bicara seperti sekarang," kata nenek.


" Hei dengar, kamu harus tahu bahwa Kakakku masih mencintai Kak Deli istrinya yang dulu, kalau dia kembali, pasti kamu akan ditendangnya saat itu juga," kata Yorin.


Sella tersenyum dan Berkata sambil membuang pandangannya,


"Baiklah akan aku tunggu sampai saat itu tiba," kemudian Sella berlalu pergi meninggalkan nenek dan Yorin.


Sella kembali ke kamar menikmati waktunya sendiri dengan membalas beberapa chat pada ponselnya yang sudah ia abaikan sejak kemarin.


" Halo ibu apa kabar mu?" kata Sela ketika ponsel sudah menempel di telinganya ia menelepon ibunya, rasa rindu sudah memenuhi jiwanya. Padahal baru tiga hari saja mereka berpisah.


'Ibu Tahukah kau bahwa aku seperti kembali ke masa lalu disaat kita tidak memiliki apa-apa dan ayah pergi meninggalkanmu?'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2