Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 28. Omelan Mama Deeva


__ADS_3

Felix terpaksa mengantar Aleta pulang ke rumahnya agar wanita itu mau menceritakan apa yang terjadi pada sang tuan.


"jadi, apa nona bisa menceritakan apa yang terjadi?" tanya Felix sambil melajukan mobilnya menuju kediaman Winandra.


"bisa, tapi pertama-tama tolong jangan panggil nona. namaku Aleta, bukan nona-nona," ucap Aleta sembari melihat ke arah Felix.


Felix hanya menganggukkan kepalanya supaya cepat selesai pikirnya.


"tadi aku gak sengaja nendang asetnya tuan Agra, jadi dia kesakitan," bohong Aleta. padahal tadi dia memang sengaja menendang tepat ke arah aset berharga itu.


Sreeeet. Felix langsung menginjak rem saat mendengar ucapan Aleta. dia melihat ke arah gadis itu dengan tajam.


"tuan, apa tuan sudah bosan hidup. kalau mau mati sendiri aja dong jangan ajak-ajak aku," omel Aleta yang hampir terjungkal karna ulah laki-laki itu.


"nona, apa nona tau bahaya menendang aset seorang lelaki ?" suara Felix terdengar dingin dan emosi.


"i.itu aku...,"


"kalau sampai terjadi sesuatu pada aset tuan Agra, maka nona harus bertanggungjawab seumur hidup," ucap Felix tajam sambil kembali melajukan mobilnya.


Aleta yang mendengar ucapan Felix mulai diselimuti kekhawatiran, rasa bersalah tiba-tiba hinggap di relung hatinya.


"kalau sampai tuan Agra tidak bisa melakukan hubungan intim, maka anda sudah sangat menghancurkan hidupnya," tambah Felix lagi tanpa memalingkan wajahnya dari jalanan.


"glek. Tuhan, semoga asetnya baik-baik saja...." Aleta berdo'a dalam hati untuk keadaan adik kecil Agra.


Pada saat yang sama, di depan rumah keluarga Winandra ada seorang wanita yang terus saja mondar-mandir ke sana ke mari. dia terlihat sangat cemas sambil terus memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang dijalanan.


"ma, ayo masuk. apa gak capek di sana terus," ajak Dareen yang sedari tadi memperhatikan mamanya mondar mandir di depan pintu.


"kemana sih adikmu itu, udah jam segini belum pulang juga. ditelpon juga gak aktif," gerutu mama Deeva.


"paling juga main sama teman-temannya ma, bentar lagi juga pulang," ucap Dareen.


"ma, ayo kita makan. papa udah lapar ini," seru papa Arsen yang sedang duduk disofa ruang tamu.


"itu lagi, makan aja taunya. papa gak liat apa anak kita belum pulang," sembur mama Deeva. dia geram melihat putra dan suaminya yang tidak cemas pada putri semata wayang mereka.


Tak berselang lama, tampaklah sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah mereka. terlihat Aleta dan seorang pria turun dari mobil mewah itu.


"Aleta, darimana saja kamu. dichat gak dibalas, di telpon malah gak aktif. dasar kamu ya...." Aleta yang baru sampai rumah disambut oleh omelan mama Deeva yang membuat Aleta ingin menembak mulut mamanya itu.


"ini lagi, siapa dia ? seenaknya saja main bawa anak orang," Felix yang tidak salah apa-apa pun juga kena omelan mama Deeva. benar-benar ya kalau emak-emak memang tidak ada lawan.

__ADS_1


"ma, jangan marah-marah terus dong. nanti darah rendahnya naik loh," ucap Aleta sambil melangkah masuk ke dalam rumah. dia langsung merebahkan tubuhnya di samping papa Arsen.


"maaf nyona, saya permisi dulu," pamit Felix pada wanita yang sudah memarahinya.


"tunggu, mau kemana kau?" cegah mama Deeva. sepertinya amarahnya belum selesai dia tuntaskan.


"maaf nyonya, saya hanya mengantar nona Aleta," ucap Felix. dia tidak ingin lagi berlama-lama di tempat itu.


"masuk ! kau harus makan malam bersama kami," ucap mama Deeva yang langsung meninggalkannya begitu saja.


Felix hanya mematung di tempatnya, dia ingin segera pulang, namun ucapan mama Deeva mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.


Dareen hanya tersenyum geli melihat Felix yang terdiam di sana, lalu dia pun beranjak untuk mendekat ke arah sekretaris itu.


"tuan Felix, tolong maafkan ucapan mama saya. beliau hanya terlalu khawatir karna Aleta pulang terlambat," ucap Dareen.


"tidak apa-apa, kalau begitu saja permisi tuan." Felix sudah akan berbalik namun suara Dareen lagi-lagi menghentikannya.


"makan malam lah bersama kami tuan, sebagai ucapan terima kasih karna sudah mengantar anak nakal itu," pinta Dareen. karna tidak bisa lagi menolak, akhirnya Felix masuk ke dalam rumah Aleta dan makan malam bersama keluarganya.


Selesai makan, Felix segera bergegas pamit untuk pulang ke rumahnya sendiri. hari ini dia sudah merasa sangat lelah dan ingin segera tidur di ranjang empuknya.


Sementara itu, Aleta masih terbaring di ranjangnya sambil memegang ponsel. dia sedang memikirkan keadaan Agra, lebih tepatnya keadaan adik kecil Agra.


Kemudian dia bangkit dan segera berjalan ke arah kamar sang kakak untuk meminta nomor ponsel Agra.


"kak...," panggil Aleta sambil memasukkan kepalanya ke dalam kamar Dareen.


Dareen yang sedang membaca buku sembari bersandar di sandaran tempat tidur hanya melirik ke arah Aleta.


"kak, bagi nomornya Agra dong," ucap Aleta.


"untuk apa ?" tanya Dareen sambil mengerutkan keningnya.


"aku mau nanya soal keadaan asetnya," ucap Aleta tanpa sadar.


"hah, aset apa maksudmu?" tanya Dareen kembali sambil meletakkan bukunya ke atas meja.


Aleta yang baru menyadari ucapannya langsung kelabakan, dan segera meralat ucapannya tadi.


"i.itu maksudku aku ingin bertanya soal kabarnya. ya ya kabar Agra dan keluarganya," ucap Aleta sambil tersenyum lebar. sangking lebarnya dia merasa mulutnya sebentar lagi pasti akan robek.


Dareen memicingkan matanya tidak percaya dengan ucapan Aleta, tapi karna tidak mau ambil pusing Dareen langsung mengambil ponselnya dan memberi nomor Agra padanya.

__ADS_1


"terima kasih kakakku sayang," ucap Aleta sambil kembali menutup pintu kamar Dareen.


"duuh telpon tidak ya...," Aleta jadi ragu untuk menelpon Agra, tapi dia juga khawatir karna ucapan Felix tadi.


Setelah pemikiran panjang, akhirnya Aleta memberanikan diri untuk menelpon Agra.


Tut..., tut..., tut...,


"halo." suara Agra sudah terdengar disebrang telpon.


"iya halo," jawab Aleta. entah kenapa mendengar suara Agra dia jadi deg-degan.


"siapa?" tanya Agra.


"ini aku," jawab Aleta.


"aku siapa?" tanya Agra lagi yang sudah terdengar kesal.


"Aleta winandra," jawab Aleta.


"ngapain kamu nelpon aku, ganggu aja," bentak Agra yang langsung ingin mematikan panggilan itu.


"tunggu, jangan dimatikan...," jerit Aleta yang langsung membuat Agra harus menjauhkan ponselnya karena teriakan gadis itu.


"i.itu aku mau tanya keadaan itu, anu duuuh...," Aleta bingung harus bagaimana bertanya soal anunya Agra.


Agra yang mendengar suara Aleta hanya tersenyum sinis, dia sudah mengerti apa yang akan gadis itu tanyakan.


"aku sakit, dan aset ku luka parah. aku akan menuntutmu karna sudah membuat aku kehilangan keperkasaanku," ucap Agra penuh drama.


Brak. Aleta langsung menjatuhkan ponselnya mendengar ucapan Agra. tubuhnya sudah panas dingin memikirkan tentang kesalahannya yang sudah menendang aset kehidupan lelaki itu.


"tuhan, kali ini aku benar-benar akan mati."





**tbc.


duuh menendang alat kelamin lelaki itu memang sangat berbahaya ya teman-teman semua, apalagi kalau dilakukan dengan sengaja. itu akan sangat berakibat fatal bagi mereka**.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2