
Sella menatap wajah Delisa yang berpaling, tidak mau menatap matanya.
Delisa berusaha menghindari tatapan mata itu karena menutupi rasa muak dan kecewa, yang mendalam pada dirinya. Seandainya bisa, ia ingin menghancurkan apa yang ada di depannya, namun dia tidak berdaya karena saat ini pun, ia harus berlutut di depan orang yang sangat dibencinya. Ia harus meminta pengampunan atas kesalahannya.
Perasaan terhina itu benar-benar memenuhi benak Delisa. Seandainya perasaan terhina itu bisa dilihat oleh mata terbuka, ia serupa dengan awan yang menggulung di atas sana, lalu berarak menuju rongga dada, hingga penuh sesak menyulitkan napasnya.
Wanita yang cengeng mungkin akan menangis saat itu juga, tapi mengeluarkan air mata di depan Sella, itu tidak akan dilakukannya, ia tahan air mata sekuat hati, di hadapan orang di bencinya. Sebab tangisan akan menghancurkan harga diri dan sangat memalukan baginya.
"Jadi, kau tidak mau meminta maaf padanya?" kata Mett pada Delisa.
'Aku tidak akan meminta maaf padanya, walaupun aku harus meti saat ini juga'
Delisa hanya diam, tidak juga menjawab pertanyaan Mett Haquel kepadanya. Kakek tua itu melangkah dengan cepat, mengambil senapan yang tergantung di salah satu dinding ruangan. Lalu memasukkan beberapa peluru dan mengokangnya, bersikap untuk menembak Delisa saat itu juga.
Sebenarnya, tidak ada yang bisa disembunyikan pada semua orang yang ada di sana, mereka sudah tahu siapa yang salah dan bagaimana duduk persoalannya. Tentang kejadian yang di rancang dengan baik oleh Delisa dan melibatkan Sella di dalamnya.
Melihat apa yang dilakukan laki-laki tua itu, Delisa membelalakkan matanya dengan sempurna. Tiba-tiba rasa seperti sedang dikejar anjing gila merayapi kulitnya, bahkan sampai keotak di kepalanya. Napasnya terengah, tubuhnya gemetar diliputi hawa dingin yang seolah-olah memenuhi ruangan, beku. Bukan hanya es yang mengelilingi saat itu tetapi juga hantu.
"Kalau kau tidak mau minta maaf kepadanya sekarang, berarti kau siap mati di tanganku!" Kata Mett dengan senyum licik di bibirnya, sambil mengelus senapan angin di tangannya.
'Apa dia sungguh-sungguh akan membunuhku? Tidak ... aku masih ingin hidup, aku bisa membalaskan dendamku, jika aku tidak mati'
'Apa, benarkah Kakek akan membunuhnya? Hei, dia tidak harus mati saat ini, dia masih muda. Aku bukan pembunuh'
"Kakek," kata Sella sambil memegang tangan Mett Haquel. "Biarkanlah dia. Kita bukan orang yang jahat seperti dia, kan?"
"Apa kau mau memaafkannya, setelah semua yang sudah dia lakukan padamu?" Tanya Mett dengan alis yang berkerut menambah wajah tuanya semakin terlihat tua.
Dengan berat hati Sella berkata, "iya, aku maafkan dia."
'Dasar bodoh ... " kata Mett sambil menyimpan senapan itu kembali.
Mett Haquel menatap Alrega, yang saat itu juga tengah menatapnya dengan nanar, mereka seperti menukar informasi lewat mata. Apabila pandangan mereka bisa berbicara dan menulis huruf-huruf di udara, mungkin akan berkata membentuk sebuah kalimat, 'Kau benar-benar sudah menikahi seorang malaikat, betapa mudahnya ia memaafkan kesalahan orang, yang sudah berbuat demikian buruk padanya'
Dalam pandangan mata itu juga, Alrega pun menjawab pertanyaan kakeknya, melalui kalimat yang ia luncurkan dalam hatinya, seolah-olah orang tua itu mengerti apa yang dikatakan Alrega, 'aku tidak salah memilih dia, memang seperti itulah orangnya, kakek!'
Saat semua terdiam, karena takjub, dengan kata-kata Sella yang mengagetkan, Delisa tertawa kecil, menertawakan kedaan dirinya.
Ia pun berdiri sambil berkata, "kalian dengar, apa yang dikatakan wanita itu? Dia sudah memaafkanku. Jadi, dibebaskan aku sekarang juga!"
Tiga laki-laki yang ada di situ, menatap peduli pada Sella, yang juga menatap mereka. Sedangkan Delisa mendongak dengan aura yang sombong, bibir mencibir dan mengusap hidung dengan punggung tangannya seolah-olah mengejek mereka.
Tiba-tiba Alrega mendorong bahu Delisa dengan kuat, hingga terhentak ke belakang dan membentur dinding. Lalu menekan lehernya dengan lengan hastanya. Laki-laki itu berkata, sambil menatap penuh bara api di dalamnya, dengan suara rendah yang mirip geretakan pelan, tapi terdengar menyeramkan.
"Kau pikir, bisa pergi begitu saja, setelah istriku memaafkanmu, padahal kau sudah mempermalukan keluargaku untuk kedua kalinya, ha?!"
Seperti Alrega tidak akan membebaskannya begitu saja. Semua orang yang berurusan dengan keluarga Haquel, lalu mereka tidak menurut, kebanyakan akan hilang begitu saja, atau pun mati tanpa diketahui sebabnya.
Mudah saja bagi orang-orang yang berkuasa seperti Mett Haquel, apabila mendapati segelintir manusia yang tidak mentaati mereka, atau membuat kota tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka ia akan membuat mereka lenyap, atau menghilang dan tidak diketahui kabarnya.
Ada juga beberapa orang yang kemudian ditemui hanya tinggal mayat dan tidak diketahui apa alasan mereka mati dan siapa pembunuhnya.
Saat itu Delisa gelisah, ia menyadari sudah salah dalam bersikap, seharusnya ia meminta maaf dengan benar. Ia masih ingin, hidupnya baik-baik saja. Ibunya masih hidup dan berharap banyak padanya. Akan tetapi sekali lagi, penyesalan tidak akan pernah ada lebih dahulu, ia selalu datang belakangan.
__ADS_1
Siapa pun pernah menyesal dalam hidupnya, maka penyesalan itu hanya akan tiba, ketika ia menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan. Penyesalan terbaik adalah sesal yang membangkitkan kesadaran diri terdalam.
"Maafkan aku," kata Delisa dengan suara terbata-bata dan bergetar karena lehernya ditekan oleh Alrega.
"Kesalahanmu bukan padaku, tapi pada Sella istriku, maka, meminta maaflah dengan benar, berlututlah sekarang ...."
Seandainya saat ini dia bisa menolak, maka ia akan menolaknya. Tidak ada derajat baginya untuk tunduk di hadapan Sella yang ia anggap lebih rendah darinya.
Alrega pun mengendurkan tekanan lengannya di leher Delisa, hingga ia bisa bernapas lega. Ia sedikit terbatuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya agar udara segar, masuk ke rongga paru-parunya.
Delisa melangkah mendekati Sella, kemudian berlutut, sambil bmengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ia berkata dengan penuh permohonan, suaranya terdengar penuh penekanan dengan wajah memelas karena memohon pengampunan.
"Sella. Maafkan aku, begitu bodoh sudah melalaikan perjanjian kita. Aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya."
Delisa memang lupa, orang seperti apa keluarga Haquel, hingga ia berani berurusan dengan mereka.
Aku sudah memaafkanmu," kata Sella, tanpa melihat Delisa. Rasa kesal dan muak masih memenuhi benaknya, dia tidak ingin lagi melihat wajah Delisa.
Wanita itu sudah mempermalukan, bukan hanya dirinya, tapi juga Zania dan keluarga Haquel pada umumnya. Walaupun, semua rekaman video yang sudah berhasil dibuat oleh beberapa orang, tapi tidak ada satupun yang terbit di internet.
Sella tidak bisa membayangkan, seandainya ibunya juga ada di pesta itu, lalu mendengar semuanya. Entah apa yang akan terjadi, mungkin saja ibunya akan sok atau bahkan depresi seperti dulu lagi.
Wanita membayangkannya sambil memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangan serta gigi yang menggeretak menahan geram.
"Sella, aku sungguh-sungguh memohon ampun padamu, kumohon bebaskan aku, minta lah pada kakek dan juga Rega, agar aku bisa lepas dari mereka ...."
"Ya, aku sudah memaafkanmu, tapi kalau soal melepaskanmu, kau harus meminta sendiri pada kakek, aku tidak bisa melakukannya."
"Ahk, aku hanya perlu memaafkanmu!" Sella berkata seraya menepis tangan Delisa yang memegang tangannya.
'Gadis pintar' kata alrega dalam hati, sudut bibirnya terangkat sedikit dan matanya berkilau melihat istrinya yang acuh tak acuh.
Mett menyimpan senapan kembali ke tempatnya semula, lalu mendekati Sella dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Laki-laki tua itu berkata, "Jadi itu keputusanmu, kau memaafkannya, tapi menyerahkan kebebasi tanganku?"
"Iya, bukankah Kakek menyuruhku untuk memilih, memaafkannya atau tidak? Dan sekarang aku sudah memaafkannya. Terserah Kakek soal kebebasannya."
"Baiklah kalau begitu kita lihat saja nanti, bagaimana sikapnya dalam seminggu ini. Apakah dia akan menjadi baik atau tidak."
"Apa maksudmu, Kek? Bukankah sudah cukup aku dimaafkan? kenapa harus menunggu membuktikan diriku?!" Delisa kembali meradang, berdiri dan mendekati Mett, tapi Zen menahan tangannya.
"Kalau kau memang berubah menjadi baik, aku percaya, maka akan kulepaskan dan kau tidak akan berbuat apa-apa lagi dibelakangku setelah kau bebas nanti, apa kau mengerti?"
Setelah berkata, Mett menoleh pada Sella dan berniat hendak melangkah pergi, ketika ia bertanya padanya.
"Bagaimana, Se ....?"
"Baiklah itu terserah Kakek, ayo! Kita pergi sekarang," kata Sella sambil tersenyum manis pada Mett.
Pria tua itu membalas senyuman Sella, berjalan beriringan dengannya.
"Kau mau kemana, kau harus bermain catur denganku, aku ingin mengalahkanmu."
__ADS_1
Alrega pun menyerahkan Delisa kepada pengawal lagi, agar ia dikembalikan ke tempatnya. Lalu melangkah keluar mengikuti Sella dan kakeknya yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya dan Zen.
'Oh iya Kakak, tentu saja, sudah lama aku tidak bermain catur denganmu." Sella berkata sambil tertawa kecil, sementara pintu gudang ditutup, membiarkan suara Delisa yang berteriak-teriak, meminta untuk dibebaskan karena menurutnya Sella sudah memaafkannya.
***
Kini keempat orang itu sudah ada di meja besar menghadapi papan catur masing-masing. Alrega berhadapan dengan Zen, sedangkan Mett berhadapan dengan Sella dan memainkan bidak bidak catur mereka.
Sella menyusun bidak-bidak caturnya sambil tersenyum kecil bahkan dia hampir tertawa, membayangkan kekalahannya. Raut wajah yang ceria dengan rona merah jambu itu terlihat lucu. Di mata Alrega Sella tampak begitu cantik, laki-laki itu tidak henti-hentinya menatap Sella yang menertawakan dirinya sendiri.
"Sepertinya aku akan malu, aku satu-satunya wanita disini dan akulah satu-satunya yang akan dikalahkan dengan mudah ...."
"Kau sudah tahu kalau akan kalah, tapi tetap main juga. Ah yang benar saja," kata Alrega, sambil menyandarkan tubuhnya dan berpaling menatap jendela geli sekali dengan tingkah laku istrinya. Hatinya seperti sedang digelitiki.
"Aku dikalahkan, tapi menyenangkan bagi orang lain, lihat nanti aku akan menyenangkan Kakek." Sella berkata masih dengan senyum.
"Ah, seharusnya aku melawan cucuku, lalu aku akan melampiaskan kekesalanku dengan melawanmu, untuk hiburanku."
Alrega menoleh pada Mett sambil menghela napas ia berkata, "Kakek, kau seharusnya melawan orang yang seimbang, bukannya perempuan seperti dia," kata Alrega sambil menggelengkan kepalanya.
"Al, memangnya aku seperti apa? Kau harus tahu. Aku mengalah untuk menang!" Sella mencoba membela dirinya.
"Ck! Kata-kata dari mana itu, mengalah untuk menang? Kalah tetap saja kalah dan menang adalah kemenangan, tidak ada kalah untuk menang," Kata Alrega.
"A--ada," kata Sela sambil menahan tawa, menutupi bibir dengan telapak tangannya.
"Apa?" Tanya Alrega heran.
"Aku mengalah bermain catur, untuk memenangkan hati kakek."
Sheila berkata sambil mengacungkan tangannya ke udara membentur dengan tangan Mett, melakukan tos. Lelaki tua itu ikut tertawa, bahkan mereka terlihat bahagia, sebelum mengalahkan permainan caturnya.
Benar saja, setelah selang waktu yang cukup lama mereka memainkan catur, Sella bisa dikalahkan dengan mudah oleh Mett. Sedangkan Alrega dan Zen masih berkutat dengan bidak catur mereka karena dua orang itu sama-sama kuatnya.
Mett menoleh pada kedua laki-laki yang masih bersitegang, sambil berkata, "Ayo! Sese, kau beri saran pada suamimu," Mett sengaja menyarankan Sella untuk berpartisipasi dengan permainan mereka, untuk memainkan bidak catur sesuai pilihannya.
"Ah, tidak perlu," kata Alrega dengan cepat, ia tahu apabila Sella memberikan saran padanya, maka ia akan kalah saat itu juga.
Mett tahu tentang hal itu, tentang maksud Alrega, cucunya itu takut kalah, apabila diberi saran langkah kaki memainkan bidak catur, oleh Sela. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Hmm ... kakek ayo main lagi, kalahkan aku lagi, sepertinya kau senang sekali jadi pemenang.' Sella berteriak girang.
"Hei, mana ada orang yang sedih menjadi pemenang?'
Di saat yang bersamaan, ponsel Alrega berdering, Zen pun segera mengambil ponsel yang ia simpan di saku bagian dalam jasnya.
"Siapa yang telepon?" tanya Alrega.
"Nona Yorin, Tuan."
"Ada apa, ayo angkat." Pinta Alrega.
bersambung
__ADS_1