
Alrega menatap ayahnya yang bertanya dengan penuh emosi. Dalam keluarga, keterlambatan adalah sebuah pelanggaran. Ia sudah dididik dengan disiplin tinggi. Kedisiplinan harus dikedepankan dalam sebuah kesuksesan.
Ia menjawab dengan ketus, "Ia.Tidak ada salahnya sekali datang terlambat."
"Apa kau lupa bahwa keterlambatan sangat tidak ditolerir di sini ini? Apa aku sudah mengajarkan mu untuk tidak menghargai waktu?" kata Rehandi.
"Baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Alrega.
Mereka memang datang sangat terlambat di meja makan waktu itu. Semua itu karena Alrega yang berpura-pura pinsan, puas rasanya bisa mengerjai istrinya. Berbeda dengan Sella yang terlihat sangat kesal dan tak berdaya. Menghadapi laki-laki seperti Alrega, sudah menguras energinya. Hingga ia makan sarapan cukup banyak.
Karena suasana hati yang tidak enak, Sella hanya menegur semua orang seperlunya, ia hanya ingin kehangatan yang ada di rumahnya bisa ia nikmati juga di tempat ini. Sebab ia tidak terbiasa dengan suasana rumah yang sepi tanpa kehangatan didalamnya.
Sella mengantar Alrega sampai di teras rumah, saat ini mereka berdiri di samping mobil, Sela menepuk-nepuk bahu Alrega, dan berkata,
"Jangan lakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan kepada orang lain. Saya hanya tidak ingin mendapatkan balasan dari perbuatan anda suatu saat nanti."
"Jadi sekarang kau begitu khawatir padaku? kenapa? Apa kau menyukaiku?"
'Kau tidak menyukaiku, kau mencintai istrimu yang dulu, mana mungkin aku berani menyukaimu?'
"Bukan begitu.."
"Lalu, apa, ha?"
"Saya hanya khawatir, itu saja."
Setelah Setelah selesai bicara Alrega langsung memasuki mobilnya dengan raut wajah masam. Ia merasa Sella sebenarnya mempunyai rasa pada dirinya tapi ia tidak mengungkapkannya. Ini yang membuatnya kesal, ia ingin Sella mengakui perasaan cinta padanya, ia benar-benar ingin dicintai olehnya.
Entah mengapa walau dia tahu bahwa Sella benci laki-laki serta ia juga trauma dengan masa lalunya, Alrega tidak menyangka bahwa ternyata Sheila setakut ini pada dirinya. Ia memang sering melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya pada Selka, tapi alrega berharap Sella tahu dan mengerti bahwa laki-laki seperti dia tidak akan mungkin memberikan kelembutan dan memberi ciuman kepada sembarang wanita. Mengingat kedudukan dan martabatnya. Sayang sekali harapannya salah, Sella sama sekali tak faham akan hal ini.
Sella benar-benar tidak mengetahui masa lalu ataupun latar belakang dari Alrega, sehingga Sella memang menganggap Alrega selama ini adalah laki-laki yang senang berganti-ganti wanita dan juga berbuat sesuatu sesuka hatinya. Bahkan ia bisa menggunakan sebuah ikatan sakral pernikahan sebagai jalan balas dendam padanya. Bagi Sella pernikahannya ini sudah ternoda kesuciannya.
Setelah mobil itu pergi menjauh, Sella masuk kedalam rumah. Fi ruang tamu ada nenek yang sudah berdandan rapih dengan rambut hitam yang dicat sangat indah dan ia sudah berjalan kaki seperti biasanya. Nenek hanya menggunakan kursi roda di dalam rumahnya, sepertinya wanita tua ini senang sekali mengerjai asistennya untuk mendorong kursi roda kesana kesini, sesuai kehendaknya di dalam rumah itu. Padahal apabila keluar rumah maka ia menggunakan kakinya dengan sangat baik. Rumah ini memang terlalu besar, hingga terasa jauh untuk melintasi satu ruang ke ruang lainnya. Wajar kalau wwnita tua itu senang memakai kursi rodanya ketika di dalam dumah. Mungkin itu seperti kendaraan baginya.
Wanita tua itu tersenyum tipis ketika melihat Sella dan ia berkata, "apa yang akan kau lakukan hari ini dengan Ibu mertumu. Apakah kau akan bernyanyi bersama dengannya?"
Dan kemudian Sellah menjawab, "Bagaimana nenek tahu? Ayo Nenek, kita bernyanyi bersama.. Bukankah nenek juga adalah nenek mertuaku?"
Wajah nenek Marla berubah masam, iapun dibuat kesal oleh ucapan Sella. Selama ini ia masih menganggap Delisa menantunya.
"Siapa di sini yang sudah menganggapmu sebagai menantu?" kata Marla. Sella tersenyum, mendekati nenek dan memegang tangannya lembut.
"Ahk, nenek. Walaupun nenek tidak menganggapku sebagai menantu, tapi kenyataannya aku tetaplah menantu di rumah ini, aku benar, kan?" kata Sella, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan nenek.
Wanita tua itu pergi menghampiri mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopirnya. Ia duduk di mobil itu dengan menggerutu.
"Dasar wanita tidak tahu sopan santun, awas nanti kalau Deli kembali. Pasti Rega akan mendepaknya pergi dari rumah ini."
Kini Sella sudah berada di depan pintu kamar Zaniah, ia melihat Rehandi duduk di sana dengan menyilangkan kaki. Sementara para suster dan pelayan berdiri berjajar di sisi tempat tidur Zania. Seperti bergiliran menunggu eksekusi.
Sella tersenyum dan membungkukkan badannya, ia mendekati Zania dan juga memegang tangannya, lalu berkata,
"Ibuu lihat aku. Apa Ibu tahu, sekarang ayah ada di sini bersama kita. Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama?" Rehandii menoleh melihat reaksi dari zania ketika Sella sedang bicara padanya.
Laki-laki itu sengaja masuk ke dalam kamar itu. Ia ingin melihat secara langsung apa yang dikatakan dan dilakukan Sella, bagaimana reaksi Zania pada semua yang sudah dilakukan menantunya. Rehandi melihat memang ada perubahan pada wajah Zania, ketika Sela mengatakan beberapa kata kepadanya.
Setelah melihatnya secara langsung, kemudian Rehandi memberi isyarat pada Sela untuk terus berbicara seperti biasanya. Namun Sella merasa sedikit canggung karena ia tidak bebas, ada Rehandi yang seperti menilai dirinya dan mengawasinya. Sella memang tidak memiliki ilmu apa-apa, ia hanya melakukan semua berdasarkan pengalamannya. Biasanya, learn by dooing lebih berpengaruh pada kehidupan dari ilmu yang di dapat dengan cara biasa.
Padahal memang benar Rehandi sedang menilainya, juga menilai reaksi si Zania, ia merasa tergerak untuk melihat langsung interaksi antara Zania dan Sella. Ketika ia melihat mereka berdua dari CCTV di kamarnya.
Sebenarnya interaksi itu selalu ia lihat ketika Sella sedang bersama dengan zania, laki-laki itu kemudian mengambil kesimpulan bahwa memang benar Sellla membawa sebuah pengaruh yang baik untuk istrinya. Karena menurutnya apabila Zania bereaksi seperti itu, merupakan perkembangan yang sangat bagus. dan hal ini terjadi hanya dalam waktu satu pekan Sella berada di rumah itu.
Mau tidak mau Rehandi mengakui kelebihan menantunya, hingga Ia berpikir bahwa tujuan dari Alrega menikahi Sella adalah demi ibunya. Ia tahu masa lalu dari Sella dan apa yang sudah gadis itu alami bersama ibu kandungnya yang mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan Zania.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Rehandi pada Sella. Ditanya seperti itu membuat Sella berpikir bahwa ia mungkin sudah berbuat salah. Ia mengatupkan kedua tangan dan memohon,
__ADS_1
"Ayah, maafkan aku kalau aku melakukan kesalahan. Aku tidak meminta apapun untuk menebus kesalahanku. Aku sudah sangat bersyukur ayah tidak menghukumku.." maksud Sella adalah kesalahan dua tahun yang lalu.
Rehandi tersenyum tipis, ia merasa Sella terlalu naif dan bodoh, secepat itu salah faham padanya. Ia menoleh pada Zania yang kini tertidur tanpa memakai obat penenang, bahkan memudahkan para suster.
"Aku hanya bertanya kalau kau membutuhkan sesuatu, maka katakan saja. Aku akan memberi kan padamu."
Sella terdiam, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, bahwa ayah mertuanya itu akan memberi apa yang ia inginkan. Ia tidak membutuhkan apapun di rumah itu karena semua kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi, ia hanya butuh kehangatan keluarga. Uang? dirumah itu ia tak butuh uang. Tapi kemudian ia tersenyum mengingat ia ingin pulang.
"Ayah, aku tidak menginginkan apapun di sini,"
'Karena aku sadar diri atas dasar apa aku dinikahi'
"Begitu? Atau ada yang ingin kau lakukan dan belum tercapai?" tanya Rehandi lagi.
"Ada. Aku ingin pulang?"
"Pulang? Apa kau ingin lari dari tanggung jawabmu?"
"Bukan, ayah. Aku hanya ingin menemui ibuku. Aku sudah mengatakan pada tuan Alrega, tapi aku harus menunggu sopir wanita," kata Sella tersenyum keci sambil mengangkat bahu.
"Padahal aku bisa nak taxi saja, Jadi tidak perlu merepotkan."
"Pergilah besok pagi, akan kusediakan sopir wanita itu untukmu."
'Kenapa ayah jadi begitu baik?'
"Ayah. Sebaik biarkan tuan Alrega saja yang menyiapkannya. Aku khawatir dia akan menuduhku si pengadu." Sella tak bisa membayangkan bila Alrega marah, akan seperti apa, selama ini hanya hukuman kecil yang ia terima, walau ia melihat Alrega bermuka masam, hanya saja ia tidak mau menjalani ciuman lagi sebagai hukuman. Aneh rasanya setiap kali ia marah, maka mencium bibir Sella dengan kasar.
Mendengar ucapan Sella, Rehandi menautkan alis, itu kan konyol namanya menganggapnya sebagai pengadu pada ayahnya sendiri. Tapi iapun berpikir sama, seandainya anaknya itu tidak memahami maksudnya, ia akan marah dan menjadi masalah. Alrega sulit ditenangkan bila ia tersinggung.
Walaupun Alrega adalah anaknya, tapi Alrega memiliki kekayaan yang jauh melebihi dirinya. Semua karena kakek Haquel telah memberikan hampir seluruh kekayaan pribadinya pada Alrega, sebagai satu-satunya cucu laki-laki. Hanya tersisa sedikit harta, seperempat dari harta kekayaannya yang ia wariskan untuk Yorin, sepupu Alrega.
Pengaruh kekuasaannya pun jauh di atas dirinya karena Alrega membawa nama sebagai pewaris dari Haquel, pemilik nama keluarga yang berpengaruh di Jinse. Rehandi juga pria keturunan asia sukses yang ternama, dan kekayaan serta pengaruhnya meningkat setelah menikahi Zania.
Sore haripun tiba, Sella menyambut Alrega pulang, Sella berdiri di teras. Pak Sim berdiri di sampingnya. Sella menyalami tangan Alrega dan menciumnya, laku melepaskan jas dan melepaskan sepatunya. Saat Sella duduk berlutut di dekat kaki Alrega, ia berkata,
"Bagaiman, tuan. Apakah hari anda menyenangkan?"
Alrega melirik Sella, berpikir ia akan senang kalau melihatnya dalam keadaan tak berdaya. Lalu memohon padanya untuk diampuni. Ahk, sepertinya hal ini akan dirindukan Alrega bila Sella pergi. Ia akan membuat gadis ini berada di sisinya untuk selamanya, mengandalkan dirinya dan dan mencintainya sepenuh hati.
"Menyenangkan? Apa yang kau pikir bisa menyenangkan di kantor?"
"Berbahagialah menjalani pekerjaan anda..," kata Sella sambil berdiri, "jangan anggap pekerjaan sebagai beban, tapi sebaggai teman, buat suasana rileks, tidak tegang."
Saat ini Sella membayangkan bila ada orang seperti Alrega bekerja sama dengannya, maka hari-hari berjalan akan terasa seperti neraka. Ia menyunggingkan senyum sedikit, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk merayunya.
"Carilah sesuatu yang menyenangkan, agar anda bisa menjalani semuanya dengan senang. Saya akan mendo'akan anda dapat menemukan kebahagiaan anda sehingga anda menjadi orang yang menyenangkan. Misalnya memiliki kekasih yang anda cintai, seperti nona Delisa."
'Tidak menakutkan seperti ini. Bagaimana para bawahanmu betah dengan orang sepertimu? Hiiy... dan kau harus ingat, istrimu sudah kembali, maka kau bisa kembali padanya dan melepaskan aku pergi'
Mendengar kata-kata Sella yang menggelikan, ia tahu bila saat ini Sella tengah menilai dirinya menyebalkan dan menakutkan. Ini membuatnya kesal. Apalagi menyebut nama itu sebagai kekasih. Ia berdiri dan menarik tangan Sella, dengan cepat menuju tangga dan pergi ke kamarnya. Semua yang menyaksikannya melotot, berharap kalau nona mudanya akan baik-baik saja, mereka berpikir bahwa nona mudanya sudah menyinggung tuan muda mereka. Ahk..kasian sekali anda nona.
Zen melihat hal yang sama, tapi sekilas ia melihat Alrega menyunggingkan senyum disudut bibirnya. Ia pun bernafas lega, karena ia tahu kalau Sella akan baik-baik saja.
Sella berjalan dengan cepat mengikuti Alrega, karena sebelah tangannya ditarik Alrega. Cengkraman tangan itu tidak sakit, bahkan terasa lembut. Hanya saja kalau ia tidak mengikuti laju langkahnya, tetap saja akan sakit.
Begitu sampai di dalam kamar, Alrega menutup pintunya dan kemudian memegang bahu Sella sambil berkata,
"Kau ingin tau apa yang membuatku senang?"
'Tidak! Sialan! aku salah bicara!'
"Tentu saja, tuan. Katakan pada saya."
"Buka bajuku, cepat!"
__ADS_1
'Mati aku'
Sella mendekat dan membuka kancing baju Alrega satu persatu, wajahnya sudah tegang, tangannya gemetar dan jantungnya berdegup dengan kencang. Setelah selesai ia melepaskan kemeja putih Alrega, ia berkata,
"Sudah, sekarang anda sudah senang?"
"Siapa yang menyuruhmu berhenti, ha?"
'Apa. Apa maksudnya aku harus melepaskan semuanya? Ahk, tidak!'
Sella mulai melepaskan ikat pinggang, celana panjang, jam tangan, hingga Alrega hanya menggunakan boxer saja. Laki-laki itu tertawa keras. Ia benar-benar tidak bisa menahan tertawanya sekarang. Sebelum-sebelumnya, ia hanya menahannya bila ingin tertawa, tapi ia sekarang benar-benar punya alasan untuk mengeluarkan tawanya.
"Hei, bodoh. Siapa yang menyurumu melepaskan semua pakaianku, ha?"
'Ya Tuhan.. beri aku kekuatan. Tapi kenapa kamu tidak bilang?'
"Maaf.." kata Sella menunjukkan ekspresi yang disukai Alrega, "Kalau begitu aku akan memakaikannya kembali."
"Apa kau pikir aku mau, memakai pakaian yang sudah kau lepaskan?"
"Maaf..." berkata sekali lagi agar dimaklumi.
"Apa kau suka aku telanjang begini?"
"Tidak." menjawab dengan cepat. Akh, ia semakin lucu dan salah tingkah, menyadari kebodohannya sendiri.
"Kenapa?" mendekat lalu mencubit ujung dagu Sella, " Apa kau takut aku melakukan sesuatu padamu, bukankah kau istriku, ha?"
Sella menggeleng, kemudian mengangguk. Lalu ia melakukan kebiasaannya agar diampuni, memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf..."
Alrega berpikir, apa yang harus ia lakukan lagi pada gadis ini, hingga ia melangkah menuju tempat tidur dan berkata sambil menjentikkan jari,
"Kemari!"
"Baik, tuan," melangkah ragu, tanpa menatap tubuh Alrega yang hampir telanjang.
"Pijiti aku!" Ia mengambil posisi telungkup di kasur. Siap di pijit oleh Sella.
Sejenak Sella bingung, ia belum pernah memijit atau dipijit sebelumnya, hanya saja ia ingat sebuah iklan yang menayangkan adegan memijit pada sebuah produk cream penghangat kulit dan pelemas otot. Jadi ia menirukan gerakan seperti itu pada tubuh Alrega. Hingga bebrapa lama dan tangannya mulai terasa pegal. Tubuh pria itu memang bagus, seksi dan cukup atletis, cocok dengan wajah tampannya, dan bisa membuat Sella berpikir sedikit liar tentang dirinya. Tapi Sella merasa dikerjai karena ia tidak juga menyuruhnya berhenti.
"Tuan Al, apa anda tidur...anda belum makan malam. Apa anda tidak makan?" tanya Sella masih terus memijiti Alrega sampai dibagian kakinya.
'Ahk, rupanya kau menikmati pijitanku sampai tertidur'
Sella membungkuk, mendekati wajah Alrega, memastikan apakah ia sudah tidur atau beluam. Hingga ia melihat wajah itu terasa sangat menghanyutkannya, mengapa laki-laki ini bisa memiliki bulu mata panjang dan melengkung seperti dirinya, akan sangat cantik bulu mata seperti ini pada wanita. Pipinya halus dan rahangnya besar, hanya kelopak matanya yang sangat dalam dan jarak antara alis dan matanya begitu dekat membuat raut wajah itu terasa dingin dan terkesan angkuh.
Saat itu, kelopak matanga sedikit terbuka membuat Sella terhenyak dan segera menegakkan badannya kembali.
"Jangan kau ulangi lagi" kata Alrega sambil duduk di sisi ranjang.
"Apanya?"
"Menatapku saat aku tidur."
'Ck! peraturan aneh apalagi itu?'
"Baik.."
Alrega beralih posisi duduk bersandar di kepala ranjang, menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, sebatas punggangnya yang ramping, memperlihatkan bagian dadanya yang bidang, dan perutnya yang rata.
"Kau jadi pulang, besok?" tanya Alrega tanpa ekspresi apapun. Dan Sella mengangguk.
"Bawa kemari semua sepatumu di lemari, cepat!"
__ADS_1