
Sella memeluk Alrega erat, memberinya kekuatan, menepuk punggungnya pelan, sambil terus berkata, "Tabahkan dirimu ... abahkan dirimu."
Alrega membalas pelukan Sella, membenamkan tubuh perempuan itu begitu kuat ke dadanya seolah hendak membagi beban mengalirkan rasa duka yang mendalam. Ini adalah rasa kehilangan yang kedua kali dalam hidupnya, kematian kakeknya dan sekarang neneknya.
Semua dokter sudah melakukan yang terbaik, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, sesuai kemampuan mereka. Hanya saja takdir berkata lain, hingga wanita tua itu harus pergi meninggalkan keturunannya.
Sella melihat kerapuhan seorang Alrega untuk pertama kalinya, yang memperlihatkan rasa kehilangan begitu dalam. Selama ini ia seperti tak perduli, tapi ternyata dia laki-laki yang paling mengerti.
"Aku pikir, aku tidak akan melihat kematian lagi. Tapi ini?"
"Sayang, kematian akan selalu ada, tidak ada yang bisa membeli sebuah nyawa. Kita manusia selalu akan datang dan pergi, selalu ada yang akan lahir dan juga mati ..."
"Kenapa setiap manusia mesti mati?" Alrega berkata denagan suara yang gemetar dan rendah, ia hanya bertanya tanpa membutuhkan jawaban.
Ia pertama kali merasa kehilangan saat masih kecil, ia melakukan sebuah usaha kecil agar seorang anak yang tidak bersekolah dan mengalami kecelakaan, bisa tetap hidup, namun justru anak itu mati saat baru saja menyebutkan sepenggal dari namanya. Setelah itu Alrega tidak mau dipanggil dengan nama hanya "Al" saja oleh siapa pun. Kecuali Sella.
"Semua yang hidup pasti mati, karena tidak ada yang abadi kecuali Tuhan." Hanya itu yang bisa dikatakan Sella sebagai penghibur hati untuk Alrega.
Mereka kini sudah melepas pelukan ....
Berbeda dengan Zania, ia duduk tenang di kursi ruang tunggu ruang ICU, karena ia sudah menduga hal seperti itu akan terjadi. Marla sudah tua seperti Nigiro ketika wafat dulu diusia yang sama. Ini sebuah kejadian yang mirip. Apalagi Setelah ia menikah dengan Rehandy, ia sudah banyak melihat kematian dikeluarganya. Kematian ibunya, Nigiro sang ayah mertua dan sekarang Marla. Ada juga yang tidak kalah tragisnya kematian dua pelayan setia keluarga Leosan, yaitu orang tua Zen, yang meninggal dalam waktu berdekatan.
Sementara Rehandy, mulai menghubungi beberapa kerabat dan saudara, juga pihak yang akan mengurus pemakaman ibunya. Pria itu tidak menampakkan kesedihan walau rasa kehilangan yang besar membebani jiwanya, ibunya sudah tiada kini. Artinya ia tidak lagi punya sandaran, bila perusahaan warisan keluarga bermasalah.
Di di ruang ICU Alrega mendekati tubuh Marla san mengusap kepalanya lembut, menatap tubuh kaku yang dingin itu dengan menekan perasaannya, sendiri mendamaikan hatinya Untuk yang kesekian kali merasakan kehilangan.
__ADS_1
Kabar dukacita segera tersebar, berita tentang kematian nyonya besar, Nigero grup, meninggalkan banyak harta kekayaan dan juga perusahaan. Kabar itu pun diketahui oleh Zola. Sahabat Delisa. Sedangkan Zen mendekat untuk membicarakan pemakaman agar berjalan dengan baik.
***
Sella masih berdiri di sisi pusara Marla yang masih basah dan dipenuhi bunga-bunga, saat itu airmata terus menetes tanpa henti, melihat wanita tua itu dibersihkan dan dimasukkan ke dalam peti, kemarin. Seolah melihat sebuah peperangan antara kenyataan dan kemustahilan. Kenyataan bahwa inilah yang terjadi dan kemustahilan, untuk seorang Alrega yang ingin sekali, seandainya bisa, menebus sebuah nyawa untuk menghindari satu kata, perpisahan ....
"Jagalah rumah tanggamu, seperti kau menjaga diri dan juga ibumu. Kau harus membantu Rega mempertahankan semua yang sudah dipertahankan oleh keluarga Leosan." Itu yang Marla katakan saat mereka hanya berdua saling berpelukan.
Sella mengira wanita tua itu tidur, namun mulutnya dengan jelas berkata dengan perlahan-lahan.
"Jadilah orang yang kuat dengan segala kelemahanmu jagalah keluargamu seperti orang tuamu menjagamu teruslah berbagi dan berderma di setiap kesempatan, tambahkan jumlahnya bila keuanganmu juga bertambah." Sella mengingat semua itu di luar kepalanya saat itu nenek berkata hanya pada dirinya seolah-olah itu adalah pesan Terakhir darinya yang khusus ia ucapkan hanya kepada Sella.
"Katakan pada Rega bahwa dia harus menjaga keturunannya dengan baik dan kau juga harus mengajarkan hormatan dan kedisiplinan yang tinggi pada anak-anakmu kelak."
Mengingat semua ucapan itu membuat Sella tidak bisa menahan haru. Karena itulah ia menitikkan air mata, ia berdiri mematung di mendampingi Alrega yang juga melakukan hal yang sama.
Sella mendampinginya sambil terus memberikan kekuatan bahwa, semua yang terjadi tidak akan pernah dicegah, walaupun dokter ahli sekalipun, yang mengurusnya karena urusan nyawa di luar kendali mereka. Memang ada rasa kecewa, tapi tidak layak kalau dilamoiaskan kepada seseorang yang tidak seharusnya.
Semua anggota keluarga memakai pakaian duka dengan warna hitam yang sama. Mereka melakukan tabur bunga, berdoa dan setelah itu kembali pulang. Menyusul rombongan yang lainnya, seperti keluarga Shela yang juga ikut melayat dan mengiringi jenazah Marla ke pemakamannya.
Zania dan Yorin berada dalam satu mobil dengan Rehandy sedangkan Sella dan Alrega berada di mobil yang lainnya.
Sesampainya di rumah.
Seorang pelayan yang setia melayani Marla, memberikan sebuah kertas kepada Sella, sambil berkata dengan sopan.
__ADS_1
"Nona Muda, ini dari Nyonya Besar, saya yang menulis, tapi semua itu kata-katanya beliau,"
Sella menerima kertas itu dengan penuh rasa heran lalu ia membukanya sambil duduk di salah satu sofa. Sementara yang lainnyanya berada tak jauh darinya. Mereka tengah duduk bersama-sama, dalam diam masih dalam suasana dukacita.
Sella membuka lipatan surat itu didampingi Alrega. Ia membaca dengan suara perlahan.
"Maafkan aku atas perbuatan yang sudah aku lakukan padamu, setelah aku mengetahui semuanya, aku tahu bahwa kau, adalah wanita yang tepat untuk cucuku. Kurasa dia sudah benar-benar mencintaimu. Melihatnya jatuh cinta, seolah melihatnya nya jatuh dipelukan sinar purnama. Kau akan menjadi kelemahannya, hingga ia akan melakukan apapun demi dirimu, maka jadilah kekuatan baginya. Jangan memanfaatkan dia demi dirimu sendiri, ingat, kau akan menjadi ratu di rumah ini, maka jagalah pernikahanmu, juga hartaku yang paling berharga yaitu, Alrega."
Marla menulis semua itu sebelum ia pergi, saat ia mengurung diri di kamar dan khawatir tidak bisa bertemu dengan Sella, atau tidak sempat meminta maaf padanya.
Setelah membaca surat itu, Sela pergi ke kamarnya, Ia terlihat menitikkan air mata kembali. Alrega berjalan di belakangnya. Sesampainya di kamar dan Alrega menutup pintunya, ia pun menangis tersedu-sedu. Betapa surat itu sudah membuatnya mengerti bahwa inilah maksud dari hukuman yang sebenarnya.
Ia kembali ingat atas tekadnya semula, yang memang ia berniat menjalani pernikahannya sampai mati, apapun Yang terjadi karena ia, tidak ingin pernikahannya bernasib sama seperti ibunya. Sella menarik nafas dalam, melihat wajahnya di cermin dan mengusap air mata, lalu berkata pada dirinya sendiri.
'aku tidak boleh menganggap pernikahanku ini sebagai hukuman lagi'
Memang benar ia tidak lagi dalam keadaan terhukum, karena semua keluarga sudah menyayanginya.
Di lain sisi Ia juga mengingat kata-kata ibunya, yang diucapkan wanita itu, ketika ia datang melayat. Fliina berkata sambil mengusap rambut Sella.
"Kalau kau mencintai seseorang, maka cintailah sewajarnya, jangan terlalu berlebihan mencintainya, secara berlebihan maka suatu saat bisa menyakitkan bagi dirimu sendiri."
Ibunya telah melakukan hal yang benar melihat kenyataan bahwa orang yang tidak dicintai pergi maka akan seperti ini rasanya. Sheila belum pernah bertemu dengan kematian di keluarganya karena ketika ia kecil sampai dewasa ia tidak tinggal dengan keluarga besarnya, jadi kematian marla adalah yang pengalaman pertama kali baginya.
"Apa kau tidak lelah menangis?" kata Alrega yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Sella.
__ADS_1
Apa yang Alrega lakukan saat Sella bercermin dan menatap wajahnya di sana, adalah membaca surat Marla yang diberikan kepada istrinya.
bersambung...