Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 116. Pengampunan


__ADS_3

Dor!!


Suara tembakan menggema diruangan itu membuat semua orang yang melihatnya berteriak saat pistol itu mengeluarkan timah panas pada targetnya.


Tubuh Dareen lemas dan jatuh terduduk dilantai, sementara tubuh Ricky dan Rezie juga terdorong beberapa langkah ke belakang saat melihat sosok yang berdiri tepat dihadapan Agra saat ini.


Felix, dialah yang saat ini berdiri tepat dihadapan Agra. Dia melindungi sang adik dari timah panas yang akan memecahkan kepala Devo. Dia langsung berlari saat Agra mulai menekan pistolnya dan melesatkan serangan ke arahnya.


Devo yang baru membuka mata sangat terkejut saat melihat tubuh Felix berada tepat di depannya, seluruh tubuhnya bergetar dengan wajah pucat saat Felix mengorbankan nyawa demi dia.


Deg, jantung Devo serasa tidak berdetak saat melihat semua yang dilakukan Felix.


"tidak! Felix, apa-apa yang kau lakukan?" teriak Devo dengan mata berkaca-kaca, dia menggoyangkan tubuh berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.


"Felix, jawab aku! kau-kau tidak apa-apakan? Felix!" teriakan Devo terdengar cukup keras membuat telinga mereka berdengung.


"Tidak! kau tidak bisa melakukan ini, hiks, tidak Felix! tidak!" Devo semakin kuat menggoyang tubuhnya berharap tali itu akan terlepas, air matanya luruh membasahi wajah.


"ku bunuh kau! ku bunuh kau Agra! aaargghh," Devo menggila diruangan itu seraya terus memanggil nama Felix, dia benar-benar merasa hancur saat melihat Felix berkorban untuknya.


Dareen, Ricky dan Rezie tidak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun saat melihatnya. Semua kejadian ini begitu mengguncang jiwa mereka, hingga tubuh mereka lemas tidak berdaya.


"Hiks, maafkan aku kak. Maafkan aku! hiks huhuhu." Devo menumpahkan segala tangisnya, dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dia lakukan.


"benar! aku sudah menduga kalau kau pasti akan melindungi adikmu," ucap Agra tiba-tiba membuat semua orang yang berada ditempat itu melihat ke arahnya.


Felix langsung mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk, ternyata Agra hanya menembakkan sebuah pistol yang tidak mempunya peluru. Namun dia sudah mengaturnya seakan-akan pistol itu mengeluarkan timah panas yang siap mengahabisi siapa pun targetnya.


Dareen, Ricky dan Rezie benar-benar terkejut dengan mulut terbuka lebar saat melihat Felix masih hidup, sementara Devo mematung dengan mulut dan mata terbuka lebar.


"maafkan saya Tuan, saya tidak bisa melihatnya mati di depan mata kepala saya sendiri," ucap Felix sembari bersimpuh dikaki Agra, dia memohon ampunan atas apa yang telah dia lakukan.

__ADS_1


Awalnya, Agra benar-benar ingin membunuh Devo. Namun, pada saat dia berbicara pada Aleta, dia mengatakan kalau saat ini kedua putranya sudah mulai membaik. Mereka ingin segera menemui Papanya membuat hati Agra menghangat, wanita itu juga kembali mengingatkannya tentang hubungan Felix dan juga Devo.


Aleta mengatakan kalau sebenarnya hubungan Felix dan Devo sangat menyedihkan, hingga mengalirlah cerita tentang masa lalu mereka berdua.


Aleta juga berpesan pada Agra agar tidak membalas perbuatan Devo dan Mona, dia hanya berharap kalau wanita dan pria itu diserahkan pada pihak berwajib. Dia tidak mau kalau Agra menjadi penjahat yang akan membuat malu kedua putranya.


Agra memikirkan segala ucapan Aleta, kemudian dia mengambil pistol yang memang sudah dia siapkan untuk mengahabisi Devo.


"Felix, aku melakukan ini untukmu. Aku harap kau akan tetap setia berada disisiku selamanya," gumam Agra sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah.


"kau memilih mati daripada mengkhianatiku, kenapa Felix?" tanya Agra, dugaannya tentang Felix ternyata benar adanya. Sejak awal, Felix hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Agra. Walau dia melihat Agra menghajar dan menganiaya sang adik, dia tetap diam tanpa adanya permohonan. Itu sebabnya Agra menduga kalau Felix akan melakukan hal besar dengan mengorbankan dirinya sendiri.


"aku akan selalu setia padamu, Tuan! dan aku, lebih baik mati daripada mengkhianati sesorang yang aku layani," jawab Felix, jawabannya itu berhasil membuat semua orang yang berada diruangan itu terharu.


Devo terus menatap Felix tanpa bisa mengucapkan apa-apa, hatinya berdebar kencang karna melihat sang kakak baik-baik saja.


"bangunlah!" perintah Agra pada Felix yang masih bersimpuh dikakinya, kemudian Felix bangun dengan kepala yang masih menunduk.


"kalau kau berani mengganggu istriku, maka bukan hanya kau saja yang aku kirim menghadap Tuhan. Tapi kakakmu, dan Ayahmu juga akan ikut serta bersama mu menuju alam akhirat," lanjut Agra lagi yang dibalas dengan anggukan kepala Devo.


"turunkan dia!" perintah Devo kemudian, Rezie dan Felix segera melepas ikatan tangan Devo dan menangkap tubuh lelaki itu.


Sementara Agra keluar ruangan untuk menemui Mona, dia juga ingin memberi ancaman pada wanita itu.


Brak, suara pintu yang terbuka dengan kuat mengagetkan Mona yang masih terisak di atas ranjang. Pakaiannya terlihat berserakan dilantai, dan dia membalut tubuhnya dengan selimut.


Agra melangkahkan kaki untuk menndekati Mona, wanita itu bersingsut ke sudut ranjang saat melihat Agra.


"to-tolong ampuni aku! aku janji tidak akan pernah muncul lagi dihadapanmu, aku janji!" Mona semakin ketakutan saat Agra sudah beberapa senti dari tubuhnya.


"aku sudah memberi pelajaran pada Devo, dan jika kau kembali mengusik hidupku dan seluruh keluargaku, maka aku akan langsung membunuhmu dan Ayahmu!" ucap Agra dengan penekanan.

__ADS_1


"ba-baik, aku janji, aku janji!" ucap Mona sembari menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.


Agra langsung bangkit dan keluar dari kamar itu, dia harus segera bertemu dengan istri dan kedua putranya.


"Agra!" panggil Dareen yang sudah menunggunya di depan mobil.


Agra hanya berjalan santai tanpa memperdulikan panggilan Dareen membuat lelaki itu mendekat ke arahnya.


"emm maafkan aku, maafkan aku yang telah berpikir buruk tentangmu," sesal Dareen, dia tidak menyangka kalau Agra hanya berpura-pura saja pada mereka.


"Sudahlah!" Agra menepuk bahu Dareen dan berlalu masuk ke dalam mobil, sementara Dareen hanya tersenyum simpul saat melihat apa yang adik iparnya itu lakukan.


"Aleta, kau benar-benar beruntung mendapatkan suami yang baik dan juga bertanggung jawab." Dareen kemudian beranjak masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.


Sementara Felix, yang saat ini sedang mengantar Devo kerumah sakit merasa sangat senang. Akhirnya sang adik bisa berkumpul dan bertemu dengan orangtuanya.


Mobil melaju dengan sangat kencang membelah jalanan yang tampak sunyi, karna memang saat ini mereka berada dikawasan hutan.


"tunggu Aku Aleta!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2