Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 9. Mengetahui Rahasia


__ADS_3

Aleta terpaku dan membisu didepan kamar sang kakak saat mendengar ucapan papanya. tubuhnya gemetar dengan tangis yang sudah tumpah diwajah cantiknya. Aleta menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar di telinga mereka.


"Dareen. apa yang harus kita lakukan ?" tanya papa Arsen. sedangkan mama Deeva sudah terisak ditempat tidur.


"kalau memang menikah dengan wanita itu bisa menyelamatkan perusahaan, maka aku akan melakukannya." jawab Dareen. dia terduduk disamping mamanya yang terlihat semakin terisak.


"enggak Dareen. pernikahan bukanlah ajang bisnis." tolak papa Arsen. dia tidak ingin hidup putranya menjadi hancur.


"tidak pa. aku senang bisa menikah dengan wanita cantik. hehe." ucap Dareen sambil tertawa kecil. tapi dia menundukkan kepalanya agar orangtuanya tidak bisa melihat luka yang tersirat dimatanya.


Aleta terus mendengar apa yang mereka bicarakan. hatinya sangat sakit bak teriris sembilu mendengar perusahaan keluarganya yang berada diujung kebangkrutan. apalagi saat mendengar sang kakak yang akan menukar kehidupannya demi keberlangsungan hidup mereka. dia benar-benar merasa sangat hancur.


"tuhan. apa yang kau lakukan pada keluargaku." Aleta berusaha menahan tangis yang sudah sangat sesak didadanya. tangannya terus menekan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


"lebih baik kita menutup perusahaan. dan memulai semuanya dari awal." ucap papa Arsen. dia tetap tidak sanggup mengorbankan hidup putra semata wayangnya.


"papa. aku akan melakukan apapun untuk keluargaku. bahkan aku akan menukar nyawaku demi kebahagiaan kalian" Dareen ingin sekali berteriak dan mengatakan isi hatinya.


Aleta sudah tidak tahan lagi untuk menahan tangis. dia segera berlari kearah kamarnya untuk meluapkan segala emosi yang bersarang dihatinya. tapi begitu sampai dikamar, Aleta kembali lagi ke depan kamar Dareen untuk mengambil tas dan hadiah yang terjatuh disana.


"hiks hiks huhuhu...." Aleta menutup kepala dengan bantal agar suaranya tidak terdengar oleh kakak dan orangtuanya. hatinya sangat sakit melihat kesedihan dimata mama dan papa. dia juga tidak akan membiarkan Dareen mengorbankan hidupnya untuk menebus perusahaan keluarga.


Sepanjang malam terdengar tangisan yang sangat pilu dirumah itu. Aleta terus menangis ditemani dengan bantalnya, dan mama Deeva menangis dengan ditemani suami tercinta. sungguh malang nya nasibmu Aleta.

__ADS_1


☆☆☆


"Aleta..."


tok... tok... tok...


"Aleta. bangun..." suara mama Deeva mengganggu kenyamanan tidur gadis itu.


Aleta menggeliat ke kanan dan kiri sambil membuka kedua matanya yang sembab sebesar biji kenari.


"iya ma..." jawab Aleta sambil mendekat ke arah pintu.


Ceklek. Aleta segera membuka pintu kamarnya yang memang selalu ia kunci saat tidur.


"apa yang terjadi ? kenapa matamu membengkak seperti bola pimpong ?" tanya mama Deeva. sepertinya dia tidak sadar kalau matanya juga sudah bengkak seperti bola tenis.


"Aleta, apa jangan-jangan..."


"tidak. tidak ma. aku tidak tau apa pun."Aleta mengibas-ngibaskan tangannya memotong ucapan mama Deeva.


"jangan-jangan kau putus cinta." mama Deeva melanjutkan ucapannya. Aleta ingin tenggelam saja ke rawa-rawa saat mendengar ucapan mamanya. tapi yah untung saja mamanya itu agak lain dari pada yang lain pikirnya.


"benar ma. hatiku sangat sakit. makanya mama jangan ganggu aku." ucap Aleta penuh drama.

__ADS_1


"baiklah. kau mengurung diri aja dikamar." seru mama Deeva sambil pergi meninggalkannya.


Aleta hanya geleng-geleng kepala saja melihat kebodohan eeh kepolosan mamanya itu. lalu dia kembali masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang.


Untuk pertama kalinya Aleta harus berpikir keras bagaimana mencari jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi keluarganya. kemudian dia teringat oleh seseorang dan langsung mencari keberadaan ponselnya untuk menelpon orang tersebut.


tut... tut... tut...


"halo" jawab seseorang disebrang telpon.


"kak. apa kita bisa bertemu ?" tanya Aleta.


"tumben ngajak ketemu."


"duuh pokoknya harus ketemu hari ini." paksanya.


"iya iya. tapi pas jam makan siang ya." ucap wanita itu.


"oke. nanti kita ketemu di kafe x" tambah Aleta.


"oke." tut. setelah berhasil memaksa seorang wanita untuk bertemu dengannya, Aleta segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari ini dia harus mengetahui semua masalah yang terjadi. mulai dari yang paling kecil sampai ke masalah yang paling besar.

__ADS_1


☆☆☆


Terima kasih untuk semua yang udah baca 😘


__ADS_2