Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 36. Hanza


__ADS_3

Sella masih berbaring bersama Zania ketika ia mendengar suara Deru mobil memasuki halaman. Matahari tampak mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan sinar kuningnya di cakrawala.


'Apakah dia sudah pulang? Mati aku. Kenapa aku lupa. Aku belum mandi'


Sella melihat pada Zania yang sedang berbaring dalam keadaan terlentang, matanya memandang ke langit-langit kamar dengan tatapan kosong, kemudian Sella membelai rambutnya dan berkata dengan lembut,


" Mama, jangan mengamuk ya, aku akan menemui anakmu. Aku tidak ingin anak laki-laki mu itu marah padaku."


Mendengar ucapan Sela, Zania menoleh menatapnya. Ekspresi ini membuat pelayan dan perawat yang ada di samping mereka mengerutkan kening dan menatap heran. Karena ekspresi Zania ini menunjukkan bahwa ia bisa merespon dan mendengar apa yang Sella katakan padanya.


Sella tertawa melihat ekspresi wajah Zania, ia duduk dengan tatapan tak lepas dari wajah Zania kemudian ia berkata lagi,


" Mama sayang... Apa mama merindukan anak laki-laki mama? Apa mama menginginkan dia menengok kesini? aku akan memanggil dia, jangan kuatir aku tahu, kau ibunya pasti kau sangat merindukannya kan?"


" Nona, sebaiknya jangan. Setidak-tidaknya untuk saat ini, lebih baik tidak," kata Seorang perawat senior.


" kenapa?" tanya Sella ingin tahu.


" Saya juga tidak tahu Nona, tapi itulah yang dipesankan oleh dokter," kata perawat senior itu.


'Ahk, terlalu banyak misteri di sini. Baiklah aku pasti akan tahu suatu saat nanti'


" Mama aku pergi dulu sekarang, nanti aku ke sini lagi ngobrol sama mama. Nanti kalau mama sudah sembuh dan sehat kita jalan-jalan ke mall. Mama mau makan apa Mau makan sayur asam dengan sambal atau dengan udang atau petis? Mama mau kan? kalau begitu Mama harus cepat sembuh, oke?" kata Sella lalu beranjak keluar dari kamar itu sambil melambaikan pada Zania.


Sella kemudian turun ke lantai dasar untuk menyambut suaminya pulang. Tetapi ia sudah tidak melihat Alrega disana.


Dengan bergegas ia menuju ke kamarnya dan ternyata dugaannya benar, Alrega ada di sana, sedang duduk di sofa, sambil memegang segelas anggur yang isinya tinggal setengahnya.


' Kau tepat waktu," katanya dengan ketus sambil menggoyang-goyangkan gelas anggur di tangannya.


' apa dia menungguku? Apa maksudnya tepat waktu aku sama sekali tidak punya janji denganmu'


Melihat Sella diam berdiri memegangi pintu yang tertutup, Alrega menjentikkan jari telunjuknya mengisyaratkan agar Sela mendekat padanya, lalu berkata,


" Kau dari mana, tidak datang menyambutku?"


" Maafkan saya tuan, saya baru saja menemani Ibu Anda tidur," jawab Sella sambil melangkah secara perlahan mendekati alrega dengan perasaan takut.


"Hmm..," jawab Alrega masih memainkan gelas anggur di tangannya.


"Apa Kau tidak berbohong?" tanya Alrega lagi.


'Buat apa aku bohong padamu?'


"Tidak tuan Anda bisa menanyakannya pada perawat yang menjaga mama,"


"Mama. siapa Mama?"


"Ibu Anda tuan," jawab Sela sambil meremas kedua tangannya, ia berdiri dihadapan Alrega tanpa menatap laki-laki itu kepalanya menunduk.


"Tatap aku kalau aku bicara!" kata Alrega ketus. Lalu menghabiskan sisa anggur di gelas nya sambil menatap Sella, sinis.


Alrega berdiri sambil memasukkan Kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, Ia berkata lagi,


" Untung saja kau datang sebelum aku menghabiskan minumanku, kalau kau terlambat sedikit saja maka aku akan menambah hukuman mu," kata-katanya membuat Sella terhenyak. Dan ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Alrega.


'Hei, Mana aku tahu kau menggunakan anggurmu sebagai batasan waktu? sialan!'


" Baik. Maafkan saya," jawab Sella tenang, ia bernafas lega.


" Dengar, mulai besok kau harus mengantar dan dan menunggu ku pulang. Tidak peduli apapun alasannya, jangan panggil ibu dengan sebutan lain.. Panggil dia ibu seperti aku memanggilnya , apa kau mengerti?" ini sebuah ultimatum.


Sella mengangguk, ia sadar ia tidak bisa membantah Alrega. Laki-laki yang dididik dengan keras oleh dua orang laki-laki yang sudah berpengalaman di bidang bisnis seperti kakek Mett dan Rehandi, mereka sama-sama laki-laki yang bertangan dingin dibidang bisnis. Dua orang pria berkaharisma itu telah menjadikan Alrega sebagai pewaris unggul mereka, bahkan hampir mewarisi sifat arogant mereka.


Alraga mendekat dan meraih rambut Sella kemudian memainkan ujungnya dengan jari-jarinya, keningnya sedikit berkerut kemudian ia berkata,


" Ayo mandi bersamaku siapkan air mandinya,"


'Aku tidak mau'


" Maaf tuan, saya sedang datang bulan tidak enak kalau mandi bersama tuan, apa Tuan tidak jijik?"


Alrega menangkap kebohongan dari raut wajah Sella, tapi ia merasa tidak perlu memperpanjang masalah ini karena Ia berpikir, seandainya ia memaksakan keinginannya, maka ia tidak akan bisa menaklukkan Sella dengan cepat.

__ADS_1


Ia sekuat mungkin menahan dirinya. Kekuatan seorang laki-laki itu tidak dilihat dari sejauh mana ia bisa memperturutkan hawa ***** pada apa yang diinginkannya, tapi sekuat apa ia mampu menahan keinginannya bila apa yang diinginkan itu ada di depannya.


Sella segera menuju ke kamar mandi untuk mengisi bak mandi dengan air hangat. Sementara menunggu air itu penuh Sella menghampiri Alrega yang duduk di depan jendela balkon kamar mereka, sambil layar ponselnya.


Dengan ragu-ragu dan takut Selka bertanya,


" Tuan Bolehkah aku bertanya?"


"Hmm.."


'Apa maksudnya coba?'


"Apa kakek Mett tahu tentang perbuatanku memfitnahmu dua tahun yang lalu?" tanya Sella.


Kekhawatiran memenuhi benaknya. Biar bagaimanapun kakek Mett adalah orang yang sudah baik padanya walaupun ia baru bertemu dua kali saja tapi kesan yang ia dapatkan sangat bagus dan kakek Mett tampak menyukainya bahkan mau memberikan hadiah padanya.


Sella tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan laki-laki berpengaruh itu pada dirinya Seandainya kakek Mett tahu kebenarannya.


'Tentu Kakek sangat terluka kalau ia tahu aku lah yang sudah menghancurkan pesta cucunya waktu itu'


" Tidak," jawab Alrega tenang tanpa menoleh sedikitpun pada Sela.


" Maukah kau berjanji padaku?" Kata Sella.


Ia mulai berlutut sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon. Ia menatap Alrega dengan tatapan mata Poppy eyesnya. Seketika Alrega menoleh dan menatap Sella dengan tatapan lurus langsung ke bola mata bulan sabitnya.


" Hukumanmu baru saja dimulai dan kau sudah berani meminta sesuatu padaku?" Alrega menyeringai.


"Aku mohon Tuan, aku hanya ingin jangan katakan pada siapapun tentang perbuatanku di masa lalu, aku mohon... terutama pada kakek Mett. Aku tidak ingin dia membenciku,"


'Sudah cukup kamu saja yang membenciku'


" Kumohon, tuan," mulai menitikkan air mata.


'Apa semua orang penting bagimu, ibu sekarang kakek, lalu apakah kau tidak berpikir tentang aku, agar aku tidak membencimu mu?'


" Kau akan tahu nanti, sekarang pikirkan saja bagaimana kau bisa selamat dari ku," kata Alrega sambil beranjak menuju kamar ganti, melucuti pakaiannya satu persatu dan kemudian menuju kamar mandi.


'Dia tidak akan membunuhku, kan?'


Sella menyiapkan pakaian ganti untuk Alrega lalu pergi meninggalkan kamar.


***


Hari sudah malam ketika semua keluarga selesai dengan makan malam mereka. Tinggal Sella berdua dengan Yorin di meja itu karena mereka masih harus menghabiskan makanannya. Sella menikmati makanannya dengan perlagan karena menurutnya, makanan ini sangat enak.


" Kau pikir apa yang sudah kau lakukan pada ibu? Apa kau merasa menjadi seorang pahlawan karena ikut mengurus bahkan tidur di kamarnya nya?" kata Yorin penuh selidik.


Selama ini ini sejak depresi Jania semakin parah sudah tidak ada lagi anggota keluarga yang mendekati atau menemaninya mereka semua takut mendapatkan pukulan dari wanita malang itu.


Sella menghentikanku nyawanya dan dia menatap yorin dengan Tatapan yang sama lalu ia menjawab


" Aku tidak melakukan apapun, aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang anak lakukan pada ibunya, yaitu memberikan kasih sayang ketika ibu kita membutuhkannya. Apa aku salah menurutmu?"


Sambil tersenyum miring seperti mengejek Yorin berkata,


"'Aku tidak percaya ada orang yang benar-benar tulus dan menganggap orang lain sebagai ibunya. Apa kau tidak punya motif tertentu untuk mendekatinya? Jangan berharap dengan bersikap baik pada ibukuku, maka Kakak akan mencintaimu,"


Sella hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yorin. Ia kembali menikmati makanannya sedangkan yorin pergi menuju kamarnya.


Sella saat itu hanya berpikir dia tidak akan mungkin mendapatkan cinta dari laki-laki yang dimaksudkan oleh yorin. Menurutnya Al Rega masih mencintai istrinya yang dulu pernah dinikahinya.


Sella menggelengkan kepala ia tidak akan mungkin bisa mencintai seorang laki-laki, makhluk yang sama dengan ayahnya, seorang manusia yang seharusnya menjadi pelindung keluarga, juatru mencampakkan istri yang di cintainya juga anak-anaknya.


Sella menepuk-nepuk dadanya dengan pelan, mencoba menenangkan pikirannya, ia masih menjaga hatinya dengan cukup keras untuk tidak mencintai siapapun, terlebih lagi pada orang seperti Alrega yang tidak menginginkan .dirinya.


Setelah makan, Sella menemani Zania minum obat dan kemudian mengajaknya bicara, seolah-olah ia mengerti apa yang dia katakan. Walau pun wanita itu tidak melihatnya bahkan sering memukulnya setiap kali dia mengajaknya bicara atau memeluknya, tapi Sella tetap tersenyum.


Kadang Zania tenang, kadang mau menatapnya, kadang bereaksi, kadang juga diam. Walau pun seperti itu Sella tidak menyerah Ia terus saja menganggap bahwa Zania adalah sahabatnya. Selain cerita-cerita yang bagus Sella juga membicarakan tentang pasar, toko-toko, mall, baju-baju dan semua hal yang menarik di luar rumahnya.


Itu adalah salah satu cara untuk memancing emosi seseorang agar minatnya tumbuh, sehingga ada kemauan kuat dalam dirinya untuk mendapatkan hal-hal yang menarik itu dan kemudian memacunya untuk segera sembuh dari penyakit yang diderita.


Kini ia menonton televisi di kamarnya. Ia duduk di sofa membungkus dirinya dengan selimut. Iia menunggu Alrega datang karena ingin menanyakan sesuatu padanya.

__ADS_1


Setelah Alrega masuk kekamarnya dan hendak tidur, Sheila berbicara padanya dari tempat ia duduk.


Ia berkata sambil menyimpan dagunya pada sandaran sofa dan menatap Alrega yang sudah berbaring di tempat tidurnya,


" Bolehkah aku pergi keluar besok, aku ingin jalan-jalan sebentar. Boleh ya? aku akan memakai motormu. Kau tahu, motormu sangat bagus Aku ingin mencobanya dijalan."


Alrega menoleh sebentar dan kemudian ia berbalik membelakangi Sella, menutup dirinya dengan selimut sebatas pinggang, sambil berkata dengan malas,


"Asal kau bisa menjaga dirimu dan pulang dengan nyawa yang masih utuh,"


'Apa itu artinya boleh?' Hei, apa maksudmu?'


"Ah, aku tahu anda orang baik Tuan, terima kasih," kata Sela sambil tersenyum puas.


" Berisik!" kata Alrega sambil melempar bantal ke arah Sela.


***


Pagi itu Alrega baru saja pergi menuju ke kantor seperti biasanya. Sella masih berdiri di teras setelah melepas Alrega. Sama seperti kemarin, ia mencium tangan suaminya dan ia berpesan,


"Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan siang," Ia Berkata sambil melambaikan tangan, seolah-olah di kemudian hari, hal itu akan menjadi kebiasaannya.


Begitu mobil Alrega pergi menjauh, Sella melangkah dengan cepat ke arah garasi menghampiri motor besar yang kemarin sempat dinaikinya, dan menyalakannya dengan semangat.


Ia membiarkannya selama beberapa saat dan setelah itu ia menjalankan motornya. Namun sebelum ia sempat keluar halaman rumah, terdengar suara yang memanggil namanya hingga Sella berhenti


" Anda mau kemana nona?" Pak Sim menghampirinya dengan tergopoh-gopoh raut wajahnya terlihat khawatir.


Sella merasa kasihan pada lelaki tua ini , ia pikir pak Sim sudah melalui berbagai macam cobaan dan peristiwa ketika tinggal di rumah ini dalam waktu yang cukup lama.


Ia berpikir seperti itu karena melihat sifat-sifat para penghuni rumah yang menurutnya tidak hangat, mereka semua cenderung dingin termasuk nenek.


Ia menoleh ke arah Pak Sim dan tersenyum, hanya laki-laki ini yang peduli padanya, dan hanya laki-laki ini yang bersikap hangat terhadap dirinya.


"Pak Sim, jangan kuatir kan aku. Aku tidak akan pergi jauh.Tuan Rega sudah mengizinkanku semalam. Kau bisa menanyakannya kalau kau tidak percaya padaku," kata Sela sambil turun dari motornya


Ia melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaketnya, tak lama ia sudah keluar sudah memakai jaket dan sepatu sneaker nya. Ia berjalan sambil menggulung rambut, lalu memakai helm.


Sella melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan seperti berkejaran dengan pengendara motor lainnya. Ia seperti rindu dengan jalan-jalan ini karena sebelum menikah hampir setiap hari ia membawa motor ke berbagai tempat untuk mengantarkan pesanan.


Ketika sampai di traffic light, Shella menoleh ke sebelah kanannya, ada seorang pengendara motor lainnya yang mensejajarkan dirinya, dan kemudian begitu lampu menyala hijau mereka berdua seperti berlomba. mereka berdua berjalan hampir beriringan.


"Hai, aku Hanza. Siapa namamu?" Kata pengendara motor itu.


Sella tidak memperdulikan laki-laki itu, ia fokus mengemudi.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena Sella segera memperlambat laju motornya dan kemudian berhenti di sebuah bangunan yang terlihat tidak terus. Sella melepas helmnya dan Saat itu pula rambut ikal keritingnya yang panjang terburai.


Sella naik di lantai paling atas di mana tidak ada ada apapun disana, bangunan itu seperti ditinggalkan, sepi dan tidak bertuan. padahal bangunan itu cukup bagus.


Karena pintunya juga rusak bisa membuat siapapun leluasa masuk ke dalamnya dan naik ke lantai atas dengan menggunakan tangga.


Sampai di sana Sella kemudian duduk di lantai dengan memeluk lututnya sendiri berpikir dan merenungi apa yang sebenarnya ya alami. Tiba-tiba kesedihan seperti menguasai hatinya hingga Ia menangis tanpa terasa.


ia mencoba memaknai arti kehilangan demi kehilangan yang ia rasakan dalam hidupnya. Saat remaja ia harus kehilangan ayahnya karena ayahnya memilih wanita lain dan dia juga terpaksa memilih Jalan hidupnya sendiri.


ia harus bekerja keras demi sekolahnya, ia kehilangan kebebasan dan masa-masa remajanya, ia tidak sempat bersenang-senang seperti anak-anak lain di usianya karena ia harus bekerja mengurus ibu dan adik-adiknya.


Kemudian ia kehilangan rumah lamanya rumah yang ia tinggali bersama ayahnya rumah itu ia jual dan ia pindah ke tempatnya yang sekarang, demi menjaga perasaan ibunya agar tidak selalu teringat dengan masa lalu yang menyakitkan.


Ia juga pernah kehilangan pekerjaannya karena harus merawat ibunya yang saat itu sakit parah hingga hampir kehilangan nyawa. Dan sekarang ia kembali Kehilangan kebebasannya karena terpaksa menjalani pernikahannya, yang disebabkan oleh kesalahannya.


Sella bertanya dalam hatinya sendiri, kehilangan apa lagikah selanjutnya, haruskah aku kehilangan lagi untuk yang kesekian kalinya?


Seolah ia dalam kebimbangan, apakah ia akan membisakan diri dengan kehilangan ataukah ia akan menjaga agar tidak lagi harus melepaskan?


Bahkan sebelum kehadiran Alrega, ia sudah terbiasa dengan kesedihan, melepaskan sesuatu yang tidak bisa ia genggam, Ia takut bila dirinya benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki yang setiap hari di lihatnya bahkan setiap kali berdekatan dengannya jantungnya selalu berdetak lebih kuat.


Ia ingin berusaha mengistirahatkan dirinya agar tidak lagi dibayangi dengan ketakutan akan kehilangan atau kecewa. Ia menjaga hatinya agar tidak remuk untuk kesekian kalinya. Mempertahankan agar tidak ada lagi kesedihan saat harus berkata selamat tinggal, atau harus berkata,


"Aku baik-baik saja..." untuk menutupi keadaan hati yang sebenarnya. Banyak kan, orang yang mengatakan bahwa semua baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.


"Apa kau sudah puas menangis?" kata sebuah suara dibelakang Sella.

__ADS_1


__ADS_2