Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 115. Tembakan


__ADS_3

Aleta yang saat ini ditemani oleh keluarga dan temannya merasa sangat tidak nyaman, dia terus kepikiran suaminya yang sudah 2 jam tidak terlihat batang hidungnya.


"Ma, ke mana suamiku?" tanyanya pada sang Mama yang masih setia berada disisinya.


"Agra ada sedikit urusan, sebentar lagi dia pasti datang," jawab Mama Deeva sembari mengupas jeruk untuk sang putri.


"tapi, dia ke mana Ma?" tanya Aleta lagi yang terus saja merasa tidak tenang.


"kami enggak tau sayang, dia pergi bersama teman-temannya," sambung Mama Lena, dia juga masih menemani sang menantu.


Kemudian Aleta meminta ponselnya untuk menelpon Agra, dia baru akan tenang jika mendengar suara suaminya.


Tut, tut, tut, sampai beberapa kali Aleta menelpon tetapi Agra tidak menjawabnya, lalu dia beralih menelpon Ricky


"halo," jawab Ricky disebrang telpon.


"Dokter, apa suamiku ada bersamamu?" tanyanya dengan cepat.


Sementara Ricky yang ditanya disebrang telpon hanya diam, dia melirik Agra yang saat ini sedang menonton proses mutilasi.


"halo?" Aleta kembali bersuara, dia sudah menunggu beberapa saat tetapi tidak mendengar jawaban dari lelaki itu.


"i-iya, dia sedang sangat sibuk!" jawab Ricky dengan tergagap.


"tapi, dia baik-baik sajakan?" tanya Aleta kembali, sebenarnya dia ingin mendengar suara suaminya, tapi karna Ricky mengatakan sibuk, dia pun mengurungkan niatnya.


"iya, Agra baik-baik saja Aleta," jawab Ricky.


"Baiklah, maaf mengganggu Dokter." Aleta mematikan panggilan telponnya setelah mendengar jawaban dari Ricky.


"gimana Ale? suamimu baik-baik sajakan?" tanya Lusi, dia masih setia menemani sahabatnya yang berhasil keluar dari lubang maut.


Aleta menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Lusi, dia lalu beralih mengambil buah-buahan yang sudah disiapkan oleh kedua Mamanya.


"aku sangat bahagia bisa melihatmu seperti ini, Ale," ucap Lusi, dia tadi sampai beberapa kali pingsan akibat terkejut mendengar kematian Aleta.


"aku enggak percaya kalau tadi aku meninggal!" seru Aleta, dia merasa bingung saat Dokter memberitahu padanya.


"benar Ale, kau memang sempat meninggal tadi. Kira-kira sekitar 2 jam lah, habis itu kau kembali hidup lagi," jelas Lusi yang disambut gelak tawa dari Aleta.


"cih, gak percaya banget sih!" cibir Lusi yang sebal melihat sahabatnya.


"untung kau bisa kembali Ale, kalau sampai jembatan yang kau sebrangi putus, alamat lah kau tetap berada di dunia lain," balas Lusi yang bergidik ngeri saat membayangkan alam akhirat.

__ADS_1


"Dasar kurang ajar!" Aleta melempar buah jeruk ke arah Lusi yang mendarat tepat dipangkuannya, wanita itu hanya menyengir kuda melihat wajah cemberut sahabatnya.


Sementara di tempat lain, Agra masih setia berada diruangan eksekusi. Matanya tidak berkedip melihat Devo saat keringat yang bercampur dengan darah menetes membasahi lantai.


Lalu Agra melirik ke arah Felix yang masih tetap berada disudut ruangan tanpa mengucapkan apapun, padahal Agra sudah menunggu reaksi lelaki itu saat sang adik disiksa seperti ini.


Ricky yang sedang berada di luar ruangan perlahan masuk, dia mendekat ke arah Agra tanpa melihat Devo sedikitpun.


"Agra, tadi Aleta menelponku," ucap Ricky membuat Agra langsung melihatnya dengan tajam seolah-olah bertanya apa yang istrinya katakan.


Ricky segera menceritakan semuanya pada Agra, dia juga mengatakan kalau Aleta sudah beberapa kali menelponnya tapi tidak ada jawaban dari Agra.


Agra langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, dia melihat ada 4 panggilan tidak terjawab dari sang istri. Kemudian Agra beranjak keluar dari ruangan untuk menelpon Aleta.


Setelah Agra keluar, Dareen dan Rezie masuk ke dalam ruangan itu. Mereka menelan salive saat melihat tampilan Devo yang sangat menyedihkan dan tragis dengan luka di sekujur tubuh.


"hentikan!" perintah Dareen yang sudah tidak sanggup melihat kekejaman Agra.


Kedua anak buah Agra menghentikan cambukan mereka dan melihat ke arah mereka bertiga.


"maaf Tuan, tapi Tuan Agra memerintahkan kami untuk tetap mencambuknya," ucap salah satu anak buah itu, dia tidak berani untuk melanggar perintah sang Tuan.


"aku yang akan bertanggung jawab!" tekan Dareen, kedua anak buah itu saling pandang, kemudian mereka menjatuhkan cambuk yang tadi gunakan untuk menyiksa Devo.


"Agra sangat keras kepala, dia tidak akan mau mendengar apa yang kita katakan," ucap Ricky yang dibenarkan oleh Rezie.


"jadi, kalian akan diam saja sampai Agra membunuh laki-laki itu?" tanya Dareen dengan tajam, bagaimana mungkin dia diam saat adik iparnya ingin membunuh seseorang?


"kita lepaskan dia, biarkan dia pergi dari sini," saran Dareen kembali, dia sudah akan membuka ikatan Devo namun Rezie menahannya.


"apa kau gila? kalau kau melepaskannya, bukan hanya dia yang Agra bunuh, melainkan kita semua." tolak Rezie, dia tahu betul bagaimana sifat dan karakter Agra.


"lalu apa yang harus kita lakukan? kita tidak mungkin diam saja sampai dia mati!" tunjuk Dareen tepat ke arah Devo.


Ricky dan Rezie memikirkan apa yang Dareen ucapkan, sebenarnya mereka juga tidak tega melihat kondisi Devo. Namun, lelaki itu juga sudah sangat keterlaluan pada Agra, bahkan sampai membuat Aleta bertemu dengan Tuhan.


Seketika Dareen melihat ke arah Felix yang masih tetap diam ditempatnya, lalu dia berjalan cepat ke hadapan Felix membuat lelaki itu mendongakkan kepala.


"apa kau akan tetap diam melihat adikmu, Felix?" tanya Dareen, dia merasa kesal saat melihat Felix yang tidak bersimpati sama sekali pada sang adik.


"lalu, kau mau aku melakukan apa?" tanyanya balik membuat Dareen semakin kesal.


"kau kakaknya, Felix! apa tidak ada, sedikit saja rasa kasian dihatimu?" ketus Dareen dengan wajah memerah menahan emosi.

__ADS_1


"dia pantas mendapatkannya, dia mendapat hasil dari perbuatannya sendiri," ucap Felix dengan tajam, dia melirik sebentar ke arah Devo yang juga sedang melihatnya dengan nanar.


"Kau benar-benar manusia yang tidak punya hati!" Dareen memilih keluar dari ruangan itu untuk mengatakan langsung pada Agra, dia tidak mau kalau adik iparnya menjadi seorang pembunuh.


"Agra!" panggil Dareen saat melihat Agra baru saja masuk ke dalam rumah, lelaki itu lalu menghampiri Dareen yang sedang bersandar didinding.


"aku mohon lepaskan Devo! dia sudah cukup mendapat balasan darimu Agra, aku yakin kalau dia tidak akan lagi menganggumu," ucap Dareen dengan nada pelan seraya menangkupkan tangannya ke depan dada.


"apa kau lupa kalau beberapa jam yang lalu adikmu terbujur kaku di tumah sakit?" tanya Agra sarkastik.


"kau tidak merasakan bagaimana hancurnya aku saat melihat istriku terbaring tidak bernyawa, aku juga melihat kondisi kedua putraku yang kritis. Coba kau katakan! apakah kau sanggup jika berada diposisiku?" bentak Agra dengan dada naik turun menahan emosi.


"tapi tidak dengan membunuhnya Agra, jangan samakan dirimu dan dia! Kau lelaki yang baik sedangkan dia lelaki yang sangat jahat. Jangan rendahkan dirimu dengan melakukan hal kotor yang sama dengannya," Dareen berucap dengan sangat lirih, bahkan tangannya bergetar saat ingatan tentang Aleta kembali melintas dipikirannya.


"aku adalah kakaknya, aku sangat mengerti dengan apa yang kau rasakan. Sejak kecil akulah yang selalu berada disisinya, mengajarinya berbicara, berjalan, bahkan sampai dia tumbuh dewasa dan menikah denganmu! aku juga merasa sakit saat melihat adikku menderita!" ucap Dareen dengan penekanan, dia ingin menyadarkan Agra kalau perbuatannya itu tidak benar.


"Tidak! aku sudah bersumpah akan membunuhnya dengan kedua tanganku!" Agra kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Devo, dia memegang pistol ditangan kanannya membuat Dareen semakin dilanda kekahwatiran.


"Agra!" mata Ricky dan Rezie membulat saat melihat Agra dengan memegang sebuah pistol, lelaki itu langsung mengarahkan pistol itu tepat ke arah Devo.


"tidak Agra, jangan lakukan itu!" teriak Dareen yang saat ini berada di belakang tubuh Agra.


"benar Agra! sudah cukup, kau sudah memberi balasan yang pantas untuknya." Ricky juga sangat tidak setuju dengan apa yang akan Agra lakukan.


"diam! kalian tidak berhak untuk menghentikanku!" teriak Agra sembari menarik pelatuk pistol itu.


Devo menatap Agra dengan sendu, dia memejamkan mata saat Agra akan melesatkan peluru ke kepalanya.


"Felix, aku mohon rawatlah Ayah dengan baik. Jaga, dan lindungi dia. Maafkan aku yang tidak bisa meminta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat padamu,"


Dor!





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya terbaru Othor ya, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2