
Ciuman Agra berpindah dari bibir ke leher Aleta, dia menjilat dan menghisap leher itu sampai meninggalkan bekas merah keunguan. Aleta menggelinjang geli karna aksi Agra, Agra terus menciumi leher Aleta sambil tangannya meremas gundukan sintal yang sangat padat dan besar itu.
Agra membuka kemeja yang dia gunakan hingga menampakkan tubuh yang atletis dengan pola kotak-kotak yang terbentuk jelas di perutnya. Tangannya juga mulai membuka satu persatu kancing kemeja Aleta, hingga gundukan sintal yang terbungkus bra berwarna pink terpampang nyata dimatanya.
Aleta memejamkan matanya saat bibir Agra mulai turun dari leher menuju aset yang tergantung di dadanya. Darahnya berdesir hebat merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dengan cepat Agra membuka pembungkus aset Aleta hingga tampaklah pemandangan yang sangat memuaskan mata, membuatnya langsung hilang kendali dan menyerang aset yang sudah menantang di depan matanya.
Agra tampak sangat menikmati apa yang dia lakukan saat ini. Bak seorang bayi yang sedang kehausan, dia melahap puncak yang menegak dengan sempurna sembari satu tangannya bermain dengan gundukan yang di sebelahnya.
Tangannya dengan lihai meremas dan memelintir puncak itu membuat Aleta terus mengerang dengan dahsyat. Bibirnya pun terus bermain di sekitar dada Aleta yang sudah banyak meninggalkan jejak berwarna merah ke unguan. Agra ingin membuat Aleta melayang karna perbuatannya.
"A-Agra aku..., eeengh," Akhirnya Aleta jatuh lemas dalam pelukan Agra yang tetap tidak memberhentikan bibirnya menikmati tubuh rubah liciknya.
Senyum mengembang terbit di wajah Agra, dia puas dengan apa yang dia lakukan saat ini. Agra mengusap kening Aleta yang sudah basah karna keringat akibat dari perbuatannya. Dada Aleta kembang kempis menghirup udara untuk organ pernapasannya.
Agra menatap wajah Aleta yang memerah, lalu tatapannya kembali turun pada aset Aleta yang begitu mengagumkan, padahal Agra belum melihat aset Aleta yang jauh lebih hebat daripada itu.
Agra kembali menggigit puncak gundukan sintal itu yang membuat Aleta kembali mengerang, dan itu berhasil membuat senyum Agra semakin mengembang.
"aku bangga bahwa aku adalah pria yang pertama kali menyentuhmu," ucap Agra sambil kembali memainkan tangannya didada Aleta, dia benar-benar ketagihan melakukan itu.
"Agra, aku mohon berhenti," lirih Aleta. Dia menatap Agra dengan mata sayu dan sedikit malu mengingat keadaannya saat ini.
Cup. Agra mendaratkan kecupan singkat di bibir Aleta, kemudian dia kembali membenahi pakaian gadis itu. Namun, tangannya tetap menempal didada Aleta.
"dengar, kau akan menikah denganku, dan selamanya akan menjadi milikku!" bisik Agra tepat di telinga Aleta sambil kembali mengecup pipinya.
__ADS_1
""ta-tapi Margaret...,"
"Diam ! jangan sebut nama wanita itu. Aku hanya akan menikah dengan mu, bukan dengan wanita lain." Agra melepaskan dasi yang mengikat kedua tangan Aleta sementara Aleta sendiri sedang memikirkan ucapan Agra yang baru saja lelaki itu katakan.
"hanya ingin menikah denganku?"
"apa Agra mencintaiku?"
"hey, kok malah melamun," ucap Agra sambil meremas dada Aleta membuat gadis itu sedikit meringis.
Aleta mencoba untuk bangkit, namun Agra kembali menahannya dan malah melingkarkan tangannya ke perut Aleta.
"aku mau pipis," ucap Aleta sambil melepas pelukan Agra. Akhirnya Agra mengalah dan membiarkan Aleta turun dari ranjangnya.
Agra telentang di tengah ranjang king size nya itu sembari memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali mengingat adegan setengah panas yang tadi dia lakukan bersama Aleta, bibirnya kembali tersenyum menggambarkan rasa bahagia yang sedang dia rasakan saat ini.
"apa mungkin aku jatuh cinta pada rubah licik itu?" Agra mulai memikirkan perasaannya sendiri.
"sialan, kenapa dia melakukan itu padaku?" gerutu Aleta sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah yang terasa panas.
"apa dia mencintaiku?" pertanyaan itu kembali terlintas di benaknya.
Jegrek, "Aleta, sedang apa kau? kenapa lama sekali...," jerit Agra sambil mencoba membuka pintu yang jelas-jelas terkunci dari dalam.
Aleta bergegas untuk mencuci tangannya lalu membuka pintu sebelum pintu itu rusak karna ulah Agra.
"lama sekali sih," ucap Agra sembari berjalan kembali ke arah ranjang.
__ADS_1
"emang kenapa sih, dia pun bukannya mau ke kamar mandi," Aleta ngedumel dalam hati.
Lalu dia beralih mendekat ke arah Agra, namun dia sedikit menjaga jarak karna takut kejadian tadi terulang kembali. Agra hanya tersenyum geli melihat raut wajah Aleta yang terlihat malu-malu, namun juga was-was kalau-kalau dia akan menyerangnya lagi.
"mulai saat ini, aku tidak ingin kau memikirkan orang lain selain aku!" perintah Agra. Dia terlihat serius dengan ucapannya.
Aleta mengerutkan kening, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Agra. Dia juga tidak mengerti kenapa dia tidak boleh memikirkan orang lain ? dan juga kenapa harus memikirkan dia ?
"aku tidak suka kau dekat dengan pria lain, siapapun orangnya," tambah Agra lagi. Sepertinya dia sudah mulai bersikap posesif pada Aleta. Dia memang pria yang tidak suka melihat seorang wanita yang sudah punya pasangan tapi masih dekat dengan pria lain dengan dalih sebagai sahabat, karna baginya tidak ada ikatan persahabatan antara seorang pria dan wanita. Kejadian di masa lalu memberi pelajaran yang sangat berharga juga menyakitkan untuknya, di mana wanita yang sangat dia cintai tega berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"kenapa aku harus menurutimu?" tanya Aleta. Dia merasa kalau Agra tidak berhak mengatur ataupun ikut campur dalam hal pribadinya. Lagipula dia sudah biasa berteman dengan seorang pria, dan rata-rata pria yang ada di kampusnya juga mengenal dan dekat dengannya. Terutama Egi dan Bima yang sudah seperti saudara sendiri untuk Aleta.
"karna aku suamimu," ucap Agra sembari menekankan kata suami padanya.
Aleta berdecak kesal, memang apa salahnya berteman dengan seorang pria, pikirnya. Tapi sudahlah, dia memilih mengalah dan menganggukkan kepala karna tidak mau beradu mulut dengan Agra.
Setelah itu, Agra beranjak untuk keluar dari kamar diikuti oleh Aleta yang berjalan di belakangnya. Seketika Agra mematung, dia tidak melihat kunci kamar yang biasa tergantung di pintu itu. Lalu dia ingat kalau dia tadi telah membuang kunci itu dari jendela.
Aleta menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari melipat kedua tangannya, dia tersenyum dengan sangat manis mengejek kebodohan yang telah Agra lakukan. Bagaimana cara mereka keluar dari sana kalau kuncinya saja sudah melayang entah ke mana ?
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Yuuk dukung sebanyak-banyaknya, dukungan kalian sangat berarti untuk othor 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘